
Keesokan harinya, Arfan terbangun di sebuah kamar yang berdekorasi khas dari kamar seorang gadis
Meski dia tidur bersama Nadira di kamar nya semalam, tapi dia belum bisa sangat dekat dengan Nadira, karena di tengah-tengah mereka ada sebuah guling yang sengaja di taruh Nadira sebagai pembatas tidur mereka
Arfan kemudian terduduk di tempat tidur dan memperhatikan Nadira yang masih tertidur tidak jauh darinya,, Arfan tersenyum saat melihatnya, meski Nadira masih belum mau di sentuh olehnya, tapi setidaknya Arfan merasa tenang karena saat bangun dari tidur dia bisa kembali melihat Nadira ada bersamanya
Setelah puas memandanginya,, Arfan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia berencana akan menemui Ken untuk mengoreksi ciri ciri mobil penabrak Nadira yang mungkin di ingat Ken,
Meskipun Ken sebenarnya sudah di mintai keterangan oleh polisi, tapi dia hanya memberikan keterangan alakadarnya, dan tidak memberikan petunjuk yang berarti
Arfan sekarang sudah merasa tenang karena Nadira sudah kembali padanya lagi,, jadi dia merasa harus ikut bertindak juga supaya bisa secepatnya menemukan sang pelaku, Arfan tidak ingin kalau pelaku itu terus bebas berkeliaran lebih lama lagi di luar sana
.
Setelah dia merapihkan dirinya, Arfan menghampiri Nadira lagi yang masih belum bangun dari tidurnya, dia langsung saja mengecup bibir lembut Nadira itu sekilas
Tentu saja Nadira langsung terbangun karenanya, dan langsung menyentuh bibirnya sendiri "Apa yang kamu lakukan??, bukan kah kamu berjanji tidak akan mencium ku sebelum aku mengingat semuanya" ucap Nadira sambil menatap Arfan yang merendahkan badanya di samping tempat tidurnya
"Kalau soal ini aku tidak bisa menepati nya, setidaknya bibirmu itu masih bisa jadi obat untuk rinduku, meskipun rasanya sedikit hambar jika kau tidak membalasanya" ucap Arfan
"Seperti nya Kamu memamg tukang ingkar janji," ucap Nadira
"Tidak juga, semalam aku menepati janjiku untuk tidak memelukmu saat tidur kan,, kalau semuanya kau larang, aku tidak yakin bisa menahan rindu ku ini, dan ujung-ujungnya aku akan memaksa mu dan menyakitimu, apa kau mau aku berbuat seperti itu??"tanya Arfan sedikit menakut nakuti
"Baiklah, cium boleh saja, tapi...."
Mendengar kata 'boleh' tentu saja Arfan dengan cepat mencium Nadira lagi dengan rakusnya,, dia tidak mungkin menyia nyiakanya kesempatan itu
"Mmmmm, mm" ucap Nadira tertahan dan hanya mengeluarkan suara itu saja, dia sebenarnya belum menyelesaikan perkataannya
Dan Setelah Beberapa Saat, Arfan melepas ciumannya
Nadira langsung sedikit mendorong "Ih, dasar, aku belum selesai bicaranya juga, main cium cium aja" ucap Nadira dengan sedikit terengah-engah
"Memang nya Kamu mau bilang apa lagi, apa kamu mau memperbolehkan ku untuk melakukan yang lainya lagi?" tanya Arfan menggoda
"Aku mau bilang cium boleh, tapi untuk kali ini saja, kedepannya jangan lakukan dulu," ucap Nadira
"Baiklah, aku akan memanfaatkan waktu ini untuk terus menciumu" ucap Arfan bersemangat memajukan wajahnya lagi
__ADS_1
Tapi Nadira langsung membungkus kepalanya dengan selimut "Bukan begitu maksudku, kau sudah dua kali ini mencium ku, apa itu belum cukup juga?" ucap Nadira dari dalam selimut
"Oh, sayang sekali padahal aku masih ingin melakukannya, tapi Baiklah, o yah, aku sekarang akan pergi dulu, mungkin akan sedikit lama" ucap Arfan
"Ya sudah, pergi saja" ucap Nadira dari balik selimut
"Baiklah, sampai ketemu lagi Nanti ya,, sayang" ucap Arfan tersenyum
Arfan segera beranjak dari kamar Nadira, dan pergi dari kediaman Edgar untuk mencari Ken ke fakultas Nadira, karena Arfan tidak tau di mana tempat tinggalnya
.
