
Arfan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena dia membawa Nadira di sampingnya, mereka hanya mengobrol ringan selama di perjalanan, hingga akhirnya Arfan memasukan mobilnya ke halaman gedung Anggera Land, itu kali pertama untuk Arfan mengantar Nadira ke tempat kerjanya
"Sudah sampai, apa aku perlu mengantarmu ke dalam juga?" tanya Arfan Asal
"Tidak perlu, Sudah ada yang menungguku di depan sana, tuh" ucap Nadira melirik Sindi yang celingak-celinguk melihat mobil Arfan yang baru masuk ke halaman kantor
"Ya sudah, kalau begitu kamu kerja yang giat ya" uca Arfan
"Iya, tentu saja, kamu juga, semangat kerjanya, ya" ucap Nadira sambil mengepalkan tangan di depanya
"Tentu saja" ucap Arfan tersenyum
Nadira segera turun dari mobil Arfan dan langsung menghampiri Sindi yang menatap heran padanya
"Weis, seperti nya ada yang berbeda darimu sekarang" ucap Sindi
"Apa itu penampilan ku?, atau riasan ku?" tanyabNadira meraba pipi nya sendiri
"Bukan, tapi sekarang kamu ada yang mengantarmu kerja" ucap Sindi
"Oh, itu aku tadi ketemu di jalan, jangan salah sangka dulu" ucap Nadira dengan tersenyum malu-malu
"Salah sangka apa, aku tidak mengatakan apapun, justru sikap mu yang seakan mengatakan sesuatu padaku sekarang" ucap Sindi
"Mengatakan apa?" ucap Nadira
"Kamu sudah jadian ya?" tanya Sindi
"Enggak juga, sudah ah, ayo masuk, sudah siang ini, sekarang aku atasan mu, apa kamu mau di hukum?" tanya Nadira bercanda
"O iya ampun ampun bu Nadira, aku sangat takut" ucap Sindi
Mereka langsung tertawa berbarengan dan segera memasuki kantor
Arfan juga segera pergi saat Nadira hilang dari pandangan nya,
Setibanya Arfan di ruangan kantornya, Andreas juga sudah ada di sana "Hari ini Ada yang lagi bahagia kayaknya" ucap Andreas yang melihat wajah kakaknya sangat cerah
"Ya begitulah, kamu kapan mau nembak sindi" tanya Arfan
"Mungkin Nunggu momen yang pas," ucap Andreas
"Buat saja momennya, tidak perlu nunggu" ucap Arfan
"Akan ku cari waktu yang tepa untuk mengajaknya makan malam" ucap Andreas
"Itu bagus, setidaknya jangan di meja makan saat sarapan pagi" ucap Arfan
__ADS_1
"Justru aku iri padamu, kenapa kau mendapatkan kesempatan seperti itu, itu jadian yang anti menstream menurutku" ucap Andreas langsung tertawa
"Entahlah, kurasa aku harus mengulangnya lagi, mungkin momen seperti itu kurang berkesan untuk Nadira" ucap Arfan
"Mana bisa begitu,, O yah kak, hari ini Arumi mulai masuk kerja di kantor kita, jadi aku mau mengetesnya sekali lagi" ucap Andreas,
"Boleh saja, tapi jangan terlalu berharap, atau kau akan kecewa lagi" ucap Arfan
"Tidak lah, aku hanya masih penasaran saja, sekarang aku fifty fifty, dia menerimaku syukur, tidak juga aku masih punya Sindi kan" ucap Andreas
"Baguslah, habiskan semua rasa kepenasaranmu itu" ucap Arfan
"Tentu" ucap Andreas, dia pun beranjak dari duduknya dan segera memakai pakaian OB lagi
Setelah nya dia segera turun ke lantai tempat Arumi di tempatkan di hari pertamanya kerja itu
Andreas langsung meminta di buatkan minuman pada salah satu OB asli yang ad di kantornya, setelah itu dia segera mengantarnya ke tempat Arumi
Andreas langsung mengetuk pintu ruangan Arumi dengan membawa Napan kecil di tangannya 'tok'tok'tok'
"Masuk saja" ucap Arumi dari dalam
Andreas membuka pintunya dan kemudian masuk, dia menghampiri meja Arumi dan langsung menaruh cangkir teh di meja kerjanya "Minumanmu Rum" ucap Andreas dengan tersenyum
Arumi langsung menoleh pada Andreas, "Andreas?!!, kebetulan sekali,, aku tadinya sudah berencana ingin menemui mu, kebetulan kamu kesini" ucap Arumi dengan tersenyum
