
…
Tujuan Arfan sekarang adalah membawa Nadira ke tempat di mana dia bisa menenangkan dirinya, ya itu ke taman musik, karena menurutnya mungkin Nadira sekarang mbutuhkan tempat yang menenangkan
Sementara di dalam mobil Nadira tidak melepaskan tangan Arfan, dia terus menempel seperti gurita di samping arfan yang sedang mengemudi
"Gadis cengeng, kalau kamu sekarang bersamaku, bagaimana dengan Ken mu itu" tanya Arfan
"Aku sudah mengakhirinya,, dia hidup di masa lalu ku kan, dan mungkin sudah sepantasnya dia terkubur disana juga,, sekarang aku hanya ingin hidup dengan orang yang sangat peduli padaku di saat aku berada di titik paling rendahku, ya itu paman" ucap Nadira
"Memangnya apa yang sudah ku lakukan, hingga menurutmu aku sangat peduli padamu?" tanya Arfan
"Sindi sudah memberitahuku semuanya,, paman kan yang sudah membiayai operasi kakiku?, juga ada banyak lagi yang sudah paman lakukan, dan paman tidak pernah memberitahuku sebelumnya,, kenapa paman tidak jujur ?, aku jadi merasa sangat bersalah sudah meragukan paman sebelumnya, dan aku tidak tau bagaimana cara membalas semua kebaikan itu pada Paman" ucap Nadira
"Begitukah, tidak perlu di pikirkan soal bagaimana kamu membalas itu, yang kamu harus lakukan sekarang adalah,, bahagialah di sisiku, itu saja" ucap Arfan
Nadira pun langsung tersenyum "Tentu saja paman,, Aku memang bahagia sekarang,,, O ya Paman, ngomong-ngomong, siapa gadis berambut pirang yang kemarin bersama mu itu?, Jangan bilang kalau dia pacar mu" ucap Nadira
"Dia Arumi, dia itu teman Andreas, dan kebetulan dia juga karyawan di Ednan grup" ucap Arfan
"Oh, syukurlah" ucap Nadira merasa lega, karena dia memang sempat mengira Arfan punya teman kencan, itu sebabnya dia tidak berani menemui atau menghubungi Arfan lagi
.
Tidak lama mereka segera tiba di taman musik, Arfan segera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk taman itu
Nadira langsung menoleh pada Arfan " kenapa kita kesini?" tanya Nadira
"Aku pikir kamu perlu tempat yang menenangkan, jadi aku membawa mu kesini" ucap Arfan
"Aku sudah cukup merasa bahagia sekarang, jadi sepertinya aku tidak perlu menenangkan diriku, tapi tidak papah, mau kemana pun paman membawaku, aku akan senang, asalkan itu dengan paman" ucap Nadira
"Begitukah??, kalau begitu bagaimana kalau kita pergi nonton sekarang?" tanya Arfan
"Tentu, itu ide yang bagus" ucap Nadira
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita pergi nonton sekarang" ucap Arfan
Arfan segera melajukan mobilnya lagi untuk merubah tujuan mereka sekarang,, dan arfan akhirnya tiba di sebuah pusat perbelanjaan, dan segera mengajak Nadira untuk mencari bioskop, dan memesan tiket nya
Setelah itu mereka segera masuk kedalam ruangan bioskop dan mencari tempat duduk mereka, namun sebelum mereka duduk, Arfan diam diam menghubungi pengelola bioskop untuk melakukan sesuatu untuk nya,
Dan begitu lampu bioskop di matikan, mereka bersiap menonton di tempat duduk mereka, namun yang pertama muncul di layar lebar itu bukan sebuah pembukaan film, melainkan sebuah tulisan "Our beautiful moment"
Kemudian setelah kata itu hilang, munculah serangkaian foto Nadira Arfan dan Dinda yang pernah di ambil Arfan saat di villa Oma nya, dan juga saat di ulang tahun Dinda waktu itu
