Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr18


__ADS_3

Tidak terasa akhir pekan segera tiba, di sore hari Arfan bersiap dengan stelan kemeja rapihnya, dia segera keluar dari kamar pribadinya menuju ke kamar Andreas, dan dia langsung mengetuk pintu kamar Andreas


'tok'tok'tok'


"Apa kau sudah siap?" tanya Arfan sedikit berteriak dari luar pintu


"Tunggu sebentar, aku segera siap" ucap Andreas dari dalam kamarnya


"Kalau begitu aku tunggu di bawah" ucap Arfan lagi


"Iya"


Arfan segera turun ke lantai bawah dan menunggu Andreas di ruangan tengah kediamanya


Tidak lama Andreas turun dengan setelan kemeja berwarna abu hitam, senada dengan kemeja yang di gunakan oleh Arfan


"Lho kok, kita couple an, perasaan kita tidak janjian kak" ucap Andreas yang melihat warna kemeja Arfan sama dengannya


Arfan juga sedikit memperhatikan nya, "Ya Sudah ayo berangkat" ucap Arfan langsung beranjak dari sofa


"Tapi ini gimana, masa kita pake baju hampir sama, nanti orang kira kita anak kembar" ucap Andreas


"Berarti orang itu rabun," ucap Arfan


Mereka pun segera menuju ke mobil mewah Andreas, dan segera masuk kedalamnya


"Apa kau yakin sudah siap bertemu dengan Mantanmu itu?" tanya Andreas pada Arfan


"Aku sudah lebih dari siap" ucap Arfan


"Baguslah, aku harap kau tidak menangis seperti saat dia meninggalkan mu" ucap Andreas


"Tentu saja itu tidak akan terjadi, aku yakin bisa membalikan keadaan nantinya" ucap Arfan


"Maksudmu,??" ucap Andreas


"Simak saja,, kamu tidak perlu tau" ucap Arfan

__ADS_1


"Selalu saja kau memberiku sebuah PR untuk otakku" ucap Andreas


Mobil pun segera melaju mebawa mereka menuju ke kediaman Edgar untuk memenuhi undangan makan malam darinya


Beberapa saat kemudian mereka pun segera sampai di sebuah rumah yang terbilang cukup mewah, tidak kalah dengan Rumah mewah yang di bangun oleh Andreas, hanya saja kalau di lihat dari segi ukurannya, rumah Edgar sedikit lebih kecil dan halamannya lebih sempit daripada rumah Andreas


Mereka pun segera turun dari mobil, dan menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke pintu teras rumahnya


Arfan pun langsung memencet bel dekat pintu


Dan salah satu asisten rumah pun segera membuka kan pintu rumah untuk Arfan dan Andreas


"Malam bi, apa bapak ada?" tanya Arfan


"Ada den di dalam, silahkan masuk, tunggu saja di dalam" ucap sang asisten rumah itu,


"Baik bi" Mereka pun segera memasuki rumah Edgar, dan menunggunya di sofa ruang tamu


Tidak lama Edgar pun menghampiri mereka, "Ah pak Arfan, Pak Andreas, Kalian sudah datang ternyata," ucap Edgar langsung menghampiri dan berjabat tangan dengan Arfan dan Andreas


"Gimana perjalanan kesini, apa jalanannya macet?" tanya Edgar basa basi


"Kalau begitu, kita langsung ke dalam saja, istri dan putra putri saya juga sudah menunggu di ruang makan" ucap Edgar


Arfan dan Andreas pun segera beranjak dari duduknya dan mengikuti Edgar menuju ke ruang makan


"Beginilah kondisi rumahku pak Arfan,, mungkin tidak sebesar dan semewah milik kalian, tapi saya membangun nya dengan perjuangan, jadi saya tetap menganggap rumah ini Rumah terbaik di dunia ini" ucap Edgar


'Deggg' Begitu Arfan memasuki Ruangan makan, Arfan pun langsung melihat wajah wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu, wanita yang menorehkan luka yang cukup dalam di hati nya, dan meskipun luka itu kini sudah mengering, tapi sakitnya masih bisa dia rasa,


Seketika mental baja yang sudah dia siapkan sedari awal pun menciut saat Arfan benar-benar harus berhadapan dengan Yovi, dan langkah nya pun terasa semakin berat lagi untuk memasuki ruang makan itu kala tatapan Yovi beradu dengan tatapanya


