
Arfan sejenak menepikan mobilnya di pinggir jalan, karena dia kehilangan jejak Ramon, tapi dia tidak kehabisan akal untuk menemukan nya, dia bisa melacaknya dari nomor yang di gunakan Ramon,
Arfan langsung mengambil Laptopnya lagi dan mencari tau posisi Ramon sekarang, dan tentu saja Arfan bisa mudah menemukan nya, "Apa kau mengira akan bisa lari dariku?,, jangan harap" ucap Arfan, dia pun segera melajukan mobilnya ke arah sinyal merah yang dia lihat di layar laptop nya
…
Sementara itu Ramon pergi ke sebuah tempat di mana ada seorang bos preman yang dia kenal, untuk bersembunyi dari kejaran Arfan
Dia memasukkan mobilnya ke salah satu gedung tua di daerah itu, dan menemui orang yang di kenalnya itu meminta perlindungan
Arfan yang tau posisi Ramon sekarang tentu dia mengikuti Ramon ke tempat itu, dan diapun kini sudah berada di luar bangunan itu
"Apa Dia bersembunyi di rumah ini tuan?" tanya Gian
"Kurasa begitu, tapi bagaimana caranya kita bisa masuk kedalam??" tanya Arfan bingung karena melihat pintu gerbangnya rumah itu lumayan tinggi,
Dan penjaga pintunya juga kali ini pasti tidak akan mudah memasukan mereka, karena Ramon pasti sudah mewanti-wanti mereka
"Aku akan mencoba bicara pada penjaga nya" ucap Gian
"Baik, lakukanlah,, Tidak ada salahnya di coba" ucap Arfan
Mereka berdua pun turun dari mobil, Gian langsung menghampiri Penjaga gerbang, sementara Arfan hanya menunggu dan bersandar di samping mobilnya
Gian mencoba bernegosiasi, dan ternyata Arfan melihat kalau pintu gerbang nya di buka oleh seseorang dari dalam, Arfan cukup heran, karena pikir nya, ternyata Gian bisa sangat mudah membujuk mereka
Tapi sepertinya Arfan salah, karena dari pintu yang terbuka itu malah keluar belasan pria pria yang terlihat cukup garang
Gian juga sampai mundur beberapa langkah kebelakang
Arfan merasa kalau kondisinya tidak menguntungkan untuknya, dan sedikit mustahil untuk melawan mereka berdua saja dengan tangan kosong
"Gian, kurasa kita datang ketempat yang salah, lebih baik kita pergi sekarang" ucap Arfan
"Heehhh,,, Loe pikir kalau loe sudah datang kemari, loe bisa seenaknya main pergi pergi begitu saja, tidak semudah itu kawan, ada yang harus kau tinggalkan di sini sebagai kompensasi untuk kami" ucap salah satu dari mereka
__ADS_1
"Gua ingin bertemu pemimpin lu lu pada, panggil dia kemari" ucap Gian yang merasa kalau mereka pasti punya seorang ketua
"Cih, berani beraninya loe nyuruh gue, bedebah, jangan pikir loe bisa bertingkah di sini" ucap Salah seorang berambut gondrong dan bertato dengan tatapan tidak suka pada Gian
Arfan merasa kalau dirinya pasti akan kalah jumlah jika mereka harus bertarung di sana, mana dia sekarang tidak membawa senjata apapun sebagai pertahanan diri, tapi dia merasa sedikit salut pada Gian yang sepertinya tidak gentar meski dia berhadapan dengan belasan pria pria Sangar di depannya
"Kalau kalian merasa jago, gua tantang lu lu untuk separing satu lawan satu" ucap Gian
"Banyak bacot loe, kita hajar saja langsung orang ini" ucap salah seorang lainnya
"Gian,, kita pergi sekarang, situasi tidak memungkinkan," ucap Arfan langsung mencoba membuka pintu mobilnya,
Namun beberapa orang dari mereka langsung beranjak untuk mengepung mobil Arfan dengan sebuah pemukul besi di tangan mereka, dia bersiap memukul mobil Arfan kalau Arfan berniat ingin kabur dengan mobilnya
"Kalau loe masuk ke mobil loe, gua hancurin ni mobil, tapi kalau loe mau selamat, setidaknya kasih kita kompensasi" ucap pria yang sudah bersiap memukul mobil Arfan itu
Arfan langsung mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil,, "Baik, berapa yang kalian inginkan, asalkan kalian bawa orang yang bernama Ramon itu ke hadapan ku, berapa pun akan ku tebus dia" ucap Arfan mencoba bernegosiasi
