Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Normal


__ADS_3

Arfan kembali ke kantor seolah semuanya normal normal saja, hati kasarnya memang mengatakan 'Nadira itu milikku, siapapun yang Berani mengambilnya, itu artinya dia mengibarkan bendera perang'


Tapi hati lembutnya mengatakan hal yang berbeda 'Kalau pria itu bisa membuat Nadira bahagia, kenapa aku harus memusuhinya, bukankah intinya Aku hanya ingin melihat Nadira bahagia, apa Nadira akan bahagia jika dia bersama ku dan meninggalkan cinta pertamanya??'


Kalimat kalimat itu yang sekarang terus berdebat di dalam hati Arfan, dan itu membuatnya sedikit kurang konsentrasi pada pekerjaannya, Arfan jadi sedikit sering melamun karena memikirkan itu


Andreas yang terus memperhatikan sedikit khawatir dengan Arfan, dia tidak ingin kakaknya mengulangi hal yang sama, andai kejiwaan nya terganggu lagi, apa kah masih ada Nadira Nadira yang lain?,


Andreas menghampiri meja Arfan dan duduk di depan mejanya


"Kak, apa ada yang bisa ku bantu untuk mu, tolong katakan sesuatu padaku, suruh aku melakukan sesuatu, aku tidak ingin melihatmu seperti ini" ucap Andreas


"Seperti ini bagaimana maksudmu?, Bukan kah kamu bilang Nadira belum tentu meninggalkanku, jadi apa yang perlu di khawatirkan?" ucap Arfan


"Aku hanya tidak mau kau terlalu memikirkan hal itu, jika kamu perlu sesuatu, apapun itu, bilang saja padaku" ucap Andreas


"Apa kau takut aku menjadi gila lagi, kau berikan saja aku pil penenang sebanyak-banyaknya" ucap Arfan asal


"Baik, aku akan mencarinya sekarang juga" ucap Andreas


"Dre, aku hanya bercanda, santai saja" ucap Arfan dengan tersenyum, dia malah ingin menenangkan Andreas yang terlalu mengkhawatirkan nya itu


"Tapi sepertinya kau memang memerlukan itu kak" ucap Andreas


"Tidak untuk sekarang, sudahlah kembali ke mejamu" ucap Arfan


"Baiklah, kalau kau perlu itu, bilang padaku" ucap Andreas


Diapun kembali ke tempatnya lagi


...°°°...


Sementara di sisi Lain, Nadira kini sedang menikmati Acara makan siang yang di buat Ken di hari ulangtahunnya,, dia duduk di samping Ken dengan penuh rasa kebimbangan menyelimuti hatinya,


Nadira dilema karena memikirkan apa yang harus dia pilih sekarang, 'Apa aku benar-benar harus bersama Ken supaya lukaku sembuh sepenuhnya, tapi itu artinya aku akan membuat luka baru di hati Arfan, dia terlalu baik, apa aku akan mengorbankan perasaannya demi perasaanku??? Ya tuhan apa yang harus ku pilih sekarang???, tolong beri aku petunjuk' rintih hati Nadira


"Nadira, kenapa kamu melamun" tanya Ken yang duduk di sampingnya


"Ah, tidak, aku tidak papa" ucap Nadira


"Apa kau sudah selesai makan?" tanya Ken

__ADS_1


"Sudah" ucap Nadira, meskipun dia belum menghabiskan makanannya


Ken segera mengeluarkan sebuah kotak indah dari saku jas yang dia kenakan, dia langsung membukanya di depan Nadira,


Nadira melihat di dalamnya itu terdapat sebuah kalung yang cukup cantik, namun jika di bandingkan dengan Kalung berlian dari Arfan, tentu saja itu berbeda kelas, tapi tentunya bukan itu yang jadi penilaian dari Nadira sekarang


"Kalungnya Cantik" ucap Nadira


"Apa kamu suka?, Jik kamu suka, aku akan memakaikannya sekarang" ucap Ken


"Nanti saja, aku bisa memakainya sendiri" ucap Nadira


"Baiklah, kalau begitu simpan ini untuk mu, jangan lupa di pakai" ucap Ken


"Ken, ada banyak hal yang sudah berubah semenjak kepergian mu, begitu juga aku, aku sekarang sudah ada kekasih, jadi mungkin aku tidak bisa menerimamu lagi begitu saja" ucap Nadira


"Apa kau meragukan citaku?, apa cinta pria mu sekarang itu lebih besar dariku?, belum tentu kan?,, jadi, sudahi saja hubungan mu dengan siapapun itu, dan kembalilah ke sisi ku, aku tidak akan membuat mu kecewa lagi,, percayalah" ucap Ken


