
Keesokan paginya Arfan berniat kembali melakukan pencarian lagi, dia sudah bersiap pergi dari pagi pagi buta
"Kak, kamu mau kemana,?" tanya Andreas yang kebetulan berpapasan dengannya
"Aku mau kembali ke sungi untuk meneruskan pencarian" ucap Arfan
"Setidaknya kau makan dulu sesuatu untuk isi tenagamu, aku tidak melihatmu makan beberapa hari ini" ucap Andreas
"Aku tidak lapar Dre, kamu hari ini urus saja kantor, tidak perlu ikut aku untuk mencari Nadira" ucap Arfan
"Tapi kak..."
"Sudahlah aku pergi sekarang" ucap Arfan, dia pun langsung bergegas keluar dari rumah dan segera masuk ke mobilnya untuk pergi ke kawasan sungai yang terakhir di lakukan pencarian
Arfan kali ini hanya pergi sendirian, dan kembali ikut bergabung dengan tim SAR untuk menyisir sungai lagi
.
…
Pencarian Arfan di sungai tidak kunjung membuahkan hasil, hingga berminggu-minggu, bahkan sampai berbulan-bulan, Nadira masih tidak bisa dia ketemukan di sana
Sampai pada akhirnya Arfan jatuh sakit karena dia tidak memperhatikan kesehatan nya sendiri, itu juga mungkin karena beban pikiran,
Kondisi tubuhnya lemah, dan sekarang dia hanya bisa beristirahat di kamar nya dengan pengawasan dari dokter pribadinya,,
Dan Arfan kini menyerahkan urusan pencarian Nadira sepenuhnya ke pihak kepolisian,
Sekarang dia hanya bisa menunggu kabar dari pihak berwenang untuk perkembangan pencarian Nadira
...°°°...
Sementara itu di sisi lain, di tempat yang lumayan jauh dari kediaman Ednan bersaudara
Nadira yang kehilangan ingatannya sekarang menjalani hari-harinya dengan membantu bu Lisa untuk membuat kue tradisional, yang biasa Bu Lisa jual di pasar
"Buuu, hari ini aku ikut kepasar ya, bosan di rumah terus?" ucap Nadira pada Bu Lisa yang sedang memebereskan kue pagi pagi sekali
"Apa kamu tidak cape apa?,, kamu sudah bantu bantu ibu bikin kue semalaman, kamu Mending di rumah saja istirahat, biar ibu sendiri saja yang ke pasar,, kasian kalau kamu harus ikut ibu" ucap Bu Lisa
"Tidak dong bu, orang cuma bikin kue saja, itu juga hanya bantu bantu, jadi tidak terlalu menguras tenagaku" ucap Nadira
"Ya terserah kamu sajalah, o yah neng, ambilin dulu wadah itu yang di sebelah mu" ucap Bu Lisa menunjuk wadah yang ada di dekat Nadira
"Yang mana?, yang ini bukan?" tanya Nadira menunjuk salah satu wadah besar
__ADS_1
"Iya itu, sini neng" ucap Bu Lisa
"Bu, apa aku tidak punya nama?, masa panggilanku neng terus dari dulu, atau namaku memang Oneng ya bu??" tanya Nadira
("Neng"\= panggilan anak perempuan di daerah)
"Ya itu memang namamu" ucap Bu Lisa yang tidak punya panggilan lain pada Nadira selain itu
"Oh, baru tau aku,, O yah bu, akhir akhir ini perutku rasanya aneh, seperti ada yang gerak gerak gitu, kira kira kenapa ya bu?" tanya Nadira
"Mungkin kamu lapar, jadi cacing di dalam perutmu menggeliat, jadi mending sekarang kamu makan dulu sana" ucap Bu Lisa asal
"Ah masa sih,, bukan deh kayaknya bu" ucap Nadira mencoba merasakan perutnya dengan menyentuh nya
"Ya Kalau bukan, ibu juga mana tau, O yah neng,, Kalau kamu mau ikut ke pasar, kita pergi sekarang, nanti keburu siang" ucap bu Lisa
"Baiklah" ucap Nadira
Mereka pun segera berangkat menuju ke salah satu pasar yang ada di daerah sana, dengan menggunakan kendaraan umum
Begitu mereka sampai di depan sebuah pasar tradisional, mereka langsung turun dari angkutan umum,, dan berjalan masuk ke area pasar dan langsung menuju ke lapak biasa Bu Lisa menjual kue di depan pasar itu
Hampir semua mata yang di sana tidak berkedip saat melihat Nadira berjalan di pasar, mereka memperhatikan gadis cantik yang turun ke pasar itu seolah itu sesuatu yang aneh,
Jadi tidak heran kalau dia langsung jadi pusat perhatian orang-orang di pasar itu, bahkan para pembeli pun langsung berdatangan silih berganti karena melihat paras penjual nya yang rupawan,
