Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr 12


__ADS_3

Sesampainya di Rumahnya, Nadira sudah ditunggu oleh ibunya, yang duduk di ruang tengah "Bu aku pulang" ucap Nadira


"Kamu pulang juga ternyata, sini sini sayang, duduklah" ucap Narita sambil membantu Nadira untuk duduk di kursinya "Gimana, gimana, ceritakan pada ibu soal pemuda itu, apa dia sudah menjadikan mu pacarnya??" tanya Narita


"Bu, aku hanya makan siang biasa saja dengannya, dia itu orang terpandang, jadi tidak mungkin dia menyukai ku" ucap Nadira


"Kamu ini terlalu merendah, kamu itu cantik Dira, dia pasti akan menyukaimu" ucap Narita


"Entahlah bu, aku tidak tau, aku sedikit capek bu, aku istirahat dulu ya" uap Nadira


"Ya Sudah, sana" ucap Narita, tapi dia sekilas melihat Kalung yang tergantung di leher Nadira sekarang, "Tunggu tunggu, kamu pasti dapat Kalung dari pemuda itu ya?, sini ibu lihat, wah itu pasti kalung mahal kalau di jual" ucap Narita dengan mata berbinar


Nadira pun langsung kesal mendengar pernyataan dari Narita , dia langsung menyembunyikan kalungnya ke balik bajunya "Ini hanya kalung imitasi dari pinggir jalan saja bu, aku membeli nya tadi untuk aksesoris penunjang penampilan ku saja,, ini bukan kalung asli" ucap Nadira berbohong, dia tidak mau kalau sampai kalungnya itu di jual oleh ibunya


"Kamu pasti bohong, ibu Sangat tau berlian yang kamu pakai itu pasti asli, ibu bisa mengetahui nya walaupun hanya meliatnya sekilas" ucap Narita


"Terserah lah kalau ibu tidak percaya, tapi ini kalung hanya kubeli dengan harga Seratus rb saja, di jual lagi juga tidak akan laku, sudah ah, dira mandi dulu" ucap Nadira, diapun segera beranjak meninggalkan ibunya


"Seratus ribu??, kenapa sangat mirip berlian asli, rasanya itu hampir mustahil" gerutu Narita sedikit heran, dia dulu memang ahlinya soal perhiasan, jadi dia sudah bisa membedakan berlian asli atau palsu dengan hanya melihatnya


...°°°°...


Sementara di sisi lain, Arfan sudah sampai ke depan rumahnya jug, dia pun melihat mobil Andreas sudah terparkir di depan pintu garasi


Jadi diapun segera masuk ke rumah besar itu untuk mencari adiknya, dan diapun segera menemui Andreas di meja makan, karena kebetulan dia sedang makan malam


"Kau darimana kak, kenapa pulangnya telat?, jangan bilang kalau kau tersesat di jalan" ucap Andreas asal


Arfan pun duduk di salah satu kursi di sebelah adiknya "Tidak juga, aku sedikit mendinginkan pikiran ku dulu tadi


di jalan, O yah, kenapa perusahaan kita ingin bekerja sama dengan Anggera_Land, apa kau tau pemimpinnya itu Siapa??" tanya Arfan


"Pak Edgar Anggera kan, dia meminta bantuan perusahaan kita untuk mendanai proyek besar nya, dan menawarkan sahamnya sebesar 30 persen sebagai gantinya, dan setelah ku pertimbangkan itu cukup menguntungkan" ucap Andreas


"Aku bukan menanyakan tentang itu, yang ku maksud apa kau tau kalau pria yang bernama Edgar itu suami mantanku?" tanya Arfan


"Maksudmu Yovi" tanya Andreas


"Jangan sebut namanya" ucap Arfan

__ADS_1


"Benarkah?, aku tidak tau soal itu, aku memang baru mengenalnya sekitar beberapa bualan lalu, keuangan perusahaan mereka kebetulan sedang dalam kondisi yang buruk, jadi mereka mencari investor saat mereka mendapatkan proyek besar, itu yang ku tau, untuk yang lainya aku tidak tau" ucap Andreas


"Batalkan saja kerjasamanya, aku tidak mau berurursan dengan dia atau siapa pun yang masih berhubungan dengannya" ucap Arfan


"Kau pemimpinnya sekarang, jadi itu hakmu untuk memutuskan" ucap Andreas


"Baiklah, sudah kuputuskan" ucap Arfan, dia pun merasa sedikit tenang dengan tidak meneruskan kerjasamanya


"Ya Sudah, kalau gitu makanlah kau pasti belum makan" ucap Andreas


"Aku tidak nafsu makan, aku ingin langsung istirahat saja" ucap Arfan


"Terserah lah" ucap Arfan yang melanjutkan kembali makan malamnya


Sementara Arfan langsung pergi ke kamarnya, membersihkan dirinya, dan kemudian beristirahat


.



