Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Kesal


__ADS_3

Arfan langsung mengelengkan kepalanya mendengar pernyataan Sindi "Jangan sekarang memberitahu nya, aku masih punya misi yang harus ku selesaikan, juga aku masih tidak yakin kalau Nadira akan menerima ku" ucap Arfan


"Ya Nadira memang sulit untuk membuka hatinya pada lawan jenis, dia tidak mudah menerima cinta dari sembarangan pria, itu karena dia pernah terluka cukup dalam oleh cinta pertamanya dulu, Tapi aku bisa pastikan kalau Nadira juga punya kesan yang baik pada Anda" ucap Sindi


"Benarkah??" ucap Arfan


"Aku tidak bohong, buktinya dia tidak marah saat Anda memegang tangannya, kalau itu orang lain, Nadi pasti akan langsung memakanmu" ucap Sindi


"Apa dia segalak itu?" tanya Arfan sambil tersenyum


"Iya, dia memang sedikit judes pada orang yang belum terlalu akrab dengannya, tapi dia sebenarnya orang yang sangat baik kalau anda sudah benar-benar mengenal nya" ucap Sindi


"Cukup menarik" ucap Arfan


Saat mereka sedang mengobrol, tiba tiba Narita datang menghampiri mereka


"Eh, nak Andreas juga ada di sini ya,, Sindi, kenapa tidak memberi tau ibu kalau Ada nak Andreas berkunjung lagi" ucap Narita langsung mendekat pada Andreas dan duduk di dekatnya


"Kamu ini memang calon mantu idaman ya, sudah baik, tampan, perhatian lagi sama Nadira, Ibu rasa kalian akan cocok" ucap Narita


Andreas pun langsung tersenyum bingung menghadapi ibu Nadira Yang sedikit bawel itu, itu gara gara Arfan yang menjadikanya alat untuk mendekati Nadira


"I Iya, Tante," ucap Andreas merasa sedikit malas meladeninya, karena dia sekarang tau kalau Narita hanya akan bersikap manis jika di depannya saja


"Itu siapa Sindi?, apa dia pacarmu?, tampan juga" ucap Narita yang mulai memperhatikan Arfan


"Bukan Bunar, dia ini pak Arfan, dia adalah kakaknya pak Andreas," ucap Sindi


"Oh, Sepertinya kalian sudah akrab ya" ucap Narita menatap sinis pada Sindi, meskipun Narita sudah berumur hampir setengah abad, tapi dia juga masih suka kalau melihat pria tampan dan mapan


"Tidak juga Bunar, aku hanya baru beberapa kali saja bertemu dengan pak Arfan" ucap Sindi


"Oh" ucap Bu Narita


Narita pun melanjutkan lagi perbincangan dengan Andreas, meski Andreas sedikit enggan untuk meladeni nya


Sementara Arfan dan Sindi pergi dengan alasan ingin beli makanan ke depan, "O yah Andreas, kami akan beli sesuatu kedepan, kamu tunggu di sini saja, dan temani Ibunya Nadira ngobrol ya, kulihat kalian cukup akrab,, kalau kamu perlu sesuatu bilang saja, nanti kubelikan" ucap Arfan


Andreas pun hanya tersenyum malas


'Siaaal, kalau kau bukan kakaku akan kuhajar kau, seenaknya saja menyuruhku meladeni mertua mu, awas kau ya' Gerutu batinya saat melihat Arfan Dan Sindi beranjak pergi


Arfan dan Sindi pun segera keluar dari rumah sakit, dan segera masuk kedalam mobil Andreas, "Kamu mau beli apa?" tanya Arfan

__ADS_1


"Gak tau, kan kakak yang mengajak ku keluar" ucap Sindi


"Au sebenarnya hanya ingin menghindari Ibunya Nadira saja, entah kenapa aku merasa tidak suka pada nya" ucap Arfan


"Ya dia memang sedikit mata duitan sekarang, tapi waktu dia masih bersama dengan papahnya Nadira, dia tidak begitu, dia Tante yang sangat baik lho, mungkin dia begitu karena keadaan nya terpuruk sekarang" ucap Sindi


"Begitu Ya, jadi maksudmu dia tidak akan begitu lagi jika dia kembali pada papahnya Nadira??" ucap Arfan


"Itu tidak mungkin, sekarang mereka musuh bebuyutan, kalau mereka bertemu pasti akan ada perang antar negara" ucap Sindi


"Shebat itu kah?, berarti mereka itu punya pengaruh besar bagi negara ya?" tanya Arfan melenceng


