Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Adik Ipar


__ADS_3

Arfan hanya tersenyum melihat Nadira yang kebingungan karena dia tidak dapat membuka pintu mobilnya


"Dira, kamu mending duduk manis saja, aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh aneh, tenang saja" ucap Arfan


"Aku tidak bisa tenang, kamu pasti punya niat jahat padaku kan?,, kalau kau berani macam macam padaku, aku akan melaporkanmu ke polisi" geretak Nadira


Arfan sedikit menggelengkan kepalanya "Apa kau menganggap aku ini seorang penjahat?" tanya Arfan


"Memang nya apa lagi kalau bukan penjahat?, mana mungkin kau menculiku kalau memamg kau orang baik" ucap Nadira


"Aku hanya ingin mengajak mu bertemu seseorang saja, jadi kau tidak perlu takut" ucap Arfan


"Pak Arfan, aku tidak mau ikut denganmu, aku mohon, turunkan aku di sini,, aku mohon" ucap Nadira yang mulai merasa sedikit takut pada Arfan, dia merasa tidak mungkin bisa kabur dari mobil Arfan sekarang,


Nadira juga tidak tau akan di bawa kemana oleh Arfan di malam malam seperti itu, dan jika Arfan memang ingin berbuat sesuatu padanya, pasti tidak akan ada orang yang bisa mencegahnya


"Maaf,, Aku sudah membayar mahal pada ibumu supaya kau bisa ikut denganku, jadi aku tidak mungkin menurunkan mu begitu saja" ucap Arfan


"Apa??, jadi, jadi ibu tau kalau aku akan di bawa olehmu?, kamu menyuap ibuku??" tanya Nadira semakin tidak enak hati


"Kurang lebihnya Begitu, O yah,, apa kau suka baju yang kau kenakan sekarang itu?" tanya Arfan


"Memang nya kenapa?" tanya Nadira


"Kebetulan baju itu juga aku yang beli" ucap Arfan


"Benarkah??,, aku aku tidak menyukainya" ucap Nadira


"Sayang sekali, padahal aku sudah memilih nya dengan susah payah, kalau kau memang tidak suka, kau bisa melepas nya sekarang" ucap Arfan sdikit menggoda Nadira


Tentu saja Nadira langsung memeluk dirinya sendiri dengan ekspresi takut


"Aku bercanda" ucap Arfan


Arfan tidak ingin menggoda Nadira lagi, jadi dia hanya memfokuskan dirinya untuk mengemudikan mobil


Hingga Akhirnya mereka pun tiba di daerah pinggiran Kota B


Dan Arfan segera memarkirkan mobilnya di depan sebuah villa klasik yang berukuran besar, dengan halamanya yang luas dan udara khas pegunungan yang cukup sejuk


"Kita sudah sampai, ayo turun" ucap Arfan menoleh pada Nadira

__ADS_1


Arfan mulai memperhatikan Nadira yang hanya menundukan kepalanya, dan Arfan mendengar kalau ada suara isak tangis dari Nadira


"Dira, Apa kau menangis?" tanya Arfan sambil mencoba memalingkan wajah Nadira agar melihat ke arahnya


Namun tiba-tiba ada sebuah sepatu hak tinggi melayang tepat ke kening Arfan, dan 'Peletak' "Aaw, apa apaan ini??" lirihnya,, Arfan langsung memegangi keningnya karena itu sedikit menyakiti nya


Nadira yang menangis memang sengaja melayangkan Hilsnya pada kening Arfan untuk mempertahankan diri,, dia sudah berpikir kalau Arfan akan mengajak nya bermalam di Villa itu berdua saja, dan dia sudah mempersiapkan sepatunya itu sedari tadi untuk berjaga jaga, karena dia pikir hanya sepatunya lah benda yang bisa di jadikan alat pertahanan diri olehnya sekarang


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arfan yang merasa tidak habis pikir kalau Nadira akan menyerang nya


"Jangan coba coba menyentuhku, atau aku akan memukul mu lagi?" ucap Nadira sambil mengarahkan Hilsnya itu pada Arfan


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu, tapi kamu hapus air matamu dulu, dan turunlah" ucap Arfan sambil mendekatkan kotak tisu pada Nadira


Arfan segera membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya sambil mengusap ngusap dahinya yang benjol karena di getok Nadira, dan setelah dia keluar dan menutup pintunya kembali, Arfan tiba tiba di hampiri seorang gadis belia yang langsung memeluk Arfan


"Kaka Arfan, Akhirnya kamu pulang juga, Dinda Kangen tau" ucap Gadis belia yang tidak lain adalah Dinda, adik perempuan Arfan satu satunya


"Sama,, kakak juga rindu padamu" ucap Arfan seraya membalas pelukan dari Dinda


Nadira yang di dalam mobil pun memperhatikan kakak beradik yang berpelukan itu, "Benar benar pria Brengsek, mulai ketahuan belangnya kan, lihat saja, aku akan melaporkan mu pada polisi karean sudah menculik ku" Nadira langsung melihat ke layar Smartphone nya lagi "Sindiii, kenapa kamu tidak mengangkat telpon ku?, apa kamu tidak tau kalau aku dalam bahaya?, dasar teman tidak punya hati" umpat Nadira, dia hanya diam di mobil, dia takut keluar karena dia juga tidak tau di mana dia sekarang


