Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Ngebut


__ADS_3

Mendengar Dinda di ijnkan sekolah lagi oleh Arfan, Nadira juga langsung mengajukan permintaan prihal studi nya


"Sayang, aku juga ingin melanjutkan studi ku, apa boleh?" tanya Nadira


Arfan terdiam sesaat "Apa kamu yakin secepat ini?" tanya Arfan


"Ya Itu juga kalau kamu tidak keberatan" ucap Nadira


"Baiklah, aku akan mengurusnya juga," ucap Arfan


"Benarkah, terima kasih Sayang" ucap Nadira dengan memeluk Dinda


Arfan menghela nafasnya "Kamu menghalangi kakak kan, harusnya kakak yang di peluk kak Dira," ucap Arfan


Dinda pun hanya tersenyum


"Tidak, ini sudah benar, tidak baik berpelukan di depan anak anak" ucap Nadira


"Kakak,, aku bukan anak anak lagi, aku sudah dewasa" ucap Dinda


"Iya Iya, kamu memang sudah dewasa, tapi sebentar lagi" ucap Nadira langsung mencium pipi Dinda


"Ku bilang juga ini salah" ucap Arfan cemburu pada adiknya


Andreas tidak ikut nimbrung, dia hanya menyimak dan tersenyum saja


"Lalu bagaimana dengan Sindi, apa dia akan tetap kerja di kantor ayahmu?" tanya Arfan


"Ya mungkin begitu, sebenarnya dia juga ingin melanjutkan kuliah nya bersama ku sih, tapi dia bilang rasanya itu sudah tidak mungkin, dia sekarang sudah jadi tulang punggung keluarganya, jadi dia tidak mungkin bisa membiyayai kuliahnya sendiri" ucap Nadira


"Kalau begitu ajak dia bersama mu, urusan biaya kuliah biar aku yang urus" ucap Arfan


"Tidak, soal Sindi biar aku saja yang urus, dia tanggung jawabku" ucap Andreas


"Sungguh, kalian memang baik sekali, terima kasih" ucap Nadira seraya memeluk Dinda lagi


"Ini benar-benar salah" ucap Arfan lagi


"Sudahlah, jangan cemburu begitu pada Dinda, kau bisa dapat lebih dari itu kan?" ucap Andreas menyahut


"Rasanya aku harus punya tempat tinggal baru" ucap Arfan bercanda dengan memijat pelipisnya


"Ya elah kak, mulai lagi, aku tidak setuju" ucap Andreas



__ADS_1


•••


Beberapa hari berikutnya, Nadira sudah bisa memulai studinya nya lagi di fakultas kota B yang sebelumnya, dan melanjutkan semesternya yang sempat tertunda,


Dinda juga di masukan Arfan ke sebuah sekolah menengah suasta untuk melanjutkan sekolah menengah nya lagi


Dan pagi ini hari di mana mereka berdua sama sama bersiap untuk berangkat


"Kamu yang rajin sekolah nya, biar pintar, dan semoga kamu dapat teman teman baru yang baik" ucap Arfan pada Dinda saat mereka keluar dari rumah


"Iya kak, semoga saja" ucap Dinda


"Apa ada kata kata seperti itu juga buatku?" tanya Nadira


Arfan menoleh pada Nadira yang yang berada di sisi kanan nya, dan Arfan langsung mengelus Rambutnya "Kamu juga semoga bisa cepat meraih gelar mu, jadi yang semangat juga belajarnya , dan jangan sampai kamu tergoda untuk melirik pangeran kampus" ucap Arfan


"Siap,, laksanakan," ucap Nadira


"O yah, apa kamu mau coba mobil barumu sekarang?" tanya Arfan pada Nadira


"Aku belum berani memakai mobil sendiri" ucap Nadira nyengir


"Terus bagaimana kamu pulang nanti, apa kamu akan menunggu aku menjemput mu?" tanya Arfan


"Mungkin aku pulang naik taksi saja, kalau ada sepeda motor aku mending pakai sepeda motor sih" ucap Nadira


"Iya Iya, nanti aku lancarkan lagi mengemudi ku kalau ada waktu, o yah, apa boleh aku pinjam motor mu sekarang untuk ke kampus?" tanya Nadira


"Tidak tidak, itu bukan motor untuk wanita seperti mu, lebih baik jangan, biar aku mengantarmu saja dengan mobil," ucap Arfan


