
Arfan malah di jamu di tempat Rogers itu oleh anak buahnya,
Dan Ramon tidak bisa berkutik lagi karena dia di jaga ketat oleh anak buah Rogers, tapi dia masih di izinkan untuk minum minum yang di bawakan anak buah Rogers
Arfan memilih minum bir daripada minuman lainya untuk menghargai mereka, meskipun dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan bir, tapi dari beberapa jenis minuman yang ada di sana, hanya bir itu saja yang tidak akan membuat nya mabuk
Ramon sengaja di buat mabuk oleh anak buah Rogers dengan terus di cekoki minuman keras oleh mereka
"Heh Ramon, berapa jari ku ini" tanya Rogers untuk memastikan Ramon sudah mabuk atau tidak dengan mengacungkan 2 jarinya
"Itu, itu lima lah bosku, kau pikir aku ini bodoh apa" ucap Ramon langsung terkekeh
"Salah, kau harus di beri hukuman karena salah menjawab, dan yang menentukan hukumannya adalah tuan Arfan, harus di apakan dia tuan" tanya Rogers
"Pukul saja dia" ucap Arfan
"Kalian dengar kan, lakukanlah" ucap Rogers
Beberapa Anak buah Rogers yang paling dekat dengan Ramon yang juga sudah sedikit mabuk langsung memukul Ramon, masing masing satu pukulan 'Buk, buk, buk'
"Ah kau curang, aku menjawab dengan benar kan" ucap Ramon yang sdah teler itu
Kemudian Rogers memberikan pertanyaan lagi dan lagi, dan setiap kali Ramon salah menjawabnya,, anak buahnya langsung memukulnya atau menampar nya, itu terus berlanjut hingga wajah Ramon terlihat lebam lebam oleh pukulan pukulan mereka,, meskipun pukulan mereka sebenarnya ringan karena mereka mabuk, tapi tetap meninggalkan bekas jika itu di lakukan Secara berkala
Arfa sedikit kasihan juga melihat Ramon seperti itu, dia masih punya sisi kemanusiaan meski dia ingin memukulnya juga, jadi dia tidak ingin membiarkan Ramon terus di pukuli
"Rogers, aku ingin membawa keledai tua ini sekarang, apa kau bisa melepasnya sekarang?" tanya Arfan
"Bawa saja, aku tidak butuh dia," ucap Rogers yang masih belum mabuk
"Baiklah, Gian kita bawa dia sekarang" ucap Arfan
"Baik tuan" ucap Gian yang juga dalam keadaan sadar, karena da hanya minum sedikit untuk menghargai temannya
Dan Ramon segera dia bawa keluar oleh Arfan dari markas Rogers itu,
Di luar, Arfan langsung menghubungi polisi untuk menjemput Ramon
Setelah nya, Arfan menghampiri Ramon yang masih di pegangi Gian
Arfan langsung menghela nafasnya melihat keadaan Ramon yang wajahnya babak belur,, tapi karena dia mabuk, jadi dia tidak merintih kesakitan
Dan akhirnya polisi segera datang untuk menjemput Ramon untuk di jadikan tahanan mereka
__ADS_1
…
Setelah selesai mengurus prosedur penangkapan Ramon, Arfan segera pulang ke kediaman Edgar, Dia tiba di kediaman Edgar saat hari beranjak Sore, dia merasa sudah Sangat merindukan istrinya Meski dia hanya pergi seharian
Arfan masuk ke kediaman Edgar, dan di dalam ruamah sedikit sepi, karena mungkin Edgar masih di kantor, dan entah kemana penghuni yang lainnya saat itu,
"Pada kemana penghuni rumah ini, sepi sekali" gumam Arfan,, dia pun langsung beranjak untuk ke kamarnya Nadira
Begitu sampai di depan pintu kamar Nadira, Arfan langsung mendengar suara gelak tawa dari dua orang wanita di kamar Nadira, Arfan menebak kalau suara yang satunya itu adalah suara tawa Sindi
"Apa Sindi sudah berhasil membuat Nadira ingat padanya??, kalau begitu Nadira juga akan ingat padaku kan??" gumam Arfan,, diapun segera membuka kamar Nadira dan segera masuk
Sontak dua wanita yang terduduk di pinggir tempat tidur itu mengalihkan perhatiannya pada Arfan yang baru saja masuk
Arfan mendekati mereka berdua dengan perasaan girang,, karena dia berpikir ada sesuatu yang sudah di ingat oleh Nadira
"Nadira,, apa kau sudah mengingat sesuatu sekarang?" tanya Afan dengan tersenyum
Tapi Nadira menggelengkan kepalanya "Belum, aku belum ingat" ucap Nadira
