Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Extra part (MP)


__ADS_3

Mereka melewati acara resepsi pernikahan di hari itu dengan penuh suka cita, hingga tentunya ada hal yang mereka nantikan setelah mereka menyelesaikan rangkaian acara yang lumayan panjang itu,


Ya itu malam pengantin mereka, terutama bagi Andreas yang baru saja resmi jadi seorang suami dari Sindi


Mereka berempat pun langsung beranjak menuju ke kamar pengantin mereka,, dan kebetulan pintu kamar pengantin mereka itu persis bersebrangan di hotel itu,, jadi mereka bersama-sama berjalan ke arah yang sama saat ke luar dari lift hotel


Hingga saat Andreas ingin membuka pintu kamar hotel nya, Arfan menepuk pundak nya dari belakang


"Dre, kalau kau mengalami kesulitan nanti, panggil aku saja,, aku siap membantu" ucap Arfan Asal


"Apa maksudmu??" tanya Andreas


"Setauku kau belum berpengalaman,, jadi jangan sungkan kalau kau ingin meminta bantuan ku" Arfan langsung mendekat kan mulutnya ke telinga Andreas, dan membisikkan sesuatu padanya, "belah duren itu tidak semudah imajinasimu" bisik Arfan


"Sialan kau, ku pikir apaan" ucap Andreas


"Bicara apaan sih sayang?, paket bisik bisik segala," ucap Nadira sedikit penasaran


"Tidak,, hanya candaan saja Sayang,, Dre, semoga berhasil ya" ucap Arfan pada Andreas sambil menepuk nepuk pundaknya lagi


"Kau benar-benar meremehkan ku" ucap Andreas dengan tersenyum


Sementara Sindi tidak berkomentar apapun, dia malah merasa panas dingin sendiri kala membayangkan harus melewati malam pertamanya itu


Mereka pun segera masuk ke kamar pengantin mereka masing-masing, dan langsung menuju ke ranjang pengantin mereka yang sama sama sudah bertabur kelopak bunga mawar merah di atas kain berwarna putih itu



Di kamar pengantin Arfan dan Nadira,


Nadira langsung merebahkan diri di ranjang pengantin nya itu karena sedikit merasa lelah, Sementara Arfan hanya duduk di pinggiran ranjang di sampingnya, dan melepaskan jasnya


"Aku sudah melunasi hutang ku, ku harap kau merasakan kebahagiaan yang seutuhnya sekarang" ucap Arfan


Mendengar pernyataan dari Arfan,, Nadira langsung mendudukkan dirinya lagi dan menyandarkan kepalanya di bahu Arfan seraya memeluknya


"Kamu ini bicara apa sih?, aku sudah bahagia dari awal kita menikah, aku tidak pernah merasa tidak bahagia karena kita belum mengadakan resepsi pernikahan" ucap Nadira


Arfan langsung mencium rambut di ubun Nadira dan mengelusnya juga


"Aku tau, kau tidak pernah menuntut apapun dariku, dari itu kau layak menerima semuanya,, dan dengan ini,, aku merasa sudah benar-benar memiliki mu sekarang" ucap Arfan


"Terus??" tanya Nadira dengan mendongak


"Ya tentu aku tidak akan segan lagi melakukannya padamu" ucap Arfan


"Lakukan saja, aku tidak pernah memberimu syarat apapun untuk melakukan nya" ucap Nadira


"Iya,, Iya,, o yah, kira kira, Andreas dan Sindi sedang apa sekarang?,, kalau menurut ku, mereka sekarang pasti langsung melakukan nya, secara mereka pasti sudah tidak tahan" ucap Arfan

__ADS_1


"Apa itu tebakan mu, kalau menurut ku, mereka belum melakukan nya sekarang,, Sindi itu sebenarnya sangat pemalu" ucap Nadira


"Masa??, tapi menurut penilaian ku tidak begitu, dia lebih berani darimu, jadi ku pikir dia akan lebih mendominasi daripada Andreas"


"Aku sangat kenal Sindi,, kalau begitu kita bertaruh, siapa yang benar siapa yang salah,, bagaimana?" ucap Nadira


"Siapa takut" ucap Arfan yang langsung saja memeluk Nadira ke tempat tidur


...°°°...


