
…
Setelah Andreas mengakhiri panggilannya, Arfan pun segera bergegas menuju ke ruangan Operasi Nadira
Sindi yang tidak banyak bertanya lagi pun hanya sesekali memperhatikan Arfan yang berjalan di sampingnya, dia yakin kalau kebaikan Arfan pada Nadira itu bukan karena ada maunya, tapi memang pada dasarnya Arfan itu orang yang dermawan
Begitu mereka akan memasuki lorong yang mengarah ke ruang operasi, Andreas yang memang sudah menunggu mereka di balik tiang pun langsung menghampiri Arfan Setelah melihat Arfan mendekat
Andreas menghadap pada Arfan dengan wajah kesal "Kakak macam apa kamu, kenapa harus menyuruhku sesuatu yang menjengkelkan," ucap Andreas sambil mendorong dada Arfan
"Terus kau mau apa?" tanya Arfan
Sindi sedikit kaget karena tiba tiba Andreas marah pada Arfan
"Aku ingin menghajarmu kak" ucap Andreas sambil mendorong lagi dada Arfan
"Kalau begitu lakukan jika kau bisa" ucap Arfan dengan mendorong Andreas balik
Sindi yang takut mereka akan benar-benar berantem pun langsung masuk ke tengah-tengah mereka "Stop Stop, aku mohon, kalian jangan berantem karena masalah sepele, ini Rumah sakit, jadi kumohon jangan bertengkar" ucap Sindi mencoba melerai
"Jangan halangi aku Sin, aku akan menghajarnya" ucap Andreas Sambil sedikit mendorong bahu Sindi ke samping
Sementara Arfan hanya tersenyum "Jangan halangi dia Sindi, aku mau lihat, dia bisa menghajar ku atau tidak" ucap Arfan
Sindi yang tidak tau harus dengan cara apa menghentikan Andreas, memilih untuk menahan Adreas yang memaksa maju itu dengan cara memeluknya erat " Tidak mau,, ayolah tolong kalian bersikap dewasa sedikit, Kalian ini kakak beradik, aku tidak suka kalau ada orang yang berantem di depan ku, aku mohon jangan berantem, please" ucap Sindi dengan tangan sekuat tenaga menahan tubuh Andreas, berharap Andreas tidak akan melanjutkan niatnya lagi
Andreas yang di peluk seperti itu pun tentu saja sedikit kaget dan terdiam, dia tidak menyangka Sindi akan menganggap itu hal yang serius, padahal itu hanya cara Andreas menyampaikan kekesalannya pada kakaknya, dan hal seperti itu memang sering terjadi di antara mereka, dan tidak pernah benar-benar saling memukuli, karena mereka sudah saling bergantung satu sama lain
Sementara Arfan langsung tertawa keci di belakang Sindi
"Aku ingin mengingatkan, ini Rumah sakit, jadi sebaiknya jangan berpelukan di sini," ucap Arfan
Sindi sadar kalau yang di maksud Arfan adalah dirinya, jadi dia seketika melepaskan kuncian tanganya paada Andreas, dan langsung menoleh pada Arfan
"Siapa yang berpelukan, aku aku, hanya melerai kalian" ucap Sindi memberikan pembelaan
Arfan pun malah menertawai nya
__ADS_1
Sindi pun langsung berdecak kesal karena Arfan malah menertawakan "Apa yang lucu, tidak ada yang lucu di Sini" ucap Sindi
"Kamu yang lucu, apa kamu kira kami akan benar-benar berkelahi??, Tidak , itu tidak akan terjadi, itu hanya gertakan kami saja saat kesal pada satu sama lain, jadi sebenarnya ini hal yang biasa terjadi untuk kakak beradik" ucap Arfan
Wajah Sindi pun langsung memerah karena malu, dia tidak menyangka kalau itu hanya bohongan saja, dia pun tidak berani menatap Andreas yang juga belum angkat suara
Andreas memang minim pengalaman soal urusan dengan wanita, jadi kalau di peluk wanita seperti itu, itu merupakan hal yang jarang terjadi di hidupnya, dan mungkin itu yang pertama kalinya dia di peluk oleh orang yang bahkan bukan pacarnya, jadi diapaun hanya bisa tertegun saja
