Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Pengakuan


__ADS_3

Nadira memeluk erat paman gilanya itu dengan tangisan yang tersedu-sedu, dan perlahan kegundahan di hatinya itu lambat laun mulai surut, setelah dia merasa sedikit tenang, barulah dia melepaskan pelukannya


"Paman, apa aku boleh bercerita masalah ku padamu?" tanya Nadira dengan terisak


"Tentu saja, ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan" ucap Arfan


Arfan mendudukan Nadira di tembok pagar pendek yang ada di luar pos, dan Nadira mulai menceritakan masalahnya


"Mungkin ini penyesalan terbesar dalam hidupku paman,: aku sudah menyia nyiakan orang yang sudah sangat berjasa di hidup ku, dan mungkin ketulusannya melebihi siapa pun di dunia ini, dan bodohnya aku baru menyadari itu Setelah aku berpisah darinya.. Aku pikir aku bisa menyembuhkan luka yang terkubur lama dengan meminta tanggung jawab dari orang yang sudah melukaiku, tapi dengan tidak sadar aku malah membuat luka baru yang lebih dalam dari yang pernah ada sebelumnya, aku tidak tau harus bagaimana sekarang paman" ucap Nadira dengan terus terisak


"Kenapa kamu tidak minta maaf jika kamu merasa sudah bersalah pada orang itu, mungkin dengan begitu penyesalan mu bisa sedikit berkurang" ucap Arfan


"Aku ingin melakukan nya, tapi aku merasa malu padanya, dia sangat baik padaku, tapi aku mungkin malah mengecewakan nya, aku tidak yakin dia bisa memaafkan ku" ucap Nadira


"Jika dia memang orang yang sangat peduli padamu, pasti dia akan mudah untuk memaafkan mu, percayalah" ucap Arfan


"Aku tau, dia sangat baik, dia mungkin akan memaafkan ku, tapi mungkin tidak untuk menerima ku lagi" ucap Nadira


Arfan sedikit yakin kalau keraguan Nadira padanya itu mulai hilang, dan dia mungkin sudah bisa memathakan cabang yang mengganggu di hatinya itu, dan itulah yang di harapkan Arfan dari melepas Nadira sebelumnya,


Prinsip Arfan, kalau Nadira memang ingin hidup bersamanya, dia akan mempertahankanya apa pun resikonya, dan jika ada orang lain yang ingin memisahkan nya, itu artinya dia harus melangkahi mayatnya terlebih dulu,


"Seandainya orang yang kamu maksud itu ada di depanmu sekarang, apa yang ingin kamu katakan padanya?" tanya Arfan


"Aku ingin minta maaf dari hati yang paling dalam padanya" ucap Nadira


"Hanya Itu saja?" tanya Arfan


"Aku ingin meminta cintanya kembali, karena aku merasa sangat nyaman jika berada di sampingnya,, tapi rasanya itu tidak mungkin, dia sudah punya seseorang yang lain" ucap Nadira


Arfan tersenyum saat dia bilang ada seorang yang lain, itu mungkin karena kemarin dia melihatnya dengan arumi

__ADS_1


"Coba kamu tatap mata paman" ucap Arfan


Nadira pun menurut dan menatap matanya


"Bayangkan saja Paman adalah orang itu, Paman ingin menilai seperti apa keseriusan mu jika ingin kembali padanya, dan coba katakan apa yang ingin kamu katakan padanya" ucap Arfan


Nadira menatap mata gelap Arfan dengan sangat lekat, dan dia baru sadar kalau mata paman gila dan mata Arfan itu sama persis menurut nya, jadi tentu dia bisa mendalami perkataanya


"Kak Arfan, aku minta maaf,, aku memang sempat meragukan cinta mu, tapi kini aku sadar, kalau cintamu itu begitu besar, dan mungkin mampu menutupi luka yang menganga sebesar apapun di hatiku, Aku juga baru sadar kalau aku sangat mencintaimu, dan sulit rasanya jika aku harus jauh darimu, karena itu sangat menyesakan" ucap Nadira


Hati Arfan benar-benar terenyuh oleh kata kata dari gadis di depannya itu "Apa kamu yakin akan mengatakan itu padanya?" tanya Arfan


