
Arfan pun tersenyum mendengar pernyataan Nadira itu "Gadis,,, Setelah ini aku mungkin akan pergi lagi, ada baiknya kalau kamu punya teman lain" ucap Arfan
"Tidak, Paman tidak boleh kemana-mana, aku mohon, ya,, aku sangat sulit menemukan teman yang benar-benar bisa membuat ku nyaman seperti paman" ucap Nadira
"Baiklah, kalau kamu merasa begitu, aku akan terus jadi temann ngobrolmu, tapi aku benar-benar tidak bisa tinggal di sini lagi sekarang ini" ucap Arfan
"Tidak papa kalau memang Paman tidak bisa tinggal, asal Paman harus sering main kesini" ucap Nadira sambil menyeka air di sudut matanya
"Iya tentu saja" ucap Arfan
"Ngomong-ngomong, aku merasa kalau Paman ini sudah normal, apa paman sudah sembuh?" tanya Nadira yang baru menyadari itu
"Bisa di bilang begitu, tapi mungkin masih belum sepenuhnya, masih ada suatu hal yang membuat aku trauma, dan mungkin berpotensi membuat penyakitku kambuh, untungnya aku masih punya obat penawarnya, hanya saja obatnya itu agak jarang, dan tidak bisa ku jumpai setiap aku butuh" ucap Arfan
"Benarkah, apa nama obat itu, aku aku ada kenalan seorang apoteker, mungkin saja aku bisa menemukannya di sana untuk paman" ucap Nadira polos, dia tidak tau kalau yang di maksud Arfan itu adalah diri nya
"Tidak perlu,, untuk sekarang obatnya masih cukup, kapan kapan ku beritahu nama obat nya" ucap Arfan
"Begitu ya, syukurlah kalau gitu," ucap Nadira, diapun sekilas memperhatikan gerainya, dan melihat sudah ada pelanggan yang datang ke sana, "Ya ampun, ini sudah Siang, paman tunggu di sini sebentar ya, aku buka geraiku dulu, sudah ada pelanggan yang menunggu" ucap Nadira
"Ya Sudah, pergilah" ucap Arfan
"Jangan kemana-mana dulu, awas ya" ucap Nadira mewanti-wanti
Arfan pun hanya tersenyum dan tidak menjawabnya
Nadira pun segera pergi dari hadapan Arfan, dan beranjak ke gerainya
"Gadis,,, aku akan menemuimu lagi nanti, maaf, aku tidak bisa menunggumu di sini" gumam Arfan, diapun segera beranjak ke mobil yang menunggunya di pinggir jalan itu
Kemudian diapun segera masuk kedalam mobilnya itu,,
"Kapan Kakak akan memberitahu Nadira tentang kakak yang sebenarnya??" Tanya Andreas yang memang menunggunya di dalam mobil
"Entahlah, aku masih sedikit ragu, dia sudah nyaman dengan sosok ini, dan sudah mengagapku temannya,, aku tidak tau dia akan nyaman atau tidak saat dia tau kalau aku kakakmu" ucap Arfan sambil melepas wig dan kumis palsunya
__ADS_1
"Kau memang pria gila kak, aku sama sekali tidak bisa mengerti jalan pikiranmu" ucap Andreas
"Jalankan saja mobilnya, ini sudah siang, kau tidak perlu tau jalan pikiran ku, yang perlu kau tau, aku akan memastikan kebahagiaan gadis itu, jika dia sangat menyukaimu, maka aku akan mempersatukan dia dengan mu," ucap Arfan
"Bagaiman jika dia menyukaimu??" tanya Arfan
Sean langsung tersenyum "Rasanya itu tidak mungkin, dia masih cukup muda, bahkan dia memanggil ku Paman kan" ucap Arfan
"Baiklah, jika itu pendapatmu, kurasa waktu yang akan memberi jawaban yang sebenarnya, dan aku tidak akan terlalu berharap pada gadismu itu sebelum aku tau kebenarannya, jika aku bersama nya, aku akan menganggap kalau dia kakak ipar ku" ucap Andreas
"Kamu ini, bisa saja, ya sudah cepat berangkat" ucap Arfan
"Iya Iya pak direktur, kita akan segera berangkat" ucap Andreas yang langsung melajukan mobilnya
Mereka pun segera bergegas ke kantor mereka di waktu yang sudah agak siang itu
Sesampainya di kantor, mereka pun segera naik ke ruangan kerja yang berada di lantai teratas di gedung itu
