
Andreas jarang menyangkal atau membantah perkataan dari Oma, karena dia memang sangat menyayangi Oma, tapi jika itu menyangkut urusan hati, dia tetap ingin mendapat frekuensi yang pas dulu di hati Sindi, supaya hubungan mereka terkoneksi dengan baik nantinya
"Andre juga tidak pernah meragukan Naluri Oma, kalau menurut Oma begitu, ya pasti begitu" ucap Andreas sambil melirik ke arah Sindi
Sontak Sindi merasa kalau pipinya sangat panas, dia langsung tersipu malu dan mencoba menyembunyikan dirinya di balik tubuh Nadira
Nadira langsung berdehem "Ehem, kode keras nih kayaknya" bisik Nadira pad Sindi
"Apaan sih Nadi, iih" ucap Sindi malu malu
Setelah perkenalan singkat Sindi dan Oma, mereka segera bergabung dengan Dinda yang berulang tahun, dan melanjutkan rangkaian acara ulang tahun Dida itu dengan penuh keseruan
Hanya saja Arfan kini jadi terpisah dari Nadira karena kehadiran Sindi, itu membuat Nadira berani mengeksplor setiap sudut kafe estetis itu berdua saja, dan sesekali mereka mengabadikan momen mereka itu di ponsel masing-masing
Arfan dan Andreas juga punya kesibukan mereka sendiri dengan menemani Dinda untuk menyemarakkan serangakaian acara di hari ulang tahunnya itu
.
…
Setelah di penghujung acara, satu persatu tamu mulai meninggalkan acara, dan tempat itu pun perlahan sepi
Arfan mulai mencari keberadaan Nadira dan Sindi di area kafe, dan dia mendapati kalau Nadira dan Sindi duduk di salah satu meja di luar ruangan kafe
"Kalian ternyata ada di sini?, apa sudah puas jadi Sindi the eksploler nya??" tanya Arfan
"Memangnya aku tokoh kartun pake the eksploler" ucap Sindi
"O yah Arfan, kalau acaranya sudah selesai, bolehkah aku segera pulang?" tanya Nadira sedikit ragu
"Tentu saja, aku akan mengantarmu pulang setelah ini" ucap Arfan
"Baguslah, terima kasih" ucap Nadira dengan tersenyum
Setelah itu Arfan Nadira dan Sindi segera berpamitan pada Oma untuk pulang, kemudian Arfan langsung membawa mereka di mobilnya untuk pulang ke kota B lagi,
Sementara Andreas tidak langsung kembali ke kota B bersama meraka, melainkan mengantar Oma dan Dinda kembali ke villa, dan dia berniat bermalam di Vila Oma
...°°°°...
Keesokan paginya, Nadira terbangun di kamar sederhana nya, dia segera keluar kamarnya dan langsung menghampiri pintu kamar ibunya yang kebetulan ibunya juga akan keluar dari kamarnya
"Bu, berikan padaku uang yang sudah di berikan Arfan pada ibu" ucap Nadira
"Uang apa maksudmu?" tanya Narita
"Ibu jangan pura pura, kemarin saat aku pergi, Arfan memberikan uang pada ibu kan?" tanya Nadira
__ADS_1
"Itu uang ibu, kenapa ibu harus mengembalikanya padamu" ucap Narita
"Itu uang di berikan Arfan supaya ibu membohongiku untuk pergi denganya kan, jadi Nadira berhak meminta uang itu, karena Nadira merasa di rugikan" ucap Nadira
"Tapi uang itu Arfan berikan kepada ibu, jadi ibu juga berhak menyimpan nya" ucap Narita
Nadira langsung mendorong pintu kamar ibunya dan langsung masuk untuk mencari uangnya sendiri
"Nadira apa yang mau kamu lakukan?" tanya Narita
Tapi Nadira tidak menggubris nya dan langsung mencari uang itu di lemari pakaian ibunya, tapi dia tidak menemukan nya di sana
Nadira berbalik pada ibunya lagi
"Ibu simpan di mana uangnya" tanya Nadira
"Baiklah Baiklah, ibu akan berikan" Narita merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu dari sakunya "Ini, ambilah, uang nya tinggal segini" ucap Narita
Nadira menerimanya dengan tatapan tidak percaya pada ibunya, dia yakin kalau orang seperti Arfan tidak mungkin memberikan uang dengan jumlah ratusan ribu saja
"Aku yakin masih ada yang lainnya lagi kan" ucap Nadira
"Tidak ada yang lain, ibu bersumpah" ucap bu Narita sambil memundurkan badanya dan berdiri menghalangi salah satu sudut tempat tidurnya
