Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Sakit


__ADS_3

Arfan Terus memeluk Nadira yang juga masih memeluknya erat dari tempat pemeriksaannya, Nadira sampai cegukan karena ketakutannya dan tangisannya bercampur,


Hingga setelah Arfan merasa kalau pelukan Nadira mulai melemah, dia pun melepaskan pelukannya, dan menatap mata sendu Nadira


"Apa kamu bermimpi buruk??" tanya Arfan


Nadira pun menggelengkan kepalanya


"Lalu apa yang kamu takut kan?, coba kamu cerita" ucap Arfan lagi


"Aku mengingat semuanya, dan aku sangat takut" ucap Nadira dengan terisak


Arfan masih belum terlalu paham "Apa yang kamu ingat?, kenapa kamu harus takut?" tanya Arfan


"Ingatkan ku sudah kembali, aku ingat semuanya,, aku ingat saat aku terombang-ambing di lauapan air sungai itu, aku sangat takut" ucap Nadira


"Jadi,, ingatanmu sudah kembali??, apa kamu juga sudah ingat siapa aku" tanya Arfan memastikan


"Aku ingat, aku mengingatmu" ucap Nadira dengan sisa Air matanya


"Sungguh??" Arfan langsung memeluk Nadira lagi, "Ya Tuhaaan, terimakasih telah mengembalikan Ingatan istriku" ucap Arfan, dia mencium ramput di kepala Nadira, dan matanya pun sampai berkaca-kaca karena terharu saat mengetahui ingatan Nadira telah kembali


Nadira juga memeluk Arfan, dia juga senang karena dia sudah mampu mengingat siapa dirinya lagi "Sayang,, aku sekarang sedang hamil kan?, aku sedang mengandung anak kita kan?" tanya Nadira


"Iya sayang, kita sebentar lagi akan punya bayi,, apa kamu senang??" tanya Arfan yang masih memeluknya


"Aku sangat bahagia, aku,, aku senang sekali" ucap Nadira tersenyum di tengah tangisnya


Arfan melepaskan pelukannya, "Ya sudah, kita sekarang pulang ya,, kita beritau ini pada semuanya" ucap Arfan


"Iya"


Arfan langsung membawa Nadira pergi meninggalkan rumah Sakit, dan mereka segera kembali ke kediaman Edgar dengan raut wajah penuh suka cita,


Saat mereka memasuki kediaman Edgar, Nadira tetap menggandeng Arfan dan tidak mau lepas darinya, dia masih sedikit trauma dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya


Tapi berbeda dengan Arfan yang benar-benar merasa bahagia detik ini, sikap Nadira padanya sudah kembali seperti semula, dan dia tidak menganggap dirinya orang asing lagi


"Arfan, bagaimana keadaan Nadira?" tanya bu Narita yang langsung menghampiri mereka, dia sudah dapat kabar kalau Nadira jatuh pingsan dan di bawa kerumah sakit,


"Kabar baik Bu, Nadira sudah mendapatkan kembali ingatannya" ucap Arfan


"Benarkah, syukurlah Dira, ibu senang mendengarnya" ucap Narita langsung memapah Nadira bersama Arfan

__ADS_1


Nadira juga langsung memeluk ibunya itu, "Bu, aku sangat rindu kalian" ucap Nadira


"Ibu juga sama sayang, ibu senang kamu sudah kembali seperti sediakala" ucapa Narita


Mereka pun segera membawa Nadira duduk di sofa, dan Arfan membiarkan Nadira dengan ibunya dulu


"Bu,, aku berencana membawa Nadira kembali lagi ke kediaman ku, apa boleh?" Tanya Arfan


"Tentu saja Arfan, Nadira sudah jadi hakmu sekarang, kau bebas membawanya kemanapun" ucap Narita


"Terimakasih bu, Sampaikan juga pada pak Edgar, kalau Nadira baik baik saja sekarang, dan kami akan kembali ke kediaman ku" ucap Arfan


"Iya, nanti ibu kabari dia" ucap Narita


Arfan pun segera pergi mengjak Nadira kembali ke kediaman Ednan bersaudara, karena sebenarnya dia kurang nyaman tinggal di rumah mertuanya itu



Mereka pun akhirnya tiba di kediaman Ednan bersaudara lagi dan segera melangkah masuk ke pintu utama rumah itu


"Selamat datang kembali di rumah sayang" ucap Arfan yang tetap memapah Nadira berjalan


"Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak kembali" ucap Nadira


"Iya Iya, aku janji, aku akan jadi istri yang lebih penurut lagi" ucap Nadira


Arfan langsung tersenyum dan membalikan badan Nadira supaya menghadap padanya, dan dia pun mengecup kening Nadira


"Apa hanya segitu Rindu mu?" tanya Nadira yang merasa kalau ciuman itu kurang


Arfan menengok kiri kanan, dia masih sadar tempat meskipun Rindunya hampir tak terbendung lagi,, karena mereka memang masih berada di ruang tamu,


Meski Arfan tau kalau Andreas dan Dinda belum kembali dari aktivitas mereka, tapi dia tidak mau kalau luapan rasa rindunya di lihat oleh asisten rumah di sana


"Jangan di sini lah" ucap Arfan tersenyum penuh arti


"Oh iya, aku lupa" ucap Nadira juga tersenyum


Arfan langsung saja membopong tubuh Nadira untuk naik ke kamar mereka


"Hey, apa kamu yakin ingin membawaku seperti ini ke kamar atas?, Kamu harus melewati tangga lho" ucap Nadira


"Siapa takut, kau tidak terlalu berat, aku juga pria yang kuat kan?" ucap Arfan

__ADS_1


"Iya Iya, aku percaya" ucap Nadira tersenyum dan langsung bersandar manja di bahu Arfan yang menggendongnya



Mereka pun sekarang tiba di pintu kamar mereka, dan sayangnya Arfan sedikit kesulitan saat harus membuka kunci pintu kamarnya sendiri,, karena dia membopong Nadira,


"Sudahlah, turunkan aku di sini saja" ucap Nadira yang menyadarinya


Arfan menghela nafasnya "Hhh, Padahal aku ingin membawa mu sampai masuk kedalam" ucap Arfan, diapun menyerah, dan menurunkan Nadira


Dan diia mulai bisa leluasa untuk membukakan pintu kamarnya untuk Nadira


Mereka pun segera masuk kedalam kamar,, Nadira langsung berinisiatif memeluk Leher Arfan dan mendorong nya Ke tempat tidur, dia langsung mencium Arfan dengan gemasnya


Arfan sedikit terheran-heran karena tidak biasanya Nadira seagresif itu, tapi itu membuat dia merasa senang, dan tentu mengimbangi ciuman dari Nadira yang terkesan brutal itu


Setelah beberapa saat mereka berpagutan untuk melepas rindu mereka, Nadira yang berada di atas Arfan melepas ciumannya "Maaf, sebelumnya aku selalu menolak untuk melakukannya" ucap Nadira mengungkapkan penyesalan nya,, dengan nafasnya yang sudah sedikit memburu


"Tidak apa, aku memakluminya" ucap Arfan


"Sshhh Awww,, sakit sekali sayang" ucap Nadira tiba tiba meringis kesakitan


"Kenapa??, ada apa?" tanya Arfan heran karena dia merasa belum melakukan apa apa, Arfan langsung membalikan posisi Nadira supaya dia tidur di kasur "Apa yang sakit??" tanya Arfan khawatir


"Perutku,, aaaawww" lirih Nadira dengan memegangi perutnya


"Mungkin kamu terlalu bersemangat barusan, Bayimu mungkin terjepit" ucap Arfan


"Sepertinya begitu" ucap Nadira tersenyum


"Apa itu sangat sakit?, apa perlu kita periksa ke doter sekarang?" tanya Arfan,,


"Tidak perlu, ini tidak terlalu sakit sayang, kita lanjutkan saja" ucap Nadira


"Tidak, kasian bayi kita kan, biarkan sakitmu mereda dulu,, O yah, aku ingin menyapanya" ucap Arfan yang memang belum punya kesempatan untuk berinteraksi dengan calon bayinya itu


"Coba saja, dia pasti akan senang," ucap Nadira


Arfan pun langsung mendekati perut Nadira dan menempelkan telinganya nya di sana, dia juga mengelus perut Nadira yang sudah sedikit membuncit itu


"Aku tidak medengar apa apa, hanya ada suara keroncongan di perutmu" ucap Arfan


"Bayi kita memang belum bisa bersuara kan sayang, kata orang,, di usia kehamilan saat ini dia baru saja mendapatkan kehidupannya, jadi dia baru bisa sesekali saja berdenyut, itupun hanya aku yang bisa merasakan nya" ucap Nadira dengan senyum simpul sambil mengelus rambut Arfan

__ADS_1


__ADS_2