Pria Gila Kaya Raya

Pria Gila Kaya Raya
Menghibur


__ADS_3

Arfan sebenarnya merasa sedikit iba pada Yovi di keadaannya yang sekarang,, dia menyakiti nya itu karena Arfan tersulut emosi kemarin, dan itu memang ada di luar kendali akal sehatnya,, karena pada dasarnya Arfan bukanlah pria yang suka bertindak kasar terhadap perempuan


"Yovi, ku harap dengan adanya kejadian ini bisa jadi pelajaran untuk mu, cobalah untuk bisa menghargai perasaanmu sendiri, jangan terus menggadaikan hatimu hanya demi kesenangan semu, materi hanya akan membuatmu tamak jika tidak ada cinta yang menyertainya, dan aku yakin, tidak akan ada kebahagiaan di kehidupan seperti itu," ucap Arfan


Yovi hanya menjawab arfan dengan mata kesalnya, dan hati mengumpat 'Lihat saja Arfan, ayahku pasti akan membalas mu'


Arfan menoleh ke pintu masuk ruangan rawat Yovi, dia menunggu Nadira untuk masuk, tapi setelah beberapa saat Nadira tidak kunjung memasuki ruangan itu,


Jadi Arfan bergegas keluar ruangan Yovi, untuk memastikan keberadaan Nadira, dan Nadira malah terlihat duduk di salah satu kursi lorong yang tidak jauh dari ruangan Yovi


Arfan segera bergegas menghampiri Nadira yang terduduk dengan menundukan pandanganya ke lantai


"Nadira, kenapa kamu malah di sini?, kenapa tidak masuk kedalam, bukan kah kamu ingin melihat Yovi menerima hukuman nya?" tanya Arfan


Nadira langsung menatap ke arah Arfan dengan mata yang berkaca-kaca "Apa kau benar benar berhubungan dengannya saat kau membalas Yovi?" tanya Nadira yang hanya mendengar pernyataan Yovi di awal, dan kemudian pergi karena berpikir itu benar adanya


Arfan melihat ada keraguan yang tersirat di mata Nadira padanya sekarang, Arfan berlutut di depan Nadira dan langsung meraih kedua tangannya "Harusnya kamu tadi masuk dan mendengarkan semuanya sampai tuntas, kamu pasti hanya mendengar pernyataan Yovi di awal saja kan?" tanya Arfan


"Jawab saja, benar atau tidak?" tanya Nadira memastikan


"Jawabanya tidak, aku memang menghampirinya setelah membawamu dari apartemen, hanya saja aku menyuruh orang untuk membalas perlakuan Yovi terhadap mu, aku melakukan nya seperti halnya dia menyuruh Alex dan yang lainya mengerjaimu" ucap Arfan


"Apa kau berani bersumpah?" tanya Nadira


"Aku berani bersumpah, demi apa pun itu" ucap Arfan


"Baiklah, anggap saja kalau aku percaya sekarang" ucap Nadira


"Ya Sudah, apa sekarang kau masih ingin melihat Yovi?" tanya Arfan


"Emmhh" ucap Nadira mengangguk pelan


Arfan berdiri dan kemudian menarik satu tangan Nadira untuk berdiri dari duduknya, dan mereka segera masuk ke ruangan Yovi dengan bergandeng tangan


Yovi yang di atas tempat tidurnya masih menangis tersedu-sedu, dia langsung melirik ke arah Arfan dan Nadira yang memasuki ruangan nya lagi, dia sangat geram pada mereka berdua sekarang, apa lagi saat dia melihat Nadira dan Arfan sedekat itu dan bergandengan tangan di hadapannya


"Dasar wanita sialan, apa kau puas sekarang melihatku seperti ini, hah?" tanya Yovi yang emosi pada Nadira


"Kau begitu karena ulahmu sendiri, kenapa kau seolah melimphkan semua kesalahan mu itu padaku?,,, inilah balasan yang sangat pantas untukmu sekarang Yovi, sudah dari dulu aku ingin melihat ayahku menendang mu keluar dari kehidupannya, dan akhirnya itu erjdi hari ini," ucap Nadira


"Dasar kau wanita ******, harusnya aku menabrakmu sampai mati sebelumnya" ucap Yovi

__ADS_1


"Mungkin aku masih di berikan kesempatan hidup untuk melihat hari ini,, tunggu, apa kau juga ada sangkut pautnya dengan penabraku itu?" tanya Nadira curiga


"Kalau iya, kau mau apa, hah?" tanya Yovi sengaja memancing emosi Nadira


"Kau!!, kau benar-benar wanita iblis" ucap Nadira terpancing emosinya dan melangkah maju untuk memberikan Yovi tamparan karena kesal