Arfan pun duduk di kursinya dan langsung menyalakan komputer yang ada di mejanya,, begitu juga Andreas yang menyediakan satu meja lagi untuk dirinya di ruangan yang cukup leluasa itu
'tok'tok'tok' Bela pun mengetuk pintunya
Bela pun segera memasuki Ruangan, "Saya membawa informasi tentang perusahaan Anggera yang Pak Arfan minta kemarin" ucap Bela
"Baik, taruh saja di mejanya" ucap Andreas
"Baik pak", ucap Bela, diapu melewati meja Andreas dan menaruh berkasnya di meja Arfan "Ini pak, berkasnya"ucap bela
"Baik, terimakasih" ucap Arfan
"Apa ada lagi yang Anda perlukan?" tanya Bela
"Untuk saat ini tidak ada, kamu boleh keluar" ucap Arfan
"Baiklah" ucap Bela, diapun langsung keluar lagi dari ruangan itu
__ADS_1
"Untuk apa informasi mengenai perusahaan Anggera?" tanya Andreas
"Aku hanya penasaran saja, perusahaan seperti apa yang di miliki pria tua bernama Edgar itu, hingga membuat mantanku berpaling padanya" ucap Arfan
"Perusahaan nya masih jauh di bawah perusahaan kita, dan aku yakin kalau Yovi tau sekarang kamu yang memimpin perusahaan ini, dia juga akan berpaling padamu lagi" ucap Andreas asal
"Aku bukan tempat sampah yang mau menampung barang bekas" ucap Arfan dingin
"Aku hanya memprediksi, bukan memberimu motivasi" ucap Andreas
Tiba tiba telpon di depan Andreas pun berbunyi, dan Andreas segera mengangkatnya "Hallo, ada apa?" tanya Andreas yang tau kalau itu pasi telpon dari resepsionis di lobi
📞"Maaf pak direktur, pak Edgar dari Anggera_land ingin bertemu dengan Anda" ucap sang resepsionis
"Saya sedang tidak menerima tamu, dan untuk urusan kerja sama, bilang padanya saya berubah pikiran, dan tidak akan bekerjasama dengan perusahaan beliau" ucap Andreas
📞" Baik pak, akan saya sampaikan" ucap Resepsionis itu
Sang resepsionis pun segera menutup panggilan nya
"Bagaimana mbak, apa saya bisa langsung keruanganya?" tanya pria paruh baya yang bernama Edgar itu, dia adalah ayah dari Nadira, hanya saja Arfan belum mengetahui tentang hal itu
"Mohon maaf pak Edgar, pak direktur sedang tidak menerima tamu, dan prihal kontrak kerjasama dengan perusahaan Anda, pak direktur bilang dia berubah pikiran, dan tidak akan melanjutkan kerja samanya dengan perusahaan Anda itu" ucap sang resepsionis
"Mana mungkin begitu mbak, saya punya hubungan baik dengan pak Andreas, dia tidak mungkin membatalkan kerja sama nya tanpa alasan, saya harus bertemu dengannya, dan menanyakan langsung" ucap Edgar Anggera sambil beranjak ke arah lift Ceo dengan di ikuti beberapa bawahannya
"Pak, pak, mohon jangan memaksa masuk, Anda harus buat janji dulu" triak sang resepsionis, resepsionis itu pun segera menelepon pihak keamanan kantor, karena dia tidak mau di salahkan soal itu
Dan dengan segera pihak keamanan kantor pun segera me ngejar Edgar dan beberapa orangnya itu
"Pak berhenti,, mohon maaf pak, di kantor kami ini memiliki aturan, jadi Anda tidak bisa keluar masuk seenaknya saja, jadi silahkan anda keluar, karena direktur kami tidak bisa di temui oleh anda sekarang" ucap salah satu petugas keamanan kantor itu
"Kalian memangnya tau apa, apa kalian tidak tau aku ini siapa?" tanya Edgar sedikit marah karena langkahnya terhadang mereka
"Mohon Anda hargai tugas kami di sini, jadi silahkan anda pergi dengan hormat" ucap petugas itu baik baik
__ADS_1
"Baik, aku akan pergi, awas saja kalian, akan ku ingat wajah wajah kalian ini" ucap Edgar yang marah
Edgar pun dengan terpaksa harus keluar lobi lagi dengan di giring oleh beberapa petugas ke amanan kantor