
Pipi Arfan Terus menempel di perut Nadira itu hingga sampai beberapa saat, dia seolah sedang melepas kangen pada sang calon bayi yang ada di perut Nadira, sesekali dia juga mengecup perut Nadira yang masih terhalang pakaian nya
Setelahnya Arfan kembali ke wajah Nadira lagi, dan mengecup bibirnya sekilas "Rasanya senang bisa merasakan keberadaan bayi kita, tapi sayangnya,, kedekatan kita terhalang bajumu" ucap Arfan sambil tetap mengelus perut Nadira
"Bilang saja kalau kamu ingin menengoknya lebih dalam" ucap Nadira
(21+🙏)
Arfan langsung Tersenyum penuh arti lagi dan mulai mencium bibir Nadira lagi
Nadira juga langsung menyambutnya, dan meraih tengkuk Arfan yang berada di atasnya supaya lebih dalam menciumnya
Kemudian ciuman Arfan mulai menyasar ke pipi, ke daun telinga, dan leher Nadira, hingga beberapa bekas merah tertinggal di leher jenjang Nadira karena cumbuan nya itu
Ciuman Arfan terus turun ke bukit kembar yang masih tertutupi, dan mempermainkan nya dari luar
Sementara Nadira hanya bisa mengeluarkan lenguhan lenguhan kecil dari bibirnya, sesekali dia menggelinjang saat menikmati permainan Arfan di sana
Arfan mulai menaikan t-shirt putih yang di kenakan Nadira, di ikuti oleh kecupan kecupan lembut di perutnya dan terus naik ke atas mengikuti baju yang mulai tersingkap perlahan olehnya
Dan pendakian kecupan Arfan pun sampai di bukit kembar yang masih tertutupi kabut hitam,, tangan Arfan langsung menyelinap kebelakang dan dengan terampil melepaskan pengitnya dengan mudahnya, kabut itu pun segera bisa di singkirkannya juga,
Arfan pun mulai leluasa menikmati indahanya pemandangan bukit bukit nan ranum itu di depan matanya
Nadira terpejam pasrah saat menerimanya,, dia sesekali menggigit bibir bawahnya saat Arfan menggigit ringan salah satu ****** kecilnya, tangn Nadira merangkul tengkuk Arfan yang seperti gemas mempermainkan sumber gizi pertama untuk anak anaknya itu
Arfan segera melolosi penghalang atas Nadira hingga dia setengah polos, dia kembali ke bibir Nadira dan mencium nya lagi, tanganya mulai turun ke bawah untuk membuka pengait bawahan yang di kenakan Nadira saat ini, dan dengan mudah Arfan meloloskannya juga dengan partisipasi dari Nadira juga
Nadira pun kini nyaris di buat polos seluruhnya oleh Arfan, dan tinggal tersisa penutup terakhirnya saja, mungkin itu sengaja di sisakan Arfan untuk surprise nya
Arfan mengelus penutup terakhir itu, kemudian mencari selah untuk jemarinya menyusup, dia merasa kalau lembah itu sudah cukup lembab, jadi jemari Arfan langsung mencari titik untuk bermain, meski dia juga masih fokus dengan bibir Nadira
Arfan lalu mengungkung Nadira di bawahnya, kemudian kecupan kecupan kecil Arfan daratkan di tiap lekuk Nadira yang di lewati nya, kecupan itu terus mengarah ke bawah dan tiba Saatnya untuk Arfan membuka doorprize nya itu
Penutup itupun segera tersingkir, dan Arfan langsung membenamkan wajahnya di sana, Dan .........(silahkan isi sendiri)
Nadira yang menerima perlakuan itu pun hanya bisa mendesis pelan dengan memejamkan matanya, Dia sangat menikmati foreplay dari Arfan itu,
__ADS_1
Setelah kedua perasaan mereka sudah ber api api, Arfan pun segera menyingkirkan penghalangnya, dan memulai ritual yang sudah di nantikan oleh keduanya
Arfan melakukan nya dengan sangat hati-hati, Meski kini semangat nya amat membara, tapi dia mengingat kalau sekarang ada yang hidup di antara mereka berdua, jadi sebisa mungkin untuk tidak mengganggunya
Tapi meski begitu, itu tidak mengurangi perasan Nadira yang selalu di buat melayang oleh permainan Arfan yang terkesan tidak terlalu buru buru
Dan mereka sangat menikmati perasaan itu
Setelah Arfan menyelesaikan nya, dia langsung tergeletak lemas di samping Nadira, dan keduanya pun langsung terlelap karena merasa sedikit kelelahan setelah hampir satu jam mereka berpacu
.
