
Arfan dan Andreas segera kembali ke kediamannya lagi stelah mereka mengantarkan Sindi ke tempat kostnya
Setelah mereka sampai di luar kediaman mereka, Arfan langsung menoleh pada Andreas yang duduk di kursi sampingnya
"Dre, apa kau lihat ekspresi Sindi tadi saat kau mengatakan kau masih ingin mengejar Arumi?" tanya Arfan
"Tidak, memangnya kenapa dia?" tanya Andreas
"Dia seperti merasa kecewa dengan keputusan mu itu, kurasa dia menyukai mu" ucap Arfan
"Begitukah?, entah lah kak, Yang kupikirkan sekarang adalah Arumi, tidak ada Yang lain" ucap Andreas
"Baiklah, terserah, tapi jika kau percaya pada penilaian ku, Sindi itu memiliki ketulusan padamu, dia bukan menyukaimu karena kau punya segalanya, tapi karena itu datang dari hatinya" ucap Arfan
"Aku tau, dia memang gadis yang baik" ucap Andreas
.
...°°°°...
Malam yang gelap itu dengan cepat berganti Pagi, sinar mentari pun mulai merambat menyinari Rumah sederhana yang berada di sebuah pemukiman padat penduduk,
Di dalam rumah itu terlihat seorang gadis yang sudah sibuk berberes rumah yang sudah jadi rutinitas paginya, dan semenjak kakinya sembuh, Nadira jadi bisa lebih leluasa untuk membatu ibunya mengurus pekerjaan rumah,
Setelah semuanya beres, Nadira segera membersihkan dirinya dan segera memakai stelan foramlanya lagi, dia pun segera bersiap untuk pergi ke kantor Anggera Land,
"Buu,, aku berangkat ya" triak Nadira saat dia baru keluar dari dalam kamarnya
"Apa kamu tidak sarapan dulu?" Sahut bu Narita dari meja makan
"Nanti sajalah di kantor," ucap Nadira, diapun segera beranjak pergi, dan segera meninggalkan Rumahnya
Nadira berjalan santai di jalanan gang rumahnya menuju ke jalanan umum di ujung gang, pandanganya hanya terfokus pada ponsel yang ada di tanganya, karena dia memang sedang berbalas Pesan dengan Sindi
Saat Nadira melewati Pos tua yang ada di ujung gang pun dia tidak tidak menoleh nya sama sekali, dia memang sudah bosan memperhatikan pos tua itu, karena sudah sekian lama tidak ada yang menempatinya pos tua itu lagi
Namun, saat dia sudah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu driver yang menjemputnya, ada sebuah suara yang menyapanya dari pos tua itu
__ADS_1
"Gadis, apa kau sudah melupakanku sekarang?" tanya seseorang dari sana
Seketika Nadira pun menoleh ke arah pos tua yang tidak jauh dari tempat nya berdiri itu, dan netranya pun langsung menangkap sosok pria berjambang dan berkumis tipis yang berdiri di pintu masuk pos tua itu,, dan dia sangat megenali sosok tegap itu
"Paman??" ucap Nadira, diapun segera berbalik dan berjalan ke arah pos tua itu untuk menghampiri pria tersebut
Nadira langsung berdiri di hadapan sosok pria yang di kenalnya itu , dia menatap lekat pria itu dengan mata sedikit berkaca "Paman!!,, paman kemana saja selama ini, aku kira tidak akan bertemu lagindengan Paman" ucap Nadira
"Maaf, Paman memang sedikit sibuk sekarang, Paman sudah punya pekerjaan sekarang, jadi maaf kalau tidak bisa sering kemari untuk mengunjungimu" ucap Arfan yang berperan jadi seorang Paman yang sudah di angap Nadira sebagai teman curhat nya
"Baiklah, tidak apa,,, tapi karena Paman sekarang sudah kemari, aku akan mengajak paman jalan" ucap Nadira
"Jalan kemana gadis?, bukan kah kamu akan pergi bekerja sekarang?" tanya Arfan
"Tidak apa, aku bisa bolos kerja, O yah Paman, apa kau tidak melihat ada yang berbeda dari ku??" tanya Nadira
Arfan langsung memperhatikan penampilan Nadira yang sekarang mengenakan setelan formal nya
"Iya, kamu berbeda, kamu lebih cantik hari ini" ucap Arfan Tersenyum
"Bukan Paman, bukan itu, apa Paman lupa kalau sebelumnya aku memakai tongkat?, kakiku sekarang sudah sembuh paman" ucap Nadira
"Kalau begitu, kita cari tempat ngobrol yang enak, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan Paman" ucap Nadira
"Maaf, Paman seperti nya tidak bisa, Paman harus pergi bekerja juga kan" ucap Arfan beralasan
"Tidak, kalau Paman pergi, aku yakin paman akan lama kembalinya lagi, jadi aku tidak mengijinkan paman pergi hari ini, kita bolos kerja bareng, oke?" ucap Nadira
"Tapi, Paman......"