Nadira awalnya tidak sadar kalau itu foto dirinya, dan mengira kalau itu foto foto dari pemain film yang kebetulan mirip saja,, tapi setelah meperhatikan lebih jeli lagi,, dia sadar kalau foto itu sangat mirip dengan dirinya, Nadira langsung menoleh pada Arfan
"Paman, bukankah itu foto kita?, kenapa bisa ada di layar bioskop ini??" tanya Nadira bingung
"Tidak tau, lihat saja filmnya" ucap Arfan datar, dan terus memasukan popcorn ke mulutnya
Setelah rangkaian foto itu berakhir, muncul lagi sebuah kata lain dilayar besar di depan mereka itu "I Love you Nadira Anggera, stay with me, forever" dengan tulisan yang besar, dan tentunya itu di lihat dan di baca oleh para penonton lain
Dan samar samar terdengar obrolan orang yang mepertanyakan siapa yang menyatakan perasaannya lewat layar besar itu
Tapi Nadira merasa kalau Arfan tidak meresponnya sama sekali, dan dia sedikit heran dengan itu, dia mendongak untuk menatap wajah Arfan lagi
"Paman, aku bilang I Love you to, knapa tidak meresponku?" tanya Nadira
Arfan tidak menjawab dan hanya menunjuk nunjuk pipinya sendiri
Nadira langsung paham kalau itu artinya Arfan meminta sebuah ciuman darinya "Baru juga balikan, sudah minta yang aneh-aneh" ucap Nadira, dia celingak-celinguk lalu dengan cepat mencium pipi Arfan sekilas bdengan bibirnya 'Cup'
"Sudah" ucap Nadira
"Kurang" ucap Arfan
"Ayolah paman, di sini banyak orang, aku tidak mau" ucap Nadira
"Baiklah, kalau begitu cukup untuk saat ini" ucap Arfan tersenyum
__ADS_1
Setelah filmnya di mulai, mereka segera mefokuskan lagi netra mereka ke layar besar di depan mereka,
Kebetulan Film yang mereka pilih itu berjendre romantis, dan Nadira sangat menghayati alur cerita yang ada di dalamnya filmnya
Raut Wajahnya pun terus berubah-ubah tergantung alur di film nya, kadang terlihat kesal, sedih, senang, atau bahagia, tapi di saat ada adegan Kissing di dalam film itu, Nadira selalu menutup wajahnya dengan satu tangan
"Nadira, ini bukan pilm hantu, kenapa harus menutupi matamu seperti itu" tanya Arfan
"Itu adegan yang tidak ingin kulihat" ucap Nadira
"Memangnya kenapa?, apa kamu tidak pernah melakukan yang seperti itu" tanya Arfan asal
"Tidak pernah, apaan gitu gituh" ucap Nadira
"Aku meragukannya" ucap Arfan
"Terserah kalau tidak percaya" ucap Nadira yang sebenarnya selalu berdebar jika melihat adegan seperti di layar itu, karena dia mang belum pernah melakukannya
"kalau misalkan paman mau seperti itu bagaimana" tanya Arfan asal
"Tidak mau, paman lakukan saja dengan tembok" ucap Nadira
"Baiklah aku akan melakukannya" ucap Arfan tersenyum dengan mengelengkan kepalanya, dia sedikit tidak percaya di usia Nadira sekarang dia belum pernah melakukan kissing
Mereka segera fokus kembali ke film yang mereka tonton, dan tidak terasa film pun segera usai, dan lampu bioskop kembali menyala
Setelah itu Mereka keluar dari bioskop dengan tetap bergandengan tangan,
"Apa menurut paman filmnya bagus?" tanya Nadira
"Menurutku itu bagus, tidak membosankan,, menurut mu,?" tanya Arfan
"Menurutku yang paling bagus di layar itu adalah pembukaan di awalnya, terima kasih paman, kamu memang selalu membawa kejutan yang tidak pernah aku sangka sangka" ucap Nadira
"Sama sama" ucap Arfan
__ADS_1
Setelah itu mereka berjalan jalan sebentar di area mol, lalu kemudian Arfan mengantar Nadira pulang ke kediaman Edgar,, karena dia takut keluarga Nadira cemas pada putrinya itu,