Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Penghuni Baru


__ADS_3

Tidak lama setelah pernikahan Arfan dan Nadira usai, Oma Laura pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir nya dengan tersenyum


Itupun membuat Andreas sangat terpukul karena dia tidak sempat menikahi Sindi di depan Omanya, itu karaena Andreas terkendala jarak untuk membawa orang tua Sindi yang berada di luar kota,


Dan Andreas baru berencana akan menikahi sindi beberapa hari lagi, namun sepertinya itu sudah tidak mungkin di saksikan Omanya karena dia sudah pergi untuk selamanya


.



Keesokan paginya Oma pun segera di kebumikan,


Nampak kesedihan dari Arfan, Andreas, Dinda, Nadira, Sindi dan yang lainya saat mereka harus merelakan kepergian Omanya itu untuk beristirahat dengan tenang


"Dre, kita pulang sekarang, Oma sudah tenang di sana, kau tidak perlu menyesali apapun lagi, percayalah,, dia masih bisa melihatmu dari sana,, jadi kapan pun kau menikahi Sindi, aku yakin Oma pasti juga akan bahagia dengan pernikahan mu" ucap Arfan dengan meraih bahu Andreas yang masih memegangi nisan Omanya


"Aku tau, tapi ini rasanya sulit Fan, aku belum bisa jadi cucu yang baik untuk Oma" ucap Andreas,


Mereka berdua memang sangat menyayangi Oma Laura, karena mereka tumbuh dan di besarkan oleh beliau setelah ibu dan ayahnya pergi


"Aku tau ini berat, tapi kita harus merelakannya, karena mungkin, di alam sana lah dia akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya" ucap Arfan


Andreas perlahan melepaskan nisan Oma, dia bangkit dari duduknya, dan menyeka air mata yang tersisa


"Mungkin kau benar,, Oma,, semoga kau tenang di sana" ucap Andreas dengan menatap foto Oma yang bersandar di nisanya


Setelah itu, dengan berat hati mereka semua pun pergi meninggalkan pemakaman, dan mereka semua kembali ke villa oma Lagi


Nadira terus berada di samping Dinda yang terus menangisi kepergian Omanya, dia mencoba untuk menghibur Dinda sebisanya


Hingga saat malam tiba, Nadira tetap bersama Dinda di kamar nya, dan menemaninya tidur


Arfan juga mengesampingkan urusan malam pertama mereka sebagai pengantin baru yang mungkin harusnya melalui malam yang indah bersama


Tapi mana mungkin Arfan masih memikirkan hal itu dia suasana duka yang menyelimuti keluarganya itu


.



Hari pun mulai berganti,, Arfan berniat kembali ke kediaman Ednan bersaudara dengan membawa serta Adinda kesana, karena Oma juga menitipkan Dinda padanya, jadi tentu saja dia harus membawanya dan menjaganya


Di luar Villa

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap sayang" tanya Nadira pada Dinda yang baru keluar dari villa


"Sudah kak, tapi Dinda rasanya berat sekali meninggalkan rumah Oma" ucap Dinda


Nadira langsung merangkul bahu Dinda "Kakak tau ini berat, tapi kakak juga tidak mungkin bisa terus menemani mu di sini kan, percayalah, di mana pun kamu berada, oma pasti tetap akan melihat mu" ucap Nadira


"Iya kak, Dinda percaya kalau Oma tidak akan suka jika melihat Dinda terus bersedih" ucap Dinda


"Itu kamu tau, jadi tersenyum lah, supaya Oma di sana juga tersenyum melihat mu" ucap Nadira


"Iya" Dinda mengusap sisa Air di matanya, dan kemudian tersenyum


Arfan yang sedang memasukan Beberapa koper ke bagasi mobilnya pun tersenyum saat melihat Nadira bisa sedikit menghibur Adik iparnya


Setelah itu mereka segera bergegas naik ke mobil Arfan untuk segera pergi


Sementara Andreas mengandalkan supirnya untuk mengemudikan mobilnya, karena sekarang kondisi hatinya sedang buruk dan dia tidak berniat membawa mobilnya sendiri, dia duduk di temani Sindi di kursi belakang


"Maaf ya sayang, aku tidak bisa memenuhi keinginan terakhir omamu" ucap Sindi sambil meraih tangan Andreas


