Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Ekstra Part (Takut)


__ADS_3

Sementara di kamar Andreas, dia masih menunggu Sindi di luar toilet


"Sayang, biarkan aku masuk, aku juga ingin mandi" ucap Andreas sambil menggedor pintu kamar mandi


"Sebentar lagi Sayang, aku belum selesai" ucap Sindi


"Kenapa harus menunggu, aku suamimu, apa salahnya jika aku masuk" ucap Andreas


Sindi tidak menjawabnya lagi,, tapi dia langsung membuka pintu kamar mandinya dengan sudah mengenakan handuk kimono


"Baguslah, sepertinya kau paham maksud ku" ucap Andreas


"Paham apa?, aku sudah selesai, giliran mu mandi" ucap Sindi


"Aiya, kau ini benar-benar tidak peka," ucap Andreas segera masuk kedalam kamar mandi setelah Sindi keluar


"Tidak Peka apa sayang?,, Kamu gak jelas bicaranya" ucap Sindi dengan menoleh ke pintu yang sudah tertutup lagi,


Tapi tidak ada jawaban dari Andreas dari dalam


Jadi Sindi segera beranjak untuk mengenakan pakaian nya lagi dan mengeringkan rambutnya,, setelahnya diapun membaringkan dirinya di tempat tidur dan beristirahat di sana


Andreas yang sudah selesai mandi melihat Sindi sudah terlelap di sana, "Ya, malah tidur duluan kau, apa tidak ada acara bermesraan dulu sebelum tidur?" gumam Andreas,, dia juga segera berpakaian dan beristirahat di sampingnya


.



Sore Harinya, mereka berempat pergi ke gedung tertinggi di dunia yang jadi ikon kota Dubai itu,, Saat mereka sampai di halaman gedung , Mereka cukup terkesima dengan kemegahan bangunan tertinggi itu, mereka mendongak keatas untuk menatapi bangunan megah itu hingga beberapa saat, mereka sangat mengagumi arsitektur bangunan yang jadi Land Mark kota Dubai itu


"Waaaww, benar-benar megah sekali," ucap Nadira yang jadi orang pertama berkomentar,, Nadira memang selalu mengagumi bangunan bangunan megah yang ada di dunia,,


Bukan tanpa alasan, itu karena dirinya juga adalah anak dan dari seorang yang juga bergerak di bidang pengembangan properti,, dan Nadira juga pernah berkecimpung di bidang itu


Tapi Arfan maupun Edgar belum bisa membuat Mega proyek yang sekelas dan semegah Burj Khalifa yang ada di hadapannya sekarang


Begitu juga Arfan dan Andreas yang sangat terkesan dengan kemegahan bangunan Burj Khalifa itu


"Lebih baik kita masuk sekarang, sebelum leher kalian pegal nanti melihat terus ke atas" ucap Arfan


"Baiklah, ayo masuk," ucap Andreas

__ADS_1


Mereka pun segera memasuki gedung megah yang berdiri kokoh di negara yang terkenal dengan Padang pasirnya itu


Hal pertama yang di inginkan Arfan di gedung itu adalah mengajak Nadira naik ke lantai 148 untuk melihat view kota Dubai dari puncak gedung tertinggi itu


Jadi Arfan segera melakukan reservasi dan mereka menunggu di sebuah ruang tunggu modern yang di dominasi warna hitam dengan sofa yang melingkar, mereka di sana duduk beberapa saat dan disuguhi kopi pait khas negara itu dan juga buah kurma, sampai akhirnya seorang tour guide datang dan membawa mereka memulai perjalanan VIP mereka di gedung itu,,


Di lantai awal saja mereka sudah di suguhkan hal hal yang menakjubkan di sana, dengan pitur pitur dan kecanggihan yang ada di gedung itu,


Mereka juga melewati lorong yang di dinding nya terdapat jejeran foto foto saat gedung itu di bangun,, Tour guide juga sedikit memberi informasi tentang foto tmfoto itu


Keuntungan memilih perjalanan VIP adalah mereka tidak perlu mengantri lama untuk naik lift ke ruang VIP lantai 148


.



Dan kurang dari 5 menit litf yang mereka tumpangi pun akhirnya tiba di lantai 148 Burj Khalifa, dan begitu pintu terbuka,, mereka segera keluar dari lift tercepat di dunia yang memiliki kecepatan sekitar 60 KM perjam itu,


Arfan dan yang lainnya segera di arahakan ke ruangan VIP untuk melihat pemandangan kota Dubai di sore hari


Dan mereka langsung berjalan ke arah dinding kaca yang terdapat sofa sofa elegan di dekat dinding dinding kaca yang ada di sekeliling ruangan itu untuk bersantai dan menikmati kopi hangat di sana, sambil melihat view kota Dubai dari ketinggian sekitar 800 meter


"Waaaaww, ini sangat Sangat menakjubkan, lihat Sayang, semua gedung-gedung di bawah sana nampak seperti miniatur saja, kecil kecil sekali ukurannya" ucap Nadira


