Pot Emas Di Era 70

Pot Emas Di Era 70
171


__ADS_3

Gadis yang baru berusia lima tahun itu sedang tertidur pula saat baili keluar dari "kamar" nya.


Dia tidur di kamar tiga keponakan perempuan baili.Dia tau bagaimana tidur dengan selimut yang hangat itu.


Baili hanya tersenyum melihatnya dan bergegas ke dapur sendirian. Sekarang hampir jam 11.00 dan semua orang kemungkinan besar akan kembali untuk makan siang.


Jadi baili pergi lebih awal ke dapur memasukkan semua bakso yang dia dapatkan ke dalam satu panci besar.


Baili masih pergi merebus nasi. Mengeluarkan semua kecap saos dan juga di atas meja. Dia juga menyusun rapi mangkok-mangkok juga sumpit.


Jika orang-orang kembali mereka hanya tinggal makan. Meskipun ini hanya bakso tapi jumlahnya cukup besar tentu saja akan memuaskan nafsu makan mereka.


Mendengar gerakan dari dapur si kecil juga bangun tergesa-gesa.Dia seperti orang dewasa yang merasa tidak nyaman saat tuan rumah bangun lebih awal daripada dirinya.


Wajahnya yang penuh penyesalan membuat baili tertawa kecil.


"Oh sayang apa kau sudah menyelesaikan misi yang diberikan padamu tadi?"tanya baili yang mencubit hidung nya dengan gemas.


Mendengar pertanyaannya tentu saja dia senang dan menepuk dada seraya berkata"tentu saja Bibi ,


malah aku sudah mencuci pancinya tadi"


"terima kasih sayang kau sudah menyelamatkan Bibi dari masalah besar. kau tahu paman kecilmu jika marah bisa makan orang loh"


"Hah begitu?"tentu saja Ani kecil merasa terkejut ayah juga sering marah di rumah tapi tidak sampai makan orang.


Paman ini sebenarnya sangat menakutkan sekali.


"Hem, tapi jangan takut dia tidak akan makan anak-anak hehehe. dia hanya suka orang-orang yang nakal aja" baili merasa menyesal sudah mengolok-olok dirinya.


Wajahnya terlihat pucat setelah mendengar Ran Shadong mampu makan orang.


"Anie anak baik, tadi Ani sudah menyelesaikan misi yang diberi hehehe"


"bagus, tadi juga bibi masak banyak sekali. Nanti jika tidak habis melakukan seperti tadi ya. Jangan sampai pamanmu marah dengan Bibi, oke sayang?"katanya dengan wajah serius.


Anie mengangguk dengan cepat .Dia tidak ingin Bibi kecil yang baik dimakan begitu saja oleh paman jelek.Sekarang dia tidak suka dengan Paman kecil.


Jadi itu paman yang jelek.


Tak lama kemudian semua orang bergegas kembali. Tiga keponakan langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang siapa tahu semuanya sudah selesai.


Mereka hanya bisa menatap panci besar penuh dengan bola-bola daging yang tidak dikenal. Sepertinya Bibi kecil bekerja keras lagi.


Mereka mengambil mangkok paling besar, dia memindahkannya untuk disajikan di atas meja


"jangan seperti itu masukkan ke dalam panci bersih dan letakkan langsung di atas meja"kata Baili yang datang tidak lama kemudian.


"bibi ini adalah kerja keras untuk menyiapkan makanan ini. Nanti malam jangan lakukan lagi tunggu aku kembali oke" kata Awen.


"Oke , tapi sebenarnya ini tidak merepotkan kok"kata Baili jujur.


Panci besar itu langsung diletakkan di tengah-tengah meja makan. Semua orang saling pandang. keberadaan panci besar itu di atas meja terlihat agak aneh.


Semua mangkuk dan sumpit sudah disusun di atas meja ketika nasi hangat datang .Ini sudah waktunya makan siang.


Saat panci besar itu dibuka aroma sup khusus segera menghantam hidung semua orang. Gumpalan daging aneh juga menyeruak.