"Pokonya hari ini Nadira tidak mau mendengar alasan Paman" ucap Nadira
"Baiklah kalau begitu" ucap Arfan
"Kalau begitu aku akan pesan taksi dulu" ucap Nadira
"Tapi Paman bawa motor, Paman tidak bisa meninggalkannya di sini" ucap Arfan
__ADS_1
"Benarkah, kalau begitu kita pergi naik motor Paman saja" ucap Nadira
"Jangan, nanti kamu bisa kena angin dan polusi, dan bisa kepanasan juga, jga Paman tidak bawa cadangan Helm" ucap Arfan
"Tidak apa apa, o yah, apa itu motor paman?" ucap Nadira sambil menoleh pada sebuah motor klasik tua yang teronggok di pinggir jalan tidak jauh dari pos tua itu
"Iya, itu motor paman" ucap Arfan
"Kalau begitu ayo kita pergi" ucap Nadira
Arfan sempat mengira Nadira tidak akan mau naik ke motor jadulnya itu, motor tua yang sudah banyak mengarungi suka duka dengan Arfan, yang sudah menemaninya dari awal debut karirnya di kota B ini
"Apa kamu yakin ingin naik motor itu?" tanya Arfan
"Tentu saja, aku suka motor klasik seperti itu, waktu masih remaja aku juga sering dia ajak ayahku jalan jalan dengan motor seperti itu" ucap Nadira
"Sungguh, baiklah kalau kamu tidak keberatan" ucap Arfan
Alasan Arfan memakai motor jadulnya itu karena mobilnya sudah di kenali oleh Nadira,, dan selalin itu juga dia memang sudah sedikit merindukan motor King tua yang bersuara khas itu,, dan selama kejiwaan Arfan terganggu, motor itu juga di rawat dengan baik oleh Andreas, jadi kondisinya sekarang masih cukup bagus
Mereka pun segera menghampiri motor Arfan itu, dan Nadira segera naik di belakang Arfan di motor itu
"Aku hanya mau mengingat kan, kalau motor ku ini suaranya sedikit bising, jadi maaf kalau pendengaran mu sedikit terganggu karena nya" ucap Arfan mewanti-wanti
"Aku tau itu, kan sudah kubilang aku juga sering naik motor seperti ini dulu dengan Ayah, jadi mungkin aku akan terbiasa dengan suaranya" ucap Nadira
"Oh, Baiklah kalau begitu" ucap Arfan
Dia segera menghidupkan mesin motor nya itu, dan suara bising knalpot yang khas dari motor itu pun segera bergema, "Pegangan ya," ucap Arfan
"Baiklah" ucap Nadira tidak merasa ragu untuk berpegangan pada pinggang Arfan
Arfan sedikit tidak menyangka kalau Nadira ternyata menurut padanya, diapun sekilas melihat tangan Nadira yang sekarang berpegangan di pinggangnya
"Ayo jalan paman, aku sudah siap", ucap Nadira
"Oh, iya,, baiklah" ucap Arfan sedikit merasa gugup karena bisa sedekat itu dengan Nadira, dan Arfan merasa kalau jantungnya berdegup cukup keras
__ADS_1
Perlahan Arfan melajukan motor tuanya itu untuk menyusuri jalanan Kota B, motor tua yang sudah jadi saksi bisu setiap perjuangan yang sudah di lewati Arfan, entah itu perjuangan karirnya, atau perjuangan cintanya yang kandas bersama Yovi