…
Beberapa saat kemudian,, Sampailah Arfan di parkiran fakultas tempat Nadira kuliah sebelumnya, dan dia hanya menunggu kedatangan Ken di dalam mobilnya,
Setelah Arfan menunggu sebentar, Arfan melihat Ken sudah datang dengan mobil yang terakhir kali dia lihat sebelumnya
Saat Ken turun dari mobilnya, Arfan juga langsung turun dari mobil untuk menghampiri nya,
Ken pun sadar kalau Ada seseorang yang berjalan tepat ke arah nya, "Sedang apa anda di sini?" tanya Kevin
Ken langsung tersenyum sinis "Untuk apa kau menemuiku, apa kau masih ingin menyalahkanku tentang kecelakaan Nadira?" tanya Kevin lagi
"Tidak juga, aku hanya perlu informasi darimu tentang mobil yang sudah menabrak Nadira, aku harap kau bisa membatuku untuk mengingat nya lagi" ucap Arfan
"Apa untungnya buatku membantu mu?, tidak ada kan?" ucap Kevin
"Kau benar-benar meyebalkan ternyata," ucap Arfan langsung meraih kerah baju Ken dan mendorong nya ke arah mobilnya
"Sepertinya anda selalu ingin memukuli orang jika Anda kesal?, bagaimana kalau Kita bertaung di tempat yang seharusnya, jangan di tempat umum seperti ini, menurut ku ini kekanak-kanakan" ucap Kevin
Arfan langsung tersenyum sinis "Ya ya ya, aku dengar kau pelatih taekwondo yang hebat di sini, aku sangat ingin menjajalmu, apa kau punya sesuatu untuk kau jadikan hadiah jika aku menang," tanya Arfan
"Aku punya sesuatu untuk di tunjukkan padamu, jika kau bisa mengalahkan ku, aku akan memberikan apa yang kau inginkan, jika kau kalah, maka sebaliknya" ucap Kevin merasa percaya diri
Arfan segera melepaskan tangannya dari kerah baju Ken, dan sedikit merapikan nya lagi "Sepertinya kau memang tau sesuatu, tapi kau tidak membeberkan nya pada polisi,, kau memang pengecut,, tapi Baiklah, dengan senang hati ku terima tantanganmu" ucap Arfan
Mereka pun segera masuk ke kampus dan langsung menuju ke tempat Ken melatih muridnya
__ADS_1
Perseteruan mereka itu di saksikan Beberapa mahasiswa yang ada di luar kampus dan juga yang ada di koridor,
"Sepertinya akan ada pertunjukan seru, bagaimana kalau kita lihat," ucap salah seorang mahasiswa yang tertarik melihat
"Ayo ayo, aku juga penasaran dengan kemampuan pelatih baru itu," ucap salah seorang lainnya
.
…
Di tempat latihan, para mahasiswa yang penasaran mulai berdatangan untuk menyaksikan duel Kevin atau Ken sang pelatih taekwondo dengan Arfan sang penantang
Ken sudah bersiap dengan baju putihnya dan pelindung kepala, dia juga melemparkan pelindung kepala kepada Arfan
"Pakailah, aku takut kau jadi bonyok jika menerima pukulan ku" ucap Ken
Arfan langsung menangkapnya "Aku tidak perlu barang seperti ini, aku lebih suka pertarungan polos, tapi tidak apa kalau kau mau memakai nya, itu tidak akan berpengaruh apapun untuk ku", Arfan melemparkan pelindung kepala latihan itu ke lantai matras
"Terserah lah, asal jangan salahkan aku jika kau berakhir dengan babak belur, karena aku tidak akan segan segan di sini" ucap Ken yang memang masih punya kekesalan pada Arfan, karena dia pernah di pukuli Arfan tanpa perlawanan saat Nadira hanyut Tempo hari
Mereka mulai berhadapan dan bersiap dengan posisi masing-masing
"Kau tau peraturan nya kan, tidak boleh menyerang area terlarang, atau kau kalah" ucap Ken
"Terserah lah" ucap Arfan
Ken memasang kuda-kuda, dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang Arfan lebih dulu, dia langsung maju dan melesatkan serangan cepat nya pada Arfan,
Arfan juga tidak tinggal diam, dia mencoba menghindar dan mencari kesempatan untuk balas menyerang, dan saat pukulan Ken bisa dia tahannya, dia menariknya dan menggunakan teknik punggung untuk membanting tubuh Ken ke matras
Dan, 'Bruuuk' "Arghhh, sial" gumam Kevin yang tergeletak,
"Bangunlah, ini belum berakhir" ucap Arfan
"Tidak kusangka kau ternyata memang lumayan juga" ucap Ken
"Bukannya aku sombong, tapi gini gini aku pernah menyandang gelar juara beladiri dulu waktu duduk di bangku TK, jadi mengalahkan pelatih taekwondo seperti mu, kurasa itu bukan sebuah prestasi" ucap Arfan Asal
"Rupanya kau memang punya latar belakang bela diri yang lumayan" ucap Ken,
__ADS_1