
Arfan kembali lagi ke ruangan kantor yang sudah beberapa hari tidak dia pimpin, Andreas juga belum punya semangat untuk masuk kantor kembali semenjak Oma meninggal dunia
Tidak lama setelah duduk di kursinya, Bela mengetuk pintu dan masuk keruangan Arfan
"Pak Arfan, ada beberapa berkas yang perlu Anda tanda tangani", ucap Bela
"Baiklah,, apa ada pertemuan penting yang aku lewatkan saat aku tidak masuk?" tanya Arfan
"Tidak ada pak, saya sudah mengosongkan semua jadwal bapak beberapa hari ini, dan beberapa pertemuan bisnis juga saya pending dulu untuk sementara waktu" ucap Bela
"Baguslah, kau memang selalu bisa di andalkan" ucap Arfan, sambil melihat lihat berkas yang harus dia tanda tangani
"Terima kasih pak, itu sudah tugas saya" ucap Bela
Arfan segera menandatangani semua berkasnya, dan menyerahkan kembali berkas berkas itu ke Bela,
"Tolong kamu atur pertemuan dengan klien yang tertunda itu besok, kalau urusan yang ada diluar kota kamu atur 3 atau empat hari lagi" ucap Arfan
"Iya baik pak" ucap Bela, diapun segera berbalik ke luar ruangan
Sementara Arfan segera melanjutkan memeriksa laporan lainnya,
Dan di sisi lain Nadira juga sedang fokus mengikuti mata kuliah nya, mereka menjalani aktivitas berbeda, tapi sama sama saling mengingat satu sama lain dengan cara melihat cicin di jari masing-masing sejenak
.
…
Saat jam makan Siang tiba, Nadira, Sindi dan Fani yang berbeda ruangan bertemu di koridor, dan mereka bertiga pergi ke kantin bersama untuk makan Siang
"Nadira, pacarmu itu pengusaha ya?, dia sangat tampan dan gagah, terlihat sudah cukup matang" ucap fani
"Kamu belum di kasih tau Nadira ya?,, mereka itu bukan pacaran, tapi Nadira sudah menikah dengan kak Arfan" ucap Sindi
"Sungguh??, apa benar Nadi??" tanya Fani sedikit tidak percaya
__ADS_1
"Iya, aku memang sudah menikah Fan" ucap Nadira
"Benar-benar kamu, nikah kok gak ngundang ngundang aku sih, kecewa aku padamu" ucap Fani manyun
"Aku baru menjalani akadnya saja, itu juga karena ada sesuatu hal mendesak, jadi aku tidak beritahu kamu, tapi tenang saja, kamu masih bisa menghadiri pesta resepsi ku yang akan di gelar minggu depan, itu juga kalau kamu mau datang" ucap Nadira
"Oh gitu ya, ya tentu saja aku akan datang Nadi,, masa enggak!" ucap Fani
Saat mereka akan menyantap makan siang mereka , tiba tiba datang seorang pria yang tidak di undang, dia langsung duduk di kursi kosong meja mereka "Kursinya masih kosong kan? boleh aku gabung??" tanya Pria itu
Sontak ketiga wanita itu pun mengalihkan perhatian pada si pria itu
"Siapa kamu?" tanya Fani sedikit tidak mengenali sosok pria yang kebetulan duduk di sampingnya
"Mau apa kamu kemari?" tanya Nadira pada sang pria
"Aku dengar kamu masuk kuliah lagi, jadi aku penasaran ingin memastikan nya, makanya aku kesini" ucap pria itu
"Sebentar, kamu Ken kan?, ngapain kamu tiba tiba nongol di depan kita, kemana aja lo selama ini di saat Nadi menderita?" tanya fani mendadak menaikan nada bicaranya ketika dia mengingat sosok laki laki itu
"Aku sudah minta maaf soal itu pada Nadira, dan Nadira juga sudah memaafkan ku" ucap Ken
"Sudahlah, aku tidak ingin bahas masalah itu, dan Ken, kuharap kau tidak perlu menemuiku lagi, karena apa?,, karena aku sudah jadi istri orang lain sekarang, aku tidak ingin dekat denganmu walaupun itu hanya sebagai teman" ucap Nadira
