Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr 7


__ADS_3

Keesokan paginya Nadira pun sangat bersemangat untuk pergi ke tempat kerjanya pagi pagi sekali, dia berharap bisa melihat teman curhatnya lagi di pos tua itu,


Semalaman dia kepikiran tentang itu hingga membuatnya tidak bisa tidur


"Nadira, kamu mau kemana pagi pagi begini?" tanya Narita heran karena melihat putrinya sudah rapih, padahal hari masih pagi


"Ya berangkat ke gerai lah bu, kemana lagi" ucap Nadira yang sekarang sudah bersiap keluar rumah


"Tumben berangkatnya pagi, apa kamu sudah sarapan?" tanya Narita


"Nanti saja lah aku balik lagi kalau sudah lapar" ucap Nadira


"Kamu ini, kebiasaan, ya sudah" ucap Narita


"Iya, aku pergi ya bu" ucap Nadira, diapun mulai menapaki jalanan dengan kaki dan tongkatnya lagi, dan segera bergegas menuju ke ujung jalanan itu, dan tentunya tujuannya adalah pos tua tempat Arfan tinggal


Dia sangat berharap pagi ini dia bisa melihat teman ceritanya itu sudah terduduk di posnya seperti biasanya,


Namun sesampainya di sana, dia pun harus kecewa lagi karena Arfan masih juga belum ada di sana


"Paman kemana sih?" ucap Nadira lemas lagi, diapun segera berbalik untuk ke gerainya,


Diapun masuk ke gerai tempatnya kerja itu, tapi dia hanya duduk di tempatnya sambil melamun, dia bahkan sampai lupa membuka gerainya karena keasyikan melamun, meskipun hari sudah beranjak siang


"Astaga, aku belum membuka gerai, kenapa aku jadi tidak fokus begini, diapun segera keluar untuk membuka roling door yang menutupi gerainya itu,


Setelah membukanya, diapun berniat untuk segera masuk ke dalam lagi, Tapi


"Permisi, apa anda yang bernama nona Nadira" ucap seseorang dari belakang nya


Nadira pun langsung menoleh untuk memastikan siapa yang menyapanya itu, dan saat dia menolehnya, diapun langsung melihat sosok seorang pemuda tampan yang berpenampilan formal yang sangat rapih, bahkan samar samar Nadira pun bisa mencium wangi farpum nya yang sangat maskulin itu

__ADS_1


"Maaf, apa anda mencari saya?" tanya Nadira yang masih belum mengingat siapa pemuda itu


"Iya, saya ingin bertemu dengan anda, o yah, perkenalkan, nama saya andreas ednan" ucap Andreas sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Nadira


"Si siapa?, A Andreas??" Nadira merasa tidak percaya kalau sosok yang sangat di didoakan nya itu kini berdiri di depan matanya, dia sampai lupa untuk menjabat tangan Andreas


'Ya ampun, tampan sekali aslinya, mimpi apa aku semalam sampai bisa di datangi pria ini, tapi rasanya aku tidak mimpi apa apa' batinya


"Oh maaf, nona tidak suka berjabat tangan ya" ucap Andreas mencoba menarik tangannya lagi


Nadira pun baru sadar dan dengan cepat meraih tangan Andreas "Ma maaf, saya barusan sedikit melamun, saya Nadira" ucap Nadira sambil tersenyum


"Iya aku sudah tau" ucap Andreas


"O yah, kalau boleh saya tau, ada angin apa hingga membuat Anda bisa datang ke tempatku ini" ucap Nadira


"Aku sengaja kemari untuk menemuimu, aku dengar ada seorang gadis yang ingin bertemu denganku di sini, jadi aku sengaja menyempatkan diri untuk kesini" ucap Andreas


"Oh" Nadira pun langsung kepikiran perkataan Arfan kemarin, yang berkata kalau dia bisa mempertemukannya dengan Andreas "Apa orang yang memberitahu mu itu, maaf,, orang gila??" tanya Nadira penasaran


"Oh, iya maaf, pertanyaanku agak konyol ya, maaf maaf" ucap Nadira merasa sedikit malu