"Baiklah, jangan di bahas lagi, kita keruangan operasi saja sekarang" ucap Arfan yang langsung beranjak duluan,
Sindi dan Andreas langsung mengikuti nya dari belakang
"O yah, ngomong ngomong kalian itu romantis sekali, apa itu juga karena kamu menirunya dari adegan drakor Sind?" tanya Arfan tanpa menoleh
"Katanya jangan di bahas lagi, tapi kenapa masih di bahas?" ucap Sindi kesal
"Oh iya, aku lupa" ucap Arfan tersenyum dan melanjutkan jalanya kedepan
Setibanya di depan ruangan operasi mereka langsung di sambut lagi Narita yang duduk sendirian, "Eh Nak Andreas, apa ketemu Toiletnya?" tanya Narita, Karena Andreas bilang akan mencari kamar kecil saat ingin pergi dari Narita
"Iya sudah Tante" ucap Andreas berbohong
Tidak lama setelah mereka duduk, pintu Ruangan Operasi pun akhirnya terbuka, dan ranjang rawat Nadira segera keluar dari ruangan Operasi
Sontak Sindi langsung berdiri dan menghampiri sahabatnya, dan itu di ikuti oleh yang lainya juga
Sementara Nadira hanya terbaring di sana dan tidak merespon mereka yang mendekat,, karena dia belum sepenuhnya sadar karena pengaruh bius medis, matanya juga hanya terbuka sedikit
Nadira langsung di antar ke ruangannya lagi, dan perlahan juga mendapatkan kesadaran sedikit demi sedikit
"Hey, apa kamu belum sadar juga Nadi?, tolong jawab aku, kenapa kamu tidak merespon ku sama sekali?" ucap Sindi yang terus menepuk nepuk pipi Nadira yang sudah membuka sedikit matanya sejak tadi
Nadira pun mulai menggerakkan matanya untuk melihat ke arah Sindi, "Aku sadar sindi" ucap Nadira dengan suara payah
"Syukurlah, kamu ini susah sekali di bangunin, aku panik tau" ucap Sindi
"Mau kamu lempar Nadira ke laut juga, dia tidak akan bangun kalau Efek obat biusnya masih ada kan" ucap Arfan sedikit kesal pada Sindi yang tidak paham kondisi Nadira
__ADS_1
"Enak saja, mana boleh dilempar ke laut, dia teman baiku satu satunya di dunia ini" ucap Sindi yang langsung memeluk Nadira yang masih belum benar-benar mendapatkan kesadaran nya itu
"Kalau gitu pelan pelan saja bicara padanya" ucap Arfan
.
…
Beberapa saat Berlalu, Nadira juga sudah mendapatkan seluruh kesadaran, tapi dia sekarang hanya bisa berbaring karena kakinya yang di perban tidak boleh dia gerakan
"Sabar Ya Nadi, apa itu sakit?" tanya Sindi yang duduk di samping ranjang sambil melihat kaki Nadira yang sudah di operasi
"Sedikit" ucap Nadira
"Kasian kamu" ucap Sindi
Arfan Dan Andreas yang tadi sempat ke luar pun masuk ke ruangan lagi, dan langsung menghampiri mereka
"Dira, kami pamit pulang, cepet sembuh ya" ucap Arfan
"Iya, semoga kamu segera bisa pulih lagi" ucap Andreas
"Iya Amiiin, terimakasih kalian sudah mau menjenguku di Sini," ucap Nadira
"Sama sama, ya sudah kita pergi sekarang" ucap Arfan
"Kenapa buru buru sih nak Andreas, Nadira masih mau kamu di sini lho" ucap Narita
"Bu, jangan malu maluin, mereka mau menengok ku kesini saja aku sudah merasa berhutang, juga Pak Andreas pasti masih banyak urusan di luar,, iya kan pak?" ucap Nadira
"Iya, kami setelah Ini memang akan langsung ke kantor" ucap Andreas
"Oh, Baiklah kalau gitu, hati hati di jalan ya" ucap Narita
"Iya, kami pergi, sampai ketemu lagi" ucap Andreas,
"IYa" ucap Nadira tersenyum
__ADS_1
"Sampai ketemu lagi kak Arfan, dah" sahut Sindi sedikit melambaikan tangan
Andreas Dan Arfan Segera keluar Dari Ruangan Nadira, karena mereka memang Harus segera mengurusi kantor, karena memang banyak jadwal kantor yang di tunda oleh Arfan demi untuk menemani Nadira di operasi di rumah Sakit