Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr 6


__ADS_3

Arfan pun kini di bawa pulang Andreas ke sebuah rumah yang cukup mewah, dengan halamanya yang lumayan luas, merekapun turun dari mobil dan arfan pun berdiri sejenak untuk memperhatikan rumah mewah itu


"Apa kau yang membangun rumah ini??" Tanya Arfan


"Tentu saja" ucap Andreas


"Kau memang hebat dre" ucap Arfan


"Tidak juga, ini semua kudapatkan dari keuntungan Saham yang kamu beli dari perusahan asing itu kak,, dan kini nilai sahamnya sudah naik berpuluh puluh kali lipat daripada sebelumnya, jadi sebenarnya yang hebat di sini adalah kakak,, perhitungan kakak memang sangat bagus, dan aku hanya melanjutkan yang sudah ada,, percaya tidak,, perusahaan yang kakak kelola dulu juga kini sudah jadi perusahan yang besar kak, dan semuanya aku kembangkan dengan rancangan dan rencana yang sudah kakak buat dulu, ya walaupun di awal awal aku juga sempat pesimis untuk menanggung jawab perusahaan kakak itu, tapi ya inilah hasilnya" ucap Andreas


"Kamu memang hebat, aku bangga padamu, dan kurasa itu semua karena keberuntunganmu, bukan karena pemikiranku" ucap Arfan


"Kakak juga bukanya tidak beruntung dulu,, menurutku yovi lah yang menghambat kesuksesan kakak, bukan karena kakak tidak mampu berbisnis" ucap Andreas


"Ya mungkin begitu, entah kenapa aku begitu bodoh dulu, sampai harus mati matian mempertahan wanita yang jelas jelas hanya memanfaatkanku saja, memang bodoh" ucap Arfan


"Ya begitulah, aku juga pernah memperingatkanmu soal itu dulu, tapi kamu malah marah besar padaku, mungkin dulu kau sudah benar benar di buat buta oleh wanita yang bernama yovi itu" ucap Andreas


Arfan pun hanya tersenyum sinis sambil menundukan pandangan, dan dia membayangkan sedikit masa lalu pahitnya itu


"O yah kak, apa kamu ingat,, desain rumah ini juga aku buat persis dengan disain yang pernah kakak perlihatkan dulu padaku, dan waktu itu kakak bilang, kalau kakak sudah sukses, kakak akan bangun rumah seperti ini kan??, jadi aku mewakili kakak untuk membangunya" ucap Andreas


"Ya, aku ingat pernah berkata seperti itu padamu dulu, Kau memang adik yang bisa di andalkan, tidak sia sia aku membiayai sekolahmu" ucap Arfan


"Tentu saja, sebenarnya guru terbaiku dalam berbisnis adalah kakak, aku menapaki semua jejak kakak dalam memilih keputusan berbisnis, ya mesakipun tidak semuanya aku lakukan, tapi aku mengikuti garis besarmu" ucap Andreas


"Ya ya ya, kau memang sangat berbakat, hanya saja kau terlu merendahkan diri padaku, jangan seperti itu, atau aku akan besar kepala jika kau terus memujiku" ucap Arfan

__ADS_1


"Aku tidak sedang memujimu, aku hanya berbicara fakta" ucap Andreas


"Terserahlah, tapi ngomong ngomong aku sudah gerah ini, entah berapa lama aku tidak mandi, apa ada kamar mandi di dalam rumahmu ini?" tanya Arfan asal


"Ya ada lah, masa tidak ada, apa jadinya kalau rumah sebesar ini tidak ada kamar mandinya, aku tidak bisa bayangkan , tapi aku memang semingu ini tidak berhasil memandikanmu kak, soalnya kamu ngamuk terus kalau di ajak mandi" ucap Andreas


"Ya ya ya, pantasan saja badan ku gatal gatal, tapi harap di maklum kalau aku ngamuk, namanya juga orang gila kan,,, ya sudah, ayo masuk, aku tidak sabar ingin melihat kedalam rumahmu," ucap Arfan


"Baiklah, aku yakin kau pasti semakin kagum padaku" ucap Andreas


"Tentu saja," ucap Arfan tersenyum


Mereka berdua pun segera memasuki rumah mewah itu, dan benar saja, Arfan memang cukup kagum melihat isi di dalamnya, semua isinya lenkap dan tertata rapih di tempatnya masing masing,


