Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Giliran


__ADS_3

Suasana menjadi sedikit canggung setelah Arfan mengatakan apa yang ingin dia katakan,


Nadira juga jadi bersikap sedikit pendiam, dia merasa ingin segera pergi dari samping Arfan untuk menghindari kecanggungan itu, tapi dia juga bingung harus pergi kemana?,


Karena Dinda dan Oma juga masih terlihat sibuk dengan teman ngobrol mereka masing-masing


Di saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba ada seorang gadis yang dengan cepat menghampiri Nadira dari arah kerumunan tamu,


"Nadiiiiiiiii" wanita itu bergegas kesamping Nadira dan langsung meraih pangkal lenganya


Nadira yang melamun merasa sedikit kaget karenanya, dia langsung memperhatikan gadis yang menghampirinya itu, dan ternyata itu adalah sahabat nya,


"Sindi!!??,, kamu kesini juga???,, Ya ampun sindiii, aku kangen banget tau, hu hu" ucap Nadira langsung memeluk sahabatnya itu erat erat dengan Gimik sedih, hatinya sedikit merasa plong karena ternyata Sindi datang juga ke acara itu


"Aku juga merindukan mu Nadi," sahut Sindi


Arfan langsung menoleh pada mereka dengan tersenyum, dia kemudian mencari Andreas yang memang sengaja di suruhnya supaya dia mengajak Sindi ke acara itu


Dan Andreas juga segera menghampiri Arfan dari arah kerumunan, dan mereka langsung beradu kepalan tangan


"Kau datang di saat yang tepat Dre" ucap Arfan


"Apa maksudmu???,, apa kau menyindir ku karena aku datang belakangan?" ucap Andreas


"Tidak juga, itu memang ungkapan yang sebenarnya," ucap Arfan sambil melirikan pandangannya pada dua gadis yang berpelukan di sampingnya


"Oh, Baiklah, aku pura-pura paham saja, O yah, oma dimana??" tanya Andreas


"Oma di sebelah sana, dia bersama Paman Kevin dan bibi" ucap Arfan menunjuk ke sudut lain pesta


"Oh, kalau begitu aku temui dia dulu" ucap Andreas


"Kenalkan juga tunangan mu pada Oma" ucap Arfan


"Tunangan??, maksudmu Sindi?" tanya Andreas


"Siapa lagi" ucap Arfan

__ADS_1


Nadira yang mendengar perkataan Arfan langsung melepas pelukannya dari Sindi dan langsung menatap tajam pada mata Sindi "Kamu sudah tunangan???, kenapa aku tidak tau??" tanya Nadira dengan ekspresi kaget


Sindi langsung menggelengkan kepalanya "Ti tidak Nadi, itu kak Arfan hanya asal bicara saja" ucap Sindi


Nadira mulai mencari keberadaan cicin cantik yang pernah di lihatnya di jari tangan Sindi, dan kemudian dia memperhatikan cicin di jari tangan Andreas juga yang memang terlihat mirip


Nadira langsung mengangkat tangan Sindi "Lalu ini apa??, apa kamu masih mau mengelak??, Kalian memakai cicin yang sama kan??, Kenapa kau merahasiakan ini dariku?" ucap Nadira


"Tidak tidak, tidak begitu Nadi, ini memang cicin dari Kak Andreas, tapi ini bukan cincin tunangan, ini hanya cincin pertemanan saja" ucap Sindi polos


"Sungguh??,, apa menurutmu aku sepolos itu?, memangnya pertemanan itu perlu memakai cicin yang sama?,, lalu kenapa aku tidak memakai cicin yang sama juga dengan mu??," tanya Nadira dengan tatapan serius


"Itu itu...." Sindi sedikit kesulitan untuk menjawabnya, dia langsung mengalihkan pandangannya pada Arfan yang sedang menertawai nya tanpa Suara "Kak Arfan, kau harus tanggung jawab, ini ulah mu kan?" ucap Sindi menyalahkan Arfan


"Ulah apa?,, jangan mengalihkan topik pembicaraan dariku,,, sekarang jelaskan kenapa kau tidak memberitahu ku tentang pertunangan kalian ini??" tanya Nadira


"Aku bersumpah Nadi, aku tidak bertunangan dengan kak Andreas, kamu tanyakan saja pada orang nya" ucap Sindi menoleh pada Andreas


Tiba tiba "Oma dengar ada yang sudah bertunangan di sini ya?,, siapa?" tanya oma yang menghampiri mereka tiba tiba itu


