
Arfan segera kembali menghampiri Nadira yang masih menyantap makanannya setelah dia mengakhiri panggilanya dengan Andreas
Arfan kembali duduk dan segera menghabiskan makanannya juga Yang sempat dia tinggal
"Dira, Apa kamu ingin pulang sekarang?" tanya Arfan
"Aku masih ingin di sini sih, memangnya kenapa paman?" Tanya Nadira
"Aku harus pergi ke tempat kerja, bos ku mencariku" ucap Arfan
"Begitu ya, baiklah, kalau gitu kita pulang sekarang" ucap Nadira
Mereka segera beranjak keluar dari Area taman, dan segera naik kembali ke motor Arfan lagi, dan Arfan segera memacu motornya lagi untuk mengantar Nadira pulang
.
Arfan mengantar Nadira hingga sampai ke depan rumahnya, karena motornya memang bisa langsung masuk ke gang rumah Nadira
Nadira segera turun dari motor Arfan dan berdiri di samping Arfan "Terima kasih ya Paman, aku benar-benar senang hari ini" ucap Nadira
"Sama sama, Paman juga" ucap Arfan
"O yah Paman, kapan kamu bisa mengunjungi ku lagi?, atau beritahu saja alamat tempat kerja Paman, atau alamat di mana Paman tinggal, biar aku yang berkunjung ke tempat paman kalau aku mau nanti" ucap Nadira
"Paman saja yang kesini, Tidak enak kalau kamu yang ketempat Paman" ucap Arfan
"Baiklah, tapi jangan lama, dan bawa motor ini lagi, aku suka" ucap Nadira
"Baiklah, siap" ucap Arfan
Arfan segera bersiap untuk melajukan motornya lagi, namun tiba tiba
"Nadira, kenapa kamu sudah pulang jam segini?" tanya Narita yang tiba-tiba keluar dari rumahnya
"Tidak apa, aku hanya ingin pulang lebih awal saja, aku tidak enak badan" ucap Nadira berbohong
__ADS_1
"Begitukah??, terus siapa pria ini, kenapa dia mengantarmu pulang?" tanya Narita seraya menatap sinis pada Arfan yang berpenampilan biasa saja di motor tuanya
"Dia Ardan bu, dia teman ku" ucap Nadira
"Kenapa kamu bergaul dengan pria seperti dia Nadira?, besok besok jangan bertemu dia lagi, Dan untuk kamu Ardan...." Narita yang menatap Arfan merasa sedikit familiar dengan wajah yang berjambang dan berkumis palsu itu "Tunggu tunggu, rasanya aku pernah melihatmu, apa kau pria gila yang ada di pos tua itu??, astaga Nadira, apa yang kamu pikirkan, di mana otak kamu, kenapa kamu bergaul dengan orang gila, apa kamu mau ikut ikutan gila juga" ucap Narita sedikit menaikan nada bicaranya
"Bu, dia sudah sembuh sekarang" ucap Nadira
"Kamu memang benar benar-benar bodoh Nadira, sudah jelas jelas ada Andreas yang menyukaimu, kamu masih mau di dekati pria gila ini, sakit kamu Nadira" ucap Narita
"Bu, jangan bilang begitu, aku mengenal Andreas juga karena Paman Ardan ini, aku juga bisa melunasi hutang ibu karena Paman Ardan juga, kalau tidak ada paman Ardan mungkin rumah kita sudah di sita pihak bank bu, dan entah bagaimana nasib kita sekarang kan" ucap Nadira
"Hhh, mustahil, bagaimana mungkin pria gila seperti dia bisa melakukan itu semua, Kamu pasti hanya mengada ngada saja kan Dira?,,,, sekarang kamu pergi dari depan Rumah saya, dan jangan pernah temui putri saya lagi,, kamu hanya akan membawa pengaruh buruk pada Putri saya" ucap Narita
"Saya juga akan pergi, tidak perlu Anda suruh" ucap Arfan sedikit kesal juga
"Bagus, lebih cepat kamu pergi itu lebih baik" ucap Narita
Sementara Nadira yang merasa sangat tidak enak pada Arfan tidak tau harus bicara apa padanya, dia benar-benar di buat malu dengan sikap ibunya pada Arfan
"Jangan pernah kamu temui putri ku lagi" teriak Narita ke arah Arfan yang sudah melajukan motornya
"Bu, sudah cukup, ibu sudah sangat mempermalukan ku, Ibu tidak seharusnya memaki orang yang sudah membantu keluarga kita, aku tidak habis pikir, kenapa aku harus memiliki ibu seperti mu" ucap Nadira yang mulai naik pitam
"Bisa bantu apa laki laki gila seperti dia untuk Keluarga kita, hah?" tanya Narita
"Sudah ku bilang dia yang meminjamiku uang bu, kenapa ibu tidak percaya, sudahlah aku cape bicara dengan ibu" ucap Nadira, diapun segera berlalu dari hadapan Narita dan masuk ke dalam
rumah
"Omong kosong" gumam Narita yang merasa tidak percaya, dia berpikir bagaiman mungkin orang yang baru sembuh dari penyakit kejiwaan bisa langsung punya uang,
...°°°...
