
Sindi yang jadi pusat perhatian di meja makan pun sedikit merasa bangga karena dia merasa paling tau penyebab mualnya Arfan, jadi dia seolah berdiri dari duduknya dan merasa dirinya seorang ahli yang memakai almamater putih,, dan dia mulai menjelaskan
"Maksudnya Arfan ikut ngidam di sebabkan oleh kehamilan Nadira, orang juga menyebutnya kalau itu namanya kehamilan Simpatik, jadi meskipun Nadira yang hamil, Arfan juga merasakan ngidam nya, dan seolah dia mewakili Nadira untuk ngidam,, begitulah yang pernah ku dengar" ucap Sindi
"Itu aneh, kenapa bisa begitu?" tanya Arfan yang kebetulan sudah kembali dari kamar mandi dan mendengar penjelasan dari Sindi
"Bisa saja, kejadian semacam itu tidak hanya kak Arfan saja yang mengalaminya, kakak sepupu ku juga pernah seperti itu lho, orang bilang kalau itu di sebabkan karena si suami yang terlalu berempati terhadap istrinya, begitu sih katanya" ucap Sindi
"Hhh, kau berlaga paham padahal masih katanya," ucap Arfan yang kini mulai duduk jauh dari Nadira yang memakan daging
Sindi juga seolah duduk kembali di Kehaluannya, dan jadi gadis biasa lagi "Ya kan aku cuma pernah dengar, belum pernah mengalami, toh aku juga belum bersuami kan, dan belum ngidam juga" ucap Sindi
"Ya ya ya,, Jadi kapan kau dan Andreas akan menikah?" tanya Arfan
"Mana ku tau, aku wanita, ya tentu saja aku menunggu si pria yang melamarku" ucap Sindi
"Tidak ada salahnya juga jika kau yang meminta nya, aku ada saran, bagaimana kalau kita double wedding" ucap Arfan
Sindi langsung menoleh pada Nadira "Kalian kan sudah menikah,??" ucap Sindi bingung
"Memang sudah, tapi aku masih ada hutang resepsi pernikahan pada Nadira kan, kalau kamu tidak berani meminta nya pada Andreas, aku akan bicara dengannya nanti, tapi aku mau tanya, apa kau sudah siap menikah dan jadi seorang istri?" tanya Arfan meyakinkan
"Aku sih Siap siap saja kak" ucap Sindi
"Sudah sudah, jangan kepanjangan ngobrolnya, kapan kalian mau makan kalau terus mengobrol di meja makan,, tapi ibu mendukungmu sih kalau kamu memang mau menikah Sind" ucap Bu Narita
"Bener Sind, kalau kalian sudah merasa cocok, buat apa di tunda tunda lagi kan" ucap Edgar nimbrung
"Aku setuju apa kata papah" ucap Nadira juga ikutan
"Iya sih Nadi, " ucap Sindi malu malu
.
…
Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, Sindi di hubungi Andreas dan di jemput dari rumah Edgar untuk mengantarnya pulang ke tempatnya
Sementara Arfan dan Nadira kembali ke kamar mereka
__ADS_1
"Pantasan saja aku tidak pernah melihat foto foto pernikahan kita di rumahmu atau rumah ini, ternyata pernikahan kita nyicil ya?" tanya Nadira saat mereka tiba di kamar
"Bukanya nyicil, hanya saja ada kendala saat hari dimana kita menikah, dan ku harap kau segera mengingat semuanya, agar aku bisa melunasi hutang ku pada Nadira yang sebelumnya" ucap Arfan
"Iya, aku harap juga bisa segera mengingat semuanya,, O yah, ngomong-ngomong apa aku beneran hamil ya??" tanya Nadira
"Masa kamu tidak bisa merasakannya?" ucap Arfan
"Iya sih, perutku agak buncit dari terakhir kali aku mengingat nya" ucap Nadira
Saat mereka hampir sampai di tempat tidur, Arfan langsung memeluk Nadira yang berjalan lebih dulu, dan membisikkan sesuatu di telinga nya
"Makanya, segera ingatlah, adiku sudah ingin menengoknya" bisik Arfan
Nadira sedikit kaget dengan pelukan Arfan itu, tapi dia tidak menolak saat Arfan memeluknya, "Adik??,, maksudnya Andreas atau Dinda??" tanya Nadira polos
"Bukan,,, tapi adik yang lain, aku yakin kamu tidak sepolos itu meskipun kehilangan ingatan" ucap Arfan
Nadira terdiam Saat menyadari sesuatu, sontak dia sedikit gugup saat mengerti maksud Arfan
"Aku aku belum siap, apa bisa di pending lagi,??" tanya Nadira
"Iya" ucap Nadira
Setelah Arfan melepaskan Nadira, Mereka segera naik ke tempat tidur mereka, dan sama seperti sebelumnya, Nadira menaruh guling di tengah-tengah mereka lagi sebagai pembatas nya
Arfan juga tidak protes tentang hal itu, dan mencoba bersabar menunggu sampai Nadira juga menginginkan nya lagi,
.
