Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pulang Lagi


__ADS_3

Siang berganti Malam, dan Hari juga silih berganti dengan hari lainya, pekan demi pekan Nadira hanya menghabiskan waktunya dengan hanya beristirahat di ranjang rumah sakitnya


Dan tidak terasa tahap pemulihan kaki Nadira pasca operasi kini sudah memasuki pekan ke empat, itu pun membuat Nadira merasa sedikit jenuh terbaring di sana karena dia hanya bisa menatap langit-langit ruang perawatannya saja,


Sindi juga tidak bisa menemaninya setiap saat,, dia hanya bisa menengoknya saat dia pulang kerja hingga sampai malam hari,


Begitu juga Andreas dan Arfan, meski mereka setiap hari tidak pernah Absen menjenguk Nadira, tapi mereka juga tidak bisa berlama lama di rumah sakit untuk menemani Nadira,


Itu pun membuat Nadira serasa ingin segera keluar dari rumah sakit dan segera memulai aktivitas normalnya kembali


Pagi ini Nadira terbaring di tempat tidurnya seperti biasanya,, dia mengerenyitkan Matanya saat dia menatap cahaya dari arah jendela yang baru saja di buka oleh ibunya, cahaya yang baru memasuki ruangan itu sedikit menyilaukan matanya


"Nadira, Apa belum ada kabar kapan kamu di perbolehkan pulang?" tanya Narita


"Belum Bu, tapi pasti dalam waktu dekat aku sudah boleh pulang, karena sekarang kaki ku juga sudah enakan di pake jalan" ucap Nadira


"Sebenarnya ibu lebih betah menemani mu di sini sih, tiap hari Selalu ada Nak Andreas menengok mu dan bawain makanan buat kita kan, jadi ibu tidak perlu pusing-pusing mikirin soal persediaan makanan,, tapi rasanya ibu rindu juga suasana di rumah" ucap Narita,


Narita pun beranjak dari jendela dan duduk di samping Nadira "Dira, Ibu mau tanya satu hal padamu, apa kamu menyukai Andreas??, ibu lihat dia benar-benar laki laki yang baik dan perhatian juga padamu,, tanpa kamu meminta dia sudah memberikan banyak hal padamu, dan ibu lihat kakaknya juga sangat mendukung dia dengan mu, Arfan juga sangat baik padamu kan" ucap Narita


Nadira pun terdiam sejenak, dia memang merasa kalau ucapan ibunya itu tidak salah, tapi berbeda dengan apa yang di rasakan hatinya, Andreas memang selalu perhatian padanya, tapi rasanya itu hanya di permukaan saja, bahkan saat Nadira menatap mata Andreas secara langsung pun, matanya itu terlihat sangat dangkal dan tidak mengatakan apa apa, tidak ada tatapan yang mendalam dari mata gelapnya itu,, dan Nadira merasa kalau memang tidak Ada cinta yang ingin di sampaikan oleh tatapan Andreas itu


Dan justru Nadira merasa kalau tatapan yang dalam itu sering terlihat dari mata Arfan yang terbiasa berada di belakang Andreas, dan mata gelapnya itu sangat susah untuk di tebak karena teramat dalam dan gelap untuk ditelusuri netranya,,


Entah itu saat Arfan mencuri pandang padanya, atau saat Arfan sedang mengobrol langsung dengannya, Nadira seperti bisa merasakan tatapanya itu meskipun dia tidak tau kalau Arfan sedang memandang nya, dan Nadira sedikit bingung untuk memastikan siapa di antara mereka berdua yang sebenarnya menyimpan rasa untuk nya


Di saat Nadira larut dalam renunganya, tiba tiba pintu Ruangannya pun terbuka,


Nadira pun langsung menoleh ke arah tiga orang yang masuk keruangan rawatnya, mereka tidak lain adalah Sindi Arfan dan Andreas yang rutin menjenguk Nadira di rumah sakit,


Arfan datang dengan mendorong sebuah kursi Roda, sementara Andreas dan Sindi berjalan berdampingan di samping Arfan


"Pagi Nadi,, lho, kamu kok belum siap siap??" tanya Sindi


"Siap siap apa,?" tanya Nadira Heran


"Kamu kan sudah boleh pulang pagi ini" ucap Sindi langsung menghampiri Nadira

__ADS_1


"Aku belum dapat kabar apa pun Sind, kamu jangan membohongiku, tidak lucu tau" ucap Nadira


"Benarkah, aku tidak membohongi mu Nadi, aku barusan tau langsung dari dokter ruangan yang menangani pemulihanmu,, ku kira dokter itu sudah memberitau mu lebih dulu" ucap Sindi


"Begitu kah, belum, dia belum kesini pagi ini" ucap Nadira


"Oh,, Ya sudahlah, kita segera kemasi barang mu saja, kita akan pulang Nadi, kau sudah sembuh sekarang," ucap Sindi


"Baiklah, aku memang sudah ingin pulang, kau benar benar datang membawa kejutan, terimakasih sahabatku" ucap Nadira seraya memeluk Sindi


Sementara Arfan hanya tersenyum melihat kedua gadis yang berpelukan sejenak dan mulai membereskan barang barang Nadira dengan sangat bersemangat


Arfan tentu saja jadi orang pertama yang tau kapan Nadira akan pulang, karena dia selalu menanyakan perkembangan Nadira setiap Harinya pada dokter yang khusus menangani Nadira, karena dia memang yang bertanggung jawab atas pengobatan Nadira itu,


Jadi tidak Heran kalau Arfan tau lebih dulu soal kepulangan Nadira sebelum Nadira mengetahui nya


.


