
Pertarungan antara Arfan dan Ken terus berlangsung, dan Arfan terlihat lebih mendominasi jalannya pertandingan, itu bisa di lihat dari tehnik Arfan yang sudah sampai berkali-kali membuat Ken terjatuh,
Tapi itu tidak membuat Ken mudah untuk mengakui kekalahannya, dan dia terus mencoba melawan dan hanya bisa membuat Arfan terjatuh beberapa kali saja, mungkin itu karena jam terbang mereka jauh berbeda
Karena Sebenarnya, Arfan dulu pernah ikut suatu paguyuban bela diri waktu dia masih jadi anak pinggiran, dan memang dia cukup punya prestasi yang lumayan, dia sempat beberapa kali menjuarai ajang beladiri se kota B saat dia sekolah menengah akhir,
Arfan mengatakan dia juara TK hanya untuk mengolok Ken saja, karena menurutnya dia itu duri dalam daging di hubungan Arfan dan Nadira
Pertarungan mereka masih berlangsung seru, mereka masih jual beli Serangan,, dan pada saat sebuah serangan dari Ken meleset, Arfan mengambil kesempatan untuk menendang kaki Ken hingga satu lututnya nya menyentuh lantai, dan kemudian Arfan langsung menendang wajah nya hingga Ken akhirnya terjerembab di lantai matras
"Arghhhhh" lirih Ken kaget dan sedikit kesakitan,, kalau saja dia tidak menggunakan pelindung kepala, mungkin efek tendangan Arfan itu bisa lebih menyakitkan lagi
Melihat Ken terkapar, Arfan tidak tinggal diam, dia kemudian mengambil satu tangan Ken dan menggunakan tehnik untuk menguncinya supaya Ken tidak bisa berkutik lagi
"Arrgh,, sakit," lirih Ken kesakitan, tapi dia tidak ingin menyerah dengan mudah meski tangannya terasa sakit oleh kuncian Arfan itu, dan terasa hampir patah
"Apa kau belum mengakui kekalahan mu juga?" tanya Arfan
"Aku masih belum kalah" ucap Ken,
"Sepertinya aku harus mematahkan tangan mu dulu supaya kau mengaku kalah" ucap Arfan, dia langsung mengencangkan kuncianya lagi, dan
"Aaaahh , sakit sakit, l lepaskan, aku kalah, aku mengaku kalah" ucap Ken yang akhirnya menyerah
Sebelum Arfan melepaskan ken, Tiba tiba dari arah penonton seorang wanita datang menghampiri mereka "Kak Arfan, apa yang kakak lakukan di sini??, sudah sudah, lepaskan dia" ucap Sindi sedikit kasihan melihat Ken yang kesakitan
"Aku hanya sedang bertaruh dengan pria ini," ucap Arfan langsung melepaskan Ken
Dan Ken pun langsung terkapar di matras dengan terengah-engah
"Taruhan apa?, Sudahlah mending kita pergi, jangan ladeni pria menyebalkan seperti dia" ucap Sindi seperti merasa risih dengan Ken
__ADS_1
"Aku tidak bisa pergi kalau belum mendapatkan hadiah ku" ucap Arfan langsung berjongkok di dekat Ken yang masih terlentang, "Katakan lah, apa petunjuk yang kau ingat tentang mobil itu,?" tanya Arfan
"Di saku tas ku, aku menyimpan sebuah memory card dari kamera dasboard mobilku, di situ ada rekaman bagian belakang mobil yang menabrak Nadira" ucap Ken
Arfan langsung memutar mata malas, "lalu kenapa kau tidak memperlihatkan pada polisi?, bodoh,,, atau kau memang benar-benar tidak peduli dengan sesuatu yang menimpa Nadira??" ucap Arfan
"Bukan begitu,, Aku hanya baru sadar kalau kamera dasboard ku merekam kejadian itu baru baru ini," ucap Ken
"Alasan,, Kalau begitu ambilah, aku menginginkan nya" ucap Arfan
Kevin bangun dan langsung beranjak untuk mengambil memory card itu di tasnya, dan dia kemudian memberikanya pada Arfan "Ini, kau cari saja Sendiri potongan video nya" ucap Kevin menyerahkan kotak transparan kecil sebagai wadah memorynya
"Baik, Terimakasih untuk partisipasi mu" ucap Arfan, dia pun langsung berbalik untuk pergi bersama Sindi keluar dari ruang latihan itu
