
Di sisi Lain Arfan dan Andreas juga sudah sampai kerumah sakit, mereka langsung menghampiri meja resepsionis rumah sakit untuk menanyakan informasi tentang Nadira
"Selamat siang pak, apa ada yang Bisa kami bantu??" tanya salah satu resepsionis yang berjaga
"Siang sus, apa pasien atas nama Nadira Anggera sudah menjalani operasinya?" tanya Arfan
"Sebentar, saya cari dulu informasi nya" ucap Suster jaga itu dan segera mengutak-atik keybord komputer di depanya
"Pasien atas nama Nadira Anggera akan masuk ke ruang operasi pukul 10 siang nanti pak, dan pasien sekarang masih berada di ruangan rawat VIP di lantai tiga" ucap Suster itu
"Oh baiklah, terima kasih kalau begitu" ucap Arfan, dia pun berbalik dan pandangnya tidak sengaja melihat pria yang berdiri di meja resepsionis yang sama dan tidak juh dari tempatnya berdiri
Arfan sedikit meperhatikan wajah pria yang berperawakan tinggi tegap itu, dia terdengar sedang memohon pada sang resepsionis
"Suster, saya mohon tolong Putri saya suster, berikan dia tempat perawatan di rumah sakit ini, aku berjanji akan melunasi administrasi nya secepatnya, aku mohon, keadaan anak saya sekarang sangat lemah sus" ucap pria tegap itu
"Mohon maaf pak, sesuai peraturan rumah sakit kami, anda harus mengurus prosedur administrasinya dulu, atau mengurus syarat syarat yang di perlukan, kalau Anda belum bisa mengurus nya, kami tidak bisa bantu," ucap Suster yang melayani nya
Pria itu nampak putus asa dan bahkan matanya berkaca-kaca "Tolong lah sus, tolong bantu Putri ku, dia butuh pertolongan" ucap pria itu terus memohon
Arfan pun merasa sangat familiar dengan wajah pria itu, dan dia pun mulai mengingat kalau sosok yang di rasa tidak asing itu adalah pria perampok yang malam itu menodongkan pisau pada Nadira
"Aku tidak menyangka perampok seperti mu ternyata bisa memohon belas kasihan pada orang lain juga" celetuk Arfan tiba-tiba
Seketika pria itu pun menoleh pada Arfan, "Maaf, apa anda bicara pada saya?" tanya pria itu
"Memangnya siapa lagi di sini yang berprofesi sebagai perampok" ucap Arfan sambil menatapnya tajam, dia tidak merasa takut meski perawakan pria di depannya itu kekar dan berotot
"Tapi aku merasa tidak pernah mengambil sesuatu dari anda, jujur aku hanya pernah melakukan itu sekali, itu pun pada seorang wanita Penjaga kounter tuan, mungkin Anda salah orang" ucap Pria itu
"Apa kau tidak ingat??,, selain ada gadis yang kamu Rampok itu,, ada seseorang yang kamu lukai juga?" ucap Arfan
"Jadi Anda...."
"Ya aku pria gila itu, jangan berharap kau bisa lari dariku sekarang, kau pilih sendiri saja bagaimana kamu akan masuk penjara, menyerahkan diri mu, atau harus ku panggil Polisi kesini untuk menembakmu" ucap Arfan yang merasa ada sedikit dendam pada pria di depanya itu
Namun yang tidak di sangka oelh Arfan, pria yang sebaya dengannya itu malah menurunkan lututnya ke lantai,,,, bukanya lari seperti yang di perkirakan Arfan
__ADS_1
"Tuan, kau boleh memenjarakan ku, tapi setelah aku bisa melihat putriku pergi dengan tenang, aku mohon, beri aku kesempatan untuk melihat putriku di istirahatkan andai kata dia meninggal sekarang, dia sedang sekarat di rumah sakit ini, Izinkan aku melihat putriku untuk yang terakhir kalinya, saya mohon tuan" ucap pria kekar itu Sabil menundukan kepala di hadapan Arfan, dan sedikit meneteskan Air mata
"Apa ini modusmu untuk kabur dariku, lemah sekali caramu" ucap Arfan
"Aku benar-benar tidak berniat kabur dari Anda, Karena aku tau kalau aku pernah berbuat salah, aku melakukan itu demi bisa mendapatkan biaya untuk berobat putriku, aku bersumpah tidak pernah melakukan itu lagi sebelum dan sesudahnya, aku menyesal" ucap Pria itu
Entah kenapa Arfan merasa sedikit bersimpati pada pria yang berlutut di hadapannya itu, karena dia mengakui kesalahannya, apa lagi kalau benar putrinya itu butuh pertolongan
