
Arfan segera mengantar Narita untuk membeli bahan bahan makanan ke supermarket terdekat, Sementara Andreas tidak ikut dan hanya menunggu di rumah Nadira
"Kak Andreas, mau ini tidak??" tanya Sindi mengambil toples coklat yang di bawanya dari rumah sakit
"Boleh, tapi aku mau di suapain" ucap Andreas yang sudah tidak sungkan lagi pada Sindi
"Ih, manja sekali kamu ternyata, tapi ya Baiklah karena kamu sudah sangat baik padaku dan sahabat ku, aku tidak akan keberatan" ucap Sindi yang langsung mengambil satu kue bola coklat dari toples, dan menyodorkan nya langsung ke mulut Andreas
Andreas juga langsung melahapnya sambil tersenyum
"Enak tidak?,, kalau menurutku ini enak, aku sangat suka, kapan kapan aku akan beli yang kayak gini buat cemilan" ucap Sindi
"Ya, ini memang Enak" ucap Andreas
"Boleh aku berpendapat,?" tanya Nadira
"Pendapat Apa?, soal kue?" tanya Sindi
"Bukan, ini soal kalian, apa kalian tidak merasa kalau kalian itu cocok" ucap Nadira
"Apa maksudmu Nadi?, kamu jangan mengadi-ngadi," ucap Sindi dengan pipi yang memerah
"Aku serius, kak Andreas,, apa kamu menyukai Sindi?, kulihat Kamu sangat dekat dengannya Akhir akhir ini" tanya Nadira
Andreas sedikit terbatuk mendengar pertanyaan dari Nadira itu "Uhuk,, Tidak,,,, maksudku, aku memang menyukainya sebagai teman, dia memang nyambung di ajak ngobrol" ucap Andreas sedikit gelagapan
"Oh, cuma itu??, o ya Sind apa Ayahku menanyakan kabarku selama aku di ruamah sakit??" tanya Nadira mengalihkan topik,, dia tidak berniat menelisik nya lebih dalam, kalaupun memang Iya Nadira berpikir tidak perlu ikut campur soal mereka,, karena Topik itu juga mungkin belum tepat jika di bicarakan sekarang, jadi diapun mengalihkan obrolan ke arah lain, sambil menunggu ibuya pulang dari berbelanja
…
Setelah Beberapa saat berlalu, akhirnya Narita pun pulang dengan seabreg barang belanjaan di mobil Arfan, tidak hanya berbelanja kebutuhan dapur, dia juga membeli baju dan anting anting untuk dirinya,,
"Dira, Sindi, tolong bantu ibu angkat belanjaan ibu di depan" ucap Narita yang terlihat hanya membawa paferbag kecil di kedua tangannya
"Bu, itu apa?, kok kantongnya seperti bukan bahan makanan" ucap Nadira yang sadar tentang itu
"Bukan lah, ini baju baru tau, ini di belikan nak Arfan, anting ibu ini juga, lihatlah, bagus kan?" ucap Narita
"Ya ampun bu, ibu ini benar-benar merepotkan pak Arfan saja, mau di taruh di mana wajah Nadira bu" ucap Nadira
__ADS_1
"Ya taruh di situ saja, memangnya kamu mau taruh dimana lagi, ini bukan ibu yang minta, tapi nak Arfan yang nawarin, Sayang kan kalau nolak rejeki, sudah sana ambil belanjaan di depan, atau pak Arfan akan kerepotan membawanya kesini" ucap bu Narita
"Ibu benar-benar, suka sekali ngerepotin orang" gerutu Nadira sambil berlalu dari hadapan ibunya dengan di ikuti Sindi, dan segera bergegas ke depan gang ruamhnya untuk mengambil belanjaan ibunya di mobil Arfan
Begitu mereka sampai, Arfan sudah mengeluarkan beberapa kantung kantung berisi bahan bahan masakan dari bagasi mobil mewahnya, dan menentangnya di kedua tanganya
"Ya ampun Kak, aku benar-benar minta maaf sudah merepotkanmu" ucap Nadira sambil mengambil sebagian belanjaan yang di bawa Arfan
"Hey, kakimu baru sembuh kan, kenapa jalan kemari?, ini biar aku saja yang bawa, kamu tidak usah bantu" ucap Arfan
"Tidak, ini ibu sudah keterlaluan sekali namanya, dia memanfaatkan kebaikan mu kak, lain kali kamu tidak usah tawari dia sesuatu, aku tidak enak jadinya" ucap Nadira yang membagi belanjaan Dari Arfan ke Sindi untuk dibawanya sebagian
"Tidak apa, aku senang bisa membantu ibumu, jujur aku sudah tidak punya ibu lagi sekarang, jadi aku anggap aku membelikan sesuatu itu untuk ibuku, jadi tidak perlu merasa tidak enak," ucap Arfan
"Tapi aku benar-benar merasa tidak enak, kakak janji ya, tidak ada lain kali lagi, atau ibuku akan semakin menjadi jadi" ucap Nadira
"Iya Iya baiklah, Gian, tolong kamu bawakan karung itu" ucap Arfan menunjuk karung yang masih teronggok di bagasi mobilnya
"Baik tuan" ucap Gian, dia kini mengikuti Arfan kemana pun dia pergi sebagai pengawalnya, dan membantu apapun yang di lakukan Arfan tanpa banyak bertanya
Setelah semua barang sudah di bawa ke ruamah Nadira, Arfan dan Andreas pun segera pamit
"Maaf ya, jadi benar-benar merepotkan mu" ucap Nadira
"Tidak apa, santai saja" ucap Arfan
"Dan sekali lagi terima kasih banyak untuk semuanya" ucap Nadira tersenyum canggung
"Iya, sering sering main kemari ya," ucap Narita
"Iya bu, kalau ada waktu aku pasti main lagi kemari," ucap Arfan
"Ibu tunggu lho" ucap Narita
"Ya Sudah kami pamit" ucap Andreas
"Iya Sampai ketemu lagi kak Andreas" ucap Sindi sedikit melambaikan tangannya
Andreas pun hanya tersenyum dan kemudian mereka berdua segera meninggalkan kediaman Nadira itu
__ADS_1
.
