
Setelah mereka menyelesaikan acara makan malam mereka, Arfan dan Andreas segera pamit pada Edgar
"Kalau begitu kita langsung pulang saja pak Edgar, terima kasih atas jamuan makan malamnya" ucap Arfan
"Oh, Iya sama sama pak Arfan, saya malah merasa terhormat karena kalian bersedia berkunjung ke rumah saya yang tidak seberapa ini" ucap Edgar
"Anda terlalu merendahkan sesuatau yang belum tentu orang lain punya pak Edgar" ucap Arfan
"Ya kalau di banding kan dengan Rumah kalian, rumahku ini pasti tidak ada apa apanya kan?" ucap Edgar
"Tapi kalau di lihat dari sisi historis nya, mungkin rumah pak Edgar ini lebih baik" ucap Arfan yang melihat kesekelilinng ruangan yang memang terlihat sudah lumayan lama rumah itu di dirikan, dan tentunya sudah banyak hal istimewa yang terjadi di rumah itu
"Ya, mungkin Anda Benar, Anda memang sangat jeli untuk menilai sesuatu, tidak heran kalau di usia anda sekarang sudah mencapai kesuksesan" ucap Edgar
"Itu hanyalah keberuntungan pak Edgar,, O yah Kalau begitu , kami pulang sekarang" ucap Arfan, sambil mereka beranjak dari kursi nya,
"Iyah silahkan, mari saya antar kedepan" ucap Edgar Yang juga beranjak dari kursinya untuk menuntun mereka ke pintu keluar
Andreas dan Arfan pun beranjak dan segera mengikuti langkah Edgar,, Yovi Gio dan Nadira juga ikut beranjak untuk mengantar mereka
"Saya pamit pak Edgar" ucap Andreas
"Iya silahkan, kalau kalian punya waktu luang lagi, mampir lah kesini lagi" ucap Edgar
"Iya pak Edgar" ucap Andreas
"Pah, aku juga langsung pulang sekarang" ucap Nadira tiba tiba
"Kamu menginap saja di sini, kenapa harus pulang?" tanya Edgar
"Tidak, aku pulang saja" ucap Nadira
"Kalau begitu biar supir papah antar kamu" ucap Edgar yang bersikap pengertian di depan Arfan dan Andreas
"Pak Edgar, biar Nadira pulang dengan kami saja, saya bisa mengantarnya sampai depan pintu rumahnya" ucap Arfan
"Apa tidak merepotkan pak Arfan??" tanya Edgar
"Tidak perlu,, Aku bisa pulang naik taksi kok, jadi tidak perlu merepotkan kalian" ucap Nadira langsung beranjak duluan dengan tongkat nya
"Kalau begitu kami juga pergi pak Edgar" ucap Arfan,
__ADS_1
"Iya silahkan"
Arfan dan Andreas pun segera membuntuti langakah Nadira dari belakang,
Dan setelah mereka sampai pekarangan, Andreas pun mengejar langkah Nadira
"Dira, apa kamu serius mau pulang naik taksi?" tanya Andreas
"Iya, aku tinggal jalan kedepan saja, banyak taksi di luar komplek ini" ucap Nadira
"Itu terlalu ribet, Lebih baik Kamu bareng kamj, tidak aman anak gadis pulang sendirian malam malam kan?" ucap Andreas
"Apa tidak merepotkan?" tanya Nadira
"Tidak lah, rumah Ibu kamu kan satu arah dengan Rumah kami, gimana? mau sajalah" ucap Andreas membujuk
"Baiklah kalau begitu" ucap Nadira
"Baguslah," Andreas pun langsung membukakan pintu bagian depan mobil untuk Nadira "Silahkan" ucap Andreas
"Terima kasih" ucap Nadira, Andreas pun membantu Nadira untuk masuk ke mobilnya itu, karena Nadira memang sering kesulitan saat dia naik mobil dengan membawa tongkat nya
"Apa?" tanya Arfan yang sudah menangkap kunci dari Andreas
"Kau yang bawa mobilnya" ucap Andreas
"Kenapa harus aku?" bisik Arfan, dia ragu karena melihat Nadira juga duduk di kursi depan
"Bawa saja, apa susahnya" ucap Andreas sambil membuka pintu belakang mobil untuk dirinya, dan kemudian masuk
Arfan pun dengan sedikit segan segera berjalan untuk menuju ke kursi pengemudi, dan kemudian diapun masuk dan duduk bersebelahan dengan Nadira
Arfan pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian melajukannya
Tidak ada obrolan yang terdengar dari mereka saat mobil melaju keluar dari gerbang rumah Edgar, hingga saat mobil sudah hampir memasuki jalan raya, Andreas pun mengangkat telponnya
"Hallo, ada apa??,. "Apa harus sekarang juga?",. "Baiklah sebentar lagi aku akan kesana" ucap Andreas pura pura mengangkat telpon
"Kak, rekan bisnis ku mengajak aku bertemu sekarang juga, jadi aku turun di sini saja, kakak antar nona Nadira saja ya" ucap Andreas