"Apa penyakit putrimu?" tanya Arfan
"Kata dokter putriku leukimia tuan, dan kondisinya sekarang sangat lemah,, aku tidak punya banyak uang untuk pengobatan nya, aku mungkin hanya bisa merelakan nya saja sekarang" ucap Pria itu
Arfan sedikit tertegun, dia tau kalau penyakit semacam itu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan harus menjalani terapi yang tidak sebentar,
"Suster, segera berikan ruang perawatan intensif untuk putri pria ini, aku yang akan mengurus administrasi nya" ucap Arfan yang merasa tidak tega
"Baik pak" ucap Suter jaga itu
Pria itu pun tertegun karena tidak menyangka kalau Arfan akan membantunya, padahal secara logis dia sudah merugikan Arfan
"Aku hanya kasihan pada putrimu, aku yakin dia masih sangat kecil, tapi bukan berarti aku sudah melepaskan mu, kamu harus minta maaf pada seseorang yang sudah kau lukai" ucap Arfan
Pria itu pun dengan sadar langsung menundukan kepalanya di lantai "Aku minta maaf tuan, aku sungguh sungguh minta maaf" ucap pria itu
"Bukan padaku, tapi pada gadis penjaga konter itu" ucap Arfan
Pria itu langsung mengangkat kepalanya lagi, "Baik tuan, aku akan segera menemui nya" ucap pria itu langsung berdiri dan melangkah ke samping Arfan
"Kau mau kemana?, gadis itu sekarang ada di rumah sakit ini" ucap Arfan
"Sungguh????, apa dia di rawat karena luka dari ku?"
"Tidak, ada sebab lain dia di sini" ucap Arfan
"Syukurlah,, tolong antar aku padanya tuan" ucap pria itu
"Baik"
__ADS_1
Setelah Arfan menyelesaikan administrasi nya, Putri Gian yang masih berada di ruang IGD pun segera bisa memasuki Ruangan rawat, itu pun membuat Gian senang dan sangat malu pada Arfan
Setelah itu mereka langsung bergegas pergi ke ruangan rawat Nadira,
"Ingat, jangan menyinggung pria gila di depan gadis itu, paham??" ucap Arfan sebelum mereka memasuki ruangan Nadira
"Kenapa tuan?" ucap pria itu,
"Tidak perlu banyak bertanya" ucap Arfan, kemudian dia segera membuka pintu ruangan Nadira, dan melangkah masuk ke ruangan itu
Nadira yang masih terbaring di Ranjangnya pun langsung menoleh pada 3 pria yang masuk ke ruangannya itu, "Pak Arfan??" ucap Nadira tanpa sadar
"Sudah kubilang kan, Pak Arfan pasti akan mejengukmu" bisik Sindi yang duduk di sebelah Nadira
Nadira pun hanya menatap ketiga pria yang memasuki ruangan nya itu
Mereka pun mulai mendekat pada Nadira, Pria berbadan tegap itu pun langsung mencoba meraih tangan Nadira untuk meminta maaf padanya
Namun Secara replek Nadira menarik tangannya "Apa apaan Anda, tidak sopan" ucap Nadira sedikit Ketus, dia sedikit kaget dengan pergerakan Gian itu
Gian langsung berlutut setelah dia tidak bisa meraih tangan Nadira, "Aku minta maaf padamu Nona, tolong ampuni kesalahan ku" ucap Gian
"Tidak perlu lebay, aku tanya Anda ini siapa?, aku tidak kenal Anda" ucap Nadira
"Saya orang yang pernah menodong Anda malam itu di konter nona, tolong maafkan aku, aku melakukan itu karena terdesak keadaan" ucap Gian
Nadira langsung kebingungan di buatnya, kejadian itu sudah hampir dia lupakan, tapi tiba tiba si pelaku itu kini datang tiba tiba dan meminta maaf bersamaan dengan kedatangan Arfan Dan Andreas
"Pak Arfan, ada apa ini, kenapa tiba-tiba Anda membawa pria ini kemari?" tanya Nadira
"Aku hanya kebetulan saja bertemu dia di rumah sakit ini, dan dia bilang kalau dia punya salah padamu, jadi aku membawanya kemari untuk meminta maaf padamu" ucap Arfan simpel
"Tapi bagaimana bisa dia bicara pada Anda, apa kalian saling mengenal sebelumnya?" tanya Nadira bingung
"Tidak, aku tidak mengenal dia sebelumnya atau pun sekarang" ucap Arfan sambil tersenyum
Nadira pun di buat Bingung dengan keadaan itu "Aku bingung, apa ada penjelasan yang bisa kupahami??" ucap Nadira
__ADS_1