Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Terseret


__ADS_3

Di cuaca hujan lebat itu,, Nadira, Sindi dan Fani masih berteduh dan duduk duduk di kursi panjang yang ada di area Kampus,,


Dan lagi lagi Ken selalu saja nimbrung di antara mereka, dia bersandar di pilar yang ada di hadapan kursi para wanita,


Ken hari ini memang melamar pekerjaan untuk jadi pelatih di salah satu UKM di kampus Nadira


"Ken, kamu bisa jauh-jauh tidak dari kita?, aku jadi gak bebas ngobrol jika ada kamu di sini" ucap Fani


"Tau nih, seperti parasit saja kamu Ken, gak bisa di singkirin dari inangnya, dasar, parasit" ucap Sindi


"Sudahlah, jangan pedulikan dia, anggap saja dia tidak ada" ucap Nadira


"Nadira, mending kamu pulang naik mobilku saja, supaya kamu tidak perlu kehujanan di jalan, bagaimana??, aku janji akan mengantar mu langsung ke rumahmu," ucap Ken


"Ken,,, harus berapa kali ku bilang, kamu tidak perlu mendekati ku lagi, aku sekarang sudah menikah Ken,,apa kamu masih tidak paham juga" ucap Nadira sedikit kesal karena Ken memang seperti parasit, yang terus datang lagi dan lagi padanya


"Berapa kali juga ku bilang, aku tidak percaya sebelum melihat bukti yang nyata" ucap Ken


"Bukti apa lagi yang kamu butuhkan?, apa kamu masih belum jelas melihat foto buku nikahku dan cincin ini" ucap Nadira memperlihatkan cicindi jarinya


Saat prosesi akad di rumah sakit,, memang tidak ada foto yang di ambil di sana, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk mengambil gambar waktu itu, jadi Nadira hanya bisa memperlihatkan foto buku nikahnya saja di ponselnya


"Aku tidak sebodoh itu Nadira,, Bisa saja itu buku nikah orang lain yang kamu foto,, dan cincin tidak membuktikan kalau kamu sudah menikah, Sindi juga pakai cincin, dia belum menikah kan?, Fani juga fakai, , dan lagi foto di buku nikah yang ada di ponselmu itu tidak jelas, jadi aku tidak yakin kalau itu buku nikahmu" ucap Ken


Nadira langsung berdecak kesal "Ya Tuhan, kau benar-benar sangat menjengkelkan Ken" ucap Nadira, dia Sudah ingin segera pergi dari sana tapi pak Darto masih belum muncul juga meski sudah beberapa saat menunggu


Dan setelah beberapa saat kemudian, hujan mulai mereda, dan Nadira tidak sabar untuk segera pergi dari sana


"Sindi, Fani, kita pulang sekarang saja, mumpung hujanya reda" ucap Nadira


"Bukanya kamu mau di jemput supir Nad?" tanya Sindi


"Hujannya sudah berhenti kan, jadi aku bisa memgendari motorku sekarang,, ayo pulang" ucap Nadira langsung bangkit dan berjalan ke arah motornya


Sindi dan Fani juga segera mengikuti Nadira dan menghampiri motor masing masing


"Nadira," panggil Ken yang masih berdiri di teras kampus "Mau sampai kapan kamu akan terus menghindari ku seperti ini, apa pintu hatimu benar-benar sudah tertutup untuk ku?" tanya Ken


Nadira hanya menoleh sejenak dan tidak berniat menggubrisnya, dia sudah bosan menjawab pertanyaan dari Ken itu, dia langsung mengenakan helmnya dan menghidupkan mesin motor,


Dan Nadira segera mengendarai motornya keluar dari Area Kampus


Ken juga segera beranjak menghampiri mobilnya dan masuk,, dia mengikuti Nadira dengan mobil milik ayahnya itu

__ADS_1


.



Nadira terus berkendara beriringan dengan Sindi dan Fani melewati jalanan basah akibat sudah di guyur hujan,


Hingga saat di persimpangan jalan Fani membunyikan kelaksonya dan mengangkat tangan pada Nadira Karena arah jalan pulang mereka berbeda, jadi mereka berpisah di sana


Dan tinggal Sindi dan Nadira yang berkendara ke satu arah yang sama


Ken juga terus membuntuti mereka dari belakang dengan kecepatan sedang, karena Nadira juga memacu motornya tidak terlalu cepat, dengan Sindi yang memimpin di depannya


Awalnya perjalanan mereka normal noraml saja, namun saat mereka mendekati sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat aliran sungai


Tiba tiba sebuah mobil Van hitam menyalip mobil Ken dari belakang nya,, dengan kecepatan yang tinggi mobil itu mendahului mobil ken


Mobil itu terus melaju kencang ke arah motor Nadira


Nadira yang di motornya sadar akan kehadiran mobil itu dari kaca spionnya, dia melihat mobil itu semakin mendekat ke arah motornya dengan cepat, sontak motor Nadira sedikit oleng ke bahu jalan mencoba untuk menghindari kemungkinan di tabrak mobil itu


Mobil van hitam yang memang sengaja mengincar motor Nadira itu tidak menyalip kendaraan Nadira dan malah terus mengikuti pergerakan dari motor Nadira itu,