"Tapi aku ingin mencobanya" ucap Nadira memelas


"Tidak boleh," ucap Arfan kekeh dan mendorong Nadira untuk masuk ke mobilnya


"Sekaliiiii saja" ucap Nadira


"Tiiiiidak, kamu akan terlihat tomboy jika naik motor itu" ucap Arfan


"Yaaang ih,, mau coba" ucap Nadira yang dengan tatapan penuh harap, dia masih coba mebujuk meskipun sudah masuk ke dalam mobil


Arfan menghela nafasnya, dia tidak tega juga jika melihat Wanitanya memelas seperti itu, "Kau ini bandel sekali, Baiklah, sekali saja, tapi aku harus memastikan kau bisa membawanya, jadi aku ikut dengan mu" ucap Arfan


"Sungguh???,, Baiklah Baiklah, aku akan buktikan kalau aku pandai naik motor seperti itu" ucap Nadira girang, dia segera keluar dari mobil dan langsung bergegas ke garasi untuk menghampiri motor Arfan


"Dinda, kamu di antar supir saja ya, nanti supir juga yang akan menjemput mu," ucap Arfan


"Iya kak" ucap Dinda yang di dalam mobil

__ADS_1


"Pak Darto" panggil Arfan


Tidak lama supir pribadi satu satunya di rumah itu pun menghampiri Arfan


"Iya tuan" sahut pak Darto


"Kamu Sekarang antar Dinda ke sekolah, dan nanti jemput aku di kampus Nadira," ucap Arfan


"Baik tuan" ucap Pak Darto, diapun segera masuk ke mobil Arfan dan segera melajukan mobilnya keluar dari kediaman Ednan


Sementara Arfan langsung menghampiri Nadira di garasi, dia sudah naik ke motor tua milik Arfan, karena kebetulan outfit Nadira casual dengan stelan blazer dan jeans standar,


"Ayo Cepet, kita berangkat" ucap Nadira


Arfan tersenyum dan mengambil sebuah helm yang tergantung di dinding "Pakai helmu dulu, memangnya kau pikir kepalamu itu keras??,,, kalau keras kepala iya" ucap Arfan sambil memakai kan helm pada Nadira


"Oh iya, lupa, aku tidak keras kepala, aku penurut kok?" ucap Nadira


"Kalau kamu penurut kamu tidak akan naik motor hari ini" ucap Arfan


"Itu namanya bukan keras kepala, tapi aku penasaran ingin mencoba" ucap Nadira ngeles


"Ya ya terserah lah" ucap Arfan malas berdebat, dia juga segera memakai helmnya dan naik ke motornya di belakang Nadira


"Pegangan ya, aku akan ngebut lho" ucap Nadira


"Baiklah, tapi saya sarankan nona Nadira tidak perlu ngebut, bukan apa apa, kalau aku sendiri yang jatuh, sakit nya paling cuma di luar, tapi kalau kamu yang jatuh, sakitnya pasti sampai ke dalam hati" ucap Arfan


"Aaah, So sweet,,, Sudah ah sudah siang, jangan gombal gombalan" ucap Nadira


Diapun segera menghidupkan mesin motornya, menekan kopling, masukan gigi, lalu tancap gas perlahan, dan suara raungan yang khas dari motor Arfan itu pun langsung terdengar


Nadira langsung melajukanya perlahan motor itu untuk keluar dari gerbang, meski dia bilang akan ngebut, tapi nyatanya Nadira melajukanya Sangat pelan, dan bahakan sesekali motornya sedikit oleng,


Untuk keluar dari jalanan yang menuju ke jalan raya pun Nadira sangat lama membawa nya, padahal jaraknya tidak terlalu jauh


"Jadi ini yang kamu bilang ngebut, aku perkirakan kita akan sampai ke universitas mu paling cepat tidak kurang dari Jam dua belas siang nanti," ucap Arfan mengolok Nadira


"Aku sedikit kaku lagi sayang, tapi dulu aku beneran bisa lho" ucap Nadira


"Apa kamu akan tetap mencoba dan telat, atau aku yang bawa dan kamu tinggal duduk manis saja di belakang" ucap Arfan


"Aku pilih saran nomor dua" ucap Nadira


"Baguslah, berarti kamu memang istriku yang pintar" ucap Arfan


Nadira pun menepikan motornya dan bertukar posisi dengan Arfan,, Dan Tentunya perjalanan mereka bisa lebih cepat dari sebelumnya jika Arfan yang mengendarai nya, dan Arfan segera mengantar Nadira ke universitas nya

__ADS_1


__ADS_2