Sementara di kamar pengantin Andreas dan Sindi,


Terlihat Andreas dan Sindi hanya duduk bersebelahan di pinggir tempat tidur mereka, tapi belum ada yang memulai sesuatu yang panas di sana, mereka hanya saling diam dengan sesekali saling menoleh


"Sind, apa aku boleh lihat punyamu sekarang?" tanya Andreas dengan ragu ragu


"Lihat apa?" tanya Sindi tidak mengerti


"Ya itu pokoknya, kamu buka gaun mu ya" ucap Andreas melirik Sindi


"Tapi aku malu" ucap Sindi


"Sekarang kita sudah menikah kan, masa harus malu malu" ucap Andreas


"Iya, tapi tetap saja aku sedikit malu, punyaku kecil" ucap Sindi


"Tidak papa, aku tidak akan mempermasalahkan ukuran,, ayolah" Andreas langsung mencoba meraih gaunya itu


"Masa tidak boleh, ini kan sudah hak ku sekarang" ucap Andreas


"Oh, Iya maaf, aku lupa" ucap Sindi


"Boleh ya?" ucap Andreas


"Mmm" ucap Sindi dengan menundukan pandanganya


"Yess" hal pertama yang Andreas lakukan adalah meraba benda kenyal Sindi dari luar,


Setelah itu Andreas pun mendekat kan wajahnya ke wajah Sindi untuk menciumnya, tapi Sindi malah mundur perlahan untuk menghindarinya,, sambil terus beradu tatapan dengan mata Andreas yang terus mendekat,


Andreas terus membidik bibir Sindi itu hingga akhirnya Sindi pun terbaring di tempat tidur, dan dia tidak bisa menghindar lagi dari Andreas,


Akhirnya Andreas pun bisa mencium bibir sindi itu


Mereka berciuman di posisi itu tidak terlalu lama, karena Andreas sudah tidak sabar ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi


"Buka sekarang ya" ucap Andreas


Sindi langsung menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Ayolah sayang, apa kamu tidak menginginkan nya?" tanya Andreas


"Bu bukan begitu, aku aku malu" ucap Sindi


"Tidak perlu malu, ayo" ucap Andreas yang merasa sudah tidak sabar, dia pun menarik tangan Sindi perlahan hingga membuatnya terduduk lagi di tempat tidur dengan membelakanginya


Andreas mulai menurunkan resleting gaun yang di pakai Sindi


Dada Sindi pun langsung berdegup kencang se iring turunnya resleting gaunya itu, dan Andreas segera menurunkan gaun dari bahu Sindi itu ke bawah dengan perlahan,


Hanya saja,, pembukaan pertama Andreas itu ternyata zonk, karena Sindi masih mengenakan tank top merah muda di dalam gaun indahnya itu, jadi dia tidak bisa langsung melihat kulit punggung Sindi yang indah


Sindi juga tidak menolak Saat Andreas melolosi gaunya,


Namun Andreas lagi lagi tidak langsung melihat apa yang ingin dia lihat, karena Sindi juga menggenakn celana pendek, bukan segitiga pengaman


Setelah gaunnya itu lepas dari tubuhnya, Sindi langsung merasa sedikit kedinginan, jadi dia dengan cepat Masuk kedalam selimut


Tentu Andreas langsung menghampiri nya lagi, "Hey, kenapa malah sembunyi, aku ingin melihatnya" ucap Andreas


"Dingin tau, apa kamu ingin membuatku mati kedinginan di sini?" tanya Sindi


"Bukan begitu sayang,, Baiklah,, supaya adil aku juga akan melepasnya" ucap Andreas, diapun segera melepaskan pakaiannya satu persatu, dan masuk kedalam selimut juga


"Hey, kau ini apa apaan," ucap Sindi lasung memejamkan mata saat melihat Andreas hampir polos juga


Andreas langsung memeluk Sindi di dalam selimut,,


"Ini supaya adil kan, sekarang lepas punya mu, ya" ucap Andreas masih mencoba membujuk


"Tidak, di sini dingin" ucap Sindi kekeh


"Aku akan menghangatkan mu, percayalah" ucap Andreas


Andreas memang belum tau caranya untuk mulai, yang dia tau mereka hanya perlu polos dan lakukan, dia tidak kepikiran sebelumnya kalau dia harus membujuk dan merayu juga,


Dia belum mahir seperti permainan Arfan yang mengalir kemudian menghanyutkan


Tapi dia tetap mencoba membujuk Sindi dengan caranya sendiri untuk melakukan nya, dan pada akhirnya, Sindi pun mau melepas bagian bawahnya, Sementara bagian atas masih dia pertahankan


Dengan begitu, Andreas pun langsung saja ke poko utamanya, tanpa memikirkan ini itu dulu


Dan ternyata itu memang tidak semudah imajinasinya, selain karena itu pertama kalinya untuk mereka berdua, lembah Sindi juga belum menghasilkan pelumas yang mendukung pergerakan Andreas


Dan Sindi juga terlihat sedikit tegang, Jadi itu sedikit menyulitkan Andreas untuk melakukan nya


"Ssshh, Aw Aw Aw,, sakit sayang" lirih sindi langsung merapatkanya lagi saat Andreas mencobanya


Andreas kebingungan sendiri, karena dia belum tau jalan untuk masuk, yang dia tau kalau itu kesana tinggal masuk saja,, tanpa perlu permisi

__ADS_1


Dia menghela napasnya, dengan keringat yang mulai bercucuran 'Sial,, ku pikir ini akan mudah' pikir Andreas


...~°~...


__ADS_2