Namun Arfan segera menangkap kedua bahu Nadira dari belakang


"Lepaskan aku, aku ingin menampar wanita siluman ini" ucap Nadira


"Tidak baik menuruti emosi, tangan mu terlalu berharga, tidak pantas jika kau gunakan untuk menyentuh sesuatu yang hina" ucap Arfan mencoba menenangkan Nadira, dia tidak ingin melihat Nadira sampai main kasar di depan matanya


"Tapi, tapi dia sudah keterlaluan Arfan" ucap Nadira


"Dia sudah menerima balasan nya sekarang kan?, kau juga sudah sembuh dari lukamu, dia hanya sengaja membuatmu marah, dan kalau itu terjadi dia akan senang" ucap Arfan di telinga Nadira


Nadira pun langsung luluh karena nya


"Kenapa, hah?, apa kamu takut padaku, haha, kau memang gadis manja Dira," ucap Yovi sambil tertawa


"Kau!!!" ucap Nadira kesal


"Kau tidak boleh pergi Arfan, kau harus melepaskanku dari Sini" pekik Yovi


Tapi Arfan tidak menggubrisnya sama sekali,, dan dia segera memapah Nadira keluar dari ruangan Yovi itu


"Berhenti Arfan, kau tidak boleh meninggalkan ku, berhentiiiiii" pekik Yovi lagi


Namun Arfan tetap saja melangkah keluar dari ruangan dan berlalu tanpa menoleh lagi


"Kau harus membayar semua ini Arfan, lihat saja, aku akan membalas mu" teriak Yovi dengan mengacak ngacak tempat tidurnya seperti orang gila


.


Arfan mengajak Nadira pergi dari tempat itu, dan mereka kembali ke mobil Arfan lagi,


Nadira menekuk wajahnya karena niatnya ingin menampar Yovi itu di halangi oleh Arfan "Kamu harusnya tidak menghalangiku tadi" ucap Nadira


"Aku hanya tidak mau melihatmu bermain kasar, aku suka melihat kamu yang lembut" ucap Arfan


"Ya tapi aku kesal, aku ingin sekali menampar...."

__ADS_1


"Sssssst, sudah, jangan marah marah lagi, nanti wajahmu kelihatan cantik kalau kamu marah terus" ucap Arfan sambil menaruh telunjuk nya di bibir Nadira


"Mana ada orang marah cantik, jelek sih mungkin iya" ucap Nadira sedikit manyun


"Jelek Itu hanya berlaku untuk orang lain, itu tidak berlaku untuk mu" ucap Arfan merayu untuk menenangkannya


"Huuu,, gomball" ucap Nadira sambil sedikit mesem


"Apa kau ingin mengunjungi tempat untuk menenangkan pikiran mu?" tanya Arfan


"Boleh juga aku mau ke .... ""Taman musik"" ucap Nadira dan Arfan bersamaan


"Kok kamu tau,?,, oh pasti Sindi juga yang memberitahu mu kan?" tanya Nadira


"Tidak juga, bukan kah kita pernah pergi keasana juga sebelumnya" ucap Arfan


"Huu ngarang saja" ucap Nadira


"Ya y a terserah kalau kau tak percaya" ucap Arfan tak berniat menjelaskan, Karenan menurutnya Nadira tau atau tidak soal si Paman gila, itu tidak akan merubah suatu apapun, toh juga sekarang Nadira sudah jadi miliknya


Arfan segera melajukan mobilnya menuju ke taman musik yang pernah mereka datangi sebelumnya,, hanya saja saat itu Arfan berperan sebagai si Paman gila, bukan Arfan yang sebenarnya


Sesampainya di sana Nadira hanya duduk duduk santai di sana dan mengobrol ringan dengan Arfan,, dia merasakan hawa sejuk dari pepohonan rindang yang tumbuh di sekitar taman, dan itu sangat menenangkan pikiran nya, dan perlahan emosinya hilang tanpa bekas,


Setelah Nadira merasa lebih baik, Arfan segera mengantar Nadira kembali ke rumah sakit ke tempat Edgar di rawat


"Apa kau akan menginap di sini, tanya Arfan saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit


"Seperti nya begitu" ucap Nadira


"Apa perlu ku temani?" tanya Arfan


"Tidak perlu, tidak nyaman tidur di rumah sakit, aku takut kamu malah tidak bisa tidur nanti" ucap Nadira


"Tidak papa, kalau aku tidak bisa tidur, setidaknya aku bisa menemanimu tidur kan?" ucap Arfan


"Tidak tidak,,, aku tidak mau, memangnya kau pikir aku ini wanita apaan" ucap Nadira sambil memukul ringan bahu Arfan


"Aku tidak mengerti maksudmu" ucap Arfan sambil tersenyum bingung


"Intinya kamu tidak perlu menginap di sini, itu saja" ucap Nadira yang merasa memang ucapannya tadi sedikit ngawur

__ADS_1


__ADS_2