"Tidak apa, o yah, aku bawakan bunga untukmu, semoga kamu menyukainya" ucap Andreas sambil memberikan sekuntum bunga mawar indah pada Nadira


Nadira pun sampai sedikit ternganga di buatnya, dia tidak pernah menyangka kalau hal itu akan terjadi di hidupnya, seorang yang dia kagumi mendatanginya secara pribadi, dan juga memberinya bunga, tentu saja itu membuatnya sangat senang


Nadira pun langsung menerima bunganya "Te terimakasih banyak, aku aku sangat menyukainya," ucap Nadira dengan sedikit tersipu malu, dan hatinya sangat berdebar debar


"Syukurlah kalau kamu menyukainya, O yah, apa nanti siang kamu punya acara?" tanya Andreas


"Tidak, aku tidak ada acara apa apa, kenapa memangnya?" tanya Nadira

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu makan siang nanti, apa kamu ada waktu?" tanya Andreas


"Tentu, tentu saja aku punya waktu" ucap Nadira sedikit gugup juga, karena yang tidak dia sangka sebelumnya terus di ucapkan oleh Andreas padanya


"Baiklah, nanti siang aku akan kemari lagi untuk menjemput mu, tapi maaf, sekarang aku harus segera pergi, aku harus pergi ke kantor soalnya" ucap Andreas


"Iya, silahkan, aku akan menunggu mu nanti" ucap Nadira


"Kalau begitu sampai ketemu lagi nanti, sampai jumapa" ucap Andreas


"Iya, sampai jumpa" sahut Nadira


Andreas pun segera berlalu dari hadapan Nadira,


Dan setelah Nadira melihat Andreas masuk ke mobilnya, dia pun segera berbalik masuk ke dalam gerai dengan perasaannya yang sangat sangat senang,


"Ya tuhan, senang sekali rasanya bisa bertemu dengannya,, aku harus curhat pada siapa ini, paman, dimana kamu?, aku ingin curhat ini" ucap Nadira dengan wajah girangnya, diapun sampai tidak sadar melepaskan tongkat bantu jalanya kelantai, alhasil diapun tidak bisa berdiri stabil dan langsung terjerembab ke lantai 'Guprak' "Awwwwwww" lirih Nadira,


"Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini, Hey Nadira sadarlah, kamu itu cuma gadis lumpuh biasa, dia tidak mungkin menyukai mu kan?, dia hanya mengngapmu sebagai penggemarnya saja, tidak lebih, okey, jadi jangan terlalu baper, biasa saja,, tapi aku sangat senang, bagaimana ini?" ucap Nadira yang sekarang terduduk di lantai dengan mimik wajah menangis karena saking senang dan tidak percaya


Sementara Arfan terus memperhatikan gelagat Nadira itu sedari tadi dari dalam mobil, meskipun setelah adegan jatuhnya dia tidak bisa melihat apa apa, karena Nadira terhalang etalase kaca


"Dia sepertinya senang sekali bisa bertemu denganmu," ucap Arfan


"Ya, kurasa begitu, kenapa kamu tidak mau menemuinya juga, kamu harusnya bilang kalau aku Arfan edanan, dan aku mau lihat juga ekspresinya seperti apa saat dia tau kamu sudah sembuh kak" ucap Andreas


"Dia tidak tau namaku, aku tidak pernah berkenalan dengannya, jadi aku rasa akan percuma jika menyebutkan namaku" ucap Arfan


"Sungguh?,, benar benar sangat di sayangkan,, tapi dia begitu akrab dengan mu sebelumnya, harusnya dia tau namamu, supaya kalian bisa tetap akrab" ucap Andreas


"Sudahlah, aku juga tidak berharap dia tau aku yang sekarang, dia cukup tau kalau dia berhak bahagia, dan biarkan dia hanya mengenal pria gila itu saja" ucap Arfan

__ADS_1


"Aku tidak tau jalan pikiran mu kak, O yah,, apa kau masih ingin di sini?" tanya Arfan


"Sebentar lagi" ucap Arfan dengan terus memperhatikan Nadira di dalam gerainya yang sekarang sudah duduk di depan etalase nya dengan raut wajah yang berseri seri


__ADS_2