Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Operasi


__ADS_3

Nadira yang bingung mencoba menatap pria yang sekarang berlutut di lantai di samping Ranjangnya


"Aku tidak tahu apa alasan mu meminta maaf padaku tiba tiba, tapi kalau memang kamu merasa bersalah, kamu harus siap untuk di penjara" ucap Nadira


"Saya Siap nona, asalkan Putri saya bisa sembuh" ucap Gian


Nadira di buat semakin bingung dengan pernyataan pernyataan yang dia tidak tahu judulnya "Tolong jelaskan dari awalnya pak,, aku tidak paham" ucap Nadira merasa sedikit jengkel


"Anak pria ini juga di rawat di rumah sakit ini, dan kebetulan aku tadi membantu membayar administrasi perawatan nya nya, tapi aku menyuruh pria ini memina maaf padamu, apa jelas?" ucap Arfan


Nadira sedikit merenung "Aku masih sedikit bingung" ucap Nadira


"Intinya ini hanya kebetulan,,, jadi tidak perlu kamu pikirkan, kamu hanya perlu memberi jawaban memaafkan dia atau tidak, kalau tidak, apa yang bisa dia lakukan supaya kamu memaafkannya" ucap Arfan tersenyum


"Entahlah, tapi sebenarnya bukan aku yang terluka parah waktu itu, ada seorang Paman yang mendapat luka yang lumayan, jadi Anda harus meminta maaf padanya juga, hanya saja aku tidak tau keberadaan nya sekarang di mana"ucap Nadira


Arfan pun hanya tersenyum simpul, 'Aku disini gadis', batinnya


"Aku sudah minta maaf padanya juga Nona," ucap Gian


"Sungguh???, di mana kamu bertemu dengannya?" tanya Nadira


Gian langsung menoleh pada Arfan yang berdiri tidak jauh darinya,


Arfan hanya sedikit menggelengkan kepala sebagai isyarat jangan mengatakan kalau Paman itu dirinya


"Aku, aku bertemu dia di luar" ucap Gian


"Di luar mana?, apa dia ada di rumah sakit ini??, kalau begitu bawa aku menemuinya" ucap Nadira smbil mencoba membuka selang infus dari tangannya sendiri


Arfan sedikit terperangah melihat aksi Nadira itu, Arfan secara replek langsung maju untuk menahan tangan Nadira "Hey Hey, kamu mau apa??,, jangan di lepas sembarangan, nanti tangan mu bisa bengkak" ucap Arfan


Sontak Nadira pun langsung menatap wajah Arfan "Aku aku mau keluar, aku mau bertemu teman ku" ucap Nadira


Arfan langsung menyenggolkan kakinya pada Gian supaya dia bicara lagi


Gian pun paham, meskipun dia tidak mengerti kenapa tuan kaya itu tidak mau jujur


"Maksud ku di luar itu di tempatain nona, bukan di luar rumah sakit ini" ucap Gian membual


"Oh, di mana??" Tanya Nadira Lagi


"Sudah, urusan teman mu kita cari nanti, sekarang kamu persiapkan dirimu untuk operasi, Oke" ucap Arfan yang masih menahan kedua tangan Nadira, supaya dia tidak melepaskan selang infus nya


"Baiklah, tapi tolong lepaskan tanganku" ucap Nadira yang merasa sedikit risih karena kedua tanganya di pegang Arfan

__ADS_1


Reflek Arfan pun langsung melepas nya, "Oh iya maaf" ucap Arfan , dan dia segera mundur selangkah ke tempat nya semula


"Kamu boleh menemui putrimu sekarang, Nona ini sudah memaafkan mu," ucap Arfan


"Baik Tuan, terimakasih, aku pasti tidak akan kabur dari Anda" ucap Gian


"Kalau pun kamu kabur aku pasti akan menemukan mu, jadi jangan berpikir kamu bisa bersembunyi" ucap Arfan menggertak


"Aku paham tuan" ucap Gian


"Pergilah" ucap Arfan


"Baik" Gian segera berdiri dan segera Keluar dari ruangan Nadira dan bergegas ke tempat putrinya yang di rawat


Sementara di dalam ruangan Nadira menatap tajam pada Arfan tanda dia tidak suka Arfan membiarkannya pergi begitu saja


"Kenapa kakak membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Nadira dingin