"Apa maksudmu?, memangnya siapa yang sudah menikah dengan mu??," tanya Ken
"Tentu saja Arfan" ucap Nadira
"Yang benar saja, apa kamu kira aku anak kecil yang mudah di bodohi??,, itu hanya alasan mu saja kan?, kalau memang kau sudah menikah, aku pasti tau itu, aku selalu mengikuti mu" ucap Ken
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku punya buku nikahnya, apa kamu ingin melihatnya??" tanya Nadira
"Omonga kosong Nad, sudahlah,, tidak perlu buat buat alasan untuk menghindariku, apa pun yang akan kamu katakan, aku akan tetap mengejar mu, sampai kau bisa melihat kalau cintaku masih sama seperti dulu" ucap Ken
"Kau yang omong kosong, cinta mu itu tidak pernah nyata menurutku,, sudahlah, Aku malas berdebat dengan mu" ucap Nadira, dia beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi meninggalkan meja itu
__ADS_1
"Nad, Nadira, tunggu aku" ucap Sindi segera mengejar Nadira meskipun dia baru makan beberapa suap
"Akan Lebih baik kamu tidak perlu menemui Nadira lagi, dia sangat mencintai suaminya sekarang, jadi kamu jangan coba merusak pernikahan mereka" ucap Fani, dia juga ingin beranjak dari kantin untuk mengejar Nadira
"Pernikahan apa??, kapan Nadira menikah??, apa kamu bisa memperlihatkan buktinya??,, Kalau pun Nadira memang sudah menikah, aku tidak akan semudah itu melepaskanya" ucap Ken
Fani menoleh kembali
"Terserah, kau sendiri yang sudah membuat Nadira berpindah haluan kan, jadi Jangan salahkan Nadira jika dia tidak menyukai mu lagi,, hhh,, kenapa aku malah meladeni mu, sudahlah" ucap Fani, dia segera beranjak mengejar Nadira
Mereka pun akhirnya memilih kembali ke ruang kuliah mereka lagi, dan menunggu masuk jam kuliah dengan mengobrol bertiga di ruangan itu
.
...°°°...
Tidak terasa hari mulai beranjak sore, Arfan juga sudah mulai mebereskan arsip arsip di hadapannya untuk dia simpan di laci mejanya, dan setelah baru beranjak dari mejanya, ponselnya mendapatkan sebuah panggilan dari nomor tidak di kenal
Karena penasaran, Arfan segera mengangkatnya
"Hallo, selamat sore" ucap Arfan
📲"Arfan Ednan,, pengusaha kecil yang beranjak dewasa,, apa kamu masih ingat dengan suara ku ini?" tanya seorang pria paruh baya yang bersuara berat dari sebrang telpon
Arfan terdiam sejenak dan mencoba mengingat suara yang memang pernah di dengarnya sebelumnya, dan Arfan segera mengingat suara itu, karena Arfan memang di anugrahi daya ingat yang cukup bagus jika itu menyangkut seseorang,, meskipun suara itu pernah dia dengar tiga tahun silam
"Anda pasti tuan Ramon, apa benar??, tumben sekali Anda menghubungi calon menantu yang gagal ini?" ucap Arfan
📲"Aku tidak ingin berbasa basi dengan mu Arfan, aku hanya ingin bernegosiasi dengan mu" ucap Ramon
"Soal apa?, kalau itu tidak penting saya sarankan tidak perlu di bahas" ucap Arfan
📲"Menurut ku ini penting, dan mungkin untuk mu juga,, Aku ingin kau lepaskan putriku dari penjara, kalau tidak, kau akan menyesal seumur hidup mu" ucap Ramon
"Justru aku akan sangat menyesal seumur hidup jika aku melepaskan Putri baik Anda itu begitu saja, jadi jangan harap aku bisa memenuhi keinginan mu walaupun kau ingin menukarnya dengan Berton ton emas" ucap Arfan
__ADS_1
📲"Sombong kau Arfan, aku memang tidak sekaya dirimu sekarang, tapi lihat saja apa yang bisa ku perbuat jika kau tidak segera melepaskan putriku" ucap Ramon
"Aku tunggu apa yang bisa Anda lakukan" ucap Arfan menantang