…
Keesokan paginya, Sepoi angin hangat menerpa tengkuk Nadira, dia yang baru tersadar dari tidurnya sedikit kegelian oleh nafas dari seseorang yang sangat dekat itu, dan dia juga mulai sadar kalau ada tangan yang melingkar di perutnya
Saat Nadira menoleh, Ternyata Arfan lah yang memeluknya saat Tidur, entah mulai dari kapan Arfan mendekati nya saat dia Tidur, Nadira tidak mengingatnya
"Hey, kamu ingkar janji lagi" ucap Nadira dengan Suara pelan Sambil memperhatikan wajah Arfan yang masih terlelap
Arfan langsung terbangun juga karena sapaan pagi dari Nadira itu, dan Arfan juga baru sadar kalau dirinya sedang memeluk Nadira sekarang
__ADS_1
"Kata kata mutiaramu itu cukup indah untuk membangunkan ku" ucap Arfan
"Kata kata mutiara dari mana?, kamu aneh, aku bilang kamu sudah ingkar janji lagi padaku" ucap Nadira
"Iya, tapi bukankah ini sudah semestinya?" tanya Arfan
"Tapi kau sudah janji sebelumnya" ucap Nadira
"Boleh tidak kalau aku cabut janjiku, soalnya ini tidak adil untuk ku, begini baru benar kan" ucap Arfan langsung mengecup bibir tipis Nadira sekilas
"Ya ya, Baiklah, kurasa bagaimana pun aku tidak akan bisa menolak, aku hakmu, jadi cepat atau lambat kau tetap akan melakukan apapun padaku kan" ucap Nadira
"Baguslah kalau kau paham, Sekarang bangunlah, aku hari ini berencana mengajakmu ke tempat pertama kali kita bertemu, dan masih banyak lagi tempat kenangan kita selama kita pacaran" ucap Arfan
"Baiklah, tapi tolong lepaskan aku dulu, aku harus bangun untuk bersiap kan?" ucap Nadira
Arfan tersenyum, sebenarnya dia masih ingin menikmati momen itu lebih lama lagi, tapi dia sudah berkata, jadi diapun melepaskan pelukanya dari Nadira, dan kemudian bangun
Nadira juga segera beranjak untuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dulu
…
Sesudah mereka merapikan diri mereka, Arfan dan Nadira segera turun ke lantai bawah, untuk ikut gabung sarapan bersama keluarga Nadira
"Pagi kak, sudah rapih nih, mau kemana sih kak?" tanya Gio
"Kakak mau pergi dek,, kakak iparmu mau ngajak jalan jalan katanya" ucap Nadira
"Tapi kamu harus hati hati ya, jaga calon cucu mamah, duuuh, jadi gak sabar mamah ingin segera nimang cucu" ucap Narita
"Iya bu, tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik," ucap Arfan
"Iya, ibu percaya, O yah, ayo sarapan dulu, biar cucu mamah kuat" ucap Narita
"Iya mah" ucap Nadira
Mereka pun duduk dan ikut sarapan bersama,, tentu sarapan pagi ini tidak ada acara muntah-muntah untuk Arfan, karena yang jadi menu sarapan mereka itu sandwich,
Juga Narita sengaja membedakan jatah sarapan untuk Arfan dengan tidak memakai telur, takut kalau telur juga bisa mebuat Arfan mual lagi
__ADS_1
Dan setelah mereka selesai sarapan, Arfan dan Nadira langsung pamit untuk pergi