"Itu hanya kata kiasan saja kak, masa di anggap serius" ucap Sindi


"Itu juga hanya kiasan,, masa di anggap serius" ucap Arfan meniru kata kata Sindi


"Sebentar, itu kata kataku, kenapa jadi kembali padaku??" ucap Sindi


"Sudah lah, ayo pergi, kamu tidak asik di ajak bercanda, O yah, apa kamu sudah sarapan?" tanya Arfan


"Sudah lah, ini sudah sangat siang" ucap Sindi


"Kalau begitu kita makan siang" ucap Arfan


"Belum laper kak" ucap Sindi


"Iya,, terserah bapak Arfan yang terhormat saja" ucap Sindi


Arfan segera melajukan mobilnya untuk keluar dari Area rumahsakit


Dia hanya bermanuver di jalanan sekitaran rumah sakit itu, dan hanya membeli beberapa makanan kecil untuk ngemil Sindi, supaya dia tidak bosan menceritakan semua hal tentang Nadira padanya.


Arfan memang ingin tau kebiasaan, kesukaan, dan yang tidak disukai oleh Nadira, pokonya semua hal tentang Nadira dia koreksi dari Sindi


.


Setelah merasa puas berputar putar, Arfan segera kembali ke rumah sakit dengan membawa dua parcel Buah


"Kenapa harus beli dua parcel?, bikin repot saja" ucap Sindi yang membawa salah satunya


"Diamlah, bawa saja, atau kau harus memuntahkan semua cemilan mu yang sudah kamu makan tadi" ucap Arfan


"Ih, itu pasti menjijikan" ucap Sindi

__ADS_1


Arfan pun segera bergegas ke salah satu kamar Pasien, tapi yang membuat Sindi heran itu bukan jalan ke tempat Nadira


"Lho kok kita kesini kak" ucp Sindi


"Ikut saja" ucap Arfan


Dan mereka akhirnya masuk ke salah satu Ruangan, Sindi baru paham kalau Arfan ingin mengunjungi Putri dari pria yang tadi meminta maaf pada Nadira


Gian yang melihat Arfan masuk sontak kaget dan langsung berdiri dari duduknya, dia takut Arfan membawa polisi untuk menangkapnya sekarang


"Tuan, aku tidak akan kabur" ucap Gian


"Aku bukan ingin memenjarakan mu,, aku hanya ingin menjenguk Putri mu" ucap Arfan,


Dia pun langsung memperhatikan seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahunan yang terbaring lemas di tempat rawatnya, dengan selang oksigen dan selang infus menempel di tubuhnya, mata sayu nya juga menatap Arfan yang mulai mendekat padanya


"Hallo Cantik, apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Arfan


"Om Siapa?" tanya gadis itu lemas


"Zahra, dia ini adalah orang yang membantu papah nak, kamu sun tangan padanya" ucap Gian


Zahra pun menurut dan mengulurkan tangan mungilnya pada Arfan, yang langsung di sambut tangan Arfan kemudian Zahra menciumnya


"Anak Pintar, jadi namamu Zahra ya" ucap Arfan


"Iya Om, terimakasih sudah bantu papah" ucap Zahra


"Iya sama sama" ucap Arfan


"Tuan, aku mungkin tidak akan bisa membalas kebaikan mu ini, aku mungkin hanya bisa mengabdikan diriku pada Anda, jadikan aku kacung, atau apapun asalkan bisa berguna untuk anda" ucap Gian, sambil berdiri tegap danenundukan pandangan


Arfan langsung tersenyum, dan memperhatikan perawakan Gian yang cukup bagus, dan sangat cocok jika di buat pengawal pribadi


"Akan ku pertimbangkan" ucap Arfan


"Terima kasih tuan" ucap Gian


Tidak lama ponsel Arfan berbunyi, dan itu Adalah panggilan dari Andreas "Hallo, ada apa Dre, apa operasi Nadira sudah selesai?" tanya Arfan


📲"Selesai selesai, kamu dimana sekarang?, kenapa lama sekali pergi mu, aku sudah tidak sanggup lagi meladeni celotehan mertua mu, kembalilah" ucap Andreas dengan nada kesal


Arfan menebak kalau Andreas pasti sudah kabur dari bu Narita

__ADS_1


"Aku sebentar lagi ke sana" ucap Arfan


📲"Baik,, Cepatlah" ucap Andreas, dan dia langsung mengakhiri panggilan nya


__ADS_2