Para preman itu pun langsung berbisik bisik
"Baik, pertemukan aku dengannya" ucap Arfan
"Kalau begitu kalian bisa masuk kedalam, dia ada di dalam" ucap Salah seorang dari mereka mempersilahkan Arfan dan Gian masuk ke basecamp a mereka
Arfan segera di giring masuk ke rumah tua itu dengan perasaan deg degan, namun tidak dengan Gian yang nampak cukup tenang
Arfan sedikit takut kalau mereka punya senjata tajam atau semacamnya, yang mungkin bisa saja mereka tikam kan padanya kalau mereka mau, kalau serangan fisik mungkin masih bisa Arfan ladeni, tapi kalau berhubungan dengan senjata tajam, Arfan sedikit ngeri, 'Tidak lucu kalau aku mati konyol di tempat seperti ini,, di rumah istri masih cukup muda kan?' gumam batinnya
Arfan berpikir dia masih belum puas menghabiskn waktu dengan Nadira, jadi dia benar-benar sedikit takut masuk ke sarang preman seperti itu
Mereka langsung membawa Arfan ke tempat pemimpin mereka
Arfan melihat kalau Ramon sekarang terduduk di dekat seorang pria berperawakan besar dengan topi koboy menutupi sebagian wajahnya, dan Arfan menebak kalau itulah bos mereka
Ramon yang melihat kalau Arfan bisa masuk tentu menatap nya dengan heran, tapi dia masih bersikap tenang karena merasa masih punya perlindungan
__ADS_1
Salah seorang preman langsung menghampiri bos mereka dan berbisik di telinganya
Perasaan Arfan mulai tidak enak, dia sedikit takut kalau bos mereka itu akan menolak bernegosiasi dengannya, dan malah berniat merampoknya
"Jadi kau menginginkan Ramon ikut dengan mu?" tanya sang pemimpin itu seraya mengangkat wajahnya menatap ke arah Arfan dan Gian
"Kau harus melindungi ku dari mereka, aku akan berikan apapun jika kau bisa menmberi pelajaran pada mereka" bisik Ramon pada Rogers
Namun saat Rogers memperhatikan Gian yang sedang menatap tajam kearahnya, dia merasa sangat familiar dengan nya
"Gian??, apa itu kau?" tanya Rogers
"Rogers, ku kira anak buah siapa yang sudah berani menyambutku seperti ini" ucap Gian tenang
Rogers hanya tersenyum
"Kau mau bernegosiasi dengan tuanku hanya untuk sekor keledai tua?, kau sungguh terlalu Rogers" ucap Gian
Rogers langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Gian, mereka berdua langsung berdiri berhadapan "Kak Gian, sahabat lamaku, sudah lama kita tidak bertemu, kau nampak suda tua sekarang" ucap Rogers
"Apa kau merasa kalau kau sendiri masih kelihatan muda??, kau juga sudah seperti pria tua sekarang Rogers, hah" ucap Gian seraya merentangkan tangannya
Dan yang tidak di sangka oleh Arfan, mereka ternyata malah berpelukan, bukanya adu jotos seperti yang sudah dia perkirakan sebelumnya,
"Kau benar, kita sudah tua sekarang, hahahaa" ucap Rogers dengan menepuk nepuk punggung Gian
Mereka segera menyudahi pelukan mereka
"Tapi sejujurnya kau masih nampak gagah seperti waktu kita masih gila dulu,, o yah Siapa yang sudah berani menyambut mu dengan tidak baik kak, tunjuk saja orangnya, biar aku kasih pelajaran dia" ucap Rogers
Mendengar perkataan Rogers, semua anak buahnya langsung menundukan pandangan mereka, mereka takut ditunjuk Gian dan di pukuli Rogers
"Tidak, aku tidak ingin kau memukuli orang orang mu, aku hanya ingin kau menyerahkan keledai tua itu padaku, kalau perlu bos ku bisa memberimu imbalan" ucap Gian
"Tidak perlu sungkan sungkan kak, itu bisa ku urus, seperti yang kau bilang, dia hanya keledai tua saja, aku akan menyerahkan dia padamu,, Hey kalian, cepat ambilkan minuman untuk kak Gian, jangan diam saja, dan pastikan si tua itu tidak kabur" ucap Rogers pada anak buahnya
__ADS_1
Mendengar itu,, Arfan benar-benar mulai bisa bernafas lega, dan dia diam menghela nafasnya ' hhhh,, Syukurlah,, mereka teman lama rupanya,, itu artinya aku masih bisa pulang ke rumah, dan bertemu istri menggemaskan ku' pikir Arfan dengan senyum kaku di permukaan