Dan apa yang di khawatir kan Nadira pun akhirnya terjadi,, Mobil itu dengan cepat menabrak bagian belakang motor Nadira hingga membuat motor yang di kendarai nya terpental cukup jauh ke pinggir jalan


Nahas, tubuh Nadira yang terpelanting dari motornya langsung masuk ke sebuah drainase di pinggir jalan, arus airnya mengalir cukup deras karena hujan sebelumnya, dan ironisnya aliran air itu tepat mengarah ke sungai yang ada di bawahnya


Helm yang di pakai Nadira sampai terlepas saat kepalanya membentur pinggiran saluran air itu


Nadira yang tercebur mencoba meraih apapun untuk dia jadikan pegangan, "Toloooooong" teriak Nadira,, namun debit air yang sangat deras itu mendorong tubuh Nadira dengan cepat dan tidak mampu Nadira tahan


Hingga akhirnya air di saluran itu menghanyutkan tubuh Nadira ke aliran sungai yang arusnya lebih deras lagi di bawahnya, dan Nadira tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan dirinya sendiri,



Sindi yang sadar ada yang terjadi di belakangnya juga sedikit oleng ke bahu jalan dan menoleh pada Mobil yang mengarah ke arahnya juga,


Namun Sindi sedikit lebih beruntung dari Nadira karena dia hanya terserempet dan jatuh ke trotoar 'Bruuukk' "Aaaww" lirih sindi


Sindi langsung melihat ke arah motor Nadira yang sudah teronggok di pinggir jalan, dia bangkit dan berlari ke arah motor Nadira meski dia merasakan sakit di tangannya,, dia langsung mencari keberadaan sahabatnya


"Nadiraaaaaa, kamu di manaaaaa?,,, naaaaadd" triak Sindi dengan memperhatikan sekeliling nya, tapi dia tidak melihat Nadira di mana pun


Tak lama Ken datang menghampiri Sindi

__ADS_1


"Nadiraaaaa,, Nadiraaaaaa" teriak Ken ke arah sungai


"Ken, Nadira kemana?, kenapa dia tidak ada, motornya ada di sini kan?" tanya Sindi


Ken langsung menurunkan lututnya ke lantai trotoar, dia melihat jelas kalau Nadira terseret arus Air sebelumnya, dan dia tidak tau harus melakukan apa sekarang, karena Nadira sudah hilang dari pandangan nya


"Ken, jawab pertanyaan ku, kenapa diam saja, Kemana Nadira, hah??" Sindi mulai merasa panik


"Nadira hanyut ke sungai Sind" ucap Ken dengan wajah linglung


Sontak Sindi langsung menoleh ke arah sungai yang aliran airnya cukup deras "Tidak tidak tidak, tidak mungkin,,, Nadiraaaaaaaa" teriaknya, air mata Sindi mulai menetes kala membayangkan Nadira terombang ambing oleh air sungai yang deras itu


"Ken, tolong lakukan sesuatu, tolong Nadira Ken, cepatlah" ucap Sindi panik


"Aku bisa apa??,, apa aku harus terjun ke sungai juga untuk menolong nya?, itu tindakan bodoh Sindi" ucap Ken


"Tapi, tapi Nadira bagaimana, apa yang harus aku lakukan??" ucap Sindi langsung ambruk dan mendududkan dirinya di trotoar dan menangis keras di sana dengan memanggil manggil nama Nadira


Tidak lama orang orang di sekitaran tempat itu mulai berdatangan untuk melihat kecelakaan yang terjadi, dan mereka mengira Sindi lah korabnnya karena dia menangis seperti kesakitan,


jadi mereka mencoba menenangkan Sindi yang menangis keras dengan meneriakan Nama Nadira terus menerus,,


.


...°°°°...


Sementara di sisi lain Arfan masih fokus di depan komputer nya, dia menyesap teh panas di cangkir nya, namun saat dia menaruh cangkir teh di meja tiba tiba saja cangkir teh itu tumpahdan membanjiri mejanya, dan bahkan teh panas itu tumpah ke celananya


"Ahhh,, Sialll,,, apa apaan ini,, panas sekali" ucap Arfan yang langsung berdiri dari duduknya dan mengibas ngibaskan celananya yang tersiram air teh panas


Dan tiba-tiba saja ponsel di mejanya juga menyala dan bergetar tanda panggilan masuk, Arfan meraihnya dengan kasar dan mengangkatnya,


"Hallo, ada apa sind?" tanya Arfan


📲"Kak Arfan, Nadira hilang" ucap Sindi dengan menangis


"Kamu jangan bercanda Sind, tidak lucu" ucap Arfan


📲 "Aku mohon kakak kesini segera," ucap Sindi lagi dengan menangis


Arfan terdiam sejenak dan menyimpulkan kalau ucapan Sindi itu serius,, karena dia mendengar tangisan dari sindi,


Arfan langsung beranjak dari kursinya "Baik, di mana posisimu sekarang Sind???!" tanya Arfan panik, dia pun tergesa-gesa keluar dari ruangannya itu untuk segera pergi ke tempat Sindi berada saat ini

__ADS_1


__ADS_2