Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pgykr 10


__ADS_3

Nadira merenung beberapa saat sebelum akhirnya dia menerima hadiah itu, dia tidak mau membuat Andreas tersinggung kalau dia menolak pemberian nya, tapi di sisi lain dia juga takut kalau nantinya Andreas meminta balasan dari kebaikannya itu, Nadira Takut kalau dirinya hanya akan di permainkan oleh nya saja,, toh juga mereka baru kenal, jadi Nadira belum tau sifat asli mereka sebenarnya itu seprti apa


"Baiklah,, aku terima, terima kasih banyak" ucap Nadira


"Kalau begitu pakailah, aku ingin melihat mu memakainya" ucap Andreas


"Pakai di sini??" tanya Nadira


"Tentu saja" ucap Andreas


"Baiklah" ucap Nadira, diapun segera mengambil kalung itu, dan memperhatikan liontin simpel yang bertahtakan berlian itu sejenak, 'Ini indah sekali, ya ampun' ucap batinya dengan mata yang berbinar


Nadira pun mengambil dua ujung dari tali kalungnya dan mencoba untuk memakaikan ke lehernya, namun ternyata dia sedikit kesulitan saat dia harus memadukan pengait di dua ujungnya itu, dia pun hanya sunyam senyum tidak jelas pada Andreas, dia mearasa canggung karena tidak berhasil mengaitkan dua ujung pengait itu di tengkuknya


Andreas pun sadar kalau Nadira perlu bantuan untuk memakai nya "Apa sulit?,, biar ku bantu saja" ucap Andreas, diapun beranjak dari duduknya untuk membantu


"Iya, ini sedikit sulit" ucap Nadira malu malu


"Ya sudah, sini" ucap Andreas, diapun membantu Nadira untuk memakai nya "Sudah" ucap Andreas saat dia sudah berhasil, diapun kembali duduk lagi dan memperhatikan Kalung yang Sekarang tergantung di leher Nadira


"Cantik" ucap Andreas


"Iya, ini memang cantik sekali", ucap Nadira sambil menyentuh lionti dari kalungnya dan mencoba melihatnya


"Bukan liontinya, tapi kamunya yang cantik" ucap Andreas


Pipi Nadira pun langsung merah merona karena pujian Andreas itu "Terimakasih," ucap Nadira sambil sedikit menundukan pandangan nya,


"O yah kak, apa aku boleh foto bareng kalian?" tanya Nadira yang teringat rencananya untuk pamer pada teman dekatnya itu

__ADS_1


"Boleh lah, dengan senang hati" ucap Andreas


"Baguslah" Nadira pun segera mengeluarkan ponselnya untuk mengambil Foto mereka bertiga, dan 'cekrek, cekrek' beberapa Foto pun langsung di dapatkan di ponselnya, Nadira pun segera melihat hasilnya, dan langsung tersenyum senang "Bagus kak, terima kasih ya" ucap Nadira


Arfan yang meperhatikan gelagat Nadira pun merasa ikut senang juga bisa melihat senyum manis di wajah gadis yang sudah membawa kesembuhan baginya itu, itu terlihat sangat berbeda dari Nadira yang biasa menemuinya di pos tua, karena biasanya dia selalu saja ada masalah yang di bawanya dari Rumah, yang membuatanya murung dan membuat senyum manisnya itu jarang terlihat


Dan setelah itu Andreas pun segera mengantarkan Nadira untuk kembali ke gerai nya lagi,


.


"Terima kasih ya untuk semuanya, aku tidak menyangka kalau Pak Andreas yang sering ku lihat di majalah bisnis itu adalah orang yang sangat baik" ucap Nadira yang kini sudah berdiri di depan gerainya dengan di antar oleh Andreas


"Sama sama, jasa mu lebih besar daripada itu" ucap Andreas


Nadira pun jadi bingung dengan perkataan Andreas itu "Maksudmu jasa apa ya?, aku rasanya tidak pernah berbuat suatu hal untuk mu" ucap Nadira


"Ada suatu hal yang sudah kamu lakukan untuk ku dan seseorang, tapi aku tidak bisa mengatakan apa itu, biar dia saja yang mengatakannya" ucap Andreas