"Karena aku yakin dia tidak akan kemana-mana" ucap Arfan


"Percaya diri sekali" ucap Nadira


"Ya harus, biasanya tebakanku jarang meleset" ucap Arfan


"Tidak Heran Anda jadi pembisnis, kurasa Anda memang punya intuisi yang bagus" ucap Nadira memuji


"Apa itu tebakan mu lagi??" tanya Nadira


"Kalau yang itu bukan, Aku menanyakannya pada suster jaga tadi di bawah" ucap Arfan tersenyum


"Oh, ku kira semua ucapan mu itu tebakan" ucap Nadira tersenyum juga


"E ehem, Aku sepertinya tidak ada di sini" celetuk Sindi


"Ya begitulah kalau merasa dunia ini milik berdua, yang lain hanya angin yang tidak kelihatan" timpal Andreas


Nadira secara replek langsung mencubit pipi Sindi dengan sangat gemas "Apa maksud dari perkataan mu itu" ucap Nadira yang tau Sindi menyindirnya


"Aw Aw, sakit Nadi, kenapa kamu mencubit ku, aku salah apa??" ucap Sindi


Sementara Arfan langsung menginjak sepatu Andreas sedikit keras 'Rreeekkk' dan "Awwww,, kak, apa yang kamu lakukan, itu sakit" lirih Andreas


"Jaga bicara mu,, oke" ucap Arfan


"Aku bercanda kak, kenapa kalian ini baper sekali?" ucap Andreas

__ADS_1


Sontak Arfan dan Nadira pun menatap tajam pada Andreas secara bersamaan, entah mereka sadar atau tidak, kalau kemistri mereka memang sudah dapet


"Iya Iya maaf maaf, aku akan diam" ucap Andreas yang sadar dirinya di tatap oleh mata tajam mereka


Di saat Suasana mulai terasa sedikit canggung, tiba tiba beberapa suster pun masuk keruangan itu untuk membawa Nadira ke ruangan operasinya


"Mohon maaf bapak bapak, silahkan tunggu di luar dulu, kami akan membawa pasien ke ruang operasi" ucap Salah satu perawat itu.


"Oh iya, kak, kita tunggu di kuar" ucap Andreas


"Baiklah" ucap Arfan


Arfan dan Andreas pun segera beranjak Keluar dari ruangan,


Dan para perawat segera melakukan tugasnya untuk mempersiapkan Ranjang Nadira untuk mereka dorong keluar


Setelah beberapa Saat Ranjang Nadira pun segera di dorong keluar dari ruangannya dan mereka semua segera mengantar Nadira menuju ke ruangan Operasinya


Setelah sampai di pintu Ruangan, Arfan Andreas dan Sindi tentunya tidak bisa ikut ke ruangan Operasi, dan Sindi pun memeluk Nadira sebelum dia masuk ke ruangan


"Semoga operasinya lancar ya Nadi, aku mendoakan mu dari sini" ucap Sindi dengan mata berkaca-kaca


"Iya Iya, tapi kamu tidak perlu selebay ini Sindi" ucap Nadira


"Aku hanya khawatir saja" ucap Sindi


"Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja, sudah ah, kamu terlalu drama" ucap Nadira


"Ya kan sengaja, persahabatan kita memang dari dulu di penuhi drama, ya kan,, korban Drakor kita,,,, ya sudah, sana masuk, Daaah" ucap Sindi melambaikan tangan


Nadira hanya tersenyum saja, dan segera di dorong perawat memasuki Ruang operasi


Sementara Arfan dan Andreas segera duduk di kursi tunggu


"Ya Tuhan, lancarkan proses operasi sahabat ku,, aamiin" ucap Sindi yang masih berdiri di depan pintu


"""Aamiin"", Arfan dan Andreas pun menyahutnya


Sindi seketika menoleh dan beranjak duduk di dekat Arfan


"Pak Arfan, Kenapa Nadira tidak boleh tau kalau bapak yang mebiyayai pengobatannya??" tanya Sindi penasaran


"Ada hal yang sulit ku jelaskan, kamu hanya cukup tau kalau aku hanya ingin Nadira sembuh,, itu saja" ucap Arfan


"Ooh, penjelasan yang tanggung,, apa bapak sebenarnya menyukai Nadira?" tanya Sindi

__ADS_1


"Tidak perlu di tanya juga sudah jelas kan?" ucap Andreas nimbrung


"Sungguh??, jadi apa aku boleh memberitahu Nadi Kalau kak Arfan sebenarnya menyukainya??" tanya Sindi dengan mata berbinar


__ADS_2