Pot Emas Di Era 70

Pot Emas Di Era 70
Baili jadi nenek


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak kembali nya baili dari kota.Selama itu beberapa warga desa kerap datang untuk bertanya mengenai situasi barter yang tersiar di desa.


Mereka mempertanyakan kebenaran kisah ini dari mulut baili sendiri. Setelah dikonfirmasi mereka bersiap-siap untuk menyambut kedatangan orang yang dimaksud.


Simpan saja telur atau ubi jalar yang enggan di makan keluarga. ini bukanlah penjualan tapi barter. Menurut artinya barang-barang itu akan di tukarkan dengan sesuatu yang lebih berharga seperti tiket dan sabun.


Sementara itu baili tidak peduli dengan antusias warga desa. Baili harus kembali dengan pekerjaannya mencari rumput harga dengan harga dua poin.


Tidak ada yang tau jika baili masih sibuk mengumpulkan beberapa produk di ruang tunggu nya sendiri. ini seperti menjadi rutinitas tersendiri bagi baili.


Sebelum keluar dari kamar dia sudah menyelesaikan pekerjaan hariannya itu.


Semakin lama baili semakin ahli dalam berlari dan dia bisa menarik lebih banyak barang dengan troli belanja.


Pada dasarnya baili mengumpulkan barang-barang yang tersedia di dalam daftar tersebut. Tentu saja ini adalah daftar asli dari Lu sihan.


Hari ini adalah hari lain dimana baili sudah berhasil menarik troli belanja. lu sihan bekerja di pabrik baja di kota cahaya.


Meski hanya beberapa jam perjalanan dengan kereta api.Tapi itu semua perlu persatuan persetujuan dari direktur agar semuanya terealisasi.


sebelum berpisah kemarin bali sudah menyerahkan sebuah surat yang bertuliskan tentang cara barter yang dia inginkan dan ini perlu kerja sama dengan pihak pabrik baja sendiri.


Meski keuntungannya sedikit namun baili memiliki celah untuk makan dan berhemat tanpa perlu dicurigai oleh siapapun.


Namun untuk itu dia perlu bersabar lagi menunggu lu sihan tiba dengan surat persetujuan pabrik baja.


Sementara menunggu itulah baili masih tergerak untuk menyimpan persediaan sebelum lu sihan datang.


Dalam seminggu baili sudah menyimpan 200 kg beras 200 kg tepung 200 kg bulir jagung dan 100 kg jamur .Dia bahkan sudah menyimpan ratusan lusin telur.


Jika warga desa tidak dapat memenuhi kouta , baili bisa melakukannya sendirian.


melihat tumpukan bahan makanan yang dia dapat bali merasa puas dia juga menumpuk perbekalan nya sendiri seperti mie instan toboki instan , hotpot yang memanaskan sendiri. Ada juga lusinan buku-buku penting yang tersusun di irak seperti sebuah perpustakaan mini.


Dengan barang barang ini baili tidak khawatir jika keluarganya masih memakan dedak dan sayuran liar.


Agar tidak ada yang curiga baili tidak pernah mengeluarkan apapun untuk bahan makanan di rumah tapi sesekali dia menambahkan sesuatu di tong penyimpanan ketika barang-barang itu menyusut.


Sejak kembali dari kota. Keluarga bai sudah lama tidak makan dedak padi. Mereka memiliki beberapa kg beras yang bisa di buat menjadi bubur.


Bubur putih dengan tambahan sayuran liar dan taburan merica. Masih lebih bagus daripada memakan dedak.


Tapi baili diam diam menyuplai makanan ringan untuk ayah dan ibu tuanya pada malam hari.


Awalnya orang tua itu menolak. Mereka pikir makanan yang baik harus diberikan pada orang muda dan anak-anak. Namun baili mengatakan jika akan ada waktunya untuk itu. Untuk sementara ini mereka harus bertahan.


Lagipula mereka sudah tua dan tulang mereka tidak sekuat anak-anak muda.


Di rumah mereka masih dapat makan bubur putih. Namun orang di desa tidak tahu dengan itu.


Keluarga bai masih saja bekerja di gurun dan melakukan berbagai pekerjaan berat.


Pekerjaan di gurun begitu berat membuat segalanya jadi lambat.


Jadi poin yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan pekerjaan tersebut.


Tidak ada apa-apa bagi keluarga baili.Karena mereka sudah makan cukup di rumah.


Namun masalahnya gosip yang di hembuskan semakin kencang membuat semua mata mengarah kepada baili.


Benarkah dia jatuh cinta dengan anak kepala desa.


Hari ini setelah menghabiskan sarapannya. Baili dan yang lain bergerak ke atas bukit untuk mengambil makan rumput makanan babi.


