Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Mencuri


__ADS_3

Setelah Arfan menugaskan 5 orang untuk mempermaikan Yovi, dia segera kembali ke mobilnya lagi untuk membawa Nadira pulang, dia kembali menyangga tubuh Nadira yang masih belum sadar


"Jalan" ucap Arfan


"Apa kita akan membawa Nona Nadira ke rumah sakit?" tanya Gian


Arfan sedikit berpikir, Nadira mungkin hanya mengalami pemukulan di pipinya saja, selebihnya Nadira hanya pingsan, "Kita ke rumah saja" ucap Arfan,, dia enggan berpisah dari Nadira di kondisi Nadira yang seperti itu, dia merasa ingin terus melindunginya sampai dia benar-benar sadar


"Baiklah" ucap Gian yang segera melajukan mobilnya,



Beberapa saat kemudian,, mereka segera tiba di kediaman Ednan bersaudara, dan Arfan segera membawa Nadira masuk kedalam rumah dan menempatkan nya di salah satu kamar di rumahnya


"Kak, kenapa Nadira,, apa dia baik baik saja, apa yang terjadi padanya?" tanya Andreas yang melihat Arfan membaringkan Nadira yang pingsan


"Dia di permainkan oleh Yovi dan staf kantor Anggera Land," ucap Arfan yang langsung menutup Nadira dengan selimut


"Benarkah, Yovi benar-benar sudah keterlaluan, kau harus secepatnya membalasnya kak" ucap Andreas


"Itu pasti akan kulakukan, O yah dre, tolong bawakan aku air es?" ucap Arfan


"Baiklah, akan segera ku ambilkan" uca Andreas langsung bergegas keluar kamar


Arfan langsung menyentuh wajah Nadira yang memerah itu lagi, dan seketika rasa sakit itu muncul lagi di hatinya, "Dira, kamau tenang saja, siluman betina itu akan segera mendapatkan balasannya" ucap Arfan


Setelah Andreas membawakan air es ke kamar, Arfan langsung mengompres bekas tamparan di pipi Nadira itu dengan Air es untuk meringankan sakitnya,


Arfan melakukannya dengan sangat hati hati dan penuh kelembutan,


"Kak, aku tunggu di luar, kalau kau perlu apa apa lagi, kau bisa memanggil ku" ucap Andreas


"Baik, Terimakasih" ucap Arfan,


Sementara Nadira masih belum menampakkan kalau dia akan sadar, Arfan terus mendampingi nya di kamar itu dengan duduk di pinggiran tempat tidur,

__ADS_1


Beberapa saat kemudian tiba tiba Nadira mengigau sambil berontak, "Pergiiiiiiii, jangan sentuh aku berengsek, pergiiiiiiii, aku tidak sudi" ucap Nadira dengan mata terpejam dan sedikit meronta


Arfan sedikit kaget dengan pergerakan Nadira yang tiba tiba itu, dia langsung mendekap Nadira lagi untuk menenangkan nya "Kamu sudah Aman Dira, kamu tidak perlu takut lagi, aku ada di samping mu" ucap Arfan


Dan Perlahan Nadira pun tenang kembali, dan dia langsung terlelap lagi di tidurnya,


Arfan sedikit tersenyum melihat wajah Nadira yang kembali tenang,, Arfan terus memperhatikan wajah Nadira yang Napak sangat menyejukkan matanya itu,


Perlahan pandangan Afan terfokus ke bibir Nadira yang nampak sangat menarik, seketika perasaan aneh langsung menjalar di hatinya, Arfan sampai menelan Saliva saat memperhatikan bibir Nadira, tanpa sadar dia menurunkan wajahanya dan langsung mengecup bibir Nadira yang terasa manis dan lembut itu


Namun sesaat kemudian dia tersadar dan segara Menarik mundur wajahnya dengan perasaan sedikit bersalah


"Apa yang kupikirkan?, kenapa aku melakukannya?" ucap Arfan sedikit gelagapan,


Dia segera beranjak ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dia wastafel, dia melarikan diri seolah dia sudah mencuri sesuatu dari Nadira


Dia melihat wajahnya sendiri di pantulan cermin, dan tersenyum saat di mengingat rasa yang barusan dia dapatkan dari bibir Nadira, "Sangat manis" ucap Arfan sambil menggelengkan kepalanya karena dia juga sadar kalau itu masih belum saatnya dia dapatkan dari Nadira,


Setelah itu dia kembali ke ruangan kamar lagi dan langsung mengarahkan pandangannya pada Nadira yang terlelap dengan sedikit tersenyum


.