Ekspresi senang Arfan pun sontak memudar "Tapi kau sudah akrab dengan Sindi, apa kamu hanya mengingat dia saja?" tanya Arfan
"Belum lah kak, Sabar dulu,, ini aku lagi memperlihatkan foto-foto saat kita barengan pada Nadira, Dia percaya kalau aku itu memang teman baiknya" ucap Sindi
"Oh,, Begitu ya" ucap Arfan langsung menghela nafas,
…
"Makanlah sup kesukaan mu ini sayang," ucap Narita memindahkan mangkuk sup ke dekat Nadira
"Tapi aku ingin makan daging itu mah" ucap Nadira menunjuk daging di sudut meja yang agak jauh dari jangkauan nya
Sontak Narita dan Edgar keheranan mendengar keinginan Nadira, karena dari dulu Nadira itu paling anti dengan makanan yang berbau daging
"Apa Kamu yakin ingin makan daging?" tanya Narita
"Apa tidak boleh ya?, ya sudah, aku makan ini saja" ucap Nadira
"Boleh,, tentu sangat boleh, itu bagus untuk memenuhi gizi harian mu,, tapi ibu hanya heran saja, Bukankah dulu kamu tidak suka makan daging??" ucap Narita
Arfan juga sedikit heran tentang hal itu, dia tau kalau Nadira vegetarian, tapi dia berpikir mungkin itu bawaan dari bayi yang ada di perutnya sekarang,
"Mungkin itu karena Nadira Ngidam bu," ucap Arfan
__ADS_1
"Ngidam???, maksudmu Nadira sekarang sedang hamil??" Mata Narita langsung terbelalak menatap Arfan
Edgar dan Sindi juga tidak kalah terkejutnya, dan pandangan mereka menatap Nadira dengan tanda tanya besar
"Kamu hamil sayang???" tanya Edgar pada Nadira
Nadira langsung menoleh pada Arfan , dia memang belum sempat di beritahu oleh Arfan kalau dirinya hamil saat di periksa ke dokter sebelumnya,
"Apa benar aku hamil??, darimana kamu tau?, aku tidak merasa mual mual atau semacamnya ko" ucap Nadira
"Aku tau dari Dokter yang memeriksa mu sebelumnya, kalau kamu memang sedang hamil sekarang, coba saja kau rasakan perutmu" ucap Arfan
"Jika benar Nadira hamil, ini berita yang sangat bagus sayang, ibu senang mendengarnya" ucap Narita tersenyum dengan sedikit berkaca-kaca
Sementara Nadira hanya terdiam dan menyentuh perutnya sendiri, dan memang sudah sedikit membuncit, tapi dia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan pada dirinya,
Tapi Nadira memang sekali kali merasakan kalau ada yang berdenyut-denyut di perutnya sekarang
"Ya Sudah, makan lah yang banyak sayang, supaya bayimu sehat, haduh, rasanya ibu tidak percaya kalau sebentar lagi ibu akan jadi seorang nenek" ucap Narita benar-benar merasa senang dengan kabar itu,, dia langsung mendekat kan daging yang di pinta oleh Nadira itu
Tapi efeknya, Arfan yang duduk di sebelah Nadira langsung saja merasa mual saat ayam bakar itu berada sangat dekat dengannya,,
Arfan langsung menutup mulutnya dan segera berlari menuju kamar mandi,, Dan terdengarlah Arfan yang seperti muntah-muntah di dalam kamar mandi
"Lho, kenapa Arfan?, apa dia sakit??" Tanya Edgar langsung beranjak untuk memeriksa keadaan nya
Edgar berdiri di depan pintu kamar mandi, dan memperhatikan Arfan yang sekarang sudah membasuh wajahnya
"Kau kenapa Arfan?, apa kau sakit?, kalau kamu sakit kita ke dokter sekarang juga" ucap Edgar
"Tidak pak, akhir akhir ini aku hanya tidak suka mencium aroma daging, aku juga tidak tau kenapa" ucap Arfan
"Begitukah, Ya sudah kalau gitu, kamu jangan makan daging saja" ucap Edgar
"Iya" ucap Arfan
Mereka segera kembali ke meja makan lagi, dan Arfan malah melihat Nadira yang sedang memakan daging itu dengan lahapnya, tentu saja dia merasa mual lagi dan berbalik kembali untuk ke kamar mandi
"Kenapa dia pah?, apa suamiku sakit?" tanya Nadira
"Tidak,, Dia bilang akhir akhir ini dia sering merasa mual kalau melihat daging," ucap Edgar
"Sungguh, mungkin kak Arfan terkena sindrom couvade Om" ucap Sindi yang baru bersuara,
__ADS_1
"Maksudmu,?" tanya Edgar bingung
Dan tatapan mata semua orang pun langsung tertuju pada Sindi untuk menanti penjelasan