Nadira pun sedikit curiga kalau dia menyembunyikan nya di sana, jadi dia menghampiri ibunya dengan cepat, dan sedikit mendorong ibunya kesamping, kemudian dia mengangkat kasurnya yang di belakangi ibunya itu,
"Sudah ku duga" ucap Nadira langsung memgambilnya
"Nadira,, Nadira, jangan di ambil semuanya, sisakan sedikit untuk ibu" ucap Narita mencoba merebut nya
Namun Nadira mengelak dan langsung memasukan uang itu ke sakunya "Tidak bisa, Ibu sudah membohongiku dengan bersekongkol dengan Arfan,, ibu sama saja dengan sudah menjualku," ucap Nadira
"Dira Ayolah, ibu minta maaf soal itu, beri ibu separuhnya" ucap Narita
"Tidak, aku tidak akan membiarkan ibu menggunakan uang ini" ucap Nadira langsung beranjak keluar dari kamar ibunya, dan langsung kembali ke kamarnya lagi
Narita terus mengetuk pintu kamar Nadira yang terkunci untuk meminta uangnya lagi, tapi Nadira tidak memperdulikan nya
Nadira segera bersiap siap untuk berangkat ke kantor seperti biasanya, dan dia pun langsung berangkat ke kantor Anggera_Land tanpa memperdulikan ibunya yang terus mengemis untuk meminta uang itu kembali
Setelah sampai di kantor Ayahnya, Nadira segera menjalani aktivitas kantor nya lagi seperti biasanya, pikiran nya tidak terganggu dengan masalah ibunya, karena itu sudah terbiasa baginya
Dan Semenjak Arfan mengatakan perasaannya, Nadira merasa kalau hatinya sudah sedikit terpaut padanya, dan dia jadi sering di bayang bayangi wajah Arfan saat dia bersamaalnya,, itu pun berimbas kepada sikapnya di kantor yang terlihat berbeda dari biasanya, dan Nadira memnag tidak pandai menyembunyikan perasaanya itu
"Nadi, kenapa kamu senyum senyum sendiri" tanya Sindi yang menghampiri meja Nadira, dan melihat gelagat Nadira yang sesekali tersenyum tanpa sebab yang jelas pada layar komputernya
"Ah, tidak ada apa apa, aku hanya teringat hal lucu saja, ada apa kamu kesini?" tanya Nadira
__ADS_1
"Masa?,, apa itu tentang Arfan?" tanya Sindi
"Bukan lah,, Kamu ngaco saja, O yah siang nanti kamu antar aku ke perusahaan Ednaninternasional _grup ya" ucap Nadira
"Ada apa kamu kesana??, apa Jangan jangan kamu dan Arfan sudah jadian ya?" tanya Sindi
"Enggak lah, mana mungkin aku jadian dengan selingkuhan wanita siluman itu" ucap Nadira
"Oh, kukira kalian jadian, sayang sekali,, terus ada perlu apa kau pergi ke sana?" tanya Sindi
"Aku ada sedikit urusan saja," ucap Nadira
"Baiklah Kalau begitu" ucap Sindi,
...°°°...
Sementara itu, di lantai paling tinggi dari bangunan megah Ednaninternasional _grup terlihat Arfan sudah meregangkan tangan di kursinya,
"Kak, mau makan di mana hari ini?,, apa kau ada janji lagi dengan Yovi?" tanya Andreas
"Tidak ada" ucap Arfan
"Kalau begitu kita makan siang barengan saja" ucap Arfan
"Baiklah, ayo turun" ucap Arfan segera beranjak dari kursinya untuk keluar ruangan
Andreas juga segera mengikuti nya, dan mereka segera turun ke lantai lobi,
Dan begitu mereka akan melewati meja resepsionis
"Pak, Arfan, Ada dua orang gadis yang menunggu Anda di sana," ucap Sang resepsionis menujuk ke ruang tungu lobi
"Dari perusahaan mana?, kenapa mereka datang di jam istirahat??", tanya Arfan
"Mereka bilang dari Anggera Land pak" ucap Resepsionis
"Oh, Baiklah" Arfan segera berjalan ke arah kursi tunggu karena penasaran, dia tidak bisa langsung melihatnya siapa yangwnunggunya itu karena terhalang oleh lalu lalang karyawan di lantai lobi itu
"Nadira?, apa kau di suruh Ayahmu kemari?" tanya Arfan yang melihat kalau itu Nadira yang datang
Nadira langsung menoleh pada Arfan dan Andreas yang menghampiri nya, dia langsung berdiri dari duduknya
"Tidak, aku hanya ada sedikit perlu saja dengan mu, apa aku boleh mengganggu waktumu sebentar?" tanya Nadira
"Tentu saja,, Kalau begitu, kita sekalian makan siang saja, bagaimana?" tanya Arfan menatap Nadira dengan tersenyum simpul
...~°~...
__ADS_1