Keesokan paginya Arfan terbangun karena mendengar Nadira berteriak teriak lagi di tidurnya, jadi dia segera menghampiri Nadira lagi


"Pergiiii, aku mohon jangan lakukan apapun padaku,, pergiii" teriak Nadira dengan mata terpejam dan tanganya seperti memukul sesuatu


Arfan tersenyum lagi memperhatikan nya, "Kau seperti anak kecil, apa setiap yang kamu alami akan terus terbawa di mimpimu?" gumam Arfan, dia pun segera mendekati Nadira dan duduk di sebelahnya, Arfan meraih tangan Nadira yang terus dia gerakan


Namun saat Arfan ingin mencoba menenangkannya, Nadira tiba tiba terbangun dan dengan refleks langsung menendang Arfan hingga dia terjatuh dari tempat tidur 'brukkk' "Aaaarggghh" lirih Arfan yang terhempas keras ke lantai, dan dia langsung mengusap bokongnya "Aw,, wanita ini," gumamnya


"Pergiiii, jangan mendekat padaku Brengsek" pekik Nadira yang langsung turun dari tempat tidur dan langsung terduduk ketakutan di sudut ruangan kamar


Nadira terus menatap tajam pada pria yang barusan dia tendang yang sekarang terhalang tempat tidur, dan Nadira hanya melihat ujung kepalanya saja karena Arfan terduduk

__ADS_1


Arfan langsung berdiri dan mencari keberadaan Nadira yang sudah tidak ada di tempat tidur, dan mendapati Nadira sudah duduk terpojok di sudut ruangan "Kuat sekali tendangan mu, harusnya kau jadi pemain bola basket" ucap Arfan yang terus mengelus bokongnya yang sakit karena terhempas cukup keras


"Kamu?, apa kamu juga terlibat dengan semua ini?" tanya Nadira dengan ekspresi ketakutan melihat Arfan


"Terlibat apa?, aku hanya merebut mu dari tangan tiga pria yang bersamamu semalam, aku tidak rela kalau kau ada main dengan tiga pria itu, dengan kata lain aku cemburu" ucap Arfan


"Aku tidak ada main dengan mereka, aku di jebak, hu hu hu" Nadira langsung menangis mendengar perkataan Arfan itu


Arfan langsung menutup mulutnya karena merasa sudah salah berkata, dan dia segera menghampiri Nadira,


Arfan duduk berlutut di depan Nadira "Nadira, Yovi yang sudah melakukan ini padamu" ucap Arfan


"Benarkah?, dasar wanita siluman, awas saja, aku pasti akan membalanya" ucap Nadira dengan tetap menangis


"Sudahlah,, semuanya sedang ku urus, aku mohon, kamu jangan menangis lagi" ucap Arfan mencoba menenangkannya lagi


"Apa Alex sudah melakukan sesuatu padaku?, aku tidak ingat apa pun setelah dia menamparku" ucap Nadira dengan masih menangis


"Kurasa dia tidak sempat melakukan apa apa padamu, Karena aku keburu menghajarnya" ucap Arfan


"Benarkah?, Terimakasih kak,, hu hu hu" ucap Nadira


"Aku mohon, berhentilah menangis, semuanya baik baik saja kan", ucap Arfan mencoba menenangkannya lagi


Nadira menurut dan langsung menghapus air matanya sendiri


"Nah, begitu lebih baik" ucap Arfan


Perlahan Nadira mulai tenang, dan mulai menatap ruangan kamar mewah yang sangat asing baginya "Aku di mana sekarang?" tanya Nadira


"Kamu ada di rumahku, tenang saja, di sini aman, kau lebih baik beristirahat lagi, hari masih gelap," ucap Arfan sambil meraih tangan Nadira untuk di ajakanya ke tempat tidur


Dan Nadira juga tidak menolak, dia segera naik dan Rebahan lagi di tempat tidur,


Arfan membenahi selimut di tubuh Nadira lagi, dan setelah itu dia beranjak keluar dari kamar supaya tidak mengganggu Nadira

__ADS_1


__ADS_2