
Andreas pun terdiam sejenak saat Arfan bertanya, dia berpikir memang tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang pernah berkesan di hatinya, Karena bagaimanapun Arumi sudah sempat membuat hari harinya indah dulu
"Entahlah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku yakin Arumi masih seperti yang dulu" ucap Andreas
Mendengar pernyataan itu, Sindi pun langsung menghela nafas dalam
"Baiklah, jika kau masih ingin mengejar nya, itu terserah padamu, tapi saran ku, jika ingin mendapatkan Arumi yang kau kenal dulu,, biarakan dia menganggap mu masih seperti yang dulu juga, kalau dia masih mau menerima mu tanpa melihat setatus mu, maka dia sangat layak untuk kau bahagiakan, tapi kalau tidak, aku menentang keras hubungan kalian" ucap Arfan
"Tapi kak, itu tidak mungkin, aku harus menunjukkan padanya siapa aku sekarang" ucap Andreas
"Aku tidak setuju, Aku sudah melihat sikapnya padamu sebelumnya, jika dia berubah hanya karena kedudukan mu, berarti itu sikap yang palsu,, itu terserah padamu jika kau mau mencobanya, tapi jika nanti kau jatuh, aku tidak akan peduli jika kau kesakitan" ucap Arfan
Andreas pun sangat paham apa yang di maksud oleh kakanya itu "Baiklah, aku tidak akan menunjukkan dulu siapa aku yang sekarang" ucap Andreas
Sementara Sindi yang duduk di samping Andreas hanya menyimak percakapan dengan sdikit cemberut
Setelah makanan mereka tersaji di meja, Mereka pun tidak melanjutkan percakapan mereka lagi, dan segera menyantap makanan yang ada di depan mereka masing-masing,
.
Setelah mereka selesai makan, mereka tidak langsung pergi, dan masih duduk duduk di sana
"Sindi, apa kamu mau langsung pulang?, atau kau mau kemana biar ku antar" ucap Arfan
"Aku langsung pulang saja" ucap Sindi yang terlihat jadi kurang bersemangat
"Baiklah kalau begitu" ucap Arfan
Andreas yang hanya diam mendadak mengingat sesuatu, diapun meraba raba saku celananya, dan mengeluarkan isi di dalamnya, itu adalah sebuah cicin yang tadinya akan dia berikan pada Arumi
"Sindi, ini untukmu" Andreas langsung mengulurkan sebuah kotak kecil pada Sindi
"Apa ini kak?" tanya Sindi yang langsung menerima nya, dan kemudian membukanya, mulutnya sedikit menganga saat dia tau kalau di dalam kotak kecil itu terdapat sepasang cicin permata yang indah "Indah sekali kam, apa ini untuk ku?" tanya Sindi
"Iya, ambil saja, aku tidak begitu memerlukan nya saat ini" ucap Andreas
"Tapi, kenapa isinya sepasang?, apa ini cincin untuk tunangan kak?" tanya Sindi
"Tadinya itu akan ku berikan pada Arumi, tapi kurasa aku belum bisa memberikan cincin seperti itu padanya sekarang, jadi itu untukmu saja" ucap Andreas
"Oh, tapi apa aku harus memakai keduanya?, rasanya sedikit aneh jika memakai cincin couple sendirian, ya meskipun keduanya sama sama Indah" ucap Sindi
"Iya, pakai saja" ucap Andreas
"Menurut ku, biarkan Andreas yang memakainya satu, anggap saja itu cincin pertemanan" ucap Arfan
"Apa boleh seperti itu?" tanya Sindi
__ADS_1
"Itu hanya sebuah cincin, jadi apanya yang tidak boleh kan?" ucap Arfan
"Oh, benar juga" Sindi mengambil satu cincin untuknya dan mengembalikan yang satunya lagi "Ini kak, kamu pakai satu" ucap Sindi
"Baiklah" ucap Andreas juga tidak menolak dan mengambil satu cincin yang di berikan oleh Sindi
Dan mereka pun segera menyematkan cincin itu di jari mereka masing-masing
Arfan yang melihat itupun langsung bertepuk tangan seolah ikut berbahagia 'prok,,, 'prok,, 'prok,,......
"Kaka kenapa?" tanya Andreas bingung
"Selamat, kalian resmi bertunangan" ucap Arfan bercanda
Andreas dan Sindi langsung menoleh dan menatap satu sama lain
"Aku aku tidak berniat begitu kak" ucap Andreas panik
"Aku hanya bercanda, tidak perlu di anggap serius juga kan" ucap Arfan
"Memang kalau tunangan itu seperti ini ya kak?" tanya Andreas polos, karena dia memang belum berpengalaman
"Ya kurang lebih, intinya kalian memakai cincin yang sama....."