"Dre, maaf soal perkataan ku yang sebelumnya,, aku tau aku salah,, aku harap kamu bisa memaafkan ku" ucap Arumi
"Tidak papa, jangan terlalu di pikirkan, aku sudah memaafkan mu sebelum kamu meminta nya," ucap Andreas yang sedikit heran kenapa Arumi bisa berubah secepat itu
"Aku sekarang tau kamu itu siapa, tapi aku tidak habis pikir padamu, kenapa kamu mau menggunakan baju OB seperti ini, kamu aneh tau, masa Ceo perusahaan memakai baju OB," ucap Arumi
Andreas langsung mengerti kenapa Arumi berubah menjadi semanis itu, itu kaean dia sudah tau dirinya yang sebenarnya
Awalnya Andreas menganggap itu hal yang luar biasa, tapi setelah mendengar alasannya, dia jadi menganggap itu biasa saja,
"Oh, jadi sekarang kamu sudah tau?" tanya Andreas
"Tentu saja, aku melihatmu di majalah bisnis kota ini, tidak ku sangka ternyata kamu orang hebat dre, apa ini mang caramu merendah, aku tidak menyangkanya sama sekali lho," ucap Arumi
"Ya begini lah aku, aku hanya ingin melihat reaksimu saja jika melihatku seperti ini, dan aku sudah menyimpulkan sesuatu sekarang, ternyata kau memamng sudah banyak berubah" ucap Andreas
"Andreas, aku benar-benar minta maaf, aku tau aku salah," ucap Arumi beranjak dari kursi nya dan menghampiri Andreas
"Sudah ku bilang kan, aku sudah memaafkan mu" ucap Andreas
"Kalau begitu apa kita sekarang berteman lagi?," tanya Arumi sambil merangkul tangan Andreas
__ADS_1
"Tentu saja,, o yah Kamu lanjutkan saja pekerjaan mu di sini, aku harus ke ruangan ku lagi" ucap Andreas
"Iya, siap, nanti siang kita makan bareng ya" ucap Arumi
"Tentu" ucap Andreas tidak menolak
"Baguslah, aku akan menunggumu nanti" ucap Arumi
Andreas tersenyum dan kemudian berlalu meninggalkan ruangan Arumi
Dan Andreas segera kembali keruangan nya lagi
"Bagaimana? apa Arumi masih tidak memperdulikan mu??" tanya Arfan
"Dia menyambut ku dengan baik" ucap Andreas,
"Syukurlah kalau begitu, jadi apa keputusan mu sekarang?, apa kau akan melanjutkan mendekati Arumi lagi?" tanya Arfan
"Dia menerimaku karena dia sudah tau aku siapa, jadi kesimpulannya mungkin ketulusannya memang sudah tidak ada untuku," ucap Andreas
"Begitu ya, pantas saja aku sedikit tidak percaya, jadi apa rencana mu sekarang?" tanya Arfan penasaran
"Aku mungkin hanya akan berteman dengannya, tapi jika untuk lebih dari itu, aku sepertinya harus memikirkan nya lagi" ucap Andreas
"Baiklah, jika itu keputusan mu, sebenarnya aku masih mendukung mu dengan Sindi, tapi aku juga tau kalau perasaan itu tidak bisa di paksakaan" ucap Arfan
Andreas hanya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, dan kemudian dia kembali duduk di kursi nya lagi
.
…
Siang harinya, saat jam makan siang tiba, Arfan langsung menghubungi Nadira untuk mengajak nya makan siang, tapi sayangnya Nadira tidak bisa,
Karena Nadira beralasan punya janji pada Sindi dan rekan sekantor nya untuk makan siang bersama siang itu
Jadi Arfan sedikit malas untuk makan siang
...°°...
Sementara di sisi Lain Nadira kini pergi dengan beberapa teman sekantornya ke sebuah kafe, Nadira juga bingung karena tidak biasanya mereka mengajaknya makan bersama sama seperti itu
"Sind, ini ada acara apa sih sebenarnya?, Kok tumben tumbenan kita makan siang serame ini" tanya Nadira
"Sudah, mending kita langsung masuk saja kedalam" ucap Sindi yang sebenarnya memang menyiapkan kejutan untuk Nadira sahabatnya
Sindi dan beberapa teman kantor Nadira yang lain langsung mengiringi Nadira masuk ke dalam kafe itu,,
__ADS_1