Sindi terus berjalan bersama Arfan yang berjalan di lorong untuk keluar Dari universitas
"Kak, Nadira sudah ketemu ya?" tanya Sindi basa basi
"Iya, dia sudah pulang, Andreas juga pasti sudah memberitahu mu kan?" ucap Arfan
"Apa Andreas tidak memberitahu mu?, Nadira sekarang ada di rumah ayahnya" ucap Arfan
"Begitukah?, belum sih dia belum cerita kalau soal itu, kalau begitu aku akan main ke rumah om Edgar nanti," ucap Sindi
"Ya, temuilah dia, semoga saja dia bisa mengingat sesuatu kalau ada kamu menjenguk," ucap Arfan
"Iya, kasian Nadira yang harus kehilangan ingatannya, itu pasi membingungkan" ucap Sindi
"Yang harusnya di kasiani itu aku, Nadira itu istriku, tapi dia bahkan tidak mau aku dekati" ucap Arfan
"Begitu ya, kasian sekali kakak" ucap Sindi langsung terkekeh,
__ADS_1
"Apa menurutmu itu lucu," ucap Arfan langsung membogem ringan kepala sindi, karena dia kesal malah di tertawakan
"Awwww,, jahat sekali kakak,, sakit tau," ucap Sindi
"Makanya, jangan suka tertawa di atas penderitaan orang lain" ucap Arfan
"Iya Iya maaf,, O yah kak, apa kakak tau, semenjak Nadira menghilang, Si Ken itu malah jadi kegatelan sama aku, entah kenapa dia jadi So perhatian gitu, rasanya aku ingin sekali menggaruk wajahnya itu hingga terkelupas tuh kulit mukanya, risih banget aku" ucap Sindi sedikit curhat
"Benarkah, mungkin dia jadi menyukaimu setelah Nadira tidak ada" ucap Arfan
"Ih, amit amit, gak mau aku sama cowok plin-plan kaya dia, lagian aku juga sudah ada Andreas kan," ucap Sindi
Mereka pun segera sampai di halaman kampus "Ya sudah, aku pergi dulu sekarang, kalau pria plin plan itu berani macam-macam padamu, bilang saja padaku" ucap Arfan
"Baiklah, aku akan lapor kalau dia menggangu ku lagi pada kakak iparku ini" ucap Sindi tersenyum
Arfan segera bergegas dan masuk ke mobilnya, Setelah dia di dalam mobil, Arfan mengambil laptopnya dan memasukan Memory card yang dia dapat dari Ken laptop, diapaun segera mencari potongan video yang menayngkan penabrak an Nadira,
Dan setelah beberapa saat, dia menemukanya dan mulai memperjelas nomor kendaraan Van hitam yang menabrak Nadira
"Ketemu juga kau" gumamnya, Arfan segera mengirim petunjuk itu pada polisi,
Tapi walaupun dia memberikan petunjuk itu pada polisi, dia berniat bersaing dengan polisi dalam hal siapa yang akan lebih dulu menangkap pemilik mobil itu
Setelah itu, Arfan mencoba mencari informasi tentang pemilik asli dari nomor mobil itu dari laptopnya, dan Arfan sedikit terkejut saat melihat Data data yang dia temukan terkait dari sang pemilik mobil itu,,
"Rupanya kau yang menabrak istriku, kau rupanya tidak main main dengan ancamanmu tempo hari, Aku salut, rencana mu ini terbilang sukses untuk membuatku hampir hancur,, dan kita lihat, apa kau bisa lepas dari ku sekarang?" gumam Arfan
Arfan segera melajukan mobilnya untuk mencari jejak Ramon dengan bermodalkan identitas dan nomor ponsel Ramon yang pernah menghubunginya waktu itu, meski dia tidak menyimpannya, Arfan masih menemukan jejak panggilannya di ponselnya
Arfan terlebih dulu menjemput Gian ke kediaman Ednan bersaudara untuk mengajak nya berburu Ramon, itu untuk berjaga-jaga kalau kalau Ramon susah di tangkap jika dia sendirian,
__ADS_1
Setelah itu, Arfan melaju kan mobilnya menuju ke salah satu daerah yang berada tidak jauh dari Pusat kota B, Dan merekapun akhirnya tiba di depan sebuah bangunan yang lumayan besar,
Arfan masih ingat kalau bangunan itu dulu sering di kunjungi Yovi untuk menemui Ayahnya, dan itu tidak lain adalah tempat ayahnya bekerja