Tapi saat dia melihat ada sosok wajah lain di ruangan makan itu yang dia kenali juga, Hatinya pun kembali tentram, dan mentalnya kembali terisi penuh,, dan wajah itu tidak lain adalah wajah Nadira yang terlihat sedikit suntuk


Nadira terlihat memakai gaun malam berwarna biru tua, dengan rambut sebahu yang di geraynya, tidak lupa dia juga memberi riasan tipis di wajah dengan bibir berwarna merah merona


Kalung dari Arfan pun terlihat menggantung di leher jenjang Nadira, yang semakin menyempurnakan penampilannya itu

__ADS_1


Seketika pikiranya yang sempat down pun menjadi fresh kembali, dan kepercayaan dirinya pun seperti sudah di charge ulang lagi


Sementara Yovi yang melihat kalau itu Arfan yang datang tidak kalah kagetnya, dia sampai membelalakkan mata hingga bola matanya hampir keluar "Arfan???" tanpa sadar dia menyebut nama pria itu


"Mamah sudah kenal pak Arfan ya?" ucap Edgar


"Tidak,,, maksud ku Ya, kamu kan pernah bilang padaku mas,, kalau yang akan datang kemari itu adalah pak Arfan dan pak Andreas kan?, jadi aku tau" ucap Yovi dwngan sedikit gelagapan


"Oh aku pernah bilang ya?, kalau sudah tua memang suka lupa,, ya sudah pak Arfan, pak Andreas, silahkan duduk" ucap Edgar


Arfan dan Andreas pun segera duduk di kursi yang masih kosong, Arfan sengaja memilih kursi yang berseberangan langsung dengan Yovi, sementara Andreas bersebrangan dengan Gio, putra laki laki dari Edgar yang usianya baru sekitar 16 tahunan, dan di sebelah kiri Gio Ada Nadira kakak kandungnya, Gio sebagai penengah antara Yovi dan Nadira


"Apa anda hanya memiliki dua putra dan putri saja??" tanya Arfan basa basi


"Iya, aku hanya punya mereka" ucap Edgar sambil menatap kedua anaknya


"Terus istri Anda yang mana? yang kiri atau kanan?" ucap Arfan pura pura tidak tau


"Yang di sebrang Anda itu adalah istriku" ucap Edgar yang sekarang duduk di kursi kepala keluarga


"Aku tidak menyangka, istri Anda ternyata masih terlihat cantik meskipun putra putrinya sudah sebesar ini" ucap Arfan membual


Nadira yang mendengar nya pun langsung memelototi Arfan tanda dia tidak suka kalau Arfan memuji ibu tirinya yang hanya selisih usia 5 tahun dengannya itu, dia juga tidak suka dirinya di sebut anak dari wanita pelakor itu


"Kebetulan dia adalah ibu sambung dari Gio dan Nadira, dan usianya juga memang masih muda," ucap Edgar


"Oh,, Anda benar benar beruntung memiliki istri yang masih muda dan cantik seperti dia" ucap Arfan


Sementara Yovi hanya menatap Arfan dengan tatapannya yang tidak mengerti, apa sebenarnya maksud Arfan pura pura tidak kenal padanya


Sementara Nadira merasa sangat ingin muntah mendengar Arfan terus memuji Yovi ibu tirinya itu, dia juga tidak tau kalau Arfan sebenarnya hanya berpura-pura saja, dan dia juga ingin sekali muntah seperti dirinya


"Ya, Anda memang benar, saya memang pria beruntung" ucap Edgar tidak menepis "Ayo kita mulai saja Makan malamnya, mohon maaf, hanya ada masakannya seadanya saja ini" ucap Edgar basa-basi, meskipun Meja makan di penuhi oleh makanan makanan mahal


Mereka semua pun segera memulai acara makan malam mereka,


Saat makan,, Yovi pun diam diam terus mencuri pandang pada Arfan yang di depannya, dia tidak menyangka kalau perusahaan Ednaninternasional_grup itu adalah perusahaan yang di dirikan Arfan dulu, yang aset perusahaannya kini sudah menyentuh angka triliunan

__ADS_1


Padahal dia sangat tau kalau dulu aset perusahaan Arfan itu hanya menyentuh angka ratusan juta saja, dan dia benar-benar tidak menyangka kalau perkembangannya sangat pesat di tiga tahun terakhir itu


Sementara Arfan mengusir kepenatan nya dari wajah Yovi dengan cara mencuri pandang pada Nadira, dan itu bisa sedikit memperbaiki nafsu makannya sekarang


__ADS_2