Sementara Arfan segera berangkat ke kantor Ednaninternasional_grup untuk memenuhi panggilan adiknya, dia tidak terlalu memperdulikan celotehan Narita padanya, dia hanya menganggap kalau ibu Nadira itu hanya orang sakit yang perlu di sembuhkan saja
__ADS_1
Arfan tiba dengan masih menggunakan setelan sederhana dan jambang palsunya, dan tentu saja dia tidak di kenali saat dia melewati meja resepsionis, dan bahkan
"Pak pak, Hey, Anda siapa, kenapa Anda masuk begitu saja, Hey pak" triak salah satu resepsionis
Arfan sadar kalau resepsionis itu memanggil dirinya, jadi dia berbalik dan menghampiri meja resepsionis "Maaf, aku sedikit buru buru" ucap Arfan sambil melepaskan jambang dan kumis palsunya
"Pak Arfan??, Maaf pak, saya pikir Anda ini siapa, kenapa Anda berpenampilan seperti ini pak??" tanya sang resepsionis heran
"Aku hanya iseng melakukan sosial eksperimen saja" ucap Arfan
"Oh, Iya maaf pak, saya tidak bermaksud lancang" ucap Arfan
"Tidak papa,, O yah apa ada wanita yang bernama Arumi yang melamar kerja di sini,?" tanya Arfan
"Ada pak, dia ngotot ingin bertemu dengan pemimpin Ednaninternasional_grup setelah dia mengurus lamaran kerjanya di bagian HRD, tapi pak Andreas bilang suruh dia menunggu, dan urusan itu akan di serahkan kepada pak Arfan" ucap Sang resepsionis
"Baiklah, tidak masalah, kalau begitu aku keruangan ku dulu, tunggu izin dariku, baru antar dia ke ruangan ku" ucap Arfan
"Baik pak Arfan" ucap Sang resepsionis
Arfan berbalik dan melihat ke arah kursi tunggu lobi,
Dan kebetulan Arumi yang sedang menunggu disana juga meliaht ke arah Arfan sekilas dengan tatapan biasa saja, dan Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada gawainya lagi karena dia merasa pria yang berdiri di depan meja resepsionis itu bukanlah orang penting
Arfan juga segera beranjak dari tempatnya berdiri dan segera masuk ke lift khusus untuk dirinya dan segera naik ke lantai tertinggi di gedung Ednaninternasional_grup itu
"Akhirnya kamu datang juga" ucap Andreas yang melihat kakaknya datang ke ruangannya
"Memangnya kenapa kamu menyerahkan urusan Arumi itu padaku?, bukan kah kau bisa mengurus nya sendiri?" ucap Arfan
"Bukan kah kakak bilang kalau aku harus menguji Arumi dengan aku yang dulu??, jadi aku tidak berniat menemui nya dengan posisi ku saat ini" ucap Andreas
"Baguslah kalau kau paham dengan maksud ku" ucap Arfan
"Tentu saja, aku sangat memahami itu, mungkin aku harus berperan seperti layaknya staf biasa saja" ucap Andreas
__ADS_1