"Memangnya kamu mau bertemu dimana, biar ku antar saja dulu, aku yakin Dira juga tidak akan keberatan" ucap Arfan
__ADS_1
"Tidak perlu, tempatnya agak jauh, ya sudah aku turun di sini saja" ucap Andreas, diapun langsung membuka pintu mobil dan kemudian turun
"Dre, hey" panggil Arfan, tapi Andreas sudah turun dari mobilnya. "Aneh sekali anak itu, tidak biasanya dia menemui rekan bisnis di malam hari" gumam Arfan, diapun segera melajukan mobilnya lagi meskipun suasana jadi sedikit canggung karena sekarang tinggal mereka berdua didalam mobil
Dan memang itulah rencana Andreas untuk memberikan mereka ruang untuk mengobrol berdua
"Bagaimana kau bisa ada di rumah Ayahmu?, bukan kah ayahmu itu tidak mengurus mu?, apa ibu Narita juga tidak melarang mu pergi kerumah Ayahmu?" tanya Arfan mengajukan banyak pertanyaan sekaligus
"Kenapa Anda seperti nya tau banyak tentang masalah pribadi ku?,, rasanya aku tidak pernah bercerita hal pribadi kepada anda" ucap Nadira sedikit heran karena Arfan tau masalahnya dan tau nama ibunya
"Itu aku, hanya asal bertanya saja, kalau benar mungkin itu hanya kebetulan" ucap Arfan berkilah
Nadira pun merasa jawaban Arfan itu sedikit tidak masuk akal, tapi dia tidak ingin memperpanjangnya, dan menganggap itu hanya tebakan yang kebetulan seperti yang di katakan Arfan
"Aku di jemput ayahku ke rumah ibu, daripada melihat mereka bertengkar aku lebih baik pergi bersamanya kan?, sebenarnya ayah ingin aku berjodoh dengan salah satu dari kalian, tapi aku masih belum berminat untuk itu" ucap Nadira
"Bukan kah kamu ini mengagumi Andreas?, dan pernah bermimpi untuk jadi istrinya kan?, jadi kenapa begitu ada kesempatan kamu malah tidak berminat" ucap Arfan
"Apa ini tebakanmu lagi?, kurasa anda bukan asal menebak saja ini,, atau Anda ini memang mencaritahu tentang masalah pribadi ku?, kalau iya apa anda bisa jelaskan alasannya kenapa??" tanya Nadira
Arfan langsung mngerejapkan matanya sejenak, dia tidak sadar kalau sekarang dia berperan sebagai Arfan yang baru bertemu gadis itu beberapa hari lalu, bukan Paman gila yang sangat mengetahui semua masalah dari Nadira
"Apa penting kamu mengetahui alasannya?" Arfan malah bertanya balik
"Mungkin tidak, aku hanya tidak terima kalau ada orang yang tau banyak tentang ku, tpi aku tidak tau banyak tentang nya, menurutku itu tidak adil" ucap Nadira
"Baiklah, jika kamu tidak ingin menjawab pertanyaan tadi, tidak perlu di bahas lagi, anggap saja aku tidak pernah bertanya apapun" ucap Arfan
"Anda memang benar, aku memang mengagumi Pak Andreas, tapi kagum bukan berarti cinta,, ada pun jika aku pernah menghayal ingin jadi istrinya, itu hanya sebatas haylan yang lumrah dari seorang wanita yang mengagumi seseorang, tapi bukan berarti ingin mewujudkan nya di dunia nyata, karena pastinya butuh banyak pertimbangan untuk menjalani komitmen yang sebenarnya" ucap Nadira
"Apa itu Artinya aku masih punya kesempatan??" ucap Arfan tanpa sadar, dia benar-benar sulit mengontrol ucapan nya sendiri saat ada di dekat Nadira, apa yang dia katakannya adalah apa yang terlintas di pikiran nya
"Maaf, apa maksud Anda??" tanya Nadira
"Tidak,, tidak perlu di bahas, aku hanya asal bicara saja" ucap Arfan yang merasa belum siap jika harus mendengar penolakan dari Nadira jika dia mengungkapkan perasaan nya sekarang, karena itu pasti terlalu cepat untuk Nadira yang baru mengenalnya beberapa hari yang lalu
"Oh"
Nadira juga sebenarnya sedikit mengerti apa yang di maksud oleh Arfan itu pasti soal perasaan nya,, tapi itu memang terlalu terburu-buru jika arfan mengharapkan nya sekarang, dia masih berpikir kalau Arfan itu orang asing, dan mungkin saja dia selalu mempermainkan wanita di luaran sana dengan cara yang sama
Jadi Nadira berpikir harus punya sedikit pertahanan diri dari godaan Arfan dalam bentuk apapun, karena hatinya juga pernah merasakan sakit oleh cinta, dan dia tidak berniat mengulang rasa sakit yang sama dengan terburu-buru menjalani hubungan tanpa mengenal latar belakang pasangannya terlebih dulu
__ADS_1