
Arfan segera memapah Yovi yang mabuk itu untuk pergi ke anak tangga yang ada di sudut Ruangan, dan mereka harus berjalan berdesakan dengan pengunjung bar lain untuk sampai ke anak tangga itu
Dan mereka segera naik ke lantai Atas bar, Arfan langsung memperhatikan lorong yang ada di lantai atas itu, dia melihat deretan pintu yang berjajar seperti halanya sebuah penginapan, dan Arfan menebak kalau itu memang kamar kamar yang di sediakan untuk pengunjung
"Kamu mau istirahat di ruangan yang mana?" tanya Arfan bingung
"Bawa aku keruangan itu, aku mau minta kuncinya dulu sayang" ucap Yovi sambil menunjuk ke salah satu pintu yang terdapat jendela besar seperti sebuah loket
Arfan segera memapah Yovi berjalan ke jendela itu
"Aku mau buka kamar, berikan aku kuncinya" ucap Yovi pada seorang penjaga di dalam
"Baiklah, ini kuncimu" ucap Penjaga wanita itu
"Baik, bawakan juga sebotol minuman ke kamarku oke, gak pake lama" ucap Yovi
"Akan segera di antar" ucap Penjaga itu
Arfan mengambil kuncinya dan memapah lagi Yovi menuju ke sebuah kamar dengan nomor yang sama dengan yang tertera di kuncinya, dan segera membawa Yovi untuk masuk ke kamar itu
Arfan langsung mengantar Yovi ke tempat tidur dan mendudukanya di sana, Namun yang tidak di sangka oleh Arfan Yovi malah langsung memeluk pinggangnya dan menariknya hingga tubuh Arfan terjatuh ketempat tidur menimpa Yovi di bawahnya
Arfan pun sedikit kaget dan bingung harus berbuat apa, karena Yovi memeluknya punggungnya sangat erat
"Yov, lepaskan dulu, aku mau ke kamar mandi dulu" ucap Arfan beralasan
"Tidak, cium aku dulu, sekarang sudah tidak ada orang kan, ayo cium aku" ucap Yovi yang mabuk
"Tidak, lepaskan dulu" ucap Arfan yang kini posisinya menindih Yovi di tempat tidur dengan wajah berhadapan sangat dekat
"Tidak mau, kamu harus menciumku dulu, baru aku akan melepaskan mu" ucap Yovi yang sedikit teler itu
Meski Arfan mencoba menetralakan pikirannya, dia tetaplah pria dewasa yang normal, dengan posisi nya sekarang yang sedekat itu dengan Yovi, tentu saja ada bagian tubuhnya yang bereaksi, Arfan pun sadar itu, dan segera melepas paksa tangan Yovi dari tubuhnya
"Jangan, jangan pergi, kamu harus menciumku dulu, ayo" ucap Yovi yang menangkap tangan Arfan
Tapi Arfan menepis nya dan berhasil melepas tanganya dari tangan Yovi, dia pun segera bergegas ke kamar mandi,
Setelah dia berada di dalam kamar mandi, Arfan langsung membasuh wajahnya di wastafel "Gilaaa,,, kau memang perempuan murahan Yovi" gumamnya sambil melihat dirinya di pantulan cermin, dia berdiam di sana beberapa saat untuk menetralkan reaksi di tubuhnya itu,
__ADS_1
Setelah dia tenang diapun keluar dari kamar mandi lagi, dan pandangan Arfan pun langsung mengarah pada Yovi yang tetap terbaring di tempat tidur, tapi yang membuat dada Arfan bergejolak lagi Yovi sekarang sudah melepas pakaian nya sendiri, dan hanya menyisakan penutup di 2 area vital nya saja
"Ayolah, kemari Sayang" lirih Yovi sambil menggelinjang di tempat tidur bermaksud untuk memancing Arfan supaya mendekapnya lagi
"Wanita gila,, seperti nya aku harus segera pergi sebelum aku kehilangan akal sehat ku juga di sini" gumam Arfan yang tidak habis pikir kalau Yovi ternyata bisa seperti itu
Arfan segera bergegas ke pintu untuk keluar dari kamar yang membuatnya sedikit gerah itu
"Sayang kamu mau kemana?, sini, peluk aku lagi, aku kedinginan" ucap Yovi yang melihat arfan malah menjauh darinya
Arfan tidak menghiraukan ucapan Yovi yang sangat menggoda itu, dan segera membuka pintu kamar untuk keluar, dan di luar kamar pengantar minuman sudah berdiri di depan pintu dengan membawa nampan yang berisikan botol minuman beralkohol dan 2 buah gelas tangkai
"Minuman pesanan anda tuan" ucap pengantar wanita itu
"Taruh saja di dalam" ucap Arfan sambil berlalu pergi melewati pengantar minuman itu
Arfan langsung bergegas turun dan keluar dari bar itu untuk kembali ke mobilnya lagi,
Kalau Arfan berniat membuat Yovi menderita, dia bisa saja menyiksanya sampai dia meminta ampun, tapi bukan itu rencana Arfan mendekati Yovi, Dia ingin menghancurkan perasaan Yovi sehancur hancurnya, seperti dia menghancurkan perasaannya dulu, dan menghancurkan pernikahannya dengan Edgar seperti dia menghancurkan Keluarga Nadira
Setelah Arfan berdiam beberapa saat di dalam mobilnya, diapun segera pergi dari area bar itu untuk kembali pulang ke kediamannya
.
