
Nadira sudah selesai membersihkan dirinya, dia juga sudah memakai piyama merah milik Dinda, dia sejenak duduk di kursi meja belajar dengan menatapi Dinda yang fokus memainkan gawainya di tempat tidur,
Dia juga tertarik untuk melihat ponselnya dan melihat foto Arfan di layarnya, Tapi tidak ada yang ingin dia lihat lagi dari ponselnya selain itu, jadi dia mencoba menghampiri Dinda untuk melihat Dinda sedang melihat apa
"Kamu lagi apa sih, serius gitu?" tanya Nadira
"Eh enggak kak, ini aku lagi chat temen temen sekolah ku, mereka pada nanyain kabar ku di sini," ucap Dinda
"Oh, kalau sudah selesai, cepet tidur yah" ucap Nadira, dia merebahkan dirinya di tempat tidur Dinda
"Iya, ini juga sudah kok" ucap Dinda, dia menaruh gawainya dan kemudian berbaring di samping Nadira
Sebelum Dinda tidur, Nadira bercerita tentang masa masa sekolahnya dulu,, dengan sesekali bercanda
Dan Dinda juga cukup serius mendengarkan, dengan sesekali tertawa kecil karena candaan Nadira, hingga Akhirnya dia pun terlelap
Nadira pun membenahi selimut Dinda, dan tersenyum
…
Sementara di kamar Lain, Arfan masih terduduk di sofa ruangan kamarnya, dan lamunanya masih tentang Nadira yang tidak ada ada bersamanya sekarang, karena dia memilih tidur di kamar dinda
Namun tiba-tiba pintu kamar Arfan terbuka perlahan, dan masuk seorang wanita muda dengan stelan piyama merahnya
Arfan yang mendengar ada yang masuk sontak menoleh, dan dia melihat kalau itu Nadira yang masuk dan berjalan ke arahnya
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Nadira
"Mana bisa aku tidur sendirian, ku pikir kamu akan menginap di kamar Dinda" ucap Arfan
"Tidak, aku hanya numpang mandi saja, dan sekalian menemani Dinda sampai dia tidur barusan" ucap Nadira
"Oh, jadi Dinda sudah tidur??" tanya Arfan
Nadira duduk di samping Arfan dan menyenderkan kepalanya di bahu Arfan "Iya sudah,, Bukankah sebelumnya kamu juga tidur sendirian?, kenapa sekarang tidak bisa tidur sendiri?" tanya Nadira
"Tentu saja sekarang berbeda kan, aku ingin ada yang menemaniku tidur" ucap Arfan dengan melirik Nadira yang di sampingnya
Nadira pun tersenyum dan langsung meraih pipi Arfan, dia lalu berinisiatif untuk mencium Arfan lebih dulu,
(21+🙏)
Dan itu tentunya membuat Arfan membalasnya dengan senang hati, mereka pun langsung berpagutan mesra di sana, dan Nadira juga tidak menolak saat tangan Arfan mencoba merayap ke dadanya lagi, dengan itu Arfan yakin kalau Nadira memberikan lampu hijau pada nya,
__ADS_1
Arfan segera membopong Nadira ke tempat tidur untuk meneruskan ke tahap yang lebih lanjut di sana, Arfan langsung mencumbu leher Nadira dengam nafas yang mulai memburu
Nadira juga hanya menggelinjang manja mendapatkan perlakuan itu dari Arfan, perlahan dia pun larut dalam buayan Arfan, nafasnya pun tidak beraturan karena mengikuti setiap alur rangsangan yang Arfan berikan padanya
Arfan merasa tidak ada penolakan yang berarti dari Nadira, jadi dia mulai melepaskan satu persatu kancing yang ada di baju Nadira, dan perlahan apa yang tersembunyi di baliknya mulai nampak, dua bukit kenyal nan putih mengintip di Balik bra-nya, dan yang membuat Arfan penasaran itu kini terpampang jelas di depan matanya
Tentu saja itu menarik Arfan untuk langsung menycumbunya di sana, tangan Arfan juga dengan cekatan melepas pengait bra hitam yang menghalangi nya , dan kini dia lebih leluasa menjelajahi dua bukit kembar nan ranum itu
Nadira juga sesekali melenguh pelan saat Arfan bermain dengan gemas didadanya, samar samar Nadira pun melihat kecupan kecupan Arfan itu meningglakan beberapa tanda merah di kulit putihnya, mungkin karena saking gemasnya Arfan hingga ciumanya itu meninggalkan jejak di sana
Sebelum Arfan melanjutkan ke tahap yang lebih jauh, dia menatap mata sendu Nadira terlebih dulu untuk meminta persetujuan "Apa boleh aku melakukannya?" tanya Arfan
