Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Cerita


__ADS_3

Nadira menggandeng tangan Arfan yang baru berhasil di bujuknya itu untuk pergi ke ruang makan, dan mereka segera tiba di ruang makan untuk makan siang bersama Dinda dan Andreas yang juga sudah menunggu mereka di sana


Arfan langsung duduk di salah satu kursi, sementara Nadira langsung mempersiapkan alat dan makanan untuk Arfan


"Siang kak" sapa Dinda


"Siang Din, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Arfan


"Iya kak, tentu saja, untung saja ada kak Nadira, kalau tidak, mungkin aku akan merasa sendirian sekarang" ucap Dinda


"Memangnya kamu anggap apa kakak kakakmu ini?, hm?" tnya Arfan


"Bukanya begitu, meskipun kalian kakaku, tapi kalian kan laki laki, mana Mungkin kalian mau mendengarkan curhatan seorang gadis" ucap Dinda


"Siapa bilang, kakak bisa jadi pendengar curhatan yang baik, buktinya Kak Nadira juga sebelumnya sering curhat ke kakak, dan dia juga merasa nyaman dengan kakak" ucap Arfan


"Sudah sudah, kapan makanya kalau ngobrol terus, ayo makan, kamu juga jangan bahas bahas itu di sini" ucap Nadira pada Arfan, dia sedikit malu jika rahasianya itu di ketahui Dinda atau Andreas


"Ya Baiklah" ucap Arfan tersenyum


Mereka mulai mengambil makanan mereka masing-masing, kecuali Arfan yang sudah di persiapkan makanannya oleh Nadira


"Ini, makanlah yang banyak" ucap Nadira dengan mengambilkan lauk ke piring Arfan


"Terimakasih" ucap Arfan tersenyum


"Suasana seperti ini yang sejak lama ku rindukan di rumah ini, Akhirnya aku punya kakak ipar juga,, sayangnya,, harus ada yang pergi supaya ini terjadi" celetuk Andreas


Arfan langsung menoleh pada Andreas "Dre, sssstt," ucap Arfan sambil melirik Dinda, Arfan takut Dinda akan mudah sedih jika ada yang menyinggung soal Oma


Andreas pun paham, dan dia segera mengalihkan perhatian untuk membantu dinda mengambilkan sayuran ke piring Dinda yang duduk di sampingnya


"Kamu harus banyak makan sayuran, supaya sehat" ucap Andreas


"Iya kak" ucap Dinda tidak menolak


Mereka semua tidak ada yang bicara lagi, dan hanya fokus menyantap makanan yang ada di depan mereka,


Makan keluarga kali ini jelas sangat berbeda dari biasanya yang hanya Ada Andreas dan Arfan di meja makan kediaman Ednan itu, tapi sekarang tentunya lebih berwarna dengan hadirnya dua orang wanita di rumah itu,


Arfan merasa kalau makan siang kali ini terasa sangat khidmat


Dan Setelah mereka selesai makan, Arfan berniat untuk mengajak Dinda Jalan-jalan untuk menghibur nya

__ADS_1


"Dinda, apa kamu mau jalan jalan setelah ini??" tanya Arfan


"Entahlah kak" ucap Dinda


"Ayolah, bosen juga kan jika hanya dirumah terus, kita cari kegiatan yang seru" ucap Nadira


"Baiklah kalau begitu, kedengarannya menarik" ucap Dinda


"Baguslah, Dre, apa kau mau ikut?"tanya Arfan basa basi,


"Aku di rumah sajalah kak" ucap Andreas


"Baiklah" ucap Arfan


Arfan, Nadira dan Dinda pun segera pergi untuk berjalan-jalan untuk meredakan kabut yang ada di hati mereka saat ini, dan merefresh pikiran mereka supaya tidak terus larut dalam kesedihan mereka


Arfan membawa Dinda mengunjungi beberapa tempat di pusat kota B, mereka juga mengunjungi taman musik, tempat favorit Nadira jika dia bolos sekolah dulu


Mereka segera turun dari mobil Arfan, dan berjalan masuk ke area taman, mereka mencari tempat duduk yang nyaman menurut mereka , dan mereka sengaja duduk sedikit jauh dari orang orang yang singgah di sana juga, karena hari ini taman lumayan ramai,


"Apa kamu tau ini taman apa?" tanya Arfan pada Dinda yang tetap bergandeng tangan dengan Nadira