Bu Lisa juga merasa sangat heran, karena kue dagangannya begitu cepat terjual habis pagi itu
"Bu Lisa, ini putrinya ya?, cantik sekali, ko dia mau maunya turun kepasar, anak saya mana mau dia di ajak kepasar untuk jualan" ucap seorang ibu pedagang yang tidak jauh dari tempat Nadira
"Iya, dia anak saudara, tapi sudah ku anggap anak sendiri" ucap bu Lisa tersenyum
"Oh gitu ya, sudah cantik, baik, tidak gengsian lagi, boleh di tuker gak bu sama anaku" ucap ibu itu bercanda
"Hus, sembarangan saja ibu ini, memang nya neng barang, pake di tuker tuker segala" ucap Nadira
"Ibu bercanda neng,, o ya namamu siapa neng?" tanya ibu itu
"Ya Aku Oneng bu, makanya di panggil Neng" ucap Nadira polos
Bu Lisa sampai tersenyum senyum sendiri mendengar Nadira memperkenlakn dirinya
"Oneng??, masa sih secantik ini di kasih nama Oneng, kasian tau bu" ucap ibu itu
Bu Lisa hanya tersenyum saja, di juga tidak tau harus panggil Nadira apa
__ADS_1
Setelah kue mereka terjual habis, mereka berniat untuk mencari sarapan , karena memamg mereka berangkat dari rumah pagi pagi buta dan tidak sempat sarapan apa pun
"Tumben kue ibu Cepet sekali habisnya ini, biasanya jam segini masih banyak, pasti karena kamu bantu ibu, o yah kamu mau sarapan apa sekarang neng?" tanya Bu Lisa
"Aku rasanya mau makan ikan bu" ucap Nadira
"Makan ikan?, biasanya kamu tidak mau makan yang berbau hewan kalau di rumah, tumben sekarang mau makan ikan" tanya Bu Lisa heran,, karena biasanya Nadiar hanya makan makanan yang berbahan dasar sayuran saja
"Aku tidak tau, tapi aku sekarang rasanya ingin coba makan ikan, sepertinya enak" ucap Nadira
"Baiklah kalau begitu, kita cari tempat makan yang ada menu ikannya" ucap bu Lisa, dan mereka pun segera mencari cari tempat untuk mereka sarapan
...°°°°...
Sementara di sisi lain, di rumah mewah kediaman Ednan bersaudara, Arfan yang hanya bisa terbaring di tempat tidurnya juga sudah waktunya untuk sarapan, dan meminum obatnya
Dinda pun membawakan bubur untuk Arfan langsung ke kamarnya,
"Pagi kaaak, waktunya sarapan nih, Dinda bawakan bubur spesial untuk kakak pagi ini" ucap Dinda dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas Air, langsung ke tempat tidur Arfan
"Terimakasih Dind, kamu sudah perhatikan kakak" ucapa Arfan tersenyum pada Dinda
"Sama sama, kakak juga selalu perhatian pada Dinda kan,, ini dia bubur nya, langsung makan ya, Dinda suapin" ucap Dinda
Namun saat Arfan melihat ada potongan daging ayam di mangkuk bubur itu, tiba tiba saja Arfan langsung merasa mual ingin muntah "Uwekk," Arfan langsung menutup mulutnya
"Kakak kenapa??, apa perlu Dinda antar kakak ke kamar mandi?" tanya Dinda
"Tidak, tidak perlu,, kamu singkirkan saja daging di bubur nya, kakak tidak suka" ucap Arfan
"Oh, ini ya,, Baiklah, Dinda akan pisahkan dulu, sebentar" ucap Dinda mencoba mengambil satu persatu suwiaran daging itu dengan sendok
'Uwek', Arfan mual lagi saat melihat Dinda mengambil daging daging itu "Tolong singkirkan yang jauh, jangan di sisakan" ucap Arfan
"Iya, Dinda lagi pisahakan ini juga, sebentar" ucap Dinda, dia sebenarnya sedikit heran dengan kakaknya, biasanya dia tidak pernah pilih pilih makanan, meskipun dalam keadaan sakit
Tidak lama Andreas juga masuk ke kamar Arfan
"Pagi kak, bagaiamana kondisi mu hari ini?" tanya Andreas yang menghampiri nya juga
"Sudah lumayan membaik, apa ada kabar soal Nadira hari ini Dre?" tanya Arfan
"Masih belum kak,,,,, kak Arfan, mungkin sekarang kakak harus belajar mengiklaskan Nadira, dia mungkin sudah tenang di sana kak" ucap Andreas
"Apa maksudmu tenang di sana??, apa kau menganggap Nadira sudah mati?,, sekali lagi kau berbicara seolah Nadira sudah meninggal di depanku, akan ku hajar kau, aku tidak akan pernah menganggap Nadira sudah tiada, sebelum aku melihat jasadnya terbujur kaku di depan mata kepalaku sendiri" ucap Arfan sedikit meninggikan nada bicaranya
__ADS_1