"Tidak apa,, ini bukan salahmu, mungkin takdir tidak mengizinkan kita menikah di hadapan Oma" ucap Andreas


Sindi pun menggenggam lebih erat tangan Andreas dan tersenyum ke arahnya untuk menguatkan hati Andreas


Mereka berlima segera meninggalkan villa Oma, dan memulai perjalanan untuk kembali ke kediaman Ednan bersaudara dengan mobil mereka masing-masing


"Selamat datang, masuklah" ucap Arfan Seraya membukakan pintu masuk rumahnya untuk Dina dan Nadira


"Iya" Dinda pun segera masuk dengan tetap bergandeng tangan Dengan Nadira


"Apa kau mau langsung beristirahat, kakak akan tunjukan kamarmu" ucap Arfan meraih bahu Dinda dan memapahnya berjalan untuk ke kamar nya


Arfan pun menunjukan kamar Dinda yang berada di lantai dua rumahnya "Ini dia kamar mu sekarang, semoga kau bisa cepat melupakan kesedihan mu" ucap Arfan


"Iya kak" ucap Dinda, diapun segera memasuki kamarnya itu


Dan tentunya Nadira juga ikut masuk "Kamu istirahat ya, jangan sedih terus" ucap Nadira


"Iya kak" ucap Dinda


"Ya Sudah, kakak tinggal dulu kalau begitu, kau juga istirahat di sini saja Dira, temani Dinda" ucap Arfan


"Baiklah" ucap Nadira

__ADS_1


Arfan kemudian keluar dari kamar Dinda dan meninggalkan mereka berdua untuk beristirahat


.



Siang harinya, Nadira dan Dinda keluar dari kamar dan langsung turun ke ruang makan, namun dia tidak melihat Arfan atau Andreas di sana,


"Bi, apa pak Arfan dan Andreas belum turun,?" tanya Nadira pada asisten rumah yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka


"Belum non, saya belum melihat Tuan turun" ucap salah satu asisten rumah itu


"Oh, ya sudah, Din, kamu ke kamar kak Andreas ya, ajak dia makan, kakak akan ke kamar Kak Arfan" ucap Nadira


"Iya kak" ucap Dinda


Dinda segera bergegas ke kamar Andreas yang masih berada di lantai dasar, sementara Nadira ke kamar Arfan di lantai atas


Dia mengetuk pelan pintu kamar Arfan, dan membukanya perlahan, dan kebetulan pintunya tidak di kunci,, jadi Nadira pun langsung masuk ke kamar itu


Nadira sedikit kagum dengan ruangan kamar Arfan yang cukup luas itu, semuanya tertata rapih di tempatnya dengan tema furniture modern minimalis, dan nuansa hitam putih di beberapa bagian kamar menambah kesan elegan di kamar itu,


"Waaw, kamarnya nyaman sekali" ucap Nadira sambil melihat-lihat setiap sudut kamar Arfan, Nadira pun melihat kalau Arfan berdiri di depan kaca jendela dengan membelakanginya


Arfan Hanya menatap kosong ke luar jendela, dengan melipat kedua tangannya, dan tiba tiba ada sebuah tangan yang melingkar ke tubuhnya dari belakang, dan dia langsung menoleh Pada Nadira yang memeluknya itu


"Paman sedang apa??, ayo turun kita makan siang bareng" ucap Nadira


"Apa kau akan tetap memanggil ku seperti itu?" tanya Arfan


"Aku hanya bercanda Sayang, Ayo kita turun" ucap Nadira


"Aku tidak lapar, kalian makan saja duluan" ucap Arfan


"Ayolah, aku tau kau sedih sekarang, tapi kamu juga tetap harus makan" ucap Nadira membujuk


"Nanti saja" ucap Arfan


"Aku tidak menerima penolakan, jadi kamu harus ikut turun sekarang juga," ucap Nadira kekeh


"Baiklah, kalau kamu memaksa" ucap Arfan memutar tubuhnya untuk menghadap pada Nadira, sejenak mereka saling bertatapan


"Apa?" tanya Nadira

__ADS_1


"Rasanya aku masih belum percaya bisa melihatmu di rumah ini sebagai istriku" ucap Arfan, diapun tiba tiba memeluk Nadira untuk sekedar meringankan beban di hatinya


...~°~...


__ADS_2