Belum tiba di kaki bukit baili sudah dihadang oleh anak naka kelas dua. Mereka memang terkenal nakal dan malas namun sebagian dari mereka memanggil baili seperti bibi kecil.


Tapi hari ini mereka memanggilnya dengan nama yang berbeda.


"Kakak ipar"


Mendengar sapaan aneh itu. Baili berhenti dan berputar untuk melihat siapakah yang memanggilnya dengan sebutan yang kurang ajar.

__ADS_1


Meski usianya baru belasan tahun. Namun mental baili adalah jiwa seorang wanita tua berusia 30-an.


Dipanggil kakak ipar oleh anak-anak yang bau kencur, tentu saja dia tidak terima.


Datang ke dunia buku dia masih di pantai dengan panggilan sopan. Mungkin orang menganggap panggilan ini lucu karena usianya yang muda. Namun bagi baili ini sangat cocok dengan jiwa tuanya.


jika anak-anak baik dan sopan memanggilnya dengan panggilan kakak ipar. Mungkin dia tersentuh dan merasa awet muda. Namun yang menyapa nya ini adalah para bajingan tengik yang taunya membuat onar dan menyusahkan orang tua.


Plak


Tanpa takut baili langsung menampar wajah nya. Dalam ingatan , pria kecil ini bernama sufeng dari keluarga Wang.


Jika menurut menurut senior it as pangkat baili masih pantas disebut dengan nenek.


Kakek dari kakeknya Wang sufeng masih sepupu. Sebab itulah wajar jika Wang sufeng memanggilnya sebagai nenek . Namun karena terlalu muda maka Wang sufeng lebih suka memanggilnya dengan bibi kecil.


Tapi hari ini dia malah memanggilnya dengan kakak ipar. Ada apa dengan mulutnya itu.


Meskipun mereka ini adalah bajingan kecil. Namun masih melekat adat istiadat untuk menghormati penetua.


Walaupun Wang sufeng sudah ditampar oleh baili. Tidak satupun yang bergerak untuk membantunya meskipun mereka marah.


" apa ini yang kalian pelajari? bukannya membantu orang tua malah membuat keributan setiap hari. Mau jadi apa kalian kalau sudah besar hah? dan kau Wang sufeng, apa pula maksudmu memanggil ku sebagai kakak ipar?" ujar baili marah.


"Ini.. bibi...


"Panggil aku nenek" kata baili tegas.Para bajingan kecil segera menyusut jadi bila kapas.


"Ohh tapi bukankah bibi kecelakaan menikah dengan song linan?" kata Wang sufeng terus terang.Pipinya memerah akibat di tampar.


" siapa yang bilang aku akan menikah dengan song linan?"


"Itu gosip...


" gosip aja kalian percaya tidak tahukah kalian beberapa banyak para gadis yang bunuh diri hanya karena gosip yang tidak penting seperti ini. Seharusnya kalian itu berpikir. Apa otak kalian tinggal di surga hah?" baili bahkan tidak memberikan Wang sufeng kesempatan untuk berbicara.


"Tapi...


"Hah merekrut?"


Mereka semua saling pandang. Merekrut lebih buruk daripada menikahi song linan.


Seumur hidup baili dan pasangannya akan jadi bahan perbincangan orang ramai


Tidakkah baili akan malu pada akhirnya.


"Sampaikan pada semua orang, Baili dari keluarga bai ,tidak akan pernah menikah hanya akan merekrut. nenek ini tidak takut dengan gosip sama sekali. Biarkan kalian mau berbicara apa.Aku tidak peduli sama sekali . Bukannya aku makan dengan kalian benar?" kata Baili panjang lebar.


Inilah keuntungannya menjadi penetua di desa. Tidak ada yang akan memarahi kau Jika kau berlidah panjang dengan sekelompok anak-anak bajingan seperti ini.


Dia masih seorang bibi.


"Lalu apa yang kalian buat disini ? Menghabiskan waktu saja.Untuk apa orang tua melahirkan kalian hah Lebih baik jadi babi , besarkan lalu potong .Tapi kalian ini menghabiskan beras di rumah"


Wang sufeng dan teman teman nya jadi pusing jika sudah di beri pelajaran seperti ini.


Huh di mata baili mereka tidak lebih berharga dari seekor babi tua..sialan..


Kabur...


Selama setengah jam Wang sufeng dan kawan-kawannya diberi pelajaran oleh baili dengan cara ini


Mereka semua tidak tahan dan berniat untuk kabur secepat mungkin.


Tapi...