…
Keesokan paginya, Nadira sangat bersemangat untuk memulai kembali aktivitasnya, dia mandi, berganti baju, dan tidak lupa dia memakai hils kesayangannya lagi yang sudah lama tidak dia gunakan semenjak kakinya mengalami cedera,, dan setelah sarapan dia pun segera berangkat ke kantor Anggera _land dengan wajah yang sumringah
Seperti biasa Nadira sudah di tunggu Sindi di depan kantor ayahnya itu, karena jarak kosan Sindi memang lebih dekat daripada tempat tinggal Nadira sekarang
"Pagi bestie" sapa Nadira yang langsung menghampiri Sindi
"Pagi juga bestie ku" ucap Sindi yang langsung saja merangkul tangan Nadira "Tanpa tongkat rasanya kamu sangat berbeda Nadi, kamu lebih tinggi ya" uca Sindi
"Aku kan sekarang pakai hils sindi, ya jelas tinggi lah" ucap Nadira
"Wah wah, si lumpuh ternyata sudah sembuh ya, pantesan lama sekali aku tidak melihatmu di kantor ini, aku pikir tidak akan melihatmu lagi selamanya" ucap Yovi yang Baru saja datang dengan menggandeng tangan Edgar
Nadira menoleh sejenak ke arah Yovi, dan menoleh kembali ke Sindi "Apa kamu mendengar suara nenek sihir barusan?" tanya Nadira
"Iya, aku mendengarnya, tapi entah darimana suaranya" ucap Sindi
"Lebih baik kita pergi sekarang, rasanya bulu kuduku sedikit merinding jika lama lama di sini, aku merasakan hawa hawa negatif pelakor yang menyebar di area sini" ucap Nadira
"Iya benar, ayo pergi" ucap Sindi yang langsung menarik Nadira untuk beranjak dari depan Yovi dan Edgar
Yovi pun nampak sedikit kesal oleh gelagat Nadira "Mas, anak mu kurang ajar padaku, kenapa kamu tidak menegur nya, aku tidak mau tau, kamu harus memotong gajinya" ucap Yovi
"Kan kamu yang mulai duluan, jadi tidak salah kalau dia bicara seperti itu kan" ucap Edgar mencoba netral
"Oh, jadi sekarang kamu lebih belain anak kamu itu daripada aku, oke, mulai detik ini aku marah padamu" ucap Yovi sambil melepaskan gandenganya dari tangan Edgar dan bergegas masuk ke lobi dengan langkah yang cepat
"Sayang, masa gitu saja marah sih, ayolah" ucap Edgar yang mencoba mengejar langkah Yovi itu,
Dan akhirnya Yovi bisa di kejar Edgar saat dia sudah duduk di kursinya "Oke oke aku akan beri Nadira hukuman dengan memotong gajinya, apa sekarang kamu tidak marah lagi??" ucap Edgar
"Lakukan lah, tapi aku juga mau kamu segera mendatangani surat yang ku ajukan itu, kalau tidak, aku akan marah selamanya padamu" ucap Yovi
"Kalau soal itu, aku tidak bisa mengatasnamakan perusahan ini atas namamu, aku harus membicarakan nya dulu dengan petinggi kantor yang lain" ucap Edgar
"Apa kamu tidak percaya padaku??, mas, aku mau kamu mendatangani itu supaya aku punya wewenang yang jelas di kantor ini, aku merasa di pandang sebelah mata jika hanya bersetatus sebagai Istrimu, aku juga mau memajukan perusahaan ini bersama mu, apa kamu tidak percaya padaku? kalau kamu memang menyayangiku, harusanya kamu bisa memberiku kepercayaan itu" ucap Yovi membual
__ADS_1