"Ya semoga saja itu bisa terwujud" ucap Nadira


Andreas juga nampak terkesima melihat pemandangan dari atas Sana, sensasi nya tentu saja sangat berbeda jika dia melihat dari sebuah pesawat, karena di sana dia merasa kalau dirinya sendirilah yang benar-benar terbang setinggi itu


Sementara di belakang mereka, Sindi malah gemetaran dan memilih mendudukan dirinya di sofa yang ada di tengah ruangan, daripada ikut melihat pemandangan dengan Nadira dan yang lainnya, dia sangat takut kalau kalau bangunan tinggi itu tiba tiba oleng ke bawah


"Sind, bagaimana menurutmu?? apa kau tidak mau berkomentar??" tanya Nadira tanpa menoleh, Dia tetap fokus memperhatikan gedung gedung pencakar langit yang ada di bawahnya sekarang,, seolah semuanya itu hanya bangunan bangunan kerdil jika di lihat dari atas sana


Namun Nadira tidak mendapatkan jawaban apapun dari Sindi, dia penasaran lalu menoleh ke belakang, "Sindi, kenapa kamu malah duduk di sana?, apa kamu capek?" tanya Nadira


"Ti tidak, kaki ku gemetaran,, tempat ini terlalu tinggi Nadi, bagaimana kalau tiba tiba tempat ini jatuh kebawah??,, itu kan ngeri" ucap Sindi


"Ya ampun Sind, ya gak bakalan lah, ayo sini, keren lho pemandangan nya" ucap Nadira seraya beranjak menghampiri Sindi


"Tidak Mau,, sumpah aku takut Nadi" ucap Sindi sembari merangkul sandaran kursi yang di dudukinya


Nadira langsung duduk di samping Sindi "Apa Iya kamu takut??, seingat ku kau tidak takut ketinggian sebelumnya" ucap Nadira

__ADS_1


"Ini sih bukan tinggi Nadi, tapi sangat tinggi" ucap Sindi


Arfan juga memperhatikan Sindi yang seperti sedikit takut itu, dia menoleh pada Andreas yang masih di sampingnya


"Sepertinya Istrimu takut berada di sini, setelah ini kita ke lantai 124 saja, yang ku tau di sana biasanya banyak pengunjung lain, mungkin itu akan sedikit menghilangkan rasa takutnya," ucap Arfan


"Baiklah, terserah kau saja, aku tidak tau banyak soal gedung ini" ucap Andreas


Di sana memang hanya ada beberapa pasang pengunjung lain yang bersama mereka,, tidak seperti di lantai 124/ 125 yang biasanya lebih ramai,


Setelah mereka merasa puas bersantai dan melihat pemandangan di lantai itu, mereka pun turun ke lantai yang juga di peruntukan bagi pengunjung gedung itu,,


Dan mereka pun akhirnya sampai di lantai 124,, dan memang di sana suasananya lebih ramai oleh pengunjung yang sengaja datang untuk berfoto foto dari atas sana


Namun Sindi tetap saja terlihat ketakutan dan tidak mau melepaskan tangan Andreas,, terlebih sekarang Sindi bisa langsung merasakan hembusan angin yang kencang karena di balkon sana hanya di batasi besi baja dan dinding kaca tebal di tepian nya, Sementara di atasnya tanpa Atap, jadi angin kencang masih bisa menyapa pengunjung


Sementara Nadira terlihat senang, dan dia sesekali mengabadikan momen di beberapa spot bersama Arfan dan yang lainnya juga dengan kamera ponselnya


Setelah mereka puas di sana, barulah mereka kembali turun ke lantai tempat untuk berbelanja, dan di sanalah Sindi bisa menghilangkan wajah tegang nya


"Lihatlah, aku menangkap ekspresi wajah mu saat di atas sana, kamu jelek sekali" ucap Nadira langsung terkekeh saat memperlihatkan hasil fotonya pada Sindi,,


"Kenapa kau ambil foto saat aku seperti itu,, hapus tidak??" ucap Sindi


"Jangan dong,, ini momen langka,, kalau kamu menghapusnya,, kamu harus naik lagi ke atas untuk ambil fotonya lagi" ucap Nadira sambil memeluk ponselnya itu


"Tidak tidak, aku tidak mau naik lagi, takut tau" ucap Sindi


"Ya Sudah sekarang kamu mau apa untuk menghilangkan ketakutan mu??" tanya Andreas


"Aku mau eskrim, dan coklat juga" ucap Sindi


"Kau seperti anak kecil saja, Oh iya, kau memamang masih kecil ya, kau pendek" ucap Arfan


"Biarin pendek juga, yang penting aku cantik kan" ucap Sindi


"Iya sayang, kamu itu tercantik sedunia" ucap Arfan


"Lebay," ucap Nadira sambil tersenyum


"Sirik saja kakak ipar" ucap Andreas

__ADS_1


Mereka segera melanjutkan berjalan jalan dan mencari sesuatu di sana,, dan membeli sesuatu yang di inginkan mereka


__ADS_2