"Aku sebenarnya tidak yakin bisa pasih mengatakannya, jika aku benar-benar berhadapan dengannya" ucap Nadira


"Jadi Apa kamu mau mendengar jawaban dari orang yang kamu maksud itu?" tanya Arfan


"Tentu saja, aku sangat penasaran apa jawabannya jika aku bisa jujur padanya seperti itu" ucap Nadira masih belum paham


"Baiklah,, Aku yang akan mewakilinya menjawab,, dia bilang, dia juga sangat mencintaimu, dan ingin hidup selama lamanya dengan mu, apa kau percaya dia akan berkata seperti itu?" tanya Arfan


"Nadira, coba kamu tatap lagi mata paman sekali lagi" ucap Arfan


Nadira mendongak lagi untuk menatap mata Arfan yang berdiri di depannya "Mata paman memang benar-benar bisa menenangkan, sama persis dengan mata seseorang itu" ucap Nadira menatap kembali mata Arfan


"Kalau seandainya Paman bisa mencintaimu seperti Arfan mencintaimu, apa kamu akan menerima nya?" tanya Arfan


"Paman tau nama orangnya?, paman benar benar ajaib" ucap Nadira


"Jawablah, Paman menantikan jawabanmu itu" ucap Arfan


"Mana mungkin bisa begitu?, tapi jujur, aku merasa nyaman dengan Paman, Mungkin aku akan mempertimbangkan nya, tapi setidaknya aku butuh waktu untuk move on jika seandainya Arfan memang tidak menginginkan ku lagi, itu jawaban ku" ucap Nadira

__ADS_1


Arfan langsung tersenyum lebar mendengar nya "Terima kasih" ucap Arfan, diapun perlahan membuka kumis dan jenggot palsunya itu di depan mata Nadira


Nadira sampai membelalakkan matanya saat melihat itu, dia sedikit tidak percaya kalau paman gilanya itu sangat mirip dengan Arfan jika kumis dan jenggotnya hilang


"Bagaimana mungkin?" ucap Nadira tanpa sadar karena merasa tidak percaya


"Inilah aku, aku memang Arfan" ucap Arfan


Nadira sedikit menggelengkan kepalanya "Kenapa kakak bisa semirip itu dengan Paman Ardan?, jadi aku,, aku dari tadi bicara denganmu??" tanya Nadira bingung


"Nadira,,, tidak ada yang namanya paman Ardan,, akulah Paman gila yang dulu mendiami pos tua ini, akulah yang selalu mendengarkan stiap curhatanmu sebelumnya, apa kamu masih belum paham kenapa aku peduli padamu?, apa kamu belum paham juga kenapa aku mencimtaimu?, itu karena kamu juga sangat peduli pada Paman yang gila ini, apa kamu mengerti sekarang?" tanya Arfan


"Tidak mungkin, jadi selama ini paman mempermainkanku?" tanya Nadira


"Maaf, ada banyak alasan yang membuat aku tidak bisa jujur sebelumnya, tapi tidak sedikit pun niat paman untuk mempermainkan mu,,," ucap Arfan mencoba terduduk di depanya dan meraih tangan Nadira


Nadira terdiam sesaat dan mencoba mencerna kejadian yang tidak pernah terpikirkan olehnya itu, dan perlahan air matanya mulai turun lagi dan kembali menetes di pangkuanya


"Nadira, aku mohon, jangan menangis lagi" ucap Arfan


"Ini air mata bahagia paman" ucap Nadira, dia pun langsung memeluk Arfan lagi yang di depanya


Arfan tentu langsung tersenyum senang, karena ternyata gadis nya itu bisa menerima sosok keduanya, entah itu saat dia jadi Ceo tegas, atau perannya sebagai Paman gila


Arfan mengusap lembut rambut di kepala Nadira dengan perasaan yang tidak mudah di gambar kan,, "Apa sekarang kamu mau pulang?" tanya Arfan


"Tidak, aku masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Paman gilaku" ucap Nadira dengan sedikit terisak


"Baiklah, kalau kamu ingin begitu, paman juga ingin menghabiskan banyak waktu dengan gadis cengeng ini" ucap Arfan tersenyum


Arfan segera membawa Nadira ke mobilnya, dan berniat membawanya kemanapun yang dia inginkan

__ADS_1


...~°~...



__ADS_2