Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr 1


__ADS_3

Pria itu pun sangat marah mendengar jawaban dari Nadira, "Rupanya kamu ingin aku melukaimu dulu, baiklah jangan menyesal" ucap pria itu


Pria itu pun langsung mengayunkan pisau tajamnya itu ke arah dada Nadira, karena di posisi Nadira yang sekarang yang terhalang etalase, hanya bagian itu lah yang bisa di jangkau sang perampok


Saat pisau itu sudah menyayat bajunya, Nadira pun langsung berteriak histeris dengan memejamkan matanya "Aaaaaaaaaaaaaa" diapun langsung merasakan ujung pisau itu menggores pada kulit di bagian dadanya, tapi itu tidak terlalu menyakitkan untuknya, tidak seperti yang sudah dia perkirakan


Jadi diapun membuka matanya lagi dan malah melihat kalau si perampok itu sekarang sudah di cekik dari belakang oleh orang gila yang mendiami pos di sebrang gerainya itu


"Berengsek, lepaskan aku, atau aku akan menghabisi mu" ucap perampok yang di cekik oleh Arfan


Namun Arfan tidak takut dengan ancamannya, di terus mencekik pria itu sekuat tenaganya, namum nahas, pria yang membawa pisau itupun mencoba menghunuskan pisaunya pada perut Arfan yang di belakangnya


Dan, 'Srettt' pisau itu pun berhasil mengenai perut samping Arfan, Namun dia tetap mencengkram kuat leher pria itu hingga pria itu pun kesulitan untuk bernafas karena nya,


Arfan yang terluka pun mulai merasakan sakit di Perut sampingnya, diapun mulai kehilangan sebagian tenaganya dan mulai melemaskan cekikanya, perlahan diapun melepaskan tanganya dari si perampok itu, di mundur dan langsung meraba perutnya yang terluka, dan melihat ada Darah di tanganya "Darah??" lirih Arfan


Si pria yang di cekik pun sampai terbatuk batuk di tanah akibat dari cekikan Arfan, dia masih bisa bangkit dengan pisau di tangannya "Dasar orang gila, mengganggu saja,, lebih baik kamu mati saja" ucap si pria yang berniat untuk menusuk Arfan lagi


"Tolooooooooong, toloooooong, ada perampooook" teriak sang gadis yang berada di dalam gerai


Pria itu pun langsung memperhatikan ke sekitarnya, dan dia melihat kalau ada tiga satpam yang merespon teriakan Gadis penjaga kounter itu,, dan mereka pun segera berlarian ke arahanya, "Gawat, ada satpam,, sebaiknya aku lari" ucap pria itu, diapun sesegera mungkin melarikan diri dengan memilih masuk ke jalanan gang yang ada di sebelah kounter itu


"Heeeeeeyy, jangan Lari" triak salah satu dari satpam pertokoan itu, mereka pun langsung mengejar ke arah perginya sang perampok


Sementara Arfan kini sudah terduduk di tanah dengan bersandar ke tiang reklame karena kesakitan


Nadira pun langsung menghampiri pria gila yang sudah menyelamatkan hidupnya itu, dia berpikir entah apa jadinya jika tidak ada dia tadi, mungkin pisau itu benar-benar akan menusuknya dan melukainya lebih parah lagi


"Paman, Paman, apa kamu tidak papah??" tanya Nadira yang dengan susah payah berjalan dengan tongkat kruk nya, dia mendekat pada pria kucel yang berkumis dan berjanggut sdikit lebat itu


Nadira pun langsung melepaskan tongkatnya untuk duduk dan melihat keadaan pria gila itu "Paman, apa kamu masih sadar??" tanya Nadira memastikan


Arfan pun tidak menjawab dan malah menggerakan tanganya untuk menyentuh dada Nadira yang sedikit berdarah dengan bajunya yang sedikit robek "Darah" ucap Arfan sambil menyentuh bagian tengah dari dada Nadira


Sontak Nadira pun sangat kaget "Aaaaw, tidak sopan, dasar gila," ucap Nadira yang langsung menepis tangan Arfan,


Tapi dia mulai berpikir ulang kalau pria di hadapannya itu tidak mungkin punya niat kotor pada dirinya, karena dia tau dia adalah pria gila, dan Nadira pun mencoba memakluminya

__ADS_1


Dan memang maksud Arfan juga hanya ingin mengatakan kalau Nadira juga berdarah sepertinya


"Iya, aku berdarah, paman juga berdarah, apa paman masih bisa berdiri,?, kita pergi ke klinik ya" ucap Nadira


"Tidak mau pergi, aku mau kesana" ucap Arfan menunjuk ke pos tua tempatnya berdiam


"Tapi Paman berdarah, nanti Paman bisa infeksi" ucap Nadira


"Aku mau kesana" ucap Arfan sedikit berteriak


"Bebaiklah Baiklah, aku tidak akan memaksa, apa Paman bisa berdiri?" tanya Nadira


