
Setelah menerima telpon dari Ramon, Arfan tidak merasa takut dengan ancaman darinya, Karena Arfan merasa cukup kuat dengan keadaannya sekarang, dia tidak mungkin bisa di jatuhkan seseorang dengan mudah, Baik itu secara fisik maupun finansial
Arfan kembali ke kediaman Ednan bersaudara tanpa ada pikiran yang menggangunya, begitu dia masuk, dia melihat Andreas duduk sendirian di ruang makan
"Sedang apa kau diam sendirian di sini??, O yah apa Nadira dan Dinda sudah kembali??" tanya Arfan
"Belum, mereka belum kembali" ucap Andreas
"Apa?, mereka belum kembali??, aku harus menjemputnya, ini sudah terlalu sore, bagaiman bisa mereka belum kembali dari sekolah" ucap Arfan sedikit panik
"Siapa yang bilang mereka masih di sekolah, mereka masih di dapur, aku sudah lapar,, tapi mereka belum kembali kesini membawa makanan, aku ingin di buatkan sesuatu oleh mereka, tapi kenapa lama sekali" ucap Andreas
Arfan segera mengatur kondisi nya kembali "Kau bikin kaget saja, jawabanmu tidak jelas" ucap Arfan
"Pertanyaan mu juga tidak jelas kak, kau hanya bertanya mereka sudah kembali atau belum, tapi tidak menyebutkan dari mana kan?" ucap Andreas
"Baiklah jangan di bahas, tapi kenapa kau beraninya menyuruh Nadira memasak untuk mu, katakan, siapa yang memberimu keberanian itu??" tanya Arfan dengan melingkarkan sebelah tanganya ke leher Andreas yang duduk dari belakang nya seolah dia mencekiknya
"Weiiss tunggu dulu, baru datang sudah marah marah, aku tidak menyuruhnya, dia berinisiatif ingin memasak untuk mu,, dan Nadira menanyakan makanan kesukaan mu padaku, jadi sekalian aku juga ingin di buatkan sesuatu" ucap Andreas
"Kau ini, merepotkan Nadira saja" ucap Arfan, diapun melepaskan tangannya dan langsung beranjak menuju ke ruangana kitchen
Diapun melihat kalau memang Nadira dan Dinda sedang memasak di sana, dan di Bantu dengan seorang asisten rumah yang bertugas memasak
"Umhhh, wangi sekali, kamu masak apa?" tanya Arfan seraya mendekat dan menaruh dagunya di bahu Nadira yang sibuk di depan wajan
"Eh, kamu sudah pulang sayang, aku mau coba masak makanan kesukaan mu, ya sebenarnya aku belum mahir membuatnya, tapi aku ingin mencobanya" ucap Nadira
"Iya, Dinda juga sekalian belajar masak nih" ucap Dinda
"Ya itu tidak buruk, tapi kenapa kamu harus repot repot, kan ada bu Nurma yang bisa memasaknya untuku" ucap Arfan
"Kamu ini, apa semuanya harus mengandalkan bu Nurma, aku juga ingin jadi istri yang baik untukmu kan, jadi apa salahnya jika sekali sekali aku yang memasak untuk mu" ucap Nadira
"Baiklah, kau memang istri yang baik," 'Cup' Arpan mencium daun telinga Nadira
"Hey, jangan lakukan itu, itu geli" ucap Nadira
"Aku suka melihat mu kegelian" ucap Arfan
__ADS_1
Nadira langsung membulat kan mata menatap Arfan "Hey,,, lihat tempat dong kalau bahas sesuatu,, kenapa kau harus bahas itu di sini??,, sudah ah sana pergi, jangan mengganggu ku, nanti masakannya jadi tidak enak lagi," ucap Nadira setengah berbisik
Bu Nurma yang sedikit paham hanya mesem saja mendengar pembicaraan tuanya itu, sementara Dinda yang tidak paham tidak merespon apapun dan anteng saja memotong motong bahan masakan
"Baiklah, aku juga jadi mendadak lapar mencium wangi masakan mu" ucap Arfan,
"Ya sebentar lagi siap, jadi kamu tunggu saja di meja makan oke" ucap Nadira
"Ya baiklah" ucap Arfan, dia pun pergi dan tidak mengganggu Nadira yang memasak lagi
.