Sementara Arfan masih bertemu kangen dengan adik perempuanya itu, tidak lama Dinda juga melepaskan pelukanya dari Arfan "Kata oma kakak mau bawa calon kakak ipar kemari, mana?, kok gak ada?" tanya dinda


"Kakak kok gitu sih?, kasian kan, masa Kaka ipar Dinda di ajak bertengkar sih" ucap Arfan


"Iya, lebih baik kamu bujuk dia turun dari mobil, ya," ucap Arfan


"Iya, aku akan minta maaf untuk Kaka, biar kalian tidak bertengkar lagi" ucap Dinda


"Iya, sampaikan maaf kakak padanya,, O yah Oma di mana?" tanya Arfan


"Oma ada di dalam, kakak langsung masuk saja, Oma sudah menunggu kakak dari tadi" ucap Dinda


"Baiklah, bawa kakak ipar mu masuk juga ya" ucap Arfan


"Siap" ucap Dinda


Arfan pun segera melangkah masuk ke villa Omanya itu,


Sementara Dinda langsung bergegas ke sisi lain mobil dan langsung membuka pintu depan mobil

__ADS_1


Nadira yang di dalam sedikit tersentak kaget saat Dinda membuka pintunya, karena dia masih terfokus ke ponselnya, namun dia melihat kalau yang membuka pintu itu bukan Arfan, melainkan seorang gadis belia yang cantik


"Kakak, ayo turun, kita masuk kedalam" ucap Dinda


"Kamu siapa?" tanya Nadira


"Aku adik ipar mu kak, O yah kenalkan, aku Dinda" ucap Dinda seraya mengulurkan tangannya


"Adik ipar??, apa maksudmu?" tanya Nadira bingung, dan dia tidak langsung menyambut tangan Dinda


"Aku adiknya kak Arfan kak" ucap Dinda


"Oh, aku Nadira, tapi aku bukan pacar Kakakmu" ucap Nadira menyambut tangan Dinda


"Kak, aku minta maaf untuk kak Arfan, kak Arfan sudah cerita pada Dinda kalau kalian bertengkar kan?, jadi aku mewakili nya untuk meminta maaf sama kakak, tolong maafkan kak Arfan, kalianbjangan marahan lagi ya, sekarang kita temui Oma, aku mohon,, dia sudah menunggu kakak dari tadi, jangan buat dia kecewa, kalian baikan dulu demi oma ya" ucap Dinda dengan tatapan penuh harap Pada Nadira


'Oma?? , jadi pria itu membawaku ke rumah omanya,, apa maksudnya?,' pikir Nadira, dia merasa sedikit lega karena ternyata Villa itu ada penghuninya, tidak kosong seperti yang dia duga


"Kak aku mohon, apa yang harus ku lakukan supaya kakak bisa melupakan dulu pertengkaran kalian?" tanya Dinda


"Tidak perlu, Baiklah, kakak akan temui oma mu" ucap Nadira


"Baguslah, Oma pasti akan senang melihat kakak ipar" ucap Dinda


"Iya, kuharap begitu" ucap Nadira dengan ekspresi bingung


Nadira tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tetap ikut masuk kedalam villa dengan di gandeng oleh Dinda yang terlihat sangat senang dengan kedatannya,


Dan saat Nadira memasuki ruangan villa, dia melihat kalau Arfaan sedang berlutut di depan seorang wanita tua yang duduk di sebuah kursi roda, Arfan terlihat mencium tangan wanita tua itu, dan Oma Laura terlihat mengelus kepala Arfan dengan matanya yang berkaca-kaca


Nadira sedikit tersentuh melihat Arfan yang terlihat Sangat menghormati wanita tua itu,


Oma Laura pun langsung menoleh pada Nadira yang baru saja masuk bersama Dinda "Apakah dia calonmu itu Arfan" tanya Oma Laura


Arfan pun langsung menoleh pada Nadira yang di belakangnya, dan dia hanya melempar senyum pada Nadira tanpa berkata


"Cantik sekali gadis pilihan mu, kamu memang pandai mencari pasangan Arfan,, sini sayang, mendekatlah,, apa kamu sudi mejabat tangan wanita tua ini" ucap Oma laura


Nadira pun langsung mendekat dan sedikit menurunkan badanya untuk bersalaman dengan Oma Laura "Tentu saja Oma, aku sangat senang bisa mengunjungi oma di sini" ucap Nadira


Arfan sedikit tercengang Karena Nadira ternyata tidak menunjukkan rasa tidak suka pada Oma Laura, diapun menatap serius wajah Nadira yang kini sama sama bersimpuh di hadapan Oma Laura

__ADS_1


...~°~...


__ADS_2