"Aku bisa" ucap Arfan sambil mencoba bangkit dan berdiri, dengan langkah sedikit gontai Arfan pun bergegas menuju ke posnya itu


Nadira pun bangkit dan memakai tongkat nya lagi untuk mengikuti langkah Arfan


Arfan pun langsung merebahkan dirinya di sebuah tikar yang di gelar di ruangan sempit itu


Nadira pun sedikit keheranan melihat tempat berdiam Arfan yang terlihat bersih, tidak ada sampah sedikit pun di tempatnya itu, dia juga mulai memperhatikan pakaian arfan yang terlihat cukup bersih dan tidak lusuh seperti orang gila kebanyakan,


Hanya saja rambut Arfan memang Sangat berantakan karena tidak terurus, dengan janggut dan kumis sedikit panjang


Dia juga tidak pernah tau kalau ada seseorang suruhan Adiknya yang selalu membersihkan tempat itu dan memberikan Arfan makanan yang cukup, dan bahkan sesekali memandikan nya dan mengganti pakaiannya


"Paman sangat suka kebersihan ya?" tanya Nadira, dia memanggilnya Paman Karena dia menebak kalau usia dari pria itu lebih tua darinya


"Tidak" ucap Arfan


"Oh, tapi tempat mu lumayan cukup bersih, O yah, apa paman yakin tidak mau ke kelinik??" tanya Nadira yang sedikit khawatir pada Arfan


"Kamu periksa, kamu berdarah" ucap Arfan


"Aku hanya luka kecil, ini tidak sakit" ucap Nadira


"Pergi" ucap Arfan yang tidak ingin di ganggu lagi


"Oh, Baiklah, aku akan pulang, terimakasih sudah membantuku hari ini" ucap Nadira

__ADS_1


"Pergiii" ucap Arfan


"Baiklah, aku pergi sekarang" ucap Nadira yang mulai beranjak dari sana dengan mata masih memperhatikan Arfan


Diapun segera beranjak dari tempat itu untuk pulang ke rumahnya, karena kebetulan Rumahnya juga ada di dalam gang yang tidak terlalu jauh dari tempat nya bekerja


Jadi Nadira pun hanya berjalan kaki dengan bantuan tongkat kruk nya saja untuk sampai ke rumahnya


.



Keesokan paginya, Nadira pagi pagi sekali sudah memasak telur di rumahnya, dan langsung memasukannya kedalam sebuah wadah yang sudah terisi nasi


"Tumben tumbenan kamu mau bawa makan ke tempat kerjamu, kalau kamu lapar tinggal pulang saja kan" ucap Narita Ibunda Nadira


"Iya, kadang aku sibuk kalau jam istirahat, soalnya pelanggan lagi banyak banyaknya kan, kali kali bawa bekal makan tidak papa kan bu" ucap Nadira


"Terserah lah, Dira, Apa kamu sudah punya uang untuk bayar tagihan bank?" tanya Narita


"Belum bu, aku belum dapat gajih bulan ini, kalaupun dapat gajih,, banyak juga tagihan yang harus kita bayar kab bu," ucap Nadira


"Aaaah, ibu suka pusing kalau sudah jatuh Tempo bersamaan seperti ini, makannya kamu tuh kalau nyari pacar yang kaya, biar kehidupan kita bisa berubah, jangan seperti siapa itu pemuda yang dekat dengan mu itu,?" tanya Narita


"Deon bu" ucap Nadira


"Ya itu, jangan seperti si Deon yang gak jelas itu" ucap Narita


"Bu, orang kaya mana ada yang mau dengan wanita lumpuh seperti ku, ibu jangan terlalu berharap, masih untung ada yang mau dekat dengan ku kan" ucap Nadira


"Iya, Padahal kamu kan cantik, semua ini gara gara si wanita ****** itu, kalau dia tidak merebut papahmu dari ibu, pasti kehidupan kita masih baik baik saja, dam kecelakaan yang menimpa mu itu tidak akan terjadi, Ibu bersumpah akan membuat dia menyesal seumur hidupnya," ucap Narita


"Bagaiman caranya bu, Ayah sangat membelanya, kita tidak mungkin bisa menggangunya" ucap Nadira


"Caranya kakimu harus sembuh, dan kemu harus menikahi pria kaya, baru kita bisa balas dendam pada wanita itu" ucap Narita


"Itu mustahil bu, biaya operasi kakiku itu mahal, sekarang saja aku Sulit untuk mendapatkan biaya untuk berobat" ucap Nadira

__ADS_1


"Ibu akan coba cari pinjaman lagi, Tidak perduli berapapun biayanya, yang penting kamu bisa mendapatkan pria kaya, dan ibu peringatkan sekali lagi, jangan kamu ladeni lagi si Deon itu, kalau sampai ibu melihatmu dengannya lagi, ibu tidak akan mengakui mu lagi sebagai putriku" ucap Narita


Nadira pun hanya menundukan pandanganya tidak menjawab perkataan ibunya itu


__ADS_2