Baunya cukup harum dan membuat perut berdegup dengan cepat namun aneh saja karena hal-hal ini tidak pernah mereka lihat


Jika pun ini adalah sup daging, potongannya tidak sebesar ini kan. Yang paling besar lebih dari setinju Ran Shadong sendiri.


Baili tau apa yang mereka pikirkan.


Jadi dia memulainya sendirian.


Ambil satu bakso beranak dan satu bakso tenis.Dia menyeduh kuah sup dan menaburkan daun seledri dan bawang goreng, kecap sedikit cuka dan Saos cabai.


"Ayo makan,ini daging di campur dengan tepung jadi tidak murni daging kok.Jika mau bisa makan dengan nasi"kata Baili.


Dia menyeruput kuah bakso yang harum terlebih dulu. Ingin mencoba apakah masih kurang kecap atau enggak.


"Yap ini sudah pas" kayanya


Ran Shadong segera melakukan hal yang sama.Dia menarik dua bakso beranak sekaligus.


Setelah Ran Shadong semua orang melakukan hal yang sama. Warnanya mirip daging tapi tidak murni 100% daging. Jadi mereka tidak yakin dengan rasanya.


Anie ragu ragu, dia bahkan tidak pernah makan di meja yang sama dengan penetua.


Baili segera mengerti dan mengambil satu mangkok khusus untuknya.


Saat pertama kali merobek bakso beranak, mata Ran Shadong segera menyipit. Dia tidak sadar jika ada bakso kecil di dalam.

__ADS_1


"Makan seperti ini cukup menarik" mata Ran Shadong.


Bakso kecil itu cukup untuk satu kali hap. ketika digigit masih cukup lembut tapi dagingnya juga masih terasa.


Semburan sup yang hangat mengalir bersama bakso ke dalam mulut. Saat mengunyahnya orang sadar merasakan kepuasan yang aneh.


Dia tersenyum dan tidak sabar menarik satu bakso kecil lagi.


Rasanya hangat karena sensasi pedas dari cabai.


Awen yang awalnya ragu-ragu juga mengunyah bakso dengan gembira.


Dia paling cepat menarik satu bakso tenis tambahan dari panci besar.


Anie juga menyukai nya tapi satu bakso beranak saja sudah membuat perut kecil nya menjadi penuh.


Dia sangat menyesali ini.


Jadi dia melirik orang lain berharap mereka tidak akan menghabiskan bakso sebanyak itu sekaligus.


Jika tidak habis bukankah dia bisa mengirimkan ini pada sang ayah. Bakso ini rasanya daging dan daging hanya akan di sajikan sesekali di meja keluarga mereka.


Ayah pasti suka.


"Bibi kecil rasanya sangat enak aku suka ini bibi"kata Ayue yang masih bisa menarik satu lagi bakso beranak.


"Yah kalau suka makan yang banyak.Belajar dan pastikan kau lulus untuk ku oke" kata Baili.


"lebih kecil apakah kita akan makan ini lagi nanti malam. Aku sangat menyukainya jika tidak ajari aku bagaimana cara mengemasnya oke"kata Ayi lagi.


Bersama bibi kecil entah kenapa dia merasa bisa menjadi seorang koki yang hebat. Bibi selalu tahu menu yang bagus.


"Ku rasa tidak nyaman , kalian hanya makan ini tidak makan nasi bagaimana bisa konsentrasi di dalam ujian nanti"kata Baili menolak nya.


Mereka semua menatap panci nasi tidak ada satupun dari mereka yang menyentuh itu. Jadi sangat wajar jika baili menegurnya.


Mau gimana lagi bakso ini terasa enak pada akhirnya mereka lupa makan nasi.


"Oke bibi tapi biarkan kami yang membuat makan malam oke. Bibi sudah capek memasak bakso seperti ini"kata anan yang tertekan.


Baili merasa malu sendiri, dia tidak mungkin mengatakan jika dia membeli ini kan.Tapi para keponakan perempuan sedang mencoba untuk berbakti.Jadi kenapa dia menolak nya.


"Oke lakukan saja"kata Baili.


Dia tersenyum sangat lebar, ayue sendiri tidak tahu mengapa tapi mereka hanya melambaikan tangan tidak peduli.


Setelah makan dan mencuci peralatan makan. Semua orang pergi duduk di ruang tengah dengan buku pelajaran di tangan.