Dan Andreas pun menunjukan sebuah kamar yang lumayan besar dengan kasur empuk dan furniture lenkap untuk Arfan,


"Ini kamarmu kak, semoga kau akan betah tinggal di sini" ucap Andreas


"Ya Salah sendiri kenapa tidak mau ku urus, jadi aku hanya memberimu tikar di pos itu" ucap Arfan


"Namanya juga gila kan" ucap Arfan tersenyum


"Ya sudah, aku keluar dulu, kalau perlu apa apa, kamu timggal hubungi aku" ucap Andreas


"Ya baiklah" ucap Arfan


Andreas pun sgera pergi dari kamar yang di peruntukan untuk kakanya itu, sementara Arfan langsung bergegas ke kamar mandi dan segera membersihkan badanya yang sudah terasa tidak karuan itu

__ADS_1


Dia Seperti ikan hidup yang terdampar di darat kemudian menemukan Air, dia sangat bersemangat sekali untuk menyiram setiap inci tubuhnya dengan air dan sabun


Hingga kulit yang tadinya kusam pun kini mulai menunjukan warna putih alaminya, rambut yang sedikit pajang dan kaku pun di bilasnya sampai bersih dan lembut


Setelah itu dia mencukur kumis dan jenggotnya di depan cermin, dan wajahnya yang tampan pun kini bisa terlihat lagi


"Ternyata aku masih tampan juga kalau tidak punya kumis dan janggut" ucap Arfan yang melihat dirinya di pantulan cermin


Setelah selesai dengan kegiatanya di kamar mandi, diapun segera mengenakan pakaian yang ada di dalam lemari baju kamranya, dan diapun nampak gagah dan berkarisma lagi setelah dia menggunakan pakaian yang layak


Tidak nampak sedikitpun kalau dia pernah menjadi orang gila yang berkeliaran di jalanan, dan di usianya yang sudah hampir 30 tahun itu pun dia terlihat masih berusia dua puluhan


"Tinggal merapihkan rambutku, dan sepertinya aku masih bisa menggaet gadis muda seperti Nadira......" mengingat Nadira, Arfan pun langsung terdiam sesaat,


"Dira, andai aku yang di posisi adiku, apa kamu juga akan mengagumiku seperti kamu mengaguminya sekarang??" Gumam Arfan pada dirinya sendiri


Dia tersenyum, namun dengan perasaan yang sedikit enggan jika dia harus melepas gadis muda itu untuk orang lain,, karena tidak bisa di pungkiri olehnya kalau perhatian dan kebersamaannya dengan Nadira selama beberpa pekan itu mampu menyematkan rasa candu pada dirinya,, dia merasa tidak akan bisa kalau dia tidak melihat Nadira sehari saja


"Nadira, kebahagiaanmu mungkin ada di andreas, Kamu layak mendapatkan kebahagianmu, dan aku pasti akan merasa senang jika melihatmu menemukan kebahagiaan mu itu" ucap Arfan sambil melihat dirinya di cermin


...°°°°...


Sementara itu di sebuah gerai ponsel, Nadira masih merasa penasaran dengan tidak adanya Arfan di pos tempat biasanya dia berdiam , dia sudah memastikanya berkali kali namun dia belum melihat Arfan lagi di pos itu


"Apa paman terkena masalah karena uang ini, mungkin saja dia menemukan uang ini di jalanan, dan pemilik uang ini tau kalau paman yang mengambilnya, apa mungkin paman di bawa oleh polisi karena masalah uang ini?,, kasian sekali paman kalau sampai perkiraanku itu benar" ucap Nadira sambil meletakkan pipinya di atas lase dengan berbantal tanganya, dan dengan ekspresi wajah yang lemas


Sepanjang hari itu dia terus kepikiran Arfan, dan terus bulak balik untuk memastikan Arfan sudah kembali ke pos itu atau belum

__ADS_1


Namu sampai waktu pulangnya tiba, Nadira masih belum mendapati Arfan di post itu, dan diapun merasa sedikit kecewa karena tidak bisa menemukan teman curhatnya itu di sana


"Paman, sebenarnya kamu ini kemana sih?, kenapa tidak bilang dulu padaku kalau mau pergi,, aku tidak tau nama paman,, bagaimana caranya jika aku mencarimu?,, tapi mudah mudahan besok kamu kembali" gumam Nadira, diapun segera bergegas pulang dengan malas setelah memastikan Pria gila yang di panggilnya paman itu tidak ada di tempatnya


__ADS_2