Setelah Beberapa saat Arfan menunggu di meja makan, para wanita pun akhirnya datang dengan membawa beberapa jenis masakan yang mereka masak barusan
"Masakannya sudah matang, mari makan" ucap Nadira sambil menaruh wadah sup yang lumayan besar di meja
Dinda dan Bu Nurma juga menaruh masakan yang lainya di meja
"Waaaahh, enak sepertinya" ucap Andreas langsung ngiler melihat pasakan rumahan ala chef Nadira dan Dinda
"Kalau begitu cobalah, kalau ada yang kurang di rasanya mohon maaf sebelumnya, aku memang tidak begitu pandai dalam memasak buntut" ucap Nadira
"Tidak papa, aku yakin ini enak, soalnya ini istriku yang memasaknya" ucap Arfan, dia langsung melipat tangan kemeja panjangnya dan langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan
"Gimana, enak tidak??" tanya Nadira penasaran menunggu penilaian Arfan
"Emmhhh, ini sempurna, ini enak sekali" ucap Arfan
Andreas pun juga mulai mencicipi sup nya juga, dan mulai merasakan di mulutnya "Ini enak kak, tapi kalau boleh saran kurangi garamnya sedikit" ucap Andreas
"Oh,, Keasinan ya?, Maaaaf, kenapa kamu bilang enak, kenapa tidak jujur saja" ucap Nadira pada Arfan
Arfan malah melirik Andreas "Kenapa kamu tidak bilang enak saja, kau ini tidak pandai menghargai" ucap Arfan
"Itu tandanya Andreas jujur, lain kali akan ku perbaiki, kamu makan yang lain saja, jangan yang itu,, maaf ya" ucap Nadira
"Tidak, tidak perlu minta maaf, buatku ini asli enak," ucap Arfan melanjutkan makannya kembali dengan sangat lahap, meskipun rasanya sedikit keasinan, tapi menurutnya itu sangat enak, karena apa?, karena yang memasaknya adalah Nadira, dan tentunya itu spesial menurut nya
"Iya ini enak kakak ipar, aku bisa maklum kalau pasakan kakak sedikit asin, itu karena mungkin kakak lagi love lovenya" ucap Andreas
__ADS_1
Arfan sedikit tersenyum saat makan, sementara Nadira hanya bisa menatap Arfan yang terlihat lahap itu dengan tersenyum kaku, diapaun segera mengambil makanan juga untuk nya, dan mulai ikut makan
Dinda juga tidak protes saat mencicipinya, dan mereka pun makan bersama dengan sangat lahapnya
.
Setelah mereka selesai di meja makan, Arfan dan Nadira naik ke kamar mereka,
Nadira menaruh jas Arfan yang di bawanya dari ruang makan dan menaruhnya di tempat tidur, dia langsung menghadap Arfan dan membantu Arfan melepas dasinya
"Apa urusan kantor mu lancar hari ini?" tanya Nadira
"Ya lumayan,, bagaiman dengan mu, apa kuliah pertamamu berjalan dengan baik?" tanya Arfan
"Tentu saja, hanya saja aku sedikit kaku juga harus mengikuti mata kuliah lagi, soalnya aku sudah agak terbiasa kerja" ucap Nadira
Arfan langsung meraih dan menarik pinggang Nadira setelah di selesai membuka dasinya,
Nadira juga menaruh tangannya di dada Arfan
"Nikmati saja, itu kan keinginan mu sendiri, kalau boleh jujur, aku lebih suka kamu diam saja di rumah, atau ikut aku ke kantor supaya kita lebih sering bersama" ucap Arfan
"Aku kan masih perlu ilmu juga sayang, wanita juga harus punya wawasan yang luas kan, supaya apa?, supaya bisa mendidik anak anak mu jadi anak yang pintar nanti,, jadi aku sebagai guru pertamanya juga harus pintar kan!!" ucap Nadira
Arfan langsung tersenyum "Aku suka cara berpikir mu itu, kamu mau punya anak berapa?" tanya Arfan
"Mungkin dua cukup, ah tidak, mungkin tiga" ucap Nadira
"Kalau begitu Satu saja dulu, ayo!!" ucap Arfan melirik tempat tidur
"Sekarang??,,, aku belum mandi sayang, masih bau keringat ini, gerah tau" ucap Nadira
"Kalau gitu kita sama sama" ucap Arfan langsung menggendong tubuh Nadira Untuk pergi ke kamar mandi
"Ahh,, apa apaan sih sayang, turunin" ucap Nadira sedikit kaget
"Diamlah, aku akan jadi asisten mu untuk membersihkan diri" ucap Arfan
"Ihhh, kamu nakal" ucap Nadira sembari mencubit hidung Arfan
__ADS_1
Dan Arfan pun segera membawa Nadira yang di pangkuannya itu ke kamar mandi untuk membantunya mandi
...~°~...