Setelah Nadira mengemasi semua barang-barang nya, Nadira pun segera naik ke kursi Roda yang di bawa Arfan, awalnya Nadira menolak untuk naik ke kursi Roda, karena dia sudah merasa baikan dan sudah bisa berjalan Normal, dan tidak mau merepotkan Arfan atau siapapun,, tapi akhirnya dia tetap naik juga setelah di paksa oleh Sindi


"Selamat ya, kamu sudah sembuh sekarang" ucap Arfan


"Iya kak Arfan, terima kasih banyak, maaf juga aku jadi ngerepotin kakak, padahal sebenarnya aku sudah bisa jalan sendiri ini" ucap Nadira


"Tidak apa, kakimu baru sembuh juga, sayang kalau Sampai keseleo, nanti kakimu sakit lagi kan " ucap Arfan tersenyum


Nadira juga tersenyum, dia menoleh pada Sindi dan Andreas yang sekarang nampak lebih akrab, mungkin karena seringnya mereka bertemu saat bersamaan menengoknya


Tapi tidak ada perasaan iri sedikit pun di hati Nadira dengan keakraban mereka itu, dan itu cukup membuktikan kalau memang hatinya tidak terikat Pada Andreas


Nadira juga menoleh pada Arfan yang mendorong kursi roda nya, dan dia merasa kalau yang benar-benar memberinya perhatian itu adalah Arfan, bukan Andreas, meskipun sejak awal itu sudah terlihat, tapi Nadira masih menganggap itu hal yang abstrak, tapi sekarang dia mulai bisa merasa kalau getaran itu ada saat dia dekat Dengan Arfan


Setelah mereka sampai ke parkiran rumah sakit, mereka segera naik ke mobil Arfan, sementara Sindi naik ke mobil milik Andreas,, dan Nadira segera di antar pulang ke ruamhnya lagi


.


__ADS_1


Setibanya di kediamannya, Narita segera membuka pintu rumah dan langsung mempersilahkan Arfan dan semuanya untuk masuk kedalam


"Akhirnya kamu pulang lagi ke rumah Sayang, ayo silahkan silahkan, masuk dulu semuanya,," ucap Narita


Arfan dan yang lainnya juga mengikuti Nadira dan Narita yang masuk kedalam Rumah sederhana nya itu, dan mereka langsung duduk di kursi ruangan tengah itu,


"Terima kasih sekali lagi, kalian sudah mengantarku sampai ke rumah lagi, aku tidak tau kenapa kalian begitu baik padaku, aku merasa seperti punya keluarga baru dengan adanya kalian" ucap Nadira


"Tidak perlu sungkan, aku memang sudah menganggap kamu keluarga" ucap Andreas


Nadira pun tersenyum "Iya terimakasih banyak" ucap Nadira tidak menampik


"Dira, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan sekarang?" tanya Arfan


"Tidak ada, terimakasih" ucap Nadira


"Ada Nadi, kita butuh persediaan makanan,, selama sebulan ini kamu tidak kasih ibu uang dapur, jadi persediaan makanan kita di dapur sudah ha....."


Nadira pun langsung membekap mulut Narita yang duduk di sampingnya "Maaf ibuku suka kedodoran bicara nya, itu itu tidak perlu kalian membantu, aku bisa membelinya sendiri" ucap Nadira merasa sedikit malu


"Kurasa Ibumu ingin pergi belanja, Aku bisa mengantarnya kalau dia mau" ucap Arfan


Narita langsung membuka bekapan tangan Nadira itu "Iya benar, Nak Arfan ini tau saja" ucap Narita


Nadira langsung membekap ibunya lagi dan tersenyum canggung kepada Arfan


"Aku tidak akan keberatan mengantarnya, apa kita akan pergi sekarang bu?" tanya Arfan


"Iya iya,, Tentu saja" ucap Narita dengan melepas kembali tangan Nadira


"Ibu ini malu maluin saja" ucap Nadira dengan wajah malu


"Kamu jangan bodoh, jarang jarang ada orang baik seperti Mereka kan, jadi kita harus pandai pandai memanfaatkan situasi" bisik Narita di telinga Nadira


Nadira pun hanya bisa tersenyum dan merasa semakin tidak enak hati


"Tidak apa, kalau gitu kita segera berangkat, mumpung belum terlalu Siang" ucap Arfan

__ADS_1


__ADS_2