" Jangan kabur kalian semua. Tidakkah kalian ingin meminta maaf atas apa yang kalian buat tadi?"


"Bibi , aku lupa tadi ibuku minta dikirimkan air ke ladang hehehe"


"Aku juga lupa ...

__ADS_1


"Apakah yang pikir aku bodoh.Nenek ini pergi sekolah bukan seperti kalian yang tidak mengenal huruf sama sekali"


"Maaf bibi kecil...


Kata mereka semua serempak


Mereka semua bersumpah tidak akan melakukan hal yang sama lagi di masa depan.


Masih muda tapi mental nya nenek nenek.


"Sudah sebagai hukumannya penuhi keranjang ini. Bibi akan duduk di sini menunggu .Jika tidak ada rumput dalam satu jam lagi. Awas aja akan bibi laporkan pada orang tua kalian. Mereka tidak pandai mengajar kalian untuk menjadi manusia. sekarang bibi kecil ini akan mengajarkan nya."


Enam pemuda ini saling pandang.Kuping bisa berasap jika mendengar kata-kata baili sepanjang pagi .Sebaiknya cepat penuh kan keranjang dan kabur.


Baili tidak tahu apa yang mereka pikirkan .Yang jelas dia terus saja mengoceh sementara enam pria itu menyibukkan diri dengan rumput makanan babi.


"apa jadinya kalian nanti . Wang sufeng apa kau tidak berpikir ingin mencari menantu perempuan?"


"Melihat perilaku pemalas seperti ini. Gadis mana yang mau menikah dengan keluarga Wang nanti. jika pun ada keluarga yang mau menikah kan anak gadisnya pada kalian.Bibi akan merasakan kasihan dengannya. Dia akan menderita seumur hidup"


" hidup macam apa yang akan dilalui nya jika mendapatkan suami seperti ini.Ini hanya lah lubang api. tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali, benih yang buruk"


Baili bicara hampir satu jam. Dia tidak menyadari jika keranjang nya sudah penuh. Enam pemuda itu langsung menyerahkan keranjang pada baili dan mereka kabur dengan cepat.


"Huh Wang sufeng...Sini kau" wang sufeng dipanggil padahal dia sudah maju untuk kabur.


"Ya bibi" katanya dengan lesu.


"Bantu bibi untuk membawa keranjang ini ke kandang babi dan mengambil poin. Bibi menunggu kalian di rumah. Ada sesuatu yang ingin bibi berikan"


Wang sufeng mengangguk lesu dan dia terpaksa mengambil keranjang dan meletakkannya ke punggung.


Sementara itu baili kembali ke rumahnya dengan santai.Dia duduk di bawah pohon dengan kipas bambu di tangan nya.


Sejujurnya wang sufeng dan teman-temannya ini masih bisa dilatih menjadi manusia.


Sayang sekali mereka menyia-nyiakan masa muda.


Tidak lama kemudian Wang sufeng menyerahkan keranjang yang sudah kosong pada baili.


" ambil ini dan jangan melakukan hal yang sama lagi dimana depan. Jadilah seorang putra yang dibanggakan oleh keluargamu"


Baili menyerahkan enam bungkus mie instan rasa daging pedas pada wang sufeng .


Melihat itu Wang sufeng dan teman teman nya tercengang. mereka pernah mendengar ada makanan seperti ini di kota tapi harganya hampir mirip dengan harga daging.


Sampai sekarang tidak ada yang pernah memakan mie instan di desa.Tapi baili menyerahkan nya dengan santai pada wang sufeng dan teman-teman nya.


"Bibi... ini mahal .makan saja sendiri perlahan-lahan" kata Wang sufeng malu malu.


Baili tertawa dalam hati rupanya uang super masih memiliki hati nurani yang bersih.


"Bukankah aku bibimu .Bibi masih layak memberikan keponakan ku dengan mie instan ini?"


"Tapi...


" bibi sudah memberikannya maka ambillah. Lakukan apa yang kau ingin lakukan pada benda ini. jika kau tidak suka buang"


Wang sufeng tiba-tiba tidak bisa menolak lagi tapi dalam hati dia bersorak dengan gembira. Benda ini adalah benda yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka.


Tapi barang bagus ini tidak boleh dimakan sendiri. Ada seseorang yang ingin diajak untuk menikmatinya bersama.


Bukankah mie instan ini bagus untuk menarik hati calon menantu perempuan.


" terima kasih bibi...


"terima kasih bibi ...


"terima kasih bibi..


Baili menggeleng dan mengusir mereka dengan cepat.Setelah mereka pergi baili tersenyum lebar.

__ADS_1


Hehehe lumayan dapat sekeranjang rumput kan.. hehehe


__ADS_2