"Emmmhh,, lakukanlah, aku milikmu sekarang" ucap Nadira sedikit berbisik
Dengan adanya persetujuan Arfan tidak ragu lagi untuk melolosi semua penghalang yang ada di diri Nadira, dan jemarinya juga mulai berani menyusup dan menjamah ke lembah yang tidak pernah tersentuh tangan tangan jahil
Arfan merasakan lembah itu sudah sangat lembab, pertanda kalau tubuh Nadira sudah merespon rangsangan darinya,
Arfan melakukannya dengan tidak terburu-buru, itu supaya tidak ada keterkejutan dari tubuh Nadira, karena dia menebak, ketakutan Nadira adalah rasa sakit, jadi sebisa mungkin Arfan melakukannya dengan perlahan supaya meminimalisir ketakutan Nadira
Dan itu yang pertama kali untuk Nadira, jadi wajar kalau ada sedikit ketakutan di benaknya, karena asumsinya mengatakan kalau yang pertama itu sakit
Arfan juga bukan orang berpengalaman, tapi dia tau teori dari tutorial yang sangat mudah di temukan, selain itu banyak artikel kesehatan yang pernah dia baca yang jadi pedomannya untuk melakukan langkah-langkah terbaik untuk melakukannya
Arfan tidak menjawab dan hanya melakukannya perlahan, meski tak semudah teori, tapi tetap saja pada akhirnya instingnya menuntunya ke jalan yang benar, hingga perlahan Arfan bisa menembus pertahanan Nadira
Nadira mencengkram erat punggung Arfan di kala segel yang selama ini di jaganya berhasil di bobol Arfan, dan bulir air sebening embun terjatuh dari pelupuk matanya tanpa di sengaja
Melihat respon itu Arfan juga tidak langsung melakukan penetrasi, dan menunggu sampai tubuh Nadira benar-benar bisa menerima kehadiran benda asing di tubuhnya
Dan setelah ketegangan Nadira mulai pudar, mereka pun perlahan mulai bisa menikmati malam pertama mereka itu
Dan malam yang panjang pun mereka lalui dengan bermandikan keringat, bukti perjuangan keduanya dalam menggapai surga dunia itu tidak semudah anggapan mereka
Entah berapa kali mereka melakukan nya di malam itu, hingga mereka pun akhirnya terkulai lemas dan tertidur pulas dengan saling berpelukan
.
…
Keesokan paginya, mereka keluar kamar dengan keadaan segar, dan arfan sangat suka mencium aroma semerbak yang khas dari Nadira yang baru mandi di pagi hari, dan mungkin itu akan jadi candu tersendiri untuk nya
Mereka berdua pergi ke ruang makan untuk sarapan
__ADS_1
Dan Andreas juga kebetulan baru saja duduk di sana
"Pagi kakak ipar," sapa Andreas
"Pagi Dre, Dinda mana?, apa dia belum turun?" tanya Nadira
"Belum, mungkin dia belum bangun" ucap Andreas
"Oh, kalau begitu aku akan memanggilnya dulu" ucap Nadira, dia pun kembali bernjal ke lantai atas untuk ke kamar dinda
Sementara Arfan langsung duduk di kursi ruang makan
"Seperti nya aku mencium bau durian, di mana ya, apa ada yang sudah belah duren pagi pagi gini" ucap Andreas sambil mendengus
"Tidak lucu" ucap Arfan datar
"Kau lakukan berapa babak semalam, sampe kakak ipar keliatannya kecapean gitu" ucap Andreas yang melihat mata cape dari Nadira, berbeda dari mata Arfan yang terlihat cerah
"Tidak perlu ku jawab kan?" ucap Arfan
"Ayolah, sedikit bocoran saja" ucap Andreas
"Sepertinya aku butuh rumah baru setelah ini" ucap Arfan
"Jangan gitu dong kak, aku hanya bercanda, jika kau pindah rumah ini akan sepi lagi, baiklah, aku akan tutup mulut" ucap Andreas
Tidak lama Nadira kembali bersama Dinda, dan mereka langsung duduk di kursi ruang makan,
Dan Dinda sekarang duduk di antara Arfan dan Nadira
"Kenapa kamu duduk di sini, ini tepatnya kak Dira" ucap Arfan
"Tidak apa,, ada yang ingin di sampaikan Dinda padamu katanya" ucap Nadira
"O yah??, ada apa?" tanya Arfan
"Dinda ingin melanjutkan sekolah Dinda lagi di sini kak, apa boleh?" tanya Dinda
"Tentu saja boleh, apa kamu sudah yakin ingin segera bersekolah lagi?" tanya Arfan
"Iya" ucap Dinda
"Baiklah, kakak akan segera mengurusnya" ucap Arfan,
__ADS_1