…
Sore harinya, terdengar suara ketukan dari arah luar pintu kamar Arfan 'Tok'tok'tok' "Kak Arfan, apa kau di dalam" terdengar suara samar Dinda di balik pintu itu
Untungnya, Arfan dan Nadira sudah selesai membersihkan diri dan merapikan penampilan mereka lagi,
"Sepertinya itu Dinda" ucap Nadira yang masih mengeringkan rambutnya di depan meja Rias
Nadira hanya tersenyum sja mendengar perkataan Arfan
Setelah pintu terbuka, Dinda yang masih berseragam sekolah nya langsung meloncat masuk dan langsung memeluk Arfan dengan girangnya
"Kakak,,,,, ternyata benar, kakak sudah kembali, kok tidak beri kabar dulu sih kak??" ucap Dinda, dia senang kakaknya sudah kembali ke rumah
"Iya, kakak pulangnya mendadak, soalnya kak Nadira juga sembuhnya mendadak" ucap Arfan
"Jadi kak Nadira sudah sembuh kak?" tanya Dinda
"Sudah, tuh, tanya saja Sendiri" ucap Arfan
Dinda langsung beranjak ke tempat Nadira yang masih duduk di depan meja riasnya, yang juga menoleh ke arah Dinda
"Kak Nadira beneran sudah ingat semuanya?" tanya Dinda sambil meraih bahu Nadira
"Iya, sayang, kakak sudah ingat kamu, kak Arfan, dan semuanya" ucap Nadira menepuk punggung tangan Dinda yang memegangi bahunya
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, Dinda sangat senang mendengarnya" ucap Dinda seraya memeluk leher Nadira
"Kakak juga senang bisa mengingat dan bertemu kamu lagi" ucap Nadira
"Jangan menghilang lagi ya kak, dianda tidak mau Kak Arfan menderita lagi kalau tidak ada kak Nadira di rumah ini" ucap Dinda
"Tentu saja sayang, kakak juga tidak pernah menginginkan untuk menghilang dari rumah ini," ucap Nadira
"O yah Dind, apa kamu sudah makan siang tadi?" tanya Arfan
"Sudah, memangnya kenapa,?" tanya Dinda
"Kakak mau pergi makan di luar, apa kamu mau ikut??" tanya Arfan
"Iya kak Dinda ikut kak, aku juga sepertinya ingin makan sesuatu lagi" ucap Dinda antusias
"Ya sudah, kalau gitu kamu mandi dulu, dan bersiaplah, nanti kakak tunggu kamu di bawah" ucap Arfan
"Iya kak, tunggu aku yah, aku tidak akan lama mandi nya, jangan tinggalin dinda lho, awas kalau ninggalin" ucap Dinda sambil beranjak untuk keluar dari kamar Arfan dengan cukup bersemangat, karena dia memang jarang bisa pergi keluar bersama keluarga
Sementara Arfan dan Nadira yang sudah siap lebih dulu langsung turun ke lantai bawah, dan menunggu Dinda di ruang tengah
.
Beberapa saat kemudian, Dinda juga sudah bersiap dan segera menghampiri Arfan dan Nadira, setelah itu mereka pun keluar dari kediamannya, dan langsung m masuk ke mobil Arfan
Ketika Arfan sudah siap untuk melajukan mobilnya, dia melihat kalau mobil Andreas ternyata memasuki halaman, jadi dia tidak jadi melajukan mobilnya, dia malah turun dari mobilnya lagi untuk bertemu Andreas
Andreas yang sudah memberhentikan mobilnya juga segera turun dan menghampiri Arfan yang terlihat menunggunya di depan mobilnya
"Kakak, kau sudah kembali?, apa itu artinya ingatan Nadira sudah pulih?" tanya Andreas
"Ya, begitulah, ingatan Nadira sekarang sudah kembali seperti sebelumnya" ucap Arfan
"Sungguh, syukurlah kalau begitu" ucap Andreas
"O yah Dre, ada yang ingin kutanyakan soal hubungan mu dengan Sindi, kapan kalian akan menikah?" tanya Arfan penasaran ingin mendengar dari Andreas, karena dari Sindi sendiri Arfan sudah mendengar kalau dia sudah menginginkan sebuah pernikahan
__ADS_1