Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pindah


__ADS_3

Nadira hanya diam saat Arfan memeluknya, dia tidak berniat untuk membalas pelukan dari Arfan itu,


Setelah Beberapa saat, Arfan melepaskan pelukannya karena merasa tidak ada respon dari Nadira, "Apa Kamu mau langsung beristirahat sekarang?" tanya Arfan


"Mmm" Nadira mengangguk ringan


"Baiklah," Arfan memapah Nadira lagi untuk ke tempat tidur nya,


Nadira juga segera berbaring di sana, dan menatapi langit langit kamar dengan tatapan kosong,


Arfan membenahi selimut di tubuh Nadira dan kemudian mencium Keningnya "Beristirahat lah, kamu perlu banyak istirahat sekarang," ucap Arfan


"Iya" ucap Nadira, dia langsung memejamkan matanya mencoba untuk tidur


Arfan menatapi wajah Nadira yang sekarang terpejam,, dia benar-benar merasa sangat bahagia karena Nadira kembali bersama nya lagi


Arfan menurunkan wajahanya lagi untuk mendekati bibir manis Nadira yang sangat di rindukan nya, dia sangat ingin mengecup nya sebelum Nadira benar-benar tertidur,


Saat Arfan sudah sangat dekat dengan bibir ranum Nadira 'Cklek' tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dulu


"Kak, mana keponak ..., oh aku masuk di saat yang salah ternyata, maaf maaf" ucap Andreas merasa tidak enak


Arfan langsung menoleh pada Andreas "Bisakah kau ketuk pintu sebelum masuk?" tanya Arfan


"Iya Maaf, aku terlalu bersemangat,, silahkan lanjutkan lagi, aku akan keluar" ucap Andreas berniat kembali keluar lagi


"Dre"


"Ya"


"Tolong kamu beritahu Edgar kalau Nadira sudah kembali, supaya mereka tidak menghawatirkan Nadira lagi" ucap Arfan


"Baiklah, aku akan memberitau mereka" ucap Andreas, diapun segera keluar lagi dari kamar Arfan dan menutup rapat pintunya kembali


Arfan mengalihkan perhatiannya lagi pada Nadira, dan berniat melanjutkan niatnya, namun Nadira ternyata membuka matanya dan menatapi Arfan yang sudah cukup dekat dengan wajahnya


"Kamu mau apa?" tanya Nadira dengan sedikit deg degan


Arfan hanya tersenyum, dan segera membenamkan wajahnya untuk mencium bibir Nadira, namun saat dia mengecupnya, bibir Nadira terasa sangat aneh,


Arfan sadar kalau yang di ciumanya bukan lah bibir lembut Nadira, melainkan kain selimut yang di pakai Nadira untuk menghalangi mulut nya, entah kapan Nadira mulai menutup sebagian wajahnya itu,


Arfan menarik wajahnya lagi dengan sedikit tersenyum, "Kenapa kamu menghalangi nya?,, nakal sekali, kita sebelumnya sering melakukan itu" ucap Arfan


Nadira langsung mengelengkan kepala nya "Aku tidak ingat" ucap Nadira

__ADS_1


Arfan menghela nafasnya, "Apa aku harus menunggu ingatanmu kembali jika ingin melakukannya??" tanya Arfan


Nadira langsung menganggukan kepalanya


"Ya Baiklah, kau memng tidak memahami sebesar apa rindu ku sekarang ini,, kalau begitu istirahat lah" ucap Arfan,,


Arfan beranjak ke sofa dan berniat beristirahat di sana, supaya Nadira bisa beristirahat dengan tenang di tempat tidurnya,


.



Sore harinya Arfan membawa Nadira ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan mengenai kondisinya


Proses pemeriksaan yang lumayan panjang pun di lakukan pada Nadira yang mengalami amnesia


"Bagimana dok, apa ingatan istri saya bisa di pulihkan?" tanya Arfan saat dokter sudah selesai menyiapakan laporan diagnosa Nadira


"Pasien memang mengalami Amnesia retrogard, tapi menurut tes yang saya lakukan, keadanya tidak terlalu parah, dia hanya membutuhkan terapi untuk bisa memulihkan ingatanya kembali, Anda bisa mencoba dengan terapi mandiri seperti membawanya kembali ke pengalaman pengalaman sebelumnya , atau pergi ke tempat yang sering dia kunjungi, ceritakan apapun yang berhubungan dengan kenangan yang pernah di lakukannya bersama orang orang yang dia kenal sebelumnya" ucap dokter itu