Nadira menghela nafas panjang, dia merasa itu benar-benar pilihan yang sulit "Beri aku waktu, setidaknya sampai aku benar-benar yakin kalau kau tidak akan meninggalkan ku lagi" ucap Nadira


"Apa perlu aku langsung melamar mu, jika kau menginginkannya, itu akan ku lakukan saat ini juga" ucap Ken


"Tidak, ada banyak hal yang harus ku pertimbangkan, jadi jangan membuatku tergesa gesa untuk mengbil keputusan" ucap Nadira


Setelah Acara makan bersama itu usai, Nadira dan semua Rekanya juga harus kembali ke kantor, dan Ken mengantar Nadira ke kantor nya lagi


Ken mengantar Nadira hingga sampai depan pintu masuk lobi, dan setelahnya dia segera pamit


Saat Nadira akan masuk ke lobi, Sindi langsung menghampiri Nadira


"Nadira tunggu sebentar" ucap Sindi dengan nada serius


"Oh yah, maafkan aku sind, aku jadi sedikit melupakan mu" ucap Nadira dengan tersenyum ke arah Sindi


Sindi langsung mengeluarkan barang pemberian Arfan dari tasnya, dan menyerahkanya pada Nadira "Ini dari Arfan, dia menyuruhku memberikanya padamu" ucap Sindi


"Arfan??, kapan dia menemuimu?" tanya Nadira


"Saat kau dan Ken di luar tadi, kak Arfan juga ada di sana, dan dia menitipkan ini padaku setelah kamu masuk, dan kemudian dia pergi" ucap Sindi


"Jadi Arfan tadi datang ke kafe itu, tapi kenapa dia tidak menemui ku??" tanya Nadira

__ADS_1


"Dia melihat saat Ken berlutut di depanmu sebelumnya, kurasa dia tidak suka melihatmu dengan Ken" ucap Sindi


"Jadi dia tau apa yang terjadi di kafe itu?" tanya Nadira


"Iya, dia tau semuanya" ucap Sindi


Nadira pun langsung terdiam, ada perasaan bersalah yang menjalar di hatinya, karena dia sadar dengan statusnya


"Aku hanya ingin menyarankan, bijaklah untuk mengambil keputusan, supaya kau tidak menyesal nantinya, Ya" ucap Sindi


"Aku tau, terimakasih, " ucap Nadira


Mereka segera masuk kantor dan kembali ke tempat kerja masing-masing


.



Hari mulai beranjak petang, dan aktivitas kerja mulai terhenti di beberapa bidang profesi yang ada di kota B, tidak terkecuali Di perusahaan besar milik Ednan bersaudara,


Afan membereskan semuanya seperti biasanya, tidak nampak ada pikiran yang mengganggu nya Saat ini, karena dia sudah memegang kembali kata katanya yang pernah menyebut, kalau kebahagiaan Nadira itu yang dia utamakan,, seperti perkataan nya di awal awal dia sadar


Arfan dan Andreas segera kembali ke kediaman mereka lagi, Andreas terus mengikuti kemanapun kakaknya pergi di dalam rumah itu, bahkan dia juga sampai ikut masuk ke kamar Arfan, dia ingin memastikan kala kakaknya memang baik baik saja


"Kenapa kamu masuk ke kamarku?, apa kau tidak punya kmar??" tanya Arfan sedikit risih dengan sikap Andreas yang terus menguntit nya


"Kali kali aku ingin menginap di kamar mu kak, apa tidak boleh?" tanya Andreas sambil menjatuhkan dirinya di tempat tidur Arfan


"Terserah lah" ucap Arfan, dia segera melepas jas kantor yang dia kenakan, kemudian melonggarkan dasi yang di pakainya, dan dia menaruhnya di atas tempat tidur dengan beberapa barang pribadi lainya


Namun saat dia akan beranjak untuk membersihkan diri, ponselnya yang juga Arfan Taruh di tempat tidur tiba tiba berdering


Andreas langsung melirik ponsel Arfan yang tergeletak di depanya, dan langsung tau kalau yang memanggilnya itu Nadira


Arfan langsung menoleh pada Andreas "Siapa yang memanggil?" tanya Arfan berbalik dan segera meraih ponselnya


"Siapa lagi kalau bukan pacarmu" ucap Andreas


Arfan melihat kalau itu memang panggilan dari Nadira, jadi dia langsung menjawab nya


Arfan Hanya diam dan mencoba mendengarkan ponselnya di telinga saat dia sesudah mengangkatnya

__ADS_1


Tapi Nadira juga tidak langsung berbicara padanya, mereka hanya saling diam satu sama lain


__ADS_2