"Dia Sindi temanku Oma, dia menyembunyikan pertunangan nya dengan Andreas cucu Oma" ucap Nadira mengadu


Arfan langsung menepuk jidatnya sendiri karena dia tidak menyangka kalau gurauan nya itu bisa Sampai ketelinga Oma


Sementara Andreas langsung gelagapan di buatnya dan tidak tau harus bicara apa, dia hanya saling menatap dengan Arfan


"Sungguh??, beruntung sekali Oma, tiba tiba langsung di kunjungi oleh dua calon istri dari cucu cucu Oma bersamaan, Siapa namamu tadi?" tanya Oma pada Sindi


"Aku, aku Sindi Oma" ucap Sindi yang merasa sedikit tegang


"Sini sini, oma ingin lebih dekat dengan kalian" ucap Oma


"Ayo" ucap Nadira dengan menarik Sindi yang masih menggandeng nya, Nadira memang sudah tidak terlalu sungkan pada Oma, jadi dia tidak ragu jika harus mendekat pada Oma,


Berbeda dengan Sindi yang baru saja tiba, dia tentunya sangat sungkan bertemu Omanya Andreas, terlebih lagi kalau dia di anggap tunangan Andreas, tentu saja dia sedikit tengsin


Jadi saat Nadira hendak melangkah untuk menghampiri Oma, Sindi langsung menariknya kembali ketempat awal Nadira

__ADS_1


"Ayolah sindi, masa kamu tidak menghampiri calon omamu" ucap Nadira


"Sumpah demi apa pun itu aku bukan tunangannya Andreas Nadi, aku mohon jangan bawa aku padanya, aku sampe gemetaran ini" bisik Sindi yang mulai merasa grogi jika harus bertatap muka langsung dengan Omanya Andreas


"Kalau memang benar begitu, kau jelaskan saja pada Oma langsung" bisik Nadira lagi


"Tidak mau, aku tidak berani" ucap Sindi semakin mempererat pegangan nya di tangan Nadira


Andreas merasa tidak enak hati pada Sindi karena salah paham oma, jadi dia segera menghampiri Oma untuk menjelaskan nya "Oma, dia benar-benar bukan tunanganku, dia hanya temanku, kak Arfan hanya bercanda saja mengatakan kalau kami sudah bertunangan" ucap Andreas


"Terus kenapa kalian memakai cincin yang sama, jika kau sudah memberikan sebuah cincin pada seorang gadis, Oma pikir dia bukan hanya teman biasa saja" ucap Oma


Andreas langsung terdiam sesaat karena sedikit kehabisan kata-kata untuk menjelaskan "Ya tapi, itu, aku ...."


"Dia cantik, dan sepertinya dia juga baik, apa kau benar-benar tidak menyukai Sindi?" tanya Oma


Andreas semakin bingung dengan pertanyaan Oma itu, jujur dia punya kesan yang baik pada Sindi, tapi dia juga baru saja patah hati, dia masih belum ada mood untuk menjalin sebuah hubungan


"Sini sayang, Ayolah, apa menurutmu wanita tua ini menakutkan?" tanya Oma yang melihat Sindi takut untuk maju kehadapan nya


"Tidak Oma, aku tidak punya pikiran seperti itu kok Oma, beneran" ucap Sindi


"Kalau begitu sini, Oma ingin berjabat tangan dengan mu" ucap Oma


"Beb baiklah" ucap Sindi yang mulai mengikuti langkah Nadira yang membawanya lebih dekat pada Oma


"Oma" Sindi sedikit ragu untuk bersalaman, namun dia melakukanya juga


"Oma sangat berharap kalau kalian benar-benar akan jadi istri istri cucu cucu Oma, Entah kenapa Oma merasa kalau kalian itu adalah wanita wanita yang cocok untuk bersanding dengan mereka" ucap Oma Laura


"Itu, itu aku tidak yakin Oma" ucap Sindi dengan senyum kaku yang tergambar di bibirnya


"Apa menurutmu cucu Oma ini kurang tampan?,, kalau menurut Oma sih dia lumayan tampan" ucap Oma sambil memperhatikan wajah Andreas dengan memegangi dagunya


"Bukan begitu Oma, tapi aku yang malah merasa tidak pantas untuk cucu oma" ucap Sindi


"Pantas atau tidaknya biar waktu yang akan menjawabnya, tapi Naluri Oma mengatakan kalau kalian ini akan jadi pasangan yang benar-benar cocok" ucap Oma

__ADS_1


__ADS_2