
Hari ini, Arfan kembali memulai harinya lagi di kantor nya, setelah satu minggu penuh dia bertugas di luar kota dan menyibukan dirinya di sana, itu tidak lain supaya dia tidak terus memikirkan soal cintanya yang selalu kandas,
Meski Arfan belum sepenuhnya merelakan Nadira dengan orang lain, tapi sekarang dia bisa lebih mengontrol dirinya sendiri
…
Saat sore tiba, Arfan dan Andreas segera bersiap untuk pergi ke acara yang di adakan Edgar, dan seperti yang sudah di rencanakan Sebelumnya, Andreas meminta Arumi menemani kakaknya ke acara,, sementara Andreas pergi bersama Sindi,
Mereka berangkat dengan mobil mereka masing-masing ke kediaman Edgar, dan sesampainya di sana, suasana sudah mulai ramai,
Mereka segera turun dari mobil mereka dan segera masuk ke kediaman Edgar
"Ramai juga tamu nya, sepertinya Edgar mengundang semua rekan bisnisnya, kukira tidak akan searamai ini karena acaranya di adakan di rumahnya" ucap Arfan
"Sepertinya begitu" ucap Andreas
"Sayang, kita cari Nadi yuk" ucap Sindi
Sementara Arumi terus memasang wajah masam karena dia pikir yang akan bersamanya itu Andreas, karena dia yang memintanya,, dia tidak suka melihat Andreas dekat dengan Sindi, dia masih belum tau kalau Andreas punya pacar
"Boleh saja, kemana?" tanya Andreas
"Mungkin Kesebelah sana, tidak kita kesana saja, ah tidak, kesana saja" ucap Sindi bingung sendiri menunjuk ke beberapa arah
"Kemana yang jelasnya?" tanya Andreas
"Kesana sajalah" ucap Sindi memtuskan arah
"Baiklah, kak, aku kesana dulu, tuan putriku ingin kesana" ucap Andreas yang memang pangling melihat Sindi yang memakai gaun malam hijaunya
"Ya sudah, pergilah, bawa dia jalan jalan" ucap Arfan
Sindi dan Andreas segera masuk melewati kerumunan untuk mencari sahabatnya,
Sementara Arfan memilih untuk bertegur sapa dengan rekan rekan bisnis Edgar yang kebanyakan orang tua, dan hanyab sekedar bertukar pikiran dan berbagi pengalaman bisnis masing-masing
Sindi Andreas mencari Nadira ke beberapa sudut pesta, dan akhirnya bisa menemukan Nadira yang berpasangan dengan Ken
"Sayaaaaang" Sindi langsung menghampiri Nadira dan memeluknya sejenak "Kamu cantik sekali say" ucap Sindi memuji Nadira yang memakai gaun ungu
"Kamu juga cantik, aku pangling tau" ucap Nadira yang mungkin baru kali ini melihat Sindi berdandan habis habisan
"Ya haruslah, aku tidak mau mengecewakan pacarku kan" ucap Sindi melirik Andreas
"Ya ya ya terserah" Nadira juga melirik Andreas, dan kemudian mencari sosok yang lain, tapi dia tidak melihat ada yang lain di belakang Andreas
Nadira mengulurkan tangannya pada Andreas, dan Andreas juga langsung menjabat nya "Apa kabarmu Dre, rasanya sudah lama tidak ketemu" ucap Nadira
__ADS_1
"Tidak begitu baik, aku baru kehilangan kakak iparku" ucap Andreas asal
"Benarkah?, apa Kakak iparmu meninggal?" tanya Ken menyelah, dia memang tidak tau Andreas dan Arfan itu siapa
"Tidak juga, dia hanya di culik seseorang saja" ucap Andreas terus memancing reaksi Nadira
Dan benar saja, Nadira langsung sedikit murung mendengar celotehan Andreas
"Sayang ih, kamu kalau ngomong kemana mana saja" ucap sindi mencubit bahu Andreas karena dia tau Andreas menyindir Nadira
"Iya iya aku cuma bercanda" ucap Andreas
"Apa kakakmu datang kemari?" tanya Nadira
"Tentu saja, mana mungkin dia tidak datang ke acara pak Edgar ini kan" ucap Andreas
"Oh" ucap Nadira, matanya pun melihat lihat ke arah hadirin yang datang lagi, tapi tetap saja belum menemukan sosok yang ingin dia lihat
"Ken, aku ada perlu dengan sindi, kamu tunggu di sini saja" ucap Nadira
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ken
"Aku hanya ingin mengobrol berdua saja dengan Sindi" ucap Nadira
"Baiklah" ucap Ken
Nadira langsung menggandeng Sindi untuk pergi ke kerumunan
"Temani saja" ucap Nadira
Setelah mereka berjalan sedikit kedalam kerumunan, akhirnya Nadira melihat sosok Arfan yang terlihat serius mengobrol dengan tamu lain, namun dia juga terlihat di temani seorang gadis cantik di sampingnya
"Sindi, siapa yang bersama Arfan itu?" tanya Nadira