Beberapa hari segera berlalu, semenjak kejadian malam di bar, Arfan kini selalu menolak jika Yovi mengajaknya pergi ke bar itu lagi dengan berbagai Alasan, dia tidak ingin dirinya lepas kendali karena terpaan rayuan yang di tebarkan Yovi, karena bagaimanapun Arfan laki laki dewasa yang normal, sebenci apapun dia dengan Yovi, Arfan tetap tidak bisa memungkiri kalau Yovi itu memang wanita yang menarik, jadi dia hanya memilih menghindar daripada dia kebablasan.
.
Pagi itu Arfan sudah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit, karena Nadira sudah mendapat jadwal kalau dia akan di operasi hari ini, Nadira sudah masuk ke rumah sakit sehari sebelumnya untuk menjalani prosedur sebelum operasi
Setelah selesai sarapan pagi, Arfan mengajak Andreas untuk langsung pergi ke rumah sakit
"Kalau sudah selesai, kita berangkat sekarang" ucap Arfan
"Baiklah, aku sudah" ucap Andreas
"O ya Ndre, apa ibu Nadira kemarin mengantar Nadira ke rumah sakit?" tanya Arfan
"Iya, kemarin dia kerumah sakit di antar ibunya, dan juga gadis manis temannya itu, sipa nama teman Nadira itu?" tanya Andreas
__ADS_1
"Sindi" ucap Arfan
"Ya Sindi, kalau di lihat lihat, di cantik juga kak" ucap Andreas
"Kamu naksir dia???, bukanya kamu sudah punya gadis kanguru" ucap Arfan Asal
"Tidak,,, Siapa yang naksir, aku hanya mengutarakan pendapat saja" ucap Andreas
"Ya Sudah kalau gitu, ayo pergi, kita temui wanita yang kamu taksir itu" ucap Arfan bergegas dari kursinya
"Aku tidak Naksir padanya kak" ucap Andreas yang juga langsung mengikuti kakaknya,
"Terserah" ucap Arfan
Dan mereka pun pergi menggunakan Ferrari merah milik Andreas
...°°°°...
Sementara di Rumah sakit,, Nadira sedang terbaring di ranjang rumah sakit, dia di dampingi oleh Sindi, sementara ibunya pulang kerumahnya dulu untuk mengambil sesuatu
"Nadi, apa kamu tidak merasa takut di operasi?" tanya Sindi
"Tidak dong, aku malah merasa bersemangat ini, karena Sebentar lagi aku bisa sembuh kan, dan bisa berjalan normal lagi seperti dulu" ucap Nadira
"Baguslah kalau kamu tidak takut, tapi kok pak Arfan belum mejengukmu kesini ya" ucap Sindi tanpa sadar
"Pak Arfan??,, kenapa dia harus menjenguku??, apa ursanya operasi ku dengan dia" ucap Nadira yang memang tidak tau siapa yang membiayai operasi kakinya itu
"Mmm maksudku,, pak Arfan kan ganteng, aku menyukainya, pak Andreas kan sudah kemari menjenguk mu kemarin, tapi pak Arfan belum, gitu maksud ku" ucap Sindi
"Oh, jadi kamu ceritanya suka pada kakaknya pak Andreas itu ya?" ucap Nadira
"Ya begitulah, memangnya kamu tidak menyukai pria seperti pak Arfan itu?" tanya Sindi
"Kalau di bilang suka sih mungkin semua wanita juga akan menyukai sosok seperti Arfan itu, dia tampan, sukses, karismatik, dewasa, dan mungkin baik juga" ucap Nadira
"Berati fix, tidak salah kalau aku ingin melihat kak Arfan kesini kan?" ucap Sindi
"Memang tidak salah, tapi kamu harus sadar kalau dia itu orang penting, dia hanya akan menengok orang penting saja sindi, jadi jangan berharap kalau dia akan kesini untuk menjenguku, Oke" ucap Nadira
__ADS_1