Di ruangan ini ada kompor batu bara yang membuat suhu lebih tinggi.


Jadi nyaman untuk berada di sini seraya membuka buku pelajaran.


Sebenarnya tidak perlu belajar begitu keras.Pertanyaan bocoran dari Baili memang benar-benar tersedia di sana.


Jika mereka tidak lulus bukankah ini artinya mereka adalah orang-orang yang bodoh.


Enam pemuda pelajar yang juga mendapatkan kertas bocoran juga tersenyum sampai ke telinga. Mendapati 50% kemiripan mereka juga berpikir akan lulus kali ini.


Jika benar-benar pergi meninggalkan desa ini hanyalah karena sumbangan dari Bibi kecil sendiri.


Kertas bocoran itu sudah memberikan mereka jalan yang lebih mudah.


Sementara Ran Shandong sendiri juga sudah mempelajari semua kertas bocoran berikut dengan kunci jawaban nya.


Namun begitu dia masih berusaha untuk mengerti kalimat demi kalimat yang tertera di dalamnya.


Itulah sebabnya dia masih menegang buku meskipun kunci jawaban sudah berada di dalam otak.


Di halaman semua orang berbicara tentang ujian hari ini.Baili hanya ikut tertawa masam dengan pujian ini.


Apakah seseorang yang mencontek perlu di puji,tidak kan.


Anie tidak mengerti tapi dia juga duduk dengan memeluk selimut Mendengarkan kisah ujian selagi bertanya tentang ibu.


"Maaf anie ,kami lain kelas jadi tidak bertemu dengan ibumu"kata Ayi dengan wajah murung.


Ayi sepertinya mengerti apa yang dipikirkan oleh gadis kecil. Sebenarnya mereka masih di kelas yang sama tapi ibu Anie sendiri adalah seseorang yang sombong dan memandang rendah warga desa


Dia sudah menyesali pilihannya menikah dengan ayah anie sendiri dan tertekan dengan itu sejak lama. Itulah sebabnya dia juga tidak menyukai dengan putri kecil yang dia lahirkan sendiri.


Sekarang dia sudah mendapat kesempatan untuk kembali ke kota. Setelah melakukan hal yang ekstrim akhirnya dia tiba di sini.


Bagaimana ibu dari Anie ini tidak merasa bangga dan kembali merasa sombong dengan itu. Dia adalah pemuda pendidikan yang tentu saja memiliki kesempatan besar untuk diterima.

__ADS_1


Melirik lagi ke arah tiga keponakan perempuan Baili. Yang jelas tidak memiliki level yang sama dengan dirinya. Jadi meskipun mereka duduk di kelas yang sama tapi tidak pernah bertegur sapa sekalipun.


Inilah kenapa tiga keponakan perempuan tidak mengatakan seperti itu pada Anie. Mereka hanya tidak ingin gadis kecil itu tersinggung.


Anie ingin tertawa gembira namun suara Ayue membuat senyumnya menghilang dengan cepat.


"Bibi kecil aku ingin satu mangkok bakso lagi sebelum pergi, bolehkah?" tanya Ayue tanpa malu. Sekarang perutnya merasa bisa diisi dengan bakso lagi. Jadi dia tidak akan membuang kesempatan baik ini.


"tiba-tiba saja aku mengerti kenapa Bibi marah karena kami tidak makan nasi perut ini masih belum kenyang hahaha"kata Ayi tiba tiba.


Pada akhirnya semua orang mengambil satu mangkuk ekstra lagi dan menyesatnya dengan penuh kepuasan.


Semua tertawa puas hanya Anie saja yang berwajah masam.


Sekarang panci besar sudah kehilangan banyak bakso.


Anie melirik saat seseorang menarik bakso lagi,dia hanya bisa melihat nya dengan tatapan putus asa.


Baili juga tidak sadar itu dia hanya mengikuti semua orang dengan semangkuk bakso tenis yang kenyal dan kaya dengan daging.


Di lokasi ujian,ibu Anie sedang makan bubur ayam yang di kemas Wang Danu.Dia pikir ini di beli dengan uang dan tiket.