Sindi langsung menoleh pada Arfan "Mana ku tau, jangan bilang kalau kau ingin bertemu dengan Arfan sekarang" ucap Sindi
"Apa itu sudah tidak pantas??,, aku tau aku sudah salah ambil keputusan yang penting di hidupku, aku tau seharusnya aku tidak memilih Ken, aku baru sadar ternyata kenyamananku ada di Arfan" ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca
Sindi menarik nafasnya dan menghembuskan nya kasar "Jadi Apa kamu ingin menemuinya sekarang untuk bicara?" tanya Sindi
Nadira langsung menggelengkan kepalanya "Seperti nya tidak, aku takut Wanita di samping nya itu adalah kekasihnya" ucap Nadira
"Nadi Nadi, kenapa kau jadi serumit ini sih, kalau kau tidak bisa menemui nya, kita kembali saja" ucap Sindi yang merasa di tunggu Andreas
Sindi dan Nadira pun memutuskan untuk kembali ke tempat pria pria mereka berada lagi
Sementara Arfan masih mengobrol dengan beberapa orang, dan dia di hampiri Edgar juga yang sengaja menyapa rekan rekannya
__ADS_1
"Pak Arfan, ternyata Anda di sini, Terimakasih Anda sudah menyempatkan hadir ke acara saya" ucap Edgar seraya berjabat tangan dengan Arfan
"Tentu saja pak Edgar, kebetulan saya baru kembali dari luar kota hari ini, dan kebetulan Anda mengundaku hari ini juga, jadi saya bisa menghadiri Acara anda" ucap Arfan
"Syukurlah,, Sebenarnya saya malu ini, tapi ya, takdir mungkin mengharuskan saya kembali kepada istri saya yang lama, mari saya akan kenalkan anda pada mamahnya Nadira" ucap Edgar
Arfan langsung mengikuti Edgar untuk menemui Narita,
Dan saat Narita melihat Arfan, dia langsung tersenyum hangat pada Arfan, dia tau dari cerita Nadira kalau yang membuat semuanya ini terjadi adalah karena Arfan, tapi Nadira belum memberitahu Edgar tentang itu
"Pak Arfan, terima kasih banyak sudah bisa hadir" ucap Narita
"Lho,, kamu kenal mah??" tanya Edgar pada Narita
"Tentu saja, pak Arfan sering mengantar Nadira ke rumah sebelumnya" ucap Narita
"Begitukah?, ya memang sayang sekali, padahal saya sudah mengira Nadira ada hubungan yang spesial dengan anda, karena kalian memang terlihat cukup dekat, tapi ternyata tebakan saya salah kalian punya pasangan masing-masing ternyata" ucap Edgar
"Kami memang hanya berteman saja pak" ucap Arfan
"Ya ya, begitu juga baik" ucap Edgar
Dan di saat saat seperti itu, Arfan malah merasa dirinya itu kebelet "O yah, maaf pak Edgar, apa bisa saya meminjam toilet anda" ucap Arfan sedikit malu
"Tentu saja pak Arfan, Toiletnya ada di sebelah sana" ucap Edgar menunjuk ke salah satu sudut ruangan
"Oh baiklah, terimakasih" ucap Arfan, dan dia menoleh pada Arumi "Kamu tunggu dulu di sini, nanti aku kembali" ucap Arfan
"Baik pak" ucap Arumi
Arfan segera menuju ke tempat yang ditunjukkan Edgar, dia menuju lorong tempat wastafel yang sedikit tersembunyi dari ruangan utama itu, dan tanpa pikir panjang Arfan langsung masuk
Dan dia langsung terkejut saat mendapati di dalam ternyata ada seorang wanita yang berdiri di depan wastafel dan terlihat sedang menangis di sana
"Maaf ku kira tidak ada orang" ucap Arfan
Wanita yang sedikit memunggungi Arfan itu pun menoleh, "Arfan??" Nadira kaget dan langsung mencoba menghapus air matanya saat dia tau kalau Arfan di sana dan melihatnya menangis
"Apa kau menangis?" tanya Arfan
"Tidak, aku tidak papa, aku hanya membasuh wajah karena kelilipan tadi, apa kamu ingin memakai Toiletnya?" tanya Nadira
"Aku tau kau menangis, Ada apa?" tanya Arfan
"Tidak ada apa apa, aku hanya ingin saja, permisi, aku akan keluar" ucap Nadira melangkah keluar dari sana melewati Arfan dan mencoba menghapus air matanya, dia tidak ingin cerita kalau dia menangis karena penyesalannya sendiri terhadap keputusan nya
"Kalau kau punya masalah, kau bisa cerita padaku, kapan pun itu" ucap Arfan yang merasa simpati pada Nadira
__ADS_1
Nadira sontak menghentikan langkahnya membelakangi Arfan, mendengar itu Nadira malah tidak bisa menghentikan air mata yang coba di hapusnya, dan malah keluar semakin deras
"Aku benar benar tidak papa, terimakasih sudah menghawatirkan ku" ucap Nadira, diapun segera berlalu dari hadapan Arfan dan segera bergegas menuju ke kamar nya sendiri untuk menghindari kerumunan