Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Beda Jaman


__ADS_3

Nadira kembali ke kamar Dinda dengan perasaan yang aneh menjalar di hatinya, di sejenak menyandarkan diri dipintu kamar Dinda dan mencoba mengkondisikan hatinya itu


"Ayolah Nadira,, Jangan percaya rayuan pria itu, dia itu tidak lebih dari seorang pria kaya yang suka menggoda gadis seperti mu,, dia pasti merayu setiap wanita yang dia dekati seperti itu karena ada maunya, jadi kamu jangan termakan oleh rayuan nya itu, oke?" Nadira bermonolog, kemudian menarik Nafas dalam-dalam untuk menetralkan hatinya kembali


Nadira juga langsung menghabiskan air minumnya dengan sekali teguk, setelah itu dia segera kembali ke tempat tidur Dinda lagi, dan langsung mengubur dirinya dengan selimut, lalu Nadira langsung tertidur


...°°...


Sementara itu Arfan masih terjaga di luar, dan Katika waktu mulai memasuki pertengahan malam, Arfan masuk ke kamar Dinda dengan membawa sebuah kue ulang tahun untuk Dinda, nyala lilin kecil di atas kue itu sedikit menerangi kamar Dinda yang temaram,


Arfan langsung menghampiri Dinda yang berada di tempat tidurnya,,, dia langsung saja mengganggu tidur adik perempuannya itu, supaya dia terbangun dan melihat kue untuk nya itu,


Setelah Arfan beberapa kali mengganggu Dinda yang sulit bangun itu,, akhirnya Dinda bereaksi dari tidurnya, "Apaan sih, Dinda ngantuuuuuk" ucap Dinda tanpa melihat siapa yang membangunkanya itu


Arfan langsung menyanyikan lagu ulang tahun untuk Dinda dengan suara pelan,🎶


Dinda yang mendengar suara Arfan akhirnya berusaha untuk membuka matanya, mata ngantuknya itu langsung menatap cahaya lilin kecil yang persis berada di atas kue yang di bawa Arfan, sontak Dinda pun langsung bangun dan mengucek matanya


"Selamat ulang tahun sayang" ucap Arfan


"Ya ampun manis sekali,, terima kasih kak,, sudah jadi yang pertama ngucapin ke Dinda, kakak memang yang terbaik di dunia ini" ucap Dinda merasa sedikit terharu menatapi kue itu


Bukan karena kuenya Dinda terharu, tapi karena tahun ini Arfan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat padanya,, Semasa Arfan Sakit, tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Dinda di malam pergantiannya seperti sekarang, dan tentu saja ucapan dari Arfan itu membuat dinda sangat senang


"Ucapkan permohonan mu dulu, kemudian tiup lilinya" ucap Arfan


Dinda langsung saja mengangkat kedua tangannya "Semoga di usia ke enam belas Dinda ini, Dinda bisa punya kakak ipar yang baik, tidak seperti kakak ipar Dinda yang sebelumnya, Dinda tidak mau melihat kak Arfan sakit lagi, Dinda mau melihat kak Arfan bahagia, Amiiin" ucap Dinda


Mata Arfan sedikit berkaca-kaca saat mendengar keinginan adik perempuan nya itu "Aamiin,, Terima kasih Dinda, kau juga memang adik yang terbaik di dunia ini, sekarang tiup lilinnya" ucap Arfan


"Sebentar kak, Dinda ingin berfoto dulu dengan kuenya" ucap Dinda


"Kamu ini, ya sudah kakak ambilkan foto untukmu" ucap Arfan


"Tapi Dinda maunya berfoto dengan kak Arfan dan kak Nadira juga" ucap Dinda


"Jangan,,,, kasian kak Nadira kalau kamu membangunkanya" ucap Arfan


"Tidak perlu di bangunkan, kita foto dengan kak Nadira yang tidur saja" ucap Dinda


"Kakak rasa itu bukan ide yang buruk, baiklah" Arfan segera menyalakan lampu kamar Dinda itu, dan bergegas ke sisi lain tempat tidur untuk menghampiri sisi Nadira, dia perlahan menyingkap selimut yang menutupi sebagian wajah Nadira, hingga Arfan bisa melihat raut wajah Nadira yang sedang tertidur pulas itu


"Lucu" gumam Arfan yang memperhatikannya


Arfan segera mengeluarkan ponselnya dan kemudian mengabadikan momennya bersama Nadira yang terpejam itu

__ADS_1


Dinda yang membawa kue ulang tahun kecilnya juga sedikit mendekat kan wajahnya ke wajah Nadira, mereka bergimik seolah menggangu Nadira dengan mencubit ringan pipi, atau hidung Nadira


Dan tentunya itu tanpa di sadari oleh Nadira yang memang cukup nyenyak di tidurnya,


.



