
Arfan mengajak Nadira pergi dengan menggunakan motor tua nya, dia sengaja menyuruh Gian untuk mengantarkan nya ke kediaman Edgar , karena dia berpikir sebelumnya Nadira cukup menyukai motor klasik nya itu
"Kenapa kita pergi naik motor?" tanya Nadira
"Sebelum nya kau sangat menyukai motor ini, jadi aku pikir kau tidak akan keberatan jika kita pergi menggunakan ini" ucap Arfan
"Oh, begitu ya, tentu tidak lah" ucap Nadira
Arfan kemudian memakai kan helm ke kepala Nadira, "Sudah siap kan?, ayo naik" ucap Arfan
"Mmm"
Kemudian mereka pun segera pergi mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi bersama, saat mereka masih berstatus pacaran,
Tempat yang di kunjungi di awal tentu tempat favorit Nadira untuk bolos, ya itu taman musik
Kemudian mereka juga mengunjungi rumah ibunya yang sebelumnya,, yang berada di sebuah pemukiman gang,,
Setelah nya, barulah Arfan mengunjungi gerai kecil tempat Nadira dulu bekerja, yang kini sudah di jaga oleh orang lain
"Mbak, kami numpang duduk sebentar di sini" ucap Arfan pada sang penjaga kounter wanita yang ada di dalamnya
"O Iya silahkan pak" ucap penjaga kounter itu
Arfan memperhatikan penjaga konter yang seolah itu Nadira di masa lalu
"Di sinilah kita pertama kali bertemu, karena kau sebelumnya bekerja di sini,, Aku juga sebelumnya hanya seorang pria gila yang tinggal di pos sana" ucap Arfan sembari menunjuk pos tua yang sempat jadi spot Favorit Arfan untuk berdiam diri
"O yah??"
"Ya,, dan apa kau tau,, kenapa gadis cantik seperti mu bisa berteman dengan orang gila?" tanya Arfan
"Apa alasannya??" ucap Nadira antusias untuk mendengarkan
"Itu karena aku pernah menyelamatkan mu dari seseorang yang sempat ingin merampok geraimu di suatu malam" ucap Arfan
"Oh, begitu ya, terus??" tanya Nadira
__ADS_1
"Ya Intinya begitu saja awalnya, dan kita mulai berteman sejak saat itu" ucap Arfan
"lalu bagaimana ceritanya kamu bisa sembuh?,, dan kita bisa pacaran?" tanya Nadira lagi
"Kau itu tipe wanita yang tidak memandang orang dari siapa dan bagaimana orang itu, yang kau cari hanya seseorang yang bisa memberikan kenyamanan padamu, mungkin juga karena sebelumnya kakimu lumpuh, jadi kau tidak punya banyak teman saat itu, dan teman mu hanya orang gila itu saja. Seiring berjalannya waktu, kejiwaan ku yang saat itu terganggu juga perlahan medapatkan kesembuhan, itu mungkin karena aku merasa di hargai olehmu saat itu,, setelah sebelumnya aku merasa terbuang oleh mantanku pacar ku yang terdahulu, yang dengan sengaja dia menikah dengan orang lain, intinya kau waktu itu bagaikan Dewi penyembuh bagiku" ucap Arfan
Nadira hanya terdiam dan mencoba mengingat kenangan yang di cerita kan oleh Arfan itu,
"O yah, apa kamu mau lihat pos tua itu?" tanya Arfan
Nadira yang masih mencoba menyelami pikiran nya sendiri pun langsung menyahut "Oh, boleh" ucap Nadira
Mereka segera beranjak ke pos tua yang jadi tempat paling bersejarah bagi mereka, karena di sana lah awal lembaran baru mereka di mulai
Setelah mereka sampai Arfan masih punya rencana
"Tunggu sebentar" ucap Arfan berbalik dan memakai atribut paman gilanya yang sudah dia persiapkan di tas kecilnya, dan setelah selesai menggunakanya, Arfan langsung berbalik sekaligus pada Nadira, dan "Tara" ucap Arfan
Nadira langsung terkekeh saat melihat Arfan menggunakan lagi kumis dan jenggot palsunya "Kamu apa apan sih?, keliahtan Aneh tau" ucap Nadira seperti terhibur oleh penampilan Arfan
Nadira tidak bisa berhenti terkekeh saat memperhatikan penampilan Arfan, Namun tiba-tiba saja bayangan bayangan samar tentang sosok Arfan itu mulai masuk ke kepala Nadira, sontak dia mengehentikan tawanya, dia langsung memejamkan matanya, dan juga memegangi keningnya "Aaaah,,, apa ini" Nadira merasa kalau otaknya berputar sangat kencang