"Tau, ini taman musik kan, tuh ada namanya di sana" ucap Dinda melirik deretan hurup besar yang ada di depan taman


"Kok gitu?, itu tulisanya kan taman musik, kenapa jadi taman bolos?" tanya Dinda bingung


"Soalnya Ini tempat kak Nadira sembunyi kalau dia bolos sekolah" jawab Arfan


"Ih, kamu, Soal gitu gitu tidak perlu di ceritain ke Dinda kan, kamu buka aibku saja" ucap Nadira dengan memukul ringan bahu Arfan


"Benarkah??, jadi kak Arfan sudah mengenal kak Nadira dari jaman sekolah ya??" tanya Dinda


"Tidak juga, waktu kakak masih sekolah menengah, mungkin kak Nadira masih sekolah TK, jadi mana mungkin kakak kenal" ucap Arfan sekilas melirik Nadira


"Oh, terus kapan kalian bertemu?" tanya Dinda menelisik


"Belum lama Dind, paling sekitar 3 bulan lalu kakak bertemu Kak Arfan" jawab Nadira


"4 Bulan 3 hari 19 jam" ucap Arfan mengatakan rinciannya


"Haaahhh???, serius kamu masih mengingat pertama kali kita bertemu??" tanya Nadira Heran


"Tentu saja," ucap Arfan

__ADS_1


"Tidak, kurasa kau salah, aku baru bekerja di kantor ayahku lagi Selama 3 bulan, dan itu tidak lama setelah kita makan siang Waku itu" ucap Nadira


"Terus kau pikir siapa yang mencekik Gian malam itu waktu dia akan melukai mu di gerai??, siapa juga yang kau ajak curhat setiap hari di pos tua itu?" tanya Arfan


"Ohh, Iya ya, itu kali pertamanya aku menegur paman karena paman terluka,,, maaf, sampai detik ini aku masih merasa kalau paman gila dan kamu itu dua orang yang berbeda," ucap Nadira tersenyum canggung


Arfan menghela nafasnya pelan, "Ya mungkin menurutmu pertemuan dengan paman gila itu tidak terlalu penting, tapi menurutku, bertemu dengan mu itu adalah momen yang sangat berarti" ucap Arfan


"Bukanya begitu sayang, ih kamu mh," ucap Nadira yang tidak tau harus bilang apa


"Paman gila siapa sih yang kalian bicarakan?" tanya Dinda menyelah


"Itu, paman gila, temannya kakak Dind" ucap Nadira, dia merasa tidak enak jika menyinggung keadaan Arfan yang sebelumnya


"Sekaligus suaminya" ucap Arfan


"Oh, jadi kak Nadira dan kak Arfan bertemu saat kak Arfan sedang mengalami gangguan kejiwaan ya??, Dinda jadi penasaran, bagaimana ceritanya Kak Nadira yang cantik ini bisa berteman dengan kak Arfan sebelumnya" uca Dinda


"Jadi kamu mau dengar ceritanya?, baiklah, jadi...."


"Jangan cerita yang aneh aneh" ucap Nadira sedikit ketus


"Tidak ada yang aneh sayang, semuanya berkesan" ucap Arfan


Arfan mulai bercerita pada Dinda awal mula mereka bertemu, dan bercerita seperti apa kebersamaan mereka sebelumnya,


Dinda terlihat sangat antusias untuk menyimaknya,, dia bahkan sesekali tertawa kecil saat meurutnya ada hal nyeleneh dari cerita Arfan


Kadang wajah Nadira memerah Karena malu saat Arfan menceritakan tentang dirinya pada Dinda


.


Hingga tidak terasa hari pun mulai beranjak sore,


"Seperti nya sudah lumayan sore, kita pulang sekarang, kasian kak Andreas di rumah sendirian" ucap Arfan


"Iya, gak kerasa ya, sudah sore aja, padahal masih seru ngobrol nya" ucap Dinda


"Seru menurut mu, tapi tidak untuk kakak,, semua kartu kak Dira di buka oleh kakakmu itu" ucap Nadira ketus


"Hanya sedikit, jangan marah, toh juga menurut ku kalau cengeng itu bukan hal yang buruk untuk di ceritakan" ucap Arfan


"Tau ah" ucap Nadira manyun

__ADS_1


Arfan pun hanya tersenyum melihat Nadira yang ngambek karena dia membahas soal Nadira yang gampang menangis di depan paman Gilanya itu


__ADS_2