Tapi siapa yang peduli untuk bertanya masalah itu. Yang penting Wang Danu bersedia menyiapkan ini untuknya.


Ada dua kotak makanan di sini.Wang danu juga menghabiskan satu kotak makanan untuknya.


Dia pikir jika makan lebih banyak nanti malam tidak makan juga tidak apa-apa.


Jadi mereka makan tidak menyisakan satu butir beras pun di dalamnya.


"Wang Danu aku senang kau belajar dengan pengalaman tadi malam. Seharusnya saja sudah begini sejak kemarin"kata menantu perempuannya.


Dia mendengus jijik dengan pria yang disebutnya suami ini. Pria tua dengan kaki lumpur yang hanya bisa makan dari sesuatu yang ditanam di tanah.


Sangat tidak cocok dengan dirinya.Tapi waktu itu dia tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup di pedesaan.


Jadi dia menikah.


Setelah kenyang menantu perempuan Wang ini pergi ke tempat ujian dengan puas.Dia bahkan menyerah kan kotak makanan nya pada Wang Danu untuk di cuci.


Wang Danu merasa pernikahannya tidak akan panjang jika menantu perempuannya terus saja bertingkah seperti ini.


Tapi dia masih berharap jika menantu perempuannya tidak akan lulus.Mungkin dengan cara itu dia bisa lebih patuh di rumah.


tidak lama kemudian peserta ujian datang lagi dan mereka masuk ke dalam ruang ujian ,sama seperti menantu perempuan.


Begitu juga dengan kelompok Bai. Mereka pergi setelah mengatakan beberapa patah-patah pada Wang danu.


Setengah jam kemudian Putri kecilnya datang lagi dan meminta dia kembali untuk mengemas sisa makan siang keluarga bai.


Anda tahu membuat sisa makanan adalah dosa di tahun 70-an ini. Paling tidak itu yang dipercaya oleh Anie kecil.


Kali ini Wang Danu memang mengemas dua kotak makanan dari beberapa bakso besar yang dia hancurkan sebelumnya.


setelah kembali duduk di area yang sama. dia berubah pikiran.


Rencananya dia akan mempersiapkan ini untuk makan malam. Dia dan menantu perempuan.


Tapi hatinya terlanjur sakit, selagi menunggu dia menarik bakso daging kedalam mulut nya satu persatu. Tanpa sadar itu habis sebelum ujian berakhir.


Mungkin karena aromanya yang harum atau kah dia memang benar-benar lapar.


Sekarang perutnya sudah penuh dan tidak apa-apa jika tidak makan malam. Tapi bagaimana dengan menantu perempuannya yang kemungkinan besar mengeluh lagi malam ini.


Biarkan saja.


Hari itu untuk pertama kalinya Wang Danu berubah pikiran dan dia tidak meletakkan harapan tinggi pada menantu perempuannya sendiri.


Jika pun menantu perempuan merenggut dan memarahinya. Dia bahkan tidak akan mengambil hati.


Menantu perempuan tahu berapa jumlah uang yang dia bawa ke kota. Ketika dia mengatakan uang mereka menipis hanya tinggal untuk ongkos kembali .Tentu saja menentukan perempuan yang percaya.


Malam itu mereka tidak makan malam dan juga melewati waktu sarapan karena alasan seperti itu.


Meskipun marah dan kesal menantu perempuan Wang tidak bisa melakukan apapun. Jadi dia pergi ke kamar ujian dalam keadaan perut yang kosong.


Wang Danu hanya berharap, perut kosong itu membuat konsentrasi menantu perempuan dengan benar.


Semoga saja dia tidak lulus.


Sedangkan Wang Danu sendiri tetap ditarik ke rumah bibi kecil untuk menyelesaikan sisa sarapan. Dia tidak mengemas kotak makan siang untuk dirinya dan menantu perempuannya.Dia menyelesaikan semua itu di tempat.Jika ada sisa dia akan memakannya secara perlahan lahan selagi menunggu .


Biarkan menantu perempuannya pergi ujian sore dengan perut yang masih kosong. Hanya beli satu roti kukus tanpa isian untuk membuat alasan yang bagus.

__ADS_1


__ADS_2