Keesokan paginya Arfan pun bangun dengan segar setelah beristirahat lebih awal semalam, dia beranjak ke wastafel untuk membasuh wajahnya,


"Ekspresi seperti apa yang akan di tunjukan gadis itu kalau dia melihat si gila Arfan lagi?, aku jadi penasaran" gumamnya pada dirinya sendiri


Setelah Itu Arfan pun bersiap


...°°°°°...


Sementara itu di sebuah rumah sederhana, Nadira pun sudah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke gerai nya lagi, kemudian dia menyantap sarapanya, dan setelah nya diapun langsung berangkat


"Bu aku pergi" ucap Nadira


"Iya" ucap Narita yang masih menyantap sarapannya


Nadira pun bergegas ke tempat kerjanya, tidak lupa diapun menengok pos itu lagi untuk memastikan Arfan kembali atau tidak, diapun menghela nafasnya kasar saat lagi lagi dia tidak melihat seorangpun di sana


Tapi tiba-tiba,


"Apa kau mencari seseorang" tanya Arfan dari belakang Nadira, karena pintu pos itu memang tepat menghadap ke arah jalanan besar yang ada di depanya,, Jadi otomatis Nadira pun kini membelakangi jalanan

__ADS_1


Seketika Nadira pun menoleh ke arah belakangnya, dan diapun langsung melihat sosok pria yang sedikit gondrong, berjenggot dan berkumis sedang menatap ke arahnya


"Paman?", Nadira pun segera memutar badanya dan menghampiri Arfan dengan bantuan kruk tongkat nya, diapun langsung meraih pangkal lengan Arfan dan mencengkram nya Kuat "Paman kemana saja?, kenapa pergi tidak bilang dulu padaku?" ucap Nadira, diapun sampai menitikan Air matanya


"Hey, kenapa nangis?, apa ibumu berbuat yang aneh aneh lagi padamu" tanya Arfan yang kini berpenampilan seperti saat dia gila, dengn rambut sedikit panjang lengkap dengan jenggot dan kumisnya


"Tidak, ini justru karena Paman pergi tidak bilang bilang padaku, harusanya Paman bilang kalau mau pergi, supaya aku tidak merasa kehilangan" ucap Nadira


"Jadi maksudmu kau merindukan ku?" tanya Arfan yang terus memperhatikan ekspresi wajah Nadira yang menggemaskan menurutnya


"Bukanya rindu, tapi aku seperti kehilangan kebiasaan ku kalau tidak ada Paman," ucap Nadira


"Itu artinya kamu rindu" ucap Arfan sambil melangkah pelan ke pos itu, dengan tetap di gandeng Nadira


"Bukan, itu bukan rindu, itu kehilangan" ucap Nadira kekeuh


"Baiklah, terserah kamu menyebutnya apa, intinya tetap sama" ucap Arfan, diapun mendudukan dirinya di Lawang pintu pos itu


"Paman belum menjawab pertanyaan ku, Paman habis darimana? kenapa pergi hingga berhari-hari" ucap Nadira


"Aku menemukan tempat yang lebih baik daripada di sini" ucap Arfan


"Itu artinya Paman tidak akan tinggal di sini lagi?" tanya Nadira yang Sekarang berdiri di depan Arfan


"Ya Mungkin begitu" ucap Arfan


"Berarti aku tidak akan punya teman lagi sekarang" ucap Nadira dengan ekspresi murung


"Bukan kah kamu sudah bertemu Pria yang kamu Kagumi itu, kenapa kamu tidak mencoba membagi cerita mu padanya" ucap Arfan


"Itu tidak mungkin, aku dan dia berada di kasta yang berbeda Paman,,, sebentar, jadi memang Paman yang bilang pada tuan Andreas untuk menemuiku??" tanya Nadira sedikit tidak percaya


"Bukan kah sudah ku bilang sebelumnya," ucap Arfan


"Tapi bagaimana Paman melakukan nya?" tanya Nadira Heran


"Tidak penting bagaimana aku melakukannya, yang terpenting kamu senang kan?" tanya Arfan


"Iya, aku senang sekali bisa bertemu dengannya, paman memang teman terbaikku", ucap Nadira

__ADS_1


__ADS_2