"Ya sudah, kalau gitu aku balik dulu ke kantor sekarang" ucap Andreas


"Iya, sekali lagi terimakasih banyak" ucap Nadira


Andreas pun segera berbalik dan melangkah ke arah mobilnya lagi


"Dah" ucap Nadira pelan sambil sedikit melambaykan tangan meskipun Andreas tidak menengoknya


Dan yang membalas lambayan tangan Nadira justru malah Arfan yang ada di dalam mobil "Dah, sampai ketemu lagi lain waktu gadis" gumam Arfan dari dalam mobil


Dan tentu saja Nadira tidak tau hal itu, setelah dia melihat Andreas masuk ke mobilnya, diapun juga masuk ke gerainya,

__ADS_1


Entah bagaimana dia harus mendeskripsikan rasa senang nya sekarang, andai kata kakinya masih normal, mungkin saja Nadira akan jingkarak jingrak, atau loncat loncat, atau mungkin salto salto untuk mendeskripsikan kalau dia sangat merasa senang sekarang


Tapi dia sekarang hanya bisa bersandar pada pintu dan meraih liontin pemberian dari Andreas itu "Ya Tuhan,aku sangat senang sekali hari ini, terima kasih untuk hari ini, aku rasanya tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi hari ini," ucap Nadira


"O Iya, Aku harus segera mengirimkan fotoku pada Sindi" ucap Nadira yang langsung meraih ponselnya dan mengirimkan Foto itu pada sahabatnya


Tidak lama Sindi pun langsung menelpon Nadira, dan Nadira pun segera mengangkat nya


📲 "Hallo Nadi, apakah itu benar-benar Fotomu dan Andreas ednan?,, itu bukan hasil editan kan?" ucap Sindi di telpon


"Tentu saja itu asli, itu benar-benar foto barusan saat aku makan siang dengannya, keren kan?" ucao Nadira


📲" Keren banget, aku jadi iri padamu, O yah, bagaimana ceritanya kamu bisa makan bareng dengan Andreas??" tanya Sindi


"Entah lah, aku juga tidak tau, tadi pagi dia tiba tiba menemuiku di gerai, awalnya aku juga tidak menyangka kalau itu dia, tapi dia langsung memperkenalkan dirinya, dan yang lebih mengherankannya lagi, dia tau namaku sin" ucap Nadira


📲"Wah, kamu memang benar-benar beruntung Nadi, O yah kapan kapan kalau dia mengajak mu makan lagi kamu kabari aku ya,, awas lho kalau enggak" ucap Sindi


"Entahlah, aku tidak tau akan ada yang kedua kali atau tidak, tapi ya lihat nanti saja" ucap Nadira


📲"Pokonya harus, biar aku kebagian pria yang di sebelah nya itu lho, dia juga tampan Nadi" ucap Sindi


"Itu kakaknya Andreas, namanya Arfan, dia sudah cukup dewasa, jadi aku tidak yakin kalau dia masih sendiri" ucap Nadira


Mereka pun terus mengobrol di telpon dengan waktu yang lumayan lama, topik mereka pun terus sambung menyambung jadi satu


Dan setelah Nadira mengakhiri panggilannya, diapun baru teringat pos tua "O Iya Paman, aku lupa belum menengoknya lagi, mungkin dia sudah ada di posnya sekarang" gumam Nadira, diapun segera pergi keluar dan berjalan ke pos tua yang hanya berjarak sekitar Sepuluh meteran dari gerainya itu


Namun saat dia melihat pos itu, di dalamnya masih saja kosong seperti sebelumnya "Paman, di mana pun kamu berada, mudah mudahan kamu baik-baik saja" ucap Nadira sambil menatap tikar yang biasa di gunakan Arfan di pos itu

__ADS_1


Setelah itu dia berbalik kembali ke gerainya lagi dengan wajah sedikit murung lagi, entah kenapa dia merasa kalau kebahagiaannya itu tidak lengkap jika dia tidak bercerita pada pria gila yang pernah menolong nya,


Mungkin karena sebelumnya dia selalu menceritakan masalah apapun padanya, karena hanya dia satu satu nya orang yang tidak bosan bosanya mendengarkan keluh kesahnya


__ADS_2