Keesokan Harinya, Nadira terbangunkan oleh sinar mentari pagi yang masuk dari tirai yang di buka oleh Dinda, terangnya membuat Nadira mengernyit dan perlahan membuka matanya


"Sudah siang ya?" tanya Nadira yang langsung bangun dan meregangkan tangannya sejenak


"Iya kak,, Kakak nyenyak sekali tidurnya" ucap Dinda yang kembali duduk di pinggiran tempat tidur


"Semalam kakak tidak bisa tidur, jadi masih pengen tidur lagi ini juga" ucap Nadira


"Sungguh?, apa itu karena aku mendengkur saat tidur?" tanya Dinda


"Tidak, kamu tidak mendengkur, kakak hanya sulit tidur saja" ucap Nadira


"Oh kukira aku mendengkur seperti kata Oma" ucap Dinda


"Tidak,,, Kakak hanya merasa tidak terbiasa saja tidur di kamarmu" ucap Nadira


"Oh begitu, sekarang kita keluar yuk kak, Oma pasti sudah menunggu kita untuk sarapan" ucap Dinda


Setelah keluar dari kamar mandi, Nadira dan Dinda segera bergegas untuk keluar kamar


Dan begitu mereka keluar, ternyata Arfan sudah berdiri di depan pintu kamar Dinda


"Kamu?, ada apa?" tanya Nadira


"Tentu saja menjemputmu untuk sarapan" ucap Arfan


"Cieee,, sarapan saja pake di jemput segala, udah kayak Abang ojol saja kakak" ucap Dinda


"Apaan sih Dind,, gak jelas ih" ucap Nadira seraya menyentuh hidung mancung Dinda


"Ya Sudah kita ke ruang makan sekarang,, Oma sudah menunggu Kalian di ruang makan dari tadi, aku juga sudah berdiri cukup lama di sini" ucap Arfan


"Aneh, kenapa tidak mengetuk pintunya?" ucap Nadira


"Aku takut mengganggu tidur Nona jika aku mengetuk pintunya" ucap Arfan


"Ya baiklah, kau memang pria yang aneh" ucap Nadira segera melangkah melewati Arfan

__ADS_1


Arfan hanya tersenyum dan kemudian berbalik mengikuti langkah Nadira bersamaan dengan Dinda


"Kak, apa kalian selalu seperti ini?, kok tidak romantis seperti di film-film sih pacarannya" bisik Dinda pada Arfan


"Kami masih baru, jadi kak Nadira masih sedikit malu-malu pada kakak, tapi nanti dia pasti akan romantis pada waktunya" bisik Arfan juga


"Oh gitu yah, hihihi" bisik Dinda lagi


"Kalian pasti membicarakan ku kan?" ucap Nadira yang mendengar kakak beradik itu ngobrol berbisik bisik


"Tidak kak, kami hanya membahas sesuatu yang lain" ucap Dinda ngeles


Sementara Arfan hanya tersenyum saja


"Masa?" ucap Nadira


"Beneran kak" ucap Dinda langsung maju dan menggandeng tangan Nadira


"Sebenarnya memang aku membicarakan mu" ucap Arfan


Nadira sedikit menoleh pada Arfan, kemudian mencubit punggung tangan Dinda, "Tuh kan, kamu bohong" ucap Nadira


Dinda juga menoleh pada Arfan " Kakak iiihhh,, kenapa malah di bongkar" ucap Dinda


"Tidak baik berbohong kan" ucap Arfan tersenyum


"Memangnya apa yang kalian bicarakan tentang ku?" tanya Nadira berbisik pada Dinda


Tapi Arfan masih bisa mendengar nya "Dinda hanya tanya kenapa kamu tidak romantis padaku?,, itu yang Dinda tanyakan" ucap Arfan


"Baiklah, kakak akan jujur pada Dinda, sebenarnya kak Nadira dan kak Arfan itu .......mmm"


Arfan langsung melangkah maju sejajar dengan langkah nadira untuk membekap Mulutnya "Kamu tidak perlu bicarakan masalah orang dewasa pada anak kecil, itu tidak baik" ucap Arfan


Sontak Nadira merasa kaget dan menatap Arfan dengan tatapan tajamnya "Mmmmmmmm Mmmm mm" hanya itu yang terdengar dari Nadira yang berjalan dengan di bekap Arfan, dan dia mencoba melepas tangan Arfan yang melingkar di bahunya


Dan setelah mereka sampai ke ruang makan, barulah Arfan melepaskan bekapan nya


Nadira pun langsung meluapkan kekesalannya pada Arfan "Dasar tidak punya hati, singkirkan tangan mu ini, iiihh" ucap Nadira langsung menyingkirkan tangan Arfan dengan sedikit kasar


"Masih pagi kok sudah berantem, apa kalian belum baikan juga?" tanya Oma


Nadira pun baru sadar kalau mereka sudah di ruang makan, dan tentunya ada Oma di sana "Eh, Oma, tidak Oma, kami hanya bercanda saja barusan" ucap Nadira


"Iya Oma, Nadira memang seperti ini, sudah biasa" ucap Arfan sambil meraih bahu Nadira lagi

__ADS_1


Oma Laura langsung menggelengkan kepalanya "Oma tidak paham gaya pacaran kalian, kalau jaman Oma dulu, masa pacaran itu masa yang penuh dengan rayuan dan pujian, juga kelembutan,, bukan seperti kalian ini, tapi ya mungkin beda jamannya" ucap Oma


__ADS_2