"Begitukah, syukurlah kalau itu memang bisa di sembuhkan, kalau begitu terimakasih dok untuk sarannya" ucap Arfan seraya berjabat tangan dengan dokter yang memeriksa Nadira


Setelah itu mereka segera keluar dari ruangan itu,


"Sayang, Akhirnya kamu kembali juga" Narita Edgar dan Gio langsung memeluk Nadira bersamaan


"Kalian siapa?" tanya Nadira


Narita melepas pelukanya dan menatap Nadira heran, karena dia tidak mengenali nya, "Aku ibumu Dira, kami keluarga mu,, apa kamu tidak ingat" tanya Narita


"Nadira saat ini kehilangan ingatannya bu,dari itulah saya memeriksanya kesini" ucap Arfan


"Benarkah?, ya Tuhan ada ada saja, terus bagaimana kata dokter?" Tanya Edgar


"Kata dokter Nadira bisa sembuh, tapi dia mungkin butuh bantuan keluarga untuk bisa memulihkan ingatanya" ucap Arfan


"Kalau begitu, bagaimana kalau Nadira pulang ke rumah papah sama mamah saja untuk sementara waktu" ucap Edgar,


Arfan terdiam untuk memikirkan usulan dari edgar , dan dia berpikir mungkin Nadira memang banyak kenangan di rumah orang tuanya , jadi dia pikir tidak ada salahnya menerima usulan Edgar itu,


"Baiklah, aku Setuju saja", Ucap Arfan


"Apa itu artinya kamu akan tinggal di rumah pak Edgar juga kak?" tanya Andreas.


"Ya tentu saja Dre," ucap Arfan

__ADS_1


"Yaaa, di rumah bakal sepi lagi kalau kau tidak ada" ucap Andreas


"Ini kan demi kebaikan kakak iparmu juga, kalau nanti dia sudah sembuh, aku pasti kembali ke rumah lagi" ucap Arfan


"Baiklah, aku mengerti" ucap Andreas


Sementara Dinda tidak berkomentar, meskipun sebenarnya dia juga akan merasa kehilangan satu kakaknya jika Arfan tinggal di rumah Edgar


.



Nadira pun akhirnya di bawa pulang ke kediaman Edgar, dan mau tidak mau, Arfan harus mendampingi nya Meski mungkin dia akan sedikit sungkan jika tinggal di rumah mertuanya, tidak akan leluasa seperti di kediaman Ednan bersaudara


"Ini Rumah papah Nadira, kamu tumbuh besar di sini, harusnya di setiap sudut rumah ini tidak akan asing bagimu" ucal Edgar


"O yah silahkan duduk pak Arfan, angap saja rumah sendiri" ucap Narita


"Bu, jangan panggil pak, kurang enak di dengar nya, aku sudah jadi menantumu kan, panggil Arfan saja" ucap Arfan


"Oh iya maaf,, ibu suka lupa kalau sekarang ibu punya menantu" ucap Narita


"Kak, apa kamu mau lihat kamarmu di rumah ini" tanya Gio


"Tentu saja, aku ingin melihatnya" ucap Nadira


"Kalau begitu ikuti aku" ucap Gio


"Aku mau lihat kamar ku dulu, boleh kan mah, pah?" tanya Nadira


"Ya sudah, sana" Edgar


Nadira pun bergegas pergi dengan Gio untuk ke kamarnya


Sementara Arfan hanya bisa meladeni mertuanya untuk mengobrol di ruang keluarga


"Arfan, bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Edgar


"Cukup baik pak, entah kenapa mendengar kabar Nadira aku jadi punya semangat lagi untuk mencarinya, dan mungkin itu juga yanhg mendorong kesembuhan ku" ucap Arfan


"Baguslah, papaph senang kamu akhirnya bisa menemukan Nadira, papah juga sudah hampir merelakannya,, o yah, gimana soal penabrak Nadira Tempo hari, apa Masih belum tertangkap juga?" tanya Edgar


"Itu dia pak, aku masih belum mendapatkan informasi tentang itu, mungkin karena tidak adanya kamera pemantau di TKP, jadi itu menyulitkan polisi untuk menemukan penabraknya" ucap Arfan


"Papah rasa juga itu akan sedikit sulit, tapi mudah-mudahan bisa segera tertangkap" ucap Edgar

__ADS_1


__ADS_2