"Kalau begitu aku akan melepasnya lagi" ucap Andreas sambil mencoba melepaskan cincinnya lagi, namun itu sedikit sulit karena cicin itu sangat pas di jarinya
"Memangnya apa?" tanya Andreas
"Tunangan itu tidak hanya memakai cicin yang sama, tapi tentunya harus ada cinta yang sama juga di antara pemakai nya kan" ucap Arfan
"Oh, jadi apa kita berdua tidak resmi bertunangan?" tanya Andreas
"Tergantung" ucap Arfan
"Tergantung apa?" tanya Andreas
"Tergantung apa kalian saling suka atau tidak" ucap Arfan sambil tersenyum
Seketika suasana pun jadi terasa sedikit canggung
"Kalau gitu aku akan kembalikan cicin ini, ini memang tidak pantas ada di jariku" ucap Sindi
"Sindi, aku hanya bercanda pada Andreas, sudah lah, aku hanya menggoda kalian saja, tak perlu di bahas lagi, O yah aku antar kamu pulang sekarang ya, mungpung belum terlalu malam" ucap Arfan
Sindi sejenak menoleh pada Andreas, "Apa cincin ini perlu aku lepas?" tanya Sindi yang merasa sedikit canggung
"Tidak perlu, kakaku memang suka begitu, jangan terlalu di anggap serius" ucap Andreas
__ADS_1
"Oh, baiklah" ucap Sindi
Mereka pun segera beranjak dari tempat duduk masing-masing, dan segera bergegas ke mobil Arfan lagi
Karena memang hari mulai malam,, jadi Arfan segera mengantar Sindi langsung pulang ke tempat kostnya,
Di tengah perjalanan, ponsel Sindi tiba tiba berbunyi tanda panggilan masuk, jadi sindi pun segera mengangakat panggilannya
"Hallo Nadi, ada apa?" tanya Sindi
📲"Kamu dimana sekarang, apa kamu masih bersama Pria itu?" tanya Penelpon yang tidak lain Adalah Nadira
"Iya, aku memang masih bersama kak Arfan, tapi aku sekarang sudah di perjalanan pulang, dan sebentar lagi juga sampai ke rumah kost ku" ucap Sindi
📲"Oh, syukurlah kalau gitu, aku hanya mau memastikan saja kalau kamu baik baik saja" ucap Nadira
"Kamu ini, sudah ku bilang mereka itu orang baik-baik, jadi tidak mungkin mereka berbuat yang tidak tidak padaku Nadi" ucap Sindi
📲"Tapi tidak ada salahnya jika berhati hati kan, kalau begitu sudah dulu ya,, takutnya obrolan kita di dengar pria itu" ucap Nadira
"Ya Sudah, kamu tutup saja Telpon nya" ucap Sindi
📲"Baiklah, nanti ku hubungi lagi kalau kamu sudah sampai di kost mu ya" ucap Nadira
"Baiklah, daaah" ucap Sindi
📲"Daaahh" panggilan pun segera di akhiri Nadira
"Siapa?, Nadira ya?" tanya Arfan yang mengemudi di depan
"Iya" ucap Sindi
"Apa dia selalu kawatir saat kau jalan dengan seorang pria?" tanya Arfan
"Ya kurang lebih Begitu, dia sudah seperti kakak tiri bagiku" ucap Sindi
"Begitukah??, Lucu sekali, berapa lama kalian berteman?" tanya Arfan
"Sangat lama, kami berteman dari masa sekolah menengah pertama, hingga kami berhenti dari fakultas juga sama sama, untuk kerja bareng di kantor ayahnya" ucap Sindi
"Jadi kalian belum menuntaskan studi kalian ya?" tanya Arfan
"Tentu saja belum, kami baru mengikuti masa kuliah selama dua semester, dan akhirnya Nadira memutuskan berhenti kuliah karena ingin fokus kerja di kantor ayahnya, itu dia lakukan demi bisa mencukupi kebutuhan Bunar dan menuntut haknya sebagai anak, waktu itu dia sangat kesal pada pak Edgar, karena setelah satu tahun pak Edgar bercerai dengan Bunar dan menikahi Yovi, Pak Edgar jadi jarang memberikan biaya untuk kehidupan Nadira dan Bunar" ucap Sindi
"Begitukah??, ternyata miris juga kehidupan sahabat mu itu, dia terlahir dari keluarga berada, tapi sudah harus jadi tulang punggung di saat dia baru beranjak dewasa, aku sedikit tidak bisa bayangkan jika harus jadi dirinya" ucap Arfan
...~°~...
__ADS_1