"Sayang, kamu kenapa??" ucap Arfan langsung memegangi bahu Nadira saat menyadari gelagat nya
"Aku pusing sekali" ucap Nadira
"Benarkah,, kalau begitu kita sudahi saja, kita pulang sekarang ya,, kamu jangan banyak berpikir dulu" ucap Arfan
Tapi Nadira merasa dirinya tidak kuat menampung pikiran samar yang tiba tiba saja memenuhi kepalanya itu, dan itu membuatnya merasa sangat pusing, dan pada akhirnya Tubuh Nadira melemas, dan dia pun mulai kehilangan kesadarannya di dekapan Arfan
"Nadira,, Nadira, kamu kenapa??, Aiya,, aku lupa kalau kau tidak boleh terlalu banyak pikiran dulu" ucap Arfan langsung membopong tubuh Nadira,
Arfan langsung membawa nya ke mobilnya yang di bawah oleh Gian, yang memang mengikutinya dari saat mereka pergi
"Gian, cepat bukakan pintu mobil" ucap Arfan dengan panik, dia sangat takut terjadi apa-apa pada Nadira
Gian yang di dalam mobil langsung turun dan membukakan pintu belakang mobil untuk Arfan dan Nadira
__ADS_1
Setelah Arfan masuk, Gian juga segera kembali ke kursi pengemudi "Tuan, ada apa dengan nona Nadira?" tanya Gian penasaran
"Bertanya nya nanti saja, sekarang cepat cari rumah sakit terdekat" suruh Arfan
"Baik tuan, maaf" ucap Gian, diapun langsung tancap gas untuk mencari rumah sakit
…
Setibanya di sebuah rumah sakit, Nadira langsung menjalani pemeriksaan oleh seorang dokter
"Apa dia baik baik saja dok?" tanya Arfan pada dokter yang masih memeriksa keadaan Nadira, jujur dia lebih panik daripada saat Nadira pingsan sebelumnya, karena sekarang dia tau kalau ada janin di perut Nadira
Dokter pun berbalik pada Arfan "Tidak ada yang perlu di khawatirkan pak, mungkin pasien hanya kelelahan saja, dia hanya perlu beristirahat," ucap Sang dokter
"Baiklah, terimakasih dok" ucap Arfan, diapun langsung menghampiri Nadira yang masih terbaring di kasur pemeriksaan
"Sayang,, maafkan aku, mungkin aku terlalu memaksamu untuk mengingat semuanya" ucap Arfan sembari mendekap kepala Nadira, dan menggenggam tangannya,
Dan beberapa saat kemudian,, Arfan menghubungi Edgar untuk memberitahukan keadaan Nadira sekarang,,
Tapi di saat Arfan sedang melakukan panggilan,, kedua mata lentik wanita yang terbaring di tempat pemeriksaan itu mulai mengerenyit dan terbuka perlahan,, Netra nadira sedikit demi sedikit menangkap biasan cahaya dari lampu yang ada di ruangan itu, dari mulai buram hingga terlihat jelas,
Dia pun mulai mengumpulkan seluruh kesadarannya, dan semua bayangan yang sebelumnya nampak samar di kepalanya, kini tergambar sangat jelas di ingatan nya,
Nadira bahkan mengingat detik detik saat dirinya terseret air sungai sebelumnya, dan itu cukup mengerikan menurutnya, dia merasa tidak ingin mengingat kejadian itu di kepalanya
"Tidaaaaaaaaak,, aku tidak ingin mengingatnya" triak Nadira secara tiba-tiba, dia bahkan sampai menutup wajah dengan telapak tangannya
Arfan yang masih melakukan panggilan langsung kaget dan Refleks menoleh pada Nadira "Sayang, kau sudah Sadar??" tanya Arfan seraya menghampiri Nadira
"Sayang, syukurlah,, kau sudah Sadar, apa kepalamu masih pusing?" tanya Arfan
Mendengar suara yang sangat familiar itu,, Nadira langsung membuka tangan yang menutupi wajahnya, dia langsung bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk Arfan "Arfan, aku takut, aku sangat takut" ucap Nadira yang merasa trauma setelah dia mengingat kejadian yang menimpanya itu
Arfan masih belum paham apa yang sebenarnya Nadira takutkan, dia hanya berpikir kalau Nadira mungkin bermimpi buruk barusan,, jadi dia mencoba untuk menenangkan nya,,
"Kamu jangan takut, aku ada di sini,, aku selalu ada di samping mu" ucap